The Gray Autumn

The Gray Autumn
Penutup Musim Gugur


__ADS_3

Lambaian tangan Keanu, Puspa, dan juga Jenna mengiringi kepergian keluarga Hillaire yang akan kembali ke Perancis. Sementara di sudut lain ibu kota pada sebuah rumah megah, berdiri seorang pria di atas balkon sambil menatap langit. Arjuna Moedya Aryatama, tersenyum nanar untuk beberapa saat. "Selamat tinggal, Arum," gumamnya pelan sebelum mengalihkan pandangan ke dalam kamar, di mana terlihat Diana yang tengah merapikan diri di depan cermin rias.


......................


Udara dingin kian menusuk. Musim gugur akan segera berakhir dan tergantikan oleh musim dingin. Namun, senyum menawan Benjamin masih tetap terasa hangat saat menyambut kehadiran Autumn kembali dalam pelukannya. Setelah mengetahui bahwa Autumn sudah tiba di Perancis, keesokan harinya dia segera datang ke rumah keluarga Hillaire. Tak sabar rasa hatinya, untuk memberitahukan bahwa persiapan pernikahan yang akan mereka langsungkan sudah selesai dengan maksimal.


"Kita hanya tinggal melanjutkan rencana kemarin," ucap Benjamin yang duduk di sebelah Autumn. Kebahagiaan itu terpancar jelas dari sorot matanya.


"Aku tidak yakin dengan pesta pernikahan di akhir musim gugur," ujar Autumn yang duduk bersandar sambil menghadap ke depan. Sementara Benjamin duduk dengan posisi setengah menyamping dan menghadap kepada Autumn. Dia meluruskan tangan kanan pada sandaran sofa. Sesekali, pria itu memainkan jemarinya yang berada di dekat pundak sang kekasih.


"Tidak ada yang mustahil bagi Benjamin Royce," sahutnya penuh percaya diri. "Fleur ingin bertemu denganmu. Bagaimana jika kita makan siang bersama di tempatku?" tawarnya. Bukannya menjawab, Autumn malah melirik pria itu sambil tersenyum nakal. "Ayolah, Elle. Jangan memasang wajah seperti itu, karena kau tahu apa akibatnya bagimu," ujar Benjamin menakut-nakuti Autumn.


"Aku masih ragu untuk bertemu Fleur, tapi aku memang harus melakukannya," ucap Autumn seraya memandang Benjamin dengan penuh cinta. "Selama berada di Indonesia, aku memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah bahwa aku tidak ingin menyesali keputusan yang telah kuambil, dan harus benar-benar meyakinkan diri. Kau tahu, Ben? Ada banyak kisah cinta yang indah tapi tak berakhir bahagia, hanya karena salah mengambil sikap. Ya, itu semua terlepas dari faktor campur tangan Tuhan tentunya. Akan tetapi, aku tak ingin itu terjadi padaku. Aku jatuh cinta padamu. Bisa dikatakan bahwa aku memang sangat tergila-gila kepada Benjamin Royce, dan sejujurnya aku tak bisa membayangkan untuk jatuh cinta lagi terhadap pria lain," tutur Autumn tanpa melepas pandangannya.


"Kau benar. Ada beberapa orang yang memang ditakdirkan hanya satu kali jatuh cinta. Mereka bertemu, saling mengagumi, kemudian menikah, lalu menjalani hidup yang bahagia hingga akhir hayat. Namun, ada pula yang harus melewati perjalanan panjang untuk bertemu dengan cinta sejatinya. Satu hal yang paling menyakitkan adalah ketika cinta itu telah tumbuh dan semakin berbunga, tiba-tiba terempas badai saat hendak kita panen. Miris sekali rasanya," Benjamin menimpali.

__ADS_1


"Aku bisa membayangkan seberapa sakitnya hal itu," sahut Autumn. Kembali teringat olehnya ketika melihat Arumi menangis di antara dua pria yang merupakan cinta dari masa lalu dan masa depannya. Dia tak ingin mengalami semua hal seperti yang sang ibu lalui di masa mudanya.


"Cepatlah bersiap-siap. Kita berangkat ke tempatku sekarang," suruh Benjamin.


"Baiklah. Aku ke kamar dulu," Autumn beranjak dari duduknya dan berlalu dari sana. Bersamaan dengan itu, Edgar muncul di ruangan tersebut. Dia sudah terlihat rapi. Sepertinya, dia hendak pergi.


Melihat kehadiran calon ayah mertuanya, Benjamin segera berdiri. Dia juga segera menyalami pria itu dengan sopan dan terlihat penuh wibawa. "Anda akan pergi, Tuan Hillaire?" tanyanya berbasa-basi.


"Ya. Ada sedikit urusan pekerjaan," jawab Edgar masih dalam posisi berdiri. "Di mana Elle?" tanyanya heran karena melihat Benjamin hanya sendirian di sana.


"Aku dan Elle berniat untuk makan siang di tempatku. Fleur meminta agar diriku mengajak Elle ke sana. Kuharap Anda tidak masalah dengan hal itu," terang Benjamin dengan tenang.


Benjamin tersenyum kalem saat mendengar ancaman dari calon ayah mertuanya. Dia tahu seperti apa karakter Edgar, karena itu dirinya tak menanggapi terlalu serius atau memasukkan ucapan tegas ayah dua anak tersebut ke dalam hati. "Anda tenang saja, Tuan. Elle akan selalu aman bersamaku," balas Benjamin terlihat meyakinkan.


"Baikah, aku sudah terlambat," ujar Edgar setelah melihat arlojinya. Sebelum pergi, dia sempat menepuk lengan Benjamin. Barulah dirinya berbalik dan melangkah keluar dari ruang tamu dengan diiringi tatapan Benjamin. Edgar mungkin tak tahu bahwa pria tiga puluh lima tahun itu, sebenarnya sangat mengagumi sosok dirinya. Di mata seorang Benjamin, sosok Edgar selain cerdas dan tegas, dia juga merupakan orang yang selalu berkata apa adanya.

__ADS_1


"Berangkat sekarang, Ben?" suara Autumn telah mengembalikan Benjamin dari lamunannya.


Benjamin segera menoleh dan tersenyum. Autumn terlihat begitu cantik dengan mantel dan topi baret berwarna merah. Tanpa melepas senyumannya yang menawan, ayah dari Fleur tersebut segera menghampiri Autumn. "Aku sangat bahagia karena kau telah kembali ke Paris. Inilah waktunya bagi kita untuk mengakhiri yang lama, dan memulai sesuatu yang baru," lembut dan sangat dalam nada bicara pria bermata abu-abu itu, membuat Autumn tersenyum bahagia.


"Di mana nyonya Hillaire? Aku tidak melihatnya sejak tadi," tanyanya kemudian.


"Ibuku sedang keluar. Kita langsung berangkat saja," ucap Autumn.


"Baiklah," Benjamin setuju. Dia segera meraih pergelangan tangan gadis itu, kemudian menuntunnya keluar. Tak mereka pedulikan udara dingin yang kian menusuk. Keduanya segera masuk ke mobil. Perlahan, kendaraan mewah milik Benjamin pun melaju keluar dari halaman luas rumah keluarga Hillaire.


Selama di dalam perjalanan, Autumn terlihat sangat bahagia. Rasanya seperti mimpi ketika dia sudah kembali ke Perancis dan duduk di sebelah pria yang sangat dicintainya. Tinggal selangkah lagi bagi mereka, untuk menutup musim gugur tahun ini tanpa suasana kelabu seperti yang keduanya takutkan. Pintu kebahagiaan telah terbuka lebar dan siap untuk mereka songsong bersama.


Autumn tersenyum manis sambil menoleh kepada Benjamin, ketika pria itu menggenggam erat jemarinya. Perasaan hangat kian menyelimuti hati gadis dua puluh dua tahun tersebut, ketika sang kekasih mencium tangannya dalam-dalam.


"Fleur pasti akan menyukai rambut barumu, Elle," ucap Benjamin sambil terus mengemudi dengan satu tangan.

__ADS_1


"Aku harap ini akan membawa keberuntungan bagiku," sahut Autumn masih dengan senyuman manisnya.


"Kaulah keberuntungan bagiku, Elle," balas Benjamin dengan mesra.


__ADS_2