The Gray Autumn

The Gray Autumn
Sifflement


__ADS_3

Satu per satu pakaian yang menutupi tubuh semampai Autumn sudah terlepas. Semua berserakan di lantai dengan tak beraturan, karena Benjamin melemparnya dengan sembarang. Perlahan, pria yang telah dikuasai rasa rindu itu merebahkan tubuh polos sang kekasih. Sedangkan dia sendiri masih dalam keadaan berpakaian lengkap.


Autumn hanya dapat terpejam, demi meresapi segala hal yang dirasakannya dengan dalam. Setiap sentuhan lembut yang Benjamin berikan padanya ibarat sebuah hembusan angin di kala dirinya tengah merasa kepanasan. Hal itu terasa begitu menyegarkan, serta membuatnya benar-benar berada dalam sebuah kenyamanan yang luar biasa.


"Oh ... Ben ...," desah gadis itu ketika mendapati wajah sang kekasih di antara pangkal pahanya, memberikan keindahan yang tiada tara bagi diri gadis dua puluh dua tahun tersebut.


Sementara itu, Benjamin pun tak ingin kebersamaan mereka terlalu cepat berlalu. Sebisa mungkin dia membuat Autumn agar tetap berada di atas titik puncak hasratnya. Terlebih sekian lama mereka tak melakukan kemesraan yang intim seperti itu, semenjak kembali dari Marseille. Baru kali ini, Benjamin dapat kembali menikmati segarnya aroma bunga, dari gadis yang telah membuatnya begitu mabuk kepayang.


"Hentikan, Ben" pinta Autumn di sela rintihan pelan. Gadis itu rupanya sudah benar-benar tak kuasa menahan segala serangan yang Benjamin lakukan padanya. Akan tetapi, pria bermata abu-abu itu tak menghiraukan permintaan sang kekasih. Dia terus memberikan sapuan-sapuan lembut, yang diiringi gerakan cepat dari jari tengah beserta jari manisnya. Sementara, Autumn semakin kuat mencengkeram kain putih yang melapisi kasur di dalam kamar hotel itu. Ingin rasanya Autumn berteriak dengan sangat kencang, demi mengekspresikan perasaan luar biasa ketika pria yang selama ini dia rindukan telah membawanya berkali-kali menuju puncak gairah.


Benjamin menyeringai lebar saat melihat Autumn yang terengah-engah. Kulit cerah gadis itu tampak memerah. Namun, rupanya ayah satu anak tersebut masih belum merasa puas memberikan siksaan kecil kepada sang kekasih. Dia kembali membuat tubuh ramping yang sudah tampak berkeringat itu, menggelinjang dan terus bergerak dengan tak karuan.


"Hentikan, Ben ...," ringis Autumn di sela-sela perasaan hebat yang menderanya kini. Akan tetapi, pria berambut cokelat tembaga itu tetap tak memedulikannya. Dia baru berhenti beberapa saat kemudian, setelah dirinya merasa puas. Benjamin menarik kedua jari dari dalam diri Autumn, lalu tersenyum. "Wow, secepat itukah?" nada bicaranya terdengar seperti sebuah ledekan.

__ADS_1


Autumn pun segera bangkit kemudian terduduk. Ditatapnya pria yang kini merasa menang atas dirinya. "Kau sungguh nakal, aku ...," Autumn tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Benjamin lebih dulu membungkam dengan sebuah ciuman. Sementara jemari Benjamin kembali bergerak nakal, sehingga membuat gadis itu menggelinjangkan tubuhnya lagi. Erangan demi erangan terus meluncur dari bibir Autumn. Namun, Benjamin justru tersenyum lebar dan nakal saat melihat raut wajah Autumn yang sudah tersiksa karena ulahnya.


"Kau keterlaluan," Autumn tersenyum malu, ketika Benjamin berhenti bermain-main dengan jemarinya. Pria itu berdiri kemudian melepas kancing kemeja satu per satu. Sementara Autumn juga tak tinggal diam. Dia segera membantu melepas pengait celana panjang yang dikenakan Benjamin.


Senyuman manis terkembang di wajah cantik Autumn dengan rambut yang terlihat sedikit acak-acakan. Gadis itu mendongak saat Benjamin setengah membungkuk, kemudian melu•mat bibir dengan polesan warna peachnya. Sementara tangan Autumn pun tak tinggal diam. Dia meraih sesuatu dan mulai memainkannya. Namun, Benjamin hanya membiarkannya. Pria berambut cokelat tembaga itu justru merasa senang dengan sikap nakal sang kekasih.


Benjamin yang juga kini telah dalam keadaan polos, segera naik ke tempat tidur. Dia bersandar pada tumpukan bantal empuk yang menjadi penahan tubuh tegapnya, ketika Autumn menghadirkan sensasi yang luar biasa bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut. Helaan napas berat tertahan, sesekali meluncur dari bibirnya. Gejolak dalam dada pun kian bergemuruh, seiring makin nakalnya perlakuan gadis itu.


Senyuman manis nan menggoda kembali hadir di wajah cantik Autumn. Perlahan gadis dengan postur 170 cm tersebut merangkak ke atas tubuh tegap Benjamin. Sebuah ciuman mesra dan panas kembali menyambutnya, tapi tak berlangsung lama. "Apa yang kau inginkan?" bisik Autumn dengan sedikit mende•sah.


"Mendengarmu mengerang," jawab Benjamin yang dengan cepat mengempaskan tubuh polos kekasihnya di atas kasur. Kini, dialah yang berada di atas badan Autumn. Benjamin meletakkan kedua tangan gadis itu lurus di atas kepala, kemudian ditahannya. Dia kembali menghujani wajah dan leher jenjang si gadis, hingga pemiliknya bereaksi. Autumn meliukkan tubuh dengan penuh irama. Dia baru berhenti bergerak ketika lambang kejantanan Benjamin mulai mengetuk pintu taman bunganya, dengan sebuah gesekan-gesekan kecil.


"Lakukan," pinta Autumn yang sudah tak kuasa menahan gejolak di dalam dirinya. Dia ingin segera merasakan kenikmatan itu lagi. Saat-saat di mana Benjamin membawanya, pada sebuah suasana yang tak dapat dia lukiskan dengan syair seindah apapun.

__ADS_1


"Dengan senang hati," balas Benjamin diiringi helaan napas berat. Dia melepaskan tangannya dari pergelangan Autumn, dan membiarkan sang kekasih kembali menyentuhnya. Sebuah desa•han maskulin khas seorang pria dewasa pun terdengar jelas, bersamaan dengan sesuatu yang merangsak masuk ke dalam diri Autumn.


Gadis itu terdiam sejenak sambil menahan napas. Akhirnya, perasaan yang sempat tenggelam karena beberapa masalah, kini hadir dan dapat dia rasakan kembali. Autumn meringis kecil, menahan sedikit ngilu. Akan tetapi, hal tersebut telah membuat debaran jantungnya berpacu dengan semakin kencang, terlebih saat Benjamin mulai bergerak dan menghentakkan tubuhnya cukup kuat. Sementara Autumn hanya dapat melingkarkan tangan di leher pria itu. Dia mere•mas rambut belakang pria yang kini tengah berkuasa penuh atas dirinya.


Sesaat kemudian, Benjamin menghentikan gerakannya. Mereka lalu mengubah posisi. Autumn duduk di atas tubuh tegap pemilik hotel mewah tersebut dan melanjutkan penyatuan di antara mereka. Gerakan gadis muda itu terasa begitu lembut. Sesekali dia mendongak dengan mata terpejam, terlebih saat merasakan tangan Benjamin yang begitu asyik memainkan sepasang simbol kepercayaan diri para wanita. Pria bermata abu-abu itu tersenyum nakal. Dia menyukai ukuran dada Autumn yang dirasa begitu pas.


"Ayo, Elle. Tunjukkan kemampuanmu," tantang Benjamin. Puas bermain-main dengan dada sang kekasih, kedua tangannya kini berpindah pada pinggul indah yang sejak tadi bergerak maju mundur di atas tubuhnya. Sesekali, pria bermata abu-abu itu memejamkan mata sambil meringis kecil. Tak berselang lama, dia pun bangkit dan duduk sambil terus memangku Autumn yang kini melingkarkan tangannya di leher. "Inilah salah satunya yang membuatku begitu merindukanmu," ucap Benjamin seraya melu•mat bibir yang untuk beberapa saat dia abaikan.


"Kau yang terhebat," balas Autumn seraya merangkul erat pria yang juga melakukan hal sama terhadapnya.


Beberapa saat lamanya, kedua sejoli itu saling melepas rindu, menuntaskan segala kegundahan yang kemarin-kemarin menguasai mereka. Kini, semuanya sudah terobati. Tak dapat dipungkiri bahwa sentuhan dan kehangatan masing-masing terasa begitu berarti dan amat dibutuhkan oleh keduanya. Bagi Autumn, hanya Benjamin lah pria yang mampu membuatnya menikmati adegan percintaan panas penuh arti. Sedangkan untuk Benjamin, Autumn lebih dari sekadar partner ranjang. Gadis itu teramat istimewa.


"Ben ...." Autumn mencengkeram erat punggung kekasihnya, saat dia kembali berada di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, Benjamin belum ingin mengakhiri penyatuan mereka. Dia masih terus memacu dirinya dengan penuh semangat. Tak dipedulikannya rasa lelah yang mendera ataupun keringat yang mulai membasahi tubuh. Satu jam telah berlalu, ketika terdengar suara erangan berat tertahan dari Benjamin. Dia lalu menatap Autumn dengan napas terengah-engah. Siang itu mereka tutup dengan sebuah ciuman mesra.

__ADS_1


__ADS_2