
"Ayolah, Elle. Kumohon, kita sudah membahas tentang ini. Bukankah kau ingin belajar untuk jauh lebih dewasa dan bersikap sabar? Ini adalah saat yang tepat untukmu," bujuk Benjamin seraya memegangi kedua lengan Autumn. Dia seakan menjadi seorang ayah dengan dua anak gadis yang sedang berselisih. Benjamin harus menenangkan keduanya dengan adil, tanpa terkesan pilih kasih atau berpihak pada salah satu saja. Ini akan menjadi pekerjaan baru bagi pria tersebut. "Oh, astaga," ucapnya pelan seraya melepaskan pegangannya dari lengan Autumn. Dia meraup kasar wajahnya dan tampak gusar. "Lihatlah, Elle. Persiapan kita sudah hampir selesai. Apa kau ingin menyerah begitu saja?" bujuknya lagi.
Sementara Autum masih terlihat kesal. Dia lalu menempelkan kening pada pundak ayah satu anak itu, yang segera berbalas sebuah sentuhan lembut di rambut panjangnya. Sedangkan Fleur hanya terdiam memperhatikan sikap Benjamin terhadap Autumn. Air mata mulai menetes di pipi anak itu. Usia Fleur memang baru sepuluh tahun. Akan tetapi, dia adalah anak gadis yang pandai dan juga sudah bisa memahami situasi. Itulah yang selalu dia takutkan. Sang ayah akan lebih memilih wanita yang dicintai dan membiarkannya sendiri, seperti apa yang dia rasakan kini. Gadis kecil itu tertunduk lesu. Tetesan air matanya jatuh di atas punggung tangan yang dia letakkan di atas pangkuan. "Ibu ...." desah Fleur sambil terisak pelan.
Mendengar hal itu, Autumn segera menjauhkan diri dari Benjamin. Dia menatap pria yang sangat dicintainya untuk sejenak, sebelum mengalihkan pandangan kepada Fleur. Tanpa sebuah kata-kata, Benjamin dapat memahami makna dari sikap Autumn yang demikian. Pria itu segera menghampiri Fleur dan menurunkan tubuh di hadapan gadis kecil itu. Benjamin mendekap erat tubuh mungil putrinya yang sedang terisak. Dia juga mengecup kening Fleur dengan lembut. "Maafkan aku, Sayang," ucap pria bermata abu-abu tersebut dengan setengah berbisik. Akan tetapi, Fleur tak merespon permintaan maaf Benjamin. Gadis kecil itu masih tetap menunduk sambil terisak.
Perasaan Autumn pun menjadi tak menentu. Dia berjalan mundur dengan perlahan, kemudian berbalik. Tanpa Benjamin ketahui, gadis cantik bermata abu-abu tersebut telah pergi meninggalkan ballroom. Benjamin baru menyadari kepergian Autumn setelah dia berhasil menenangkan putrinya. Namun, sayang sekali karena gadis itu sudah tidak terlihat lagi di sana.
Sebuah helaan napas berat dan dalam, meluncur begitu saja dari bibir pria tiga puluh lima tahun itu. Benjamin kemudian berdiri dan melangkah ke belakang kursi roda Fleur. Dia mendorongnya keluar dari ruangan megah yang sudah mulai didekorasi dengan indah dan mewah. Pria itu menyadari bahwa dirinya harus menyelesaikan masalah dengan satu per satu. Dia tak dapat merengkuh segala hal hanya menggunakan sebelah tangan.
__ADS_1
Datar dan tanpa ekspresi, Benjamin memindahkan Fleur ke dalam mobil. Didudukannya gadis kecil itu, kemudian dia pasangkan sabuk pengaman. Fleur selalu menolak duduk di jok belakang, jika dirinya sedang berkendara dengan sang ayah. Dia lebih senang duduk di depan, di sebelah pria yang selama ini selalu menjadi pujaannya. Namun, pria itu kini tampak muram dan juga sedih.
Ditatapnya paras tampan sang ayah dengan lekat. Tentu saja dia paham keresahan yang tengah melanda hati Benjamin. Namun, sebagai seseorang yang masih kecil, Fleur kebingungan untuk mengungkapkan serta merangkai kata-kata yang akan dia ucapkan kepada pria tersebut. Pada akhirnya, gadis kecil itu lebih memilih untuk diam membisu. Bungkam akan jauh lebih baik, daripada saat dirinya banyak bicara.
"Apa kau ingin makan sesuatu, Fleur?" tawar Benjamin setelah beberapa saat lamanya mereka saling terdiam.
Fleur tidak menjawab. Gadis kecil itu hanya menatap sang ayah dengan sendu. Terlebih karena Benjamin pun kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Suasana hening muncul dan terus mengiringi perjalanan mereka berdua, hingga Benjamin menghentikan laju mobilnya. "Mari kita mencari angin. Aku butuh udara segar," ajaknya seraya melepas sabuk pengaman. Setelah itu, dia keluar dan membukakan pintu untuk Fleur setelah sebelumnya mempersiapkan kursi roda terlebih dahulu. Dia lalu mendudukkan gadis kecil berambut cokelat tembaga itu di sana, dan mulai mendorong kursi roda tersebut menyusuri tepian Sungai Seine. Selalu tempat itu yang menjadi favorit bagi Benjamin untuk menghilangkan rasa suntuk yang mendera.
"Biar kuceritakan sesuatu padamu," ucap Benjamin lagi dengan agak pelan. "Beberapa tahun silam, ketika aku berada ribuan kilometer dari Perancis ... aku mengenalnya. Dia adalah gadis yang paling cantik di antara semua gadis cantik yang pernah kulihat. Kami saling jatuh cinta, dan berjanji untuk tetap terikat selamanya. Kau tahu siapa gadis cantik itu?" Benjamin terdiam sejenak sambil menatap Fleur yang masih saja terdiam. "Dia adalah Samantha Morris, ibumu. Aku sangat mencintainya, bahkan ketika kutinggalkan Inggris dan kembali ke Perancis. Cinta itu masih ada dalam hatiku. Tetap ada hingga bertahun-tahun lamanya, tak mengenal musim. Dia tetap yang terbaik," lirih dan begitu dalam nada bicara Benjamin saat itu terhadap Fleur yang mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
"Ibumu adalah gadis yang ceria. Dia selalu tersenyum, sama sepertimu dulu. Kau selalu bernyanyi dengan riang setiap kali aku mengunjungimu di Marseille. Semua rasa lelah dan sepiku sirna saat bertemu denganmu. Jika saat ini aku jatuh lagi terhadap Elle, maka itu bukan berarti aku telah mengkhianati ibumu atau akan mengabaikan kau sebagai putriku. Tolong jangan berpikir seperti itu. Samantha, Fleurine, dan juga Autumn. Kalian bertiga mendapat tempat tersendiri dalam hidupku, dan pastinya tak akan tergantikan oleh siapa pun," jelas Benjamin lagi.
"Siapa Autumn?" tanya Fleur. Akhirnya gadis kecil itu mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi membisu.
"Autumn Dorielle Hillaire. Dia adalah wanita yang kucintai saat ini, atau lebih kau kenal sebagai Elle. Bukankah dia memiliki nama yang unik? Nama yang sama, seperti sebuah musim yang memanjakan mata kita dengan dedaunan berwarna indah," terang pria bermata abu-abu itu lagi. Dia lalu menggenggam jemari putrinya dengan erat. "Aku tahu jika Elle memang memiliki sikap yang keras. Akan tetapi, setelah kau mengenalnya dengan baik, kau tak akan pernah menyesal karena telah dipertemukan dengan gadis seperti dia. Sama halnya denganku, Fleur," Benjamin mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan.
"Aku takut, Papa," ucap Fleur kemudian.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Benjamin. "Aku sudah menjelaskannya padamu. Kau adalah putriku, sebuah anugerah yang tercipta dari janji antara diriku dengan Samantha. Kau yang selamanya akan membuatku terikat kepada gadis itu, meskipun kini dia telah tiada. Jadi, apa lagi yang kau takutkan?" sikap dan tutur kata Benjamin masih tetap lembut saat itu.
__ADS_1
"Jika kau menikah, maka istrimu pasti akan mengandung dan melahirkan. Dia akan memiliki bayi dengan orang tua yang lengkap. Sementara aku tidak mempunyai ibu. Apakah istrimu akan memperlakukanku sama seperti terhadap anak kandungnya, Papa?" air mata kembali menetes di sudut bibir Fleur, yang segera Benjamin rangkul dengan erat.