
"Ed ...." protes Arumi tertahan, karena Edgar segera mengacungkan telunjuk ke atas sebagai tanda bahwa dirinya tak menerima bantahan.
"Jangan, Arum! Untuk kali ini, tolong jangan membantah ucapanku. Aku tidak menyukainya," tegas dan dalam penekanan suara dari Edgar terhadap Arumi yang saat itu hanya bisa terpaku, "tolong hormati keputusanku," lanjutnya lagi.
"Bukan itu maksudku, Ed," sanggah Arumi. "Aku hanya ingin agar kau mempertimbangkan dari sisi Elle dan juga tuan Royce. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa mereka saling mencintai," belanya.
"Kau sangat mengenal Elle. Dia anak gadis yang manja dan juga belum dewasa. Lalu apa yang akan terjadi saat dirinya dihadapkan pada pernikahan dengan seorang anak tiri yang harus dia rawat? Kau pikir Elle akan sanggup menghadapi itu?" tegas tapi bernada penuh keraguan bantahan yang ditujukan oleh Edgar kepada sang istri.
"Seseorang yang terbiasa hidup bebas dan semaunya sendiri, akan kesulitan beradaptasi saat mereka menghadapi hari-harinya setelah menikah. Coba bayangkan jika ditambah dengan hadirnya seorang anak. Anak orang lain, Arum. Anak yang dihasilkan dari hubungan tanpa adanya ikatan pernikahan. Aku tak ingin Elle merasa tertekan. Namun, jika menurutmu itu tidak masalah, maka silakan. Aku tidak akan pernah ikut campur!" Edgar terdengar begitu marah saat itu.
"Tidak bisa begitu, Ed! Kau adalah kepala keluarga. Tentu saja dirimu berhak memutuskan segala hal yang hal terbaik untuk keluarga ini. Namun, aku tidak bersedia untuk menyampaikan keputusanmu pada Elle. Jadi, silakan katakan sendiri padanya. Jelaskan alasanmu dan buat dia mengerti. Aku tak ingin jika Elle sampai salah paham karena kau menentang hubungannya dengan tuan Royce," jelas Arumi. Dia pun kini menjadi serba salah.
"Aku tidak peduli meskipun Elle akan membenciku karena hal ini. Namun, keputusan tadi kuambil setelah memikirkannya secara matang," tegas Edgar lagi.
__ADS_1
Arumi terdiam untuk sejenak. Wanita paruh baya itu merasa bingung harus berkata apa. "Sebagai istrimu, tentunya aku harus selalu mematuhi setiap aturan dan keputusan yang telah kau tetapkan. Akan tetapi, sebagai seorang ibu ... aku harus memikirkan perasaan anak-anakku yang tentunya sudah memiliki pola pikir berbeda dari kita sebagai orang tuanya. Kau bisa bersikap tak peduli meskipun Elle akan membencimu karena hal ini. Namun, aku tidak akan pernah merasa nyaman, Ed. Aku tak menyukai situasi yang pelik dan memusingkan. Aku ingin kehangatan keluarga, saat kita berkumpul di dekat perapian. Aku ingin keceriaan saat kita merayakan acara-acara besar bersama-sama. Kau, aku, Elle, Darren. Kenapa harus begini?" Arumi mengeluh pelan. Dia memilih untuk duduk di ujung tempat tidur. Raut wajahnya terlihat lesu dan tak bergairah sama sekali.
Melihat sikap Arumi yang demikian, tentu saja Edgar jadi merasa bersalah. Sikap tegas dan amarah yang dia tunjukan tadi seakan menguap begitu saja. Betapa lemahnya seorang Edgar Hillaire di depan wanita yang sangat dia cintai. Edgar menurunkan tubuhnya di hadapan sang istri. Dia menggenggam kedua tangan Arumi dan mengecupnya dalam-dalam. "Kenapa aku tak pernah bisa marah padamu, Arum? Rasanya seperti ada sebuah gundukan besar yang menghimpit dadaku, jika melihatmu bersedih ataupun kecewa," ungkap pria itu dengan intonasi yang tiba-tiba terdengar sangat lunak.
"Kau tahu apa yang membuatku begitu percaya diri? Walaupun sekarang aku tidak muda lagi. Kulitku tak sekencang dulu, dan telah tumbuh beberapa lembar uban meskipun segera kututupi, kenyataannya hal itu tak membuatmu berhenti mencintaiku. Itulah indahnya jalinan perasaan di antara kita, Ed. Hal itu pula yang sedang Elle dan tuan Royce rasakan saat ini. Entahlah, tapi aku melihat sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan kasih biasa," bergetar suara Arumi saat mengatakan hal itu. Apa yang dia katakan adalah sebuah pertentangan besar dengan keputusan yang Edgar ambil.
"Arum, ini bukan keputusan yang main-main. Elle anak perempuan kita satu-satunya. Tak perlu kukatakan lagi tentang betapa aku sangat menyayangi dan juga mengkhawatirkan gadis itu. Tentu saja aku ingin yang terbaik baginya, itu pasti dan sudah merupakan harga mati," tutur Edgar kembali mengecup kedua tangan Arumi yang sedang dia genggam.
"Aku tahu itu, Sayang. Aku juga mengharapkan yang sama denganmu. Bicaralah kepada Elle dengan baik-baik. Lakukan tugasmu sebagai ayah. Selama ini kau tak pernah menunjukan perasaan itu secara berlebihan kepada putra-putri kita," saran Arumi.
"Kau hendak ke mana, Ed?" tanya Arumi.
"Merenung," jawab Edgar seraya tersenyum kalem. Usia tua ternyata tak mengikis pesonanya yang luar biasa. Edgar Hillaire tetap terlihat begitu menawan. Selesai berkata demikian, pria berpostur tegap itu pun keluar dari kamar dan kembali ke ruang kerjanya. Kebetulan saat itu Autumn yang baru kembali dari kantor muncul. "Bisa bicara sebentar, Elle?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu," Autumn mengangguk pelan. Dia berjalan mengikuti sang ayah menuju ruang kerja. Gadis itu sudah tahu apa yang akan sang ayah bahas dengan dirinya. Autumn kemudian memilih duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempat duduk Edgar.
"Aku ingin membicarakan tentang lamaran Benjamin Royce yang kemarin," Edgar duduk sambil menyilangkan kakinya. Dia memulai perbincangan dengan sikap yang sudah terkendali.
"Aku sudah tahu keputusan Ayah. Lalu, apa lagi yang harus kita bahas? Ayah yang mengatur segala hal di rumah ini. Mau tak mau, aku ataupun Darren harus mengikutinya," sahut Autumn agak malas.
"Jangan menyindirku, Elle. Kau tidak akan pernah tahu seperti apa cara seorang Joacquine Guzman dalam mendidikku. Lihatlah ayahmu sekarang. Aku patut berbangga hati karenanya," ujar Edgar masih dengan sikap tenangnya.
"Ya, aku tahu itu. Namun, jika Ayah dapat menerima didikan ala kakek Guzman, itu tidak berarti aku dan Darren pun bisa melakukan hal yang sama," bantah Autumn. "Kami hidup di zaman yang berbeda," tegasnya seraya menyandarkan tubuh pada sandaran kursi serta melipat kedua tangan di dada.
"Karena itulah aku tak sepenuhnya memakai aturan yang sama untuk kalian," Edgar mengempaskan napas pelan. "Sudahlah, bukan itu yang ingin kubahas kali ini," Edgar menatap lekat Autumn untuk sejenak. Kembali terdengar helaan napas pelan dari pria itu. "Elle, musim gugur dua puluh dua tahun yang lalu saat kau dilahirkan, itu adalah saat-saat yang sangat bersejarah bagiku dan ibumu. Arum sangat menyukai musim gugur, karena ada banyak moment istimewa yang terjadi dan selalu bertepatan dengan musim itu. Hal tersebutlah yang membuatnya memberimu nama Autumn," Edgar terdiam sejenak. Sedangkan Autumn pun hanya membisu sambil memperhatikan sang ayah.
"Rasanya seperti mimpi ketika kami menyadari bahwa kau sudah beranjak dewasa. Jujur saja jika aku belum bisa menerima hal itu. Bagiku, kau tetap gadis kecil yang harus selalu berada dalam pengawasan dan penjagaan ayahnya. Namun, aku sadar bahwa kini kau sudah besar, bahkan jatuh cinta dan ingin menikah," tutur Edgar dengan lirih.
__ADS_1
"Ayah ...." Autumn tak tahu harus berkata apa.
"Aku akan bicara dengan Benjamin."