The Gray Autumn

The Gray Autumn
Baiser Voleur


__ADS_3

"Baiklah, aku rasa cukup," Gabriel kembali bersuara. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri di dekat Autumn. Tanpa merasa canggung, Gabriel melingkarkan lengannya di pundak gadis itu, dan membuat Autum sedikit terkejut. Tak berbeda dengan Benjamin yang saat itu hanya memicingkan kedua matanya. "Intinya sekarang kita sudah mengetahui satu rahasia besar dari Nona Hillaire. Jadi, aku sarankan padamu Nona Cantik, jangan macam-macam karena kami semua yang ada di ruangan ini bisa saja membocorkan hal itu kepada ayahmu," ancamnya yang kemudian diiringi tawa geli, begitu juga dengan rekan-rekannya yang lain.


Lain halnya dengan Benjamin yang masih terdiam dan menatap lekat kepada Autumn. Gadis itu tetap terlihat tenang. Ia bahkan tampak menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. "Sejujurnya aku tidak takut meskipun hal itu akan bocor ke telinga ayahku, karena aku masih memiliki rahasia lain yang jauh lebih besar," ucap Autumn dengan senyuman manisnya, dan seketika membungkam mereka yang tengah tertawa. Perhatian semua yang ada di sana kembali tertuju padanya. Begitu juga dengan Benjamin yang seakan sudah bisa menebak ke mana arah perkataan gadis itu. Ia mengela napas dalam-dalam.


"Oh, ya? Apa kau juga akan membagi rahasia besar itu dengan kami, Nona Hillaire?" lirik Gabriel dengan mimik mukanya yang terlihat begitu ramah dan menggemaskan.


Autumn tertawa renyah seraya menggelengkan kepala. "Jika kubagi dengan semua orang, maka namanya bukan rahasia besar lagi, Tuan Archambeau," bantah Autumn membalas lirikan pria yang sejak tadi tak juga menyingkirkan lengannya dari pundak gadis itu. "Biarlah itu hanya aku yang mengetahuinya ...."


"Jangan lupakan Tuhan, Nona Hillaire," sela Benjamin tenang.


"Oh, Anda benar sekali, Tuan Royce. Tuhan mengetahui segalanya, bahkan sesuatu yang tersembunyi di dalam hatimu," sahut Autumn membalas tatapan pria itu.


"Ah, sudahlah! Aku sudah tak sabar untuk membuka minuman yang tadi kita beli," sela salah seorang dari rekan kerja Autumn. Ia beranjak dari duduknya dan mengambil tas belanja berisi minuman serta beberapa macam camilan. Gadis berambut hitam itu kemudian menyuguhkan semuanya di atas meja, setelah sebelumnya menyodorkan satu botol minuman kepada Benjamin.


"Aku harap kau tidak hanya minum teh dan susu segar, Nona Hillaire," ujar Gabriel yang mengambilkan satu botol untuk Autumn. Gadis itu segera menerima botol tersebut dan tersenyum. Rasa khawatir mulai menggelayuti hatinya. Autumn sebenarnya tidak kuat minum, bahkan untuk kadar alkohol rendah sekalipun. Namun, ia juga tak mungkin menolak, terlebih pesta itu dikhususkan sebagai penyambutannya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, mereka mulai bersulang dan menikmati minuman serta beberapa camilan yang tersedia. Ada canda dan gelak tawa yang menghiasi acara sederhana itu. Autumn bahkan terlihat sangat terhibur dan menikmati kebersamaan tersebut, sampai-sampai ia tak sadar hampir menghabiskan satu botol minumannya.


Benjamin terlihat cukup khawatir karena hal tersebut. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan. Pria itu lalu memberi isyarat kepada Autumn, agar ia segera memeriksa ponselnya. Autumn yang dapat memahami isyarat tersebut, kemudian meraih tasnya. Ia merogoh ke dalam dan mengambil ponsel miliknya. Autumn lalu memeriksa pesan masuk yang dikirimkan oleh Benjamin.


Kau bukan peminum, Sayang. Berhentilah, sebelum benar-benar mabuk.


Tiba-tiba, Autumn merasakan sebuah gelitikan lembut yang sangat menggelikan. Mata abu-abunya berbinar dan terlihat jauh lebih ceria. Ia mengalihkan tatapan sejenak kepada Benjamin yang saat itu masih memperhatikannya. Sesaat kemudian, Autumn kembali mengarahkan tatapannya kembali pada layar ponsel dan mulai membalas pesan itu.


Jika aku mabuk, apa kau akan membawaku pulang?


Masih ada dua jam lagi sampai pukul sepuluh malam. Sebaiknya kau segera pulang jika tak ingin tidur di teras.


Autumn tersenyum kecil membaca isi pesan itu. Namun, belum sempat ia membalasnya Gabriel telah terlebih dahulu mengajaknya berbicara. Autumn pun mengalihkan perhatian kepada pria berambut ikal tersebut dan berbincang akrab dengannya.


Menyaksikan hal itu, Benjamin kembali merasa sedikit terusik. Entah mengapa, karena ia merasa tak suka saat melihat Autumn tampak akrab dengan pria lain. Akan tetapi, Benjamin terus menepiskan perasaan tersebut, hingga akhirnya ia benar-benar merasa tak tahan. Segera diletakannya botol yang sejak tadi ia genggam di atas meja. Benjamin kemudian berdiri dan merapikan lengan kemejanya. "Silakan lanjutkan pesta penyambutan ini, tapi maaf karena aku harus segera pulang. Aku masih mempunyai urusan yang harus diselesaikan," pamitnya.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal acaranya belum selesai," sesal Gabriel seraya berdiri.


"Aku rasa kita sudahi saja acaranya. Lagi pula, aku harus pulang sebelum jam sepuluh," timpal Autumn, membuat yang lainnya mengeluh pelan.


"Tak apa, Nona Hillaire. Kalian lanjutkan saja. Aku senang melihat keakraban di antara kalian semua. Semoga kekompakan ini selalu terjaga dengan baik," balas Benjamin dengan nada bicara dan raut wajah yang terlihat aneh bagi Autumn. Tanpa banyak bicara lagi, pria berambut cokelat tembaga itu bergegas keluar dari ruang apartemen Gabriel dan meninggalkan gurat kecewa di wajah Autumn.


Kekesalan gadis itu memang masih ada dan tak jarang begitu menguasai dirinya. Ia merasa jijik dengan karakter Benjamin yang dinilainya sangat brengsek dan tak memiliki perasaan sama sekali. Namun, sedikit harapan memang selalu muncul dalam hati kecil Autumn, terhadap pria yang berusia tiga belas tahun lebih tuanya darinya itu. Menyesal pun tiada gunanya kini. Entah mengapa ia harus dipertemukan dengan seorang Benjamin Royce yang begitu menawan tapi juga menakutkan.


"Bagaimana jika kuantar pulang, Nona Hillaire?" Gabriel menawarkan diri kepada Autumn ketika acara itu sudah benar-benar berakhir, beberapa saat setelah Benjamin pamit dari sana.


"Terima kasih, Tuan Archambeau. Aku tak ingin merepotkanmu. Aku bisa pulang dengan taksi," tolak Autumn halus seraya mengenakan mantelnya.


"Jika di luar kantor kau boleh memanggilku Gabriel saja, agar tidak terlalu formal. Apa kau setuju, Autumn?" tawar pria itu lagi.


Autumn tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan. "Panggil saja aku dengan nama Elle," ralatnya. "Selamat malam, Gabriel," Autumn melambaikan tangannya dan bergabung dengan rekan-rekannya yang lain. Ia berlalu diiringi tatapan lembut dan senyuman dari Gabriel.

__ADS_1


Ketika sudah tiba di pinggir jalan, rekan-rekan Autumn pun pamit dan mengambil arah yang berlainan dengan gadis itu. Sedangkan Autumn berdiri di trotoar sambil menunggu taksi yang lewat. Namun, sebelum ia mendapatkan taksi yang dicarinya, seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangan dan membuat Autumn segera menoleh. Sebuah sentuhan hangat pun ia rasakan di bibirnya saat itu. Beberapa saat hal itu berlangsung, hingga Autumn tersadar dan segera menghentikan semuanya.


__ADS_2