The Gray Autumn

The Gray Autumn
Arrivé à Marseille


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Arumi, gadis bertubuh semampai itu bergegas pergi ke bandara. Kebetulan hari itu Edgar tengah menghadiri pertemuan penting dengan salah seorang koleganya, jadi Autumn tak sempat berpamitan kepada sang ayah. Ah, tak apa. Bagi Autumn, yang terpenting adalah dirinya telah mendapat izin dari Edgar.


Jalanan kota Paris pada pagi hari menuju siang saat itu, cukup ramai. Autumn mulai membalas pesan dari Benjamin. Pria tersebut sudah menunggunya di bandara. Tiba-tiba saja, jantung Autumn berdetak dengan lebih kencang. Gadis itu mengempaskan beberapa kali keluhan pendek saat mobil sedan yang ia tumpngi sudah sampai di tempat tujuan.


Sang sopir segera turun dan membukakan pintu untuk Autumn. Ia juga menurunkan koper berukuran sedang milik putri dari majikannya. Selesai melakukan tugasnya dengan baik, sopir itu berpamitan untuk kembali. Sementara Autumn melangkahkan kakinya menuju pintu masuk bandara. Ia terus berjalan hingga langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang berdiri dengan senyuman menawannya. Pria itu menyambut Autumn dengan sebuah kecupan hangat di kening. "Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa pria yang tiada lain adalah Benjamin.


"Aku sangat gugup," jawab Autumn seraya mengikuti pria tampan itu duduk. Tanpa rasa canggung, gadis muda tersebut meletakan kepalanya di pundak Benjamin, yang saat itu menggenggam dan mencium jemari lentik Autumn dengan lembut.


"Kenapa kau harus merasa gugup?" tanya Benjamin pelan.


"Aku belum pernah berada dalam situasi seperti ini, Ben. Entah apa yang harus kukatakan saat bertemu dengan Fleur nanti," jawab Autumn terlihat resah. Sedangkan Benjamin menggumam pelan. Ia kembali mencium jemari lentik Autumn.


"Jangan khawatir. Fleur anak yang baik. Aku rasa kau akan menyukainya. Bukankah kau suka anak-anak?"


"Ya, tapi ini berbeda," bantah Autumn. "Apa kau sudah memberitahu Fleur bahwa kau datang ke Marseille bersamaku?" Autumn seketika menegakan tubuhnya dan duduk menghadap kepada pria berwajah rupawan itu.

__ADS_1


"Belum. Aku tidak mengatakan apapun padanya," jawab Benjamin santai. "Biar saja menjadi kejutan," lanjut pria dengan mata abu-abu itu.


"Bagaimana jika Fleur tidak menyukaiku. Aku takut ia menolak dan bahkan ... oh, tidak! Aku tak bisa membayangkan hal itu!" Autumn kembali terlihat resah. Sedangkan Benjamin menanggapi sikap gadis itu dengan sebuah tawa pelan.


"Astaga, Elle. Kenapa kau bersikap sangat berlebihan. Tenang saja. Putriku gadis yang baik dan ramah. Kau tidak perlu khawatir seperti itu," Benjamin kembali mencium jemari Autumn dan berusaha membuat gadis tersebut agar tenang. "Fleur pasti menyukaimu, karena ia satu tipe denganku. Semua yang aku sukai, biasanya selalu ia sukai juga," jelas Benjamin tenang.


Belum sempat Autumn menanggapi ucapan Benjamin, terdengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi telah siap. Benjamin menggenggam pergelangan tangan gadis itu dan menuntunnya.


Perasaan Autumn masih diliputi kekhawatiran yang cukup besar. Entah mengapa ia begitu takut jika Fleur tak bisa menerima dirinya. Namun, di sisi lain ia merasa begitu tenang ketika melihat sosok Benjamin. Autumn merasa terlindungi oleh pria itu.


Selang beberapa saat, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah rumah megah dengan dominasi warna putih. Mobil itu memasuki halaman yang ditumbuhi rumput dan beberapa pohon palem dengan tata letak yang sudah diatur sehingga terlihat begitu apik. Benjamin kemudian keluar dari dalam mobil tanpa menunggu sang sopir membukakan pintu untuknya. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk Autumn, dan kembali menggenggam erat serta menuntun gadisnya untuk masuk.


"Papa!" seru seorang gadis kecil yang berlari menyambut kedatangan Benjamin di sana. Gadis kecil itu memang yang Autumn lihat dulu. Ia berambut cokelat tembaga, sama seperti rambut sang ayah. Selain itu, warna bola mata mereka juga sama.


"Apa kabar, Tuan putri?" sapa Benjamin seraya mencium hangat pucuk kepala gadis kecilnya.

__ADS_1


"Aku senang karena akhirnya Papa datang," Fleur si gadis kecil terlihat begitu bahagia. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya kepada Autumn yang saat itu berdiri tak jauh dari mereka berdua. "Papa datang dengan siapa?" tanyanya polos.


Benjamin menoleh ke arah Autumn berdiri tanpa melepas pelukan dari putri semata wayangnya itu. Ia merangkul pundak Fleur yang saat itu melingkarkan tangannya pada pinggang sang ayah. "Kemarilah, Elle," ajak Benjamin. Ia merentangkan tangan kanan dan meminta Autumn agar mendekat kepadanya. Meskipun agak ragu, tetapi Autumn segera mendekat dengan memasang senyuman manis.


"Ayo, Elle. Perkenalkan dirimu kepada putriku," pinta Benjamin dengan tatapannya yang sangat dalam.


Autumn terdiam untuk sejenak. Ia menatap Benjamin seakan tengah meminta sebuah dukungan moril dari pria itu. Sesaat kemudian, Autumn mengalihkan pandangan kepada Fleur yang juga tengah menatapnya dengan penuh selidik dan tanda tanya. "Hai, Fleur. Namaku Autumn, tapi kau boleh memanggilku Elle. Senang karena akhirnya bisa bertemu langsung denganmu," Autumn belum melepaskan senyuman manisnya dari Fleur. Sementara gadis kecil itu tidak segera memberikan respon. Hal tersebut membuat Autumn menjadi gelisah dan salah tingkah. Sesekali ia melirik ke arah Benjamin. Pria itu mengisyaratkan agar Autumn tetap tenang.


"Kenapa, Fleur? Bagaimana menurutmu? Apa kau tak ingin berkomentar?" tanya Benjamin memecah kebisuan dari putri kecilnya tersebut.


Fleur mendongak dan menatap wajah sang ayah untuk sesaat. Ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Autumn, kemudian tersenyum. "Hai, Elle. Apakah kau kekasih papaku?" tanya Fleur dengan polosnya, membuat Autumn seketika terlihat kikuk. Gadis bertubuh semampai itu menoleh kepada Benjamin.


"Iya, Fleur. Elle adalah kekasihku. Aku harap kau menyukai dan bisa berteman akrab dengannya. Jangan buat ayahmu patah hati," ucap Benjamin dengan sikapnya yang masih terlihat tenang. Sementara Autumn merasakan bunga-bunga di dalam hatinya kian mekar dan berkembang, saat mendengar pengakuan dari pria pujaannya tersebut. Ia begitu bahagia karena Benjamin sudah menganggapnya sebagai seorang kekasih, bukan hanya teman bersenang-senang.


Belum sempat Fleur menanggapi ucapan sang ayah, seorang wanita paruh baya muncul di antara mereka bertiga. Wanita itu adalah Aamber, sang pengasuh dari Fleur. "Hai, Ben. Aku tak mendengarmu datang. Apa kabar?" sapanya hangat.

__ADS_1


"Hai, Aamber. Kabarku sangat baik," jawab Benjamin kemudian mengarahkan pandangannya kepada Autumn. Hal itu Benjamin lakukan sebagai isyarat bagi Aamber, agar wanita paruh baya tersebut menyapa sang kekasih.


__ADS_2