
"Tidak, Ben. Kumohon jangan berkata seperti itu," Aamber terus terisak. Wanita paruh baya tersebut duduk bersimpuh di atas lantai. Penyesalan tampak jelas dan terlihat dari bahasa tubuhnya. "Aku sudah kehilangan Samantha. Namun, satu hal yang selalu terngiang di telinga, saat itu Samantha meminta agar diriku selalu menjaga Fleur dengan baik," tutur Aamber di sela tangisan pilunya.
"Lalu apa yang kau lakukan? Kau menyerahkan bayi yang baru berumur beberapa hari padaku. Kau bahkan datang ke Perancis untuk menengok cucumu setelah Fleur berusia enam tahun. Sesuatu yang sangat kusesalkan darimu, Aamber. Seandainya sikapmu tidak berlebihan, maka aku tidak akan pernah mengungkit semua sisi negatif dari dirimu dan juga tuan Duncan Morris yang terhormat. Namun, kau sendiri yang memaksaku untuk melakukan ini," ucap Benjamin kecewa. Sebenarnya dia juga ingin memberitahu Fleur dengan cara yang lebih halus, dan mungkin memberikan penjelasan dengan baik-baik agar gadis kecil itu dapat memahaminya. Namun, Benjamin tak pernah menyangka bahwa kedekatannya dengan Autumn, telah menimbulkan ketakutan tersendiri bagi Aamber.
"Itulah yang sebenarnya, Fleur," ucap Benjamin lagi setelah dirinya terdiam selama beberapa saat. "Aamber adalah nenekmu, ibu kandung dari Samantha Morris," ungkap pria bernata abu-abu itu lagi.
"Selama ini aku sudah berusaha untuk menjagamu dengan baik, hingga Aamber datang dan meminta agar kalian bisa tinggal di Marseille yang merupakan kampung halaman dari nenekmu. Aku menurutinya, meskipun itu membuatku harus berjauhan denganmu. Lalu, kenapa sekarang di saat aku menemukan kebahagiaan lain, dia harus merasa takut? Padahal, selama ini aku bahkan telah bersedia untuk menutup rapat-rapat rahasia besar yang dia sembunyikan darimu," tutur Benjamin sedikit bergetar. Tergambar dengan jelas raut kecewa, pada paras tampannya yang tampak sangat kacau.
"Dengarkan aku, Fleur," pria bermata abu-abu itu menurunkan tubuhnya. Dia berlutut di hadapan putri semata wayangnya. Benjamin kemudian menggenggam erat jemari mungil gadis berumur sepuluh tahun tersebut. "Semua orang hidup dengan karakter yang berbeda-beda. Kau, aku, dan yang lainnya. Walaupun dirimu adalah putri kandungku, tapi itu tidak berarti bahwa kau sepenuhnya mewarisi karakter ayahmu ini. Kau membawa karakter sendiri yang terbentuk dari lingkungan dan juga faktor lainnya. Begitu juga antara Samantha dan Elle. Mereka adalah dua orang yang berbeda, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kau tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan dari cerita. Akan terasa bijaksana jika kau berusaha untuk mengenalnya dengan lebih dekat. Caranya adalah akrabkan dirimu dengan dia, maka kau akan tahu dan dapat memastikan seperti apa dirinya. Barulah kau bisa menghakimi orang itu dengan sesuka hatimu," jelas Benjamin. Dia harap Fleur dapat memahami apa yang dirinya ucapkan.
Fleur tidak menjawab. Gadis kecil berambut cokelat tembaga itu hanya dapat tertunduk lesu. Dia sadar bahwa selama ini dirinya telah membuat sang ayah berada dalam dilema dan juga kegalauan yang luar biasa. "Maafkan aku, Papa," ucap Fleur pelan.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Lagi pula, aku tidak tahu di mana Elle dan kapan dia akan kembali. Tak masalah, Fleur. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini," Benjamin kemudian bangkit. "Bersiaplah. Hari ini kau harus kembali menjalani terapi," ucapnya lagi. Dia lalu berbalik dan melangkah ke dekat pintu.
"Papa," panggil Fleur pelan, tapi berhasil membuat Benjamin tertegun serta menghentikan langkahnya. Pria berambut cokelat tembaga itu menoleh. "Tolong jangan usir nenek dari rumah ini," ucap gadis kecil bermata abu-abu itu. "Biarkan nenek tetap berada di sini dan menemaniku," pintanya lagi.
Benjamin mengempaskan napas panjang. Dia terlalu lelah dengan semuanya. Ditatapnya sang putri untuk sejenak. Setelah itu, perhatiannya beralih kepada Aamber yang masih duduk bersimpuh di lantai dengan wajah tertunduk. Rasa iba mulai menyeruak dalam hati sang pemilik hotel mewah tersebut. Benjamin kembali mengarahkan pandangan kepada Fleur. "Baiklah," jawabnya, "aku akan memberikan satu kesempatan lagi untuknya. Namun, jika dia masih berusaha meracuni pikiranmu, maka jangan berharap akan ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya," lanjut Benjamin dengan setengah mengancam.
Mendengar ucapan dari Benjamin, Aamber segera mengangkat wajah. Dia menatap lekat pria yang dulu sangat mencintai Samantha, putrinya. Rona bahagia dan juga lega terlukis dengan sangat jelas. Aamber bahkan kini dapat menyunggingkan seutas senyuman di bibirnya. "Terima kasih, Ben. Terima kasih," ucapnnya dengan tulus. Akan tetapi, Benjamin tidak menanggapi ucapan terima kasih yang diucapkan wanita paruh baya tersebut. Dia hanya menoleh sesaat, kemudian berlalu keluar kamar.
"Ke manapun kau ingin pergi, pasti akan aku temani, Sayang," sahut Aamber dengan penuh haru. "Aku bahagia mendengarmu memanggilku dengan sebutan nenek. Maafkan aku karena telah mengabaikanmu selama ini. Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu," sesal Aamber kemudian.
"Kalau begitu temani aku sekarang juga," pinta Fleur tanpa menanggapi ucapan permintaan maaf dari Aamber. Wanita paruh baya tersebut segera mengangguk. Dia lalu berdiri dan berpindah ke belakang kursi roda. Setelah itu, Aamber mendorongnya perlahan keluar dari kamar. Tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Benjamin yang entah berada di mana, mereka berdua pergi menuju ke tempat terapi dengan diantar oleh seorang sopir. Akan tetapi, di tengah perjalanan Fleur tiba-tiba meminta agar sang sopir mengantarkannya ke tempat lain, yaitu kediaman keluarga Hillaire.
__ADS_1
"Kau yakin, Fleur?" tanya Aamber setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan kediaman mewah milik Edgar.
"Iya, Nenek," jawab Fleur dengan yakin. "Tolong bantu aku turun," pintanya.
Tanpa banyak protes, Aamber segera menuruti permintaan sang cucu. Dengan dibantu sopir, dia mendudukan Fleur di atas kursi rodanya. Setelah itu, dirinya meminta izin untuk masuk kepada seorang penjaga yang berada di pos depan. Setelah itu, Aamber lalu mendorong kursi roda yang diduduki Fleur memasuki halaman. Sejenak dia begitu takjub dengan kemewahan dari bangunan tempat tinggal keluarga Hillaire. Wanita paruh baya itu tertegun untuk sejenak ketika dia menghadapi deretan anak tangga untuk bisa sampai ke teras.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang pemuda yang tiada lain adalah Darren. Dia muncul dari bagian lain halaman rumah tersebut.
Aamber segera menoleh dan tersenyum. "Kami ingin bertemu dengan tuan Hillaire, tapi aku bingung bagaimana caranya membawa cucuku hingga ke depan pintu. Anak tangganya terlalu banyak," ujar Aamber.
"Oh. Mari kubantu," tanpa sungkan, Darren segera membopong tubuh Fleur menuju teras.
__ADS_1