
"Semalam paman Moe berbincang lama dengan paman Keanu dan juga Ben, tapi kenapa ayah tidak ikut bergabung? Ayah baru turun setelah paman Moe pergi," ucap Autumn sambil merapikan tempat tidurnya. Sesuatu yang jarang bahkan tak pernah dia lakukan selama di Paris.
Arumi yang saat itu berdiri sambil memperhatikan putrinya, tidak segera menjawab. Haruskah dia mengatakan bahwa Edgar masih kerap cemburu terhadap Moedya? Itu hanya akan menjadi bahan olok-olok anak gadisnya. Arumi sadar bahwa mereka bukanlah anak muda lagi yang kerap digelayuti kegalauan karena masalah cinta, meskipun dia yakin bahwa Autumn sudah bisa memahami hal itu dengan baik.
"Paman Moe terlihat sangat canggung. Padahal, kemarin-kemarin saat sebelum ibu dan ayah datang kemari, dia tampak biasa saja," ujar Autumn lagi. Dia telah selesai dengan pekerjaannya.
"Apa Moedya sering kemari, Elle?" tanya Arumi. Nada bicaranya terdengar sedikit ragu saat menanyakan hal itu.
"Ya. Paman Moe kerap datang dan menemaniku berbincang-bincang. Ada banyak hal yang kami bahas. Aku rasa dia mungkin sebenarnya ingin menanyakan Ibu, tapi tidak berani melakukannya," ucap Autumn lagi. Gadis itu berdiri di depan cermin, lalu memperhatikan bayangannya sendiri. "Seperti apa rasanya saat kehilangan orang yang kita cintai? Pasti menyakitkan. Namun, tentu jauh lebih menyakitkan ketika melihat dia menjadi milik orang lain. Aku tidak bisa membayangkan hal itu," Autumn seakan bicara pada bayangan dirinya.
Arumi tersenyum kecil sambil melangkah tenang ke dekat putri sulungnya. Dia lalu berdiri sedikit di belakang gadis itu. Arumi meletakkan dagu di atas pundak Autumn yang memiliki postur hampir sama dengannya. Dia menatap ke dalam cermin dan saling beradu pandang dengan sang anak. "Karena itulah kita harus belajar untuk merelakan segala sesuatu yang tak ditakdirkan untuk kita. Pada awalnya, pasti terasa begitu berat. Akan tetapi, Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk kita," Arumi mengelus lembut kedua lengan Autumn. Sedangkan gadis bermata abu-abu itu masih terpaku menatap dirinya dan sang ibu lewat pantulan cermin.
"Aku dan ayahmu pernah menjadi sepasang kekasih selama hampir dua tahun. Setelah masa pendidikanku di Paris selesai, aku kembali ke Indonesia dan meninggalkan segala hal di Perancis. Tanpa diduga ternyata ayahmu menyusulku ke Indonesia. Akan tetapi, saat itu aku telah lebih dulu jatuh cinta kepada Moedya," Arumi tersenyum getir. "Entah apa maksud takdir melakukan permainan seperti itu. Lihatlah sekarang, aku kembali bersama ayahmu, Edgar Hillaire," Arumi tertunduk untuk sesaat.
"Paman Moe pria yang baik, tapi ayahku pasti jauh lebih baik. Karena itulah Ibu memilihnya. Iya, kan?"
"Ya, kau benar," sahut Arumi mengecup pundak putrinya. "Aku senang melihat Benjamin memperlakukanmu dengan penuh cinta. Sikapnya mengingatkanku kepada ...." Arumi tak melanjutkan kata-katanya. Dia beranjak dari dekat Autumn, lalu memilih untuk duduk di ujung tempat tidur.
"Kepada siapa, Bu?" tanya Autumn. Gadis itu membalikkan badan dan menatap sang ibu.
__ADS_1
"Tentu saja kepada ayahmu. Dia pria yang sangat dewasa, meskipun terkadang bersikap manja padaku," Arumi tertawa renyah. Sesaat kemudian, dia kembali terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat itu, Autumn pun tak tahu. Makin dirinya memperhatikan sang ibu, dia semakin merasa tak mengerti dengan perubahan emosi yang diperlihatkan oleh wanita berusia empat puluh delapan tahun tersebut.
Sesaat kemudian, Arumi beranjak dari duduknya. "Aku akan ke dapur dan membantu tante Puspa," pamitnya. Dia pun beranjak keluar kamar meninggalkan Autumn sendirian. Setelah merapikan penampilannya, tak lama kemudian gadis itu memutuskan untuk keluar kamar.
Jenna sudah pergi ke toko. Sedangkan Darren ikut dengan Edgar dan Keanu entah ke mana. Autumn lalu masuk ke dapur. Di sana, dia melihat Arumi dan Puspa yang tengah asyik berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk pergi ke beranda samping. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Moedya yang baru dipersilakan masuk oleh Titin.
"Paman Moe," sapa Autumn dengan senyuman manisnya.
"Hai, Elle," balas Moedya, "kau tidak ke toko?" tanyanya.
"Tidak. Sebentar lagi kami akan kembali ke Perancis. Jadi, aku tidak ingin menambah kenangan indah di sini," gurau Autumn diiringi tawa pelan.
"Ya, seharusnya seperti itu, tapi ...." Autumn memainkan kedua bola matanya yang indah. "Apa kau ingin bertemu dengan paman Keanu?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Aku menghubunginya sejak tadi, tapi dia tidak menjawab panggilan dariku," jelas Moedya.
"Paman Keanu sedang pergi dengan Darren dan juga ayahku. Aku tidak tahu mereka ke mana. Kenapa tidak kau tunggu saja sambil menemaniku berbincang-bincang?" Autumn menggerakkan sebelah alisnya.
"Bukan ide buruk. Lagi pula, aku sedang santai," Moedya menerima tawaran dari Autumn. Mereka berdua pun berjalan menuju beranda dan duduk di sana.
__ADS_1
"Jadi, kapan kau kembali ke Perancis?" tanya Moedya membuka kembali percakapannya bersama Autumn.
"Akhir minggu ini. Aku sudah terlalu lama meninggalkan Paris. Ayahku juga masih banyak urusan pekerjaan di sana," jelas Autumn seraya memeluk bantal sofa.
"Ya, itu pasti," Moedya menanggapi sambil manggut-manggut pelan. "Jadi, Benjamin Royce adalah pria yang selama ini sering kau bicarakan denganku?" tanya Moedya lagi, membuat Autumn tersipu seraya mengangguk pelan. "Sepertinya dia pria yang baik dan juga sudah mapan. Aku membaca pofilnya kemarin. Dia termasuk ke dalam jajaran sepuluh pengusaha teratas di Perancis, bersanding dengan ayahmu."
"Aku tidak peduli dengan hal itu," sahut Autumn dengan enteng. "Bagiku, Ben adalah pria dewasa yang sangat baik," ucapnya lagi. Autumn kemudian terdiam untuk sejenak, sebelum dirinya kembali melanjutkan kata-katanya. "Aku dan Ben akan segera menikah. Pasti menyenangkan andai kau bisa datang ke Perancis. Namun, aku bisa memahami situasinya," Autumn mengempaskan napas pelan, lalu diiringi sebuah keluhan pendek.
"Memangnya apa yang kau pahami, Elle?" pancing Moedya.
Autumn menoleh dan menatap pria paruh baya di sebelahnya. Gadis itu tersenyum simpul. "Entahlah, Paman. Aku lihat kau dan ayahku seperti dua medan magnet yang saling bertolakbelakang. Kau adalah pria yang sangat baik, begitu juga dengan ayahku. Dia yang terhebat. Akan tetapi ...." Autumn tak melanjutkan kata-katanya.
"Kau tidak akan memahaminya dengan detail, Elle. Ada cerita yang sangat panjang antara ... antara ...." Moedya terdiam.
"Antara kau dan ibuku?" sambung Autumn membuat Moedya terkesiap untuk sesaat. "Aku sudah tahu siapa wanita yang sering kau bicarakan kemarin-kemarin," ujar Autumn lagi.
"Apa yang ibumu ceritakan?" tanya Moedya terdengar ragu. "Apa dia mengatakan seberapa pengecutnya seorang Moedya dulu?" ucap pria itu lagi seakan menyesali dan menghakimi dirinya. Sebuah keluhan pelan pun meluncur begitu saja. "Aku benar-benar merasa bodoh dan kacau saat itu, dengan membiarkan ibumu pergi dan terlapas dariku untuk selamanya," Moedya meraup kasar wajahnya.
"Aku tidak tahu secara mendetail seperti apa hubunganmu dengan ibuku dulu. Namun, aku menyukaimu, Paman. Kau seperti ayah bagiku. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan, jika dapat melihatmu bertegur sapa dalam obrolan-obroan santai dengan ayahku. Sama seperti yang sering kau lakukan terhadap paman Keanu," tutur Autumn pelan.
__ADS_1
"Apa ayahmu bersedia untuk melakukannya juga?" tanya Moedya.