
Benjamin tersenyum menggoda saat mendengar apa yang Autumn ucapkan padanya. Tangan kiri pria itu masih melingkar nyaman, pada pinggang ramping gadis berambut panjang itu. Sementara tangan kanannya mulai menelusuri paras cantik dengan polesan make up flawless, yang membuat kecantikan Autumn tampak lebih alami. "Kau yakin tak akan membiarkan aku masuk," suara dan helaan napas Benjamin menghangat di dekat telinga Autumn, membuat gadis itu mulai terbuai. Ia tersenyum sambil memejamkan kedua mata, terlebih ketika bulu-bulu halus yang menghiasi sebagian wajah rupawan pria itu, terasa menggelitik lehernya. Autumn menggelinjang perlahan. Akan tetapi, ia tak bisa melarikan diri karena Benjamin merangkulnya dengan erat.
Autumn melingkarkan kedua tangannya di leher Benjamin. Gadis itu mere•mas tengkuk kepala pria itu demi menanggapi godaan yang begitu besar dan rasanya tak mampu untuk ia tolak. De•sahan pelan pun meluncur tanpa harus diperintahkan.
"Kau memiliki tubuh yang sangat indah, Elle. Aku benar-benar menyukainya," bisik Benjamin lagi. Ia menutup rayuannya dengan sebuah lumat•an mesra yang semakin membakar gairah dalam diri Autumn saat itu. Gadis dengan dress floral tersebut membiarkan saja ketika tangan nakal Benjamin mulai menjelajahi lekuk-lekuk indah tubuhnya.
"Apa kau akan mengajakku bercinta dengan pintu yang tak terkunci, Ben?" Autumn mengingatkan bahwa di rumah itu tak hanya ada mereka berdua. Benjamin pun menghentikan kenakalannya, kemudian berdecak pelan. Ia tersenyum seraya melepaskan rangkulan dan berjalan ke arah pintu. Baru saja pria itu akan memegang handle pintu tersebut, sebuah seruan nyaring terdengar di sekitar kamar itu. Jelas sudah jika itu adalah suara Fleur yang tengah memanggil-manggil namanya.
Benjamin mengempaskan napas penuh sesal. Ia menoleh kepada Autumn yang masih berdiri sambil menatapnya. Dengan agak malas, pria bermata abu-abu itu memutar handle pintu hingga terbuka. Fleur si gadis kecil yang manis, sudah berdiri di luar kamar tersebut dengan giginya yang ompong. "Papa," sapa gadis itu masih dengan senyum lebarnya. "Aku ingin Papa mengantarkanku ke tempat les," ucapnya manja, membuat Benjamin hanya terdiam untuk sejenak. Ia kemudian menoleh kepada Autumn dan memberi isyarat terhadap gadis itu.
Autumn melangkah ke dekat pintu dan berdiri di sebelah Benjamin. Ia tersenyum manis kepada putri kecil dari kekasihnya itu. "Hai, Fleur. Kau akan berangkat sekarang?" tanyanya.
"Ya, Elle. Aku harap kau tidak keberatan jika Papa mengantraku ke tempat les," ucap Fleur dengan wajah polosnya yang terlihat menggemaskan. Mata gadis kecil itu membulat sempurna seperti boneka yang diberi nyawa.
Autumn yang pada dasarnya memang menyukai anak-anak, tentu tak kuasa melihat hal menggemaskan itu. "Tak ada alasan bagiku untuk merasa keberatan, Fleur. Kau boleh membawa papamu kapanpun kau mau," jawab Autumn dengan diiringi tawa renyah.
__ADS_1
"Baiklah. Aku menyukaimu, Elle. Kau gadis yang baik dan ramah. Nanti kita akan berbincang-bincang lagi sepulang les. Aku ingin bercerita banyak denganmu," ujar Fleur seraya menarik tangan sang ayah yang tak berkomentar sedikitpun. Ia menyempatkan untuk kembali menoleh kepada Autumn saat Fleur menariknya. Benjamin tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Aku akan menunggumu, Fleur!" seru Autumn dengan senyum geli. Akhirnya ia dapat bernapas lega. Namun, Autumn juga kembali teringat jika ia harus menghadiri pesta pernikahan sahabat lamanya Joelene. Segera gadis itu membuka kopernya dan memeriksa semua perlengkapan yang akan ia kenakan esok, termasuk high heels yang jarang sekali ia kenakan.
Autumn memang selalu terlihat manis dengan gaya penampilannya yang girly. Namun, gadis itu kurang menyukai aksesories yang membuat geraknya merasa terbatasi, salah satunya adalah high heels. Gadis itu mengela napas pelan dan mengempaskannya perlahan. Sesaat kemudian, ia beranjak ke dekat jendela dan menatap kolam air mancur dengan ukuran yang cukup besar di halaman samping rumah itu. Sebuah senyuman kecil tersungging di sudut bibir Autumn. Ia merasa ingin terbang dengan semua rayuan dari Benjamin Royce untuknya.
Akan tetapi, semua lamunan indah tentang pria rupawan itu segera sirna seketika, bersamaan dengan terdengarnya suara dering telepon dari ponsel yang masih tersimpan di dalam tas. Autumn segera meraih tas selempangnya dan merogoh ke dalam untuk mengambil benda itu. Segera ia memeriksa panggilan masuk ke nomornya.
Nama Gabriel tertera di layar ponsel. Autumn mengernyitkan keningnya, tetapi ia tetap menjawab panggilan itu. "Gabriel?" sapa Autumn.
"Ya, tapi aku sudah meminta izin kepada Elloise. Aku tidak masuk hingga dua hari ke depan," jawab Autumn heran. Ia tak mengerti kenapa Gabriel masih bertanya padanya.
"Oh, begitukah? Ya, mungkin Elloise lupa mengatakannya padaku. Lagi pula, aku tadi tidak sempat bertanya padanya. Aku harap kau baik-baik saja, Elle," ucap pria itu lagi perhatian.
Autumn tertawa pelan mennggapi perhatian dari Gabriel. Akan tetapi, gadis itu tak merasa tersanjung sedikitpun. "Ya, tentu. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik. Aku hanya sedang ada sedikit urusan pribadi. Tak perlu kujabarkan, bukan?" Autumn kembali tertawa pelan.
__ADS_1
"Oh, jika kau tak ingin membaginya denganku, maka aku tak akan memaksa. Semoga semuanya lancar, Elle," suara Gabriel terdengar semakin pelan.
"Terima kasih. Aku berharap hal yang sama untukmu juga," balas Autumn. Sesaat kemudian, ia pun mengakhiri perbincangan itu, terlebih karena ia menerima pesan masuk dari Arumi dan juga Benjamin. Autum lebih dahulu membalas pesan dari sang ibu. Ia mengabarkan bahwa dirinya telah tiba di Marseille. Setelah itu, Autumn membuka pesan dari Benjamin. Pria itu mengirimkan video Fleur yang tengah berlatih balet.
Autumn dapat merasakan bahwa Benjamin begitu menyayangi Fleur. Ia tak tahu seberapa besar, tapi yang pasti sangatlah besar, dan mungkin melebihi dari sayang terhadap dirinya. "Haruskah aku merasa cemburu terhadap seorang gadis kecil?" gumam Autumn pada dirinya sendiri. Ia tak ingin berpikiran yang macam-macam. Lagi pula, adalah hal sangat wajar jika seorang ayah begitu menyayangi putrinya.
Hari terus beranjak menuju sore. Benjamin dan Fleur telah kembali. Sedangkan Autumn sudah mandi dan berganti pakaian, ketika Fleur datang ke kamar yang ditempati gadis itu. Fleur mengajak Autumn ke suatu tempat. Ternyata, gadis kecil itu membawa Autumn pergi ke kamarnya.
"Ini kamarmu, Fleur?" tanya Autumn yang merasa begitu takjub dengan suasan dalam ruangan bernuansa baby pink tersebut.
"Iya, Elle. Papa membelikan banyak boneka untukku. Aku juga punya banyak sekali aksesories. Kau ingin melihat yang paling aku sukai?" Fleur melepaskan genggaman tangannya dari Autumn. Gadis kecil itu lalu berjalan menuju meja kabinet dengan laci beberapa susun. Ia tampak mengambil sesuatu dari sana.
Sementara Autumn melihat sekeliling kamar itu dengan berbagai hal yang ada di sana. Sepasang mata abu-abunya, kemudian terkunci pada dinding yang dipenuhi oleh potret seorang wanita berambut hitam dengan senyumannya yang terlihat sangat indah.
Autumn mendekat ke arah kumpulan potret itu. Ia menatapnya dengan lekat. Dalam hati, dirinya sudah dapat menebak siap wanita tersebut.
__ADS_1
"Itu adalah foto mamaku, Elle. Papa sengaja memajangnya agar aku bisa melihat wajah mamaku setiap saat. Papa mengatakan padaku bahwa mama adalah wanita tercantik dan paling istimewa yang pernah ia kenal."