The Gray Autumn

The Gray Autumn
Firm Decision


__ADS_3

Siang itu, Edgar tampak menemui seorang pria di sebuah cafètaria. Pria tersebut kemudian menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat kepadanya. "Ini. Sesuai dengan yang Anda minta, Tuan Hillaire," ucap pria berambut agak gondrong itu kepada Edgar, yang segera menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan.


"Terima kasih, Lucas. Kau memang selalu dapat kuandalkan," balas Edgar. Tersungging sebuah senyuman bangga di sudut bibirnya. "Aku akan memeriksanya nanti setelah tiba di rumah," ucap pria itu lagi sambil mengenakan mantel hitam dan berdiri.


"Anda akan pulang sekarang? Aku pikir, kita akan minum kopi bersama terlebih dulu," protes pria bernama Lucas itu dengan hangat.


"Aku masih ada urusan lain. Habiskan kopimu. Tenang saja, karena aku sudah membayarnya," selesai berkata demikian, Edgar kemudian beranjak keluar dari cafètaria tersebut. Dia berjalan dengan gagah menuju ke tempat kendaraannya terparkir di seberang jalan. Akan tetapi, tanpa sengaja Edgar bertabrakan dengan seorang pria muda. "Oh, maaf," ucapnya tanpa menoleh. Dia bergegas menuju mobil dan bermaksud untuk membuka pintu.


Namun, belum sempat Edgar masuk ke mobil, terdengar pria tadi memanggil. "Tuan Hillaire? Apa kabar?" Edgar mengurungkan niatnya dan menoleh. Dia menatap pria muda yang tengah melangkah ke arahnya dan berdiri di dekat mobil. Pria muda itu tersenyum. "Anda selalu terlihat bugar, Tuan," ucapnya lagi.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Edgar bertanya seraya menautkan alis. Dia merasa ragu kepada pria yang kini berdiri di hadapannya tersebut.


"Bertemu secara langsung memang tidak pernah, tapi aku tahu siapa Anda," jawab pria muda yang terlihat ramah itu. Sesaat kemudian, dia mengulurkan tangan dan mengajak Edgar untuk bersalaman. "Namaku Leonardo Orville. Anda pasti tidak mengetahui siapa diriku. Elle tidak mungkin bercerita tentangku kepada ayahnya," ujar pria muda yang tiada lain adalah Leon.


"Leonardo Orville? Maaf, aku tidak pernah mendengar nama itu," sahut Edgar. Dia kembali meraih pegangan pintu dan bermaksud untuk membukanya. Namun, lagi-lagi apa yang akan dia lakukan kembali pria itu urungkan, setelah dirinya mendengar ucapan Leon.

__ADS_1


"Aku adalah kekasih Autumn, putri Anda," terang Leon dengan tenang, membuat Edgar segera menoleh padanya. Dia menatap Leon dengan lekat seakan tengah menyelidiki pria muda tersebut. Sesaat kemudian, Edgar menyunggingkan sebuah senyuman samar penuh keraguan. "Kekasih putriku?" gumamnya seraya mengernyitkan kening dan diiringi sebuah gelengan pelan. Dia tak dapat mempercayai orang asing dengan begitu saja.


"Asal Anda tahu, Tuan. Aku dan Autumn atau Elle ... telah menjalin hubungan selama lebih dari satu tahun. Awalnya kisah cinta kami sangat manis dan berjalan normal. Namun, akhir-akhir ini jalinan asmara kami berdua menjadi renggang. Elle bahkan selalu menghindariku," tutur Leon, sementara Edgar hanya manggut-manggut saat mendengarnya. "Lalu?" tanya pria paruh baya bermata abu-abu itu.


"Aku hanya ingin sebuah kejelasan dari putri Anda tentang kelanjutan hubungan kami. Bagaimanapun juga, aku tak akan pergi sebelum dia memberikan keputusan. Namun, sayangnya saat ini Elle sudah bersikap seperti seorang gadis murahan. Dia berdekatan dengan tiga pria sekaligus dalam waktu yang bersamaan," tutur Leon lagi dengan santainya.


Akan tetapi, sikap tenang Leon seketika sirna ketika Edgar dengan cepat meraih kerah jaket yang dikenakannya. Ucapan tidak sopan Leon telah memantik emosi dalam diri Edgar yang memang sedang dilanda banyak pikiran. Pria bermata abu-abu itu mencengkeram kerah jaket Leon dengan kencang. "Berani sekali kau berbicara seperti itu tentang putriku!" ucap Edgar dengan penuh penekanan. Dia terlihat begitu emosi. Edgar tak peduli, meskipun dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar jalanan itu.


"Hey, Tuan tenanglah," Leon mendorong tubuh Edgar dengan perlahan. Dia menjauhkan pria itu dan memberinya sedikit jarak. "Anda pria terhormat. Tidak sepantasnya jika pria seperti Anda membuat keonaran di tempat umum. Lagi pula, yang aku katakan memanglah suatu kenyataan. Aku melihat Elle bersama dua pria berbeda, selain diriku tentunya. Anda tahu, bahkan salah satu dari mereka telah memiliki anak. Bisa saja jika pria itu juga masih beristri," ujar Leon lagi dengan penuh percaya diri. Dia berkata dengan seenaknya dan penuh cibiran.


Selama di dalam perjalanan, Edgar terus memikirkan ucapan Leon tadi. Dia yakin jika salah satu pria yang Leon maksud pastilah Benjamin. Suasana hati yang tak karuan, membuat Edgar membatalkan acaranya yang lain. Dia memilih untuk langsung pulang ke rumah.


"Aku pikir kau akan ...."


"Kita bicara nanti saja, Arum," Edgar terus berjalan menuju ruang kerjanya tanpa menoleh kepada Arumi yang saat itu tampak kebingungan melihat sikap sang suami. Namun, Arumi lebih memilih untuk tidak banyak bicara.

__ADS_1


Setibanya di ruang kerja, Edgar segera duduk di atas kursi kebesarannya. Dia langsung membuka amplop berisikan lembaran-lembaran kertas yang segera diperiksa. Sesaat kemudian, Edgar tampak meremas kertas-kertas tadi. "Kurang ajar!" geramnya. Dia meraup wajah dengan kasar. Setelah itu, Edgar memutuskan untuk keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju kamar.


Tampaklah Arumi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Segera disambutnya sang suami dengan senyuman mesra. "Ada apa lagi, Ed?" tanyanya lembut seraya mencium pria itu.


"Katakan padaku, Arum!" Edgar menjauhkan wajah cantik Arumi darinya. "Apakah kau sudah mengetahui bahwa Benjamin Royce telah memiliki seorang anak?" selidiknya.


Arumi tak segera menjawab. Dia menatap Edgar untuk sejenak. Sesaat kemudian, wanita berdarah Indonesia itu mengangguk pelan. "Ya, Ed. Aku sudah mengetahui hal itu. Tepatnya beberapa hari yang lalu," jawab Arumi.


Edgar mendengus kesal seraya melepaskan tangannya dari lengan sang istri. Dia membalikan badan hingga membelakangi wanita itu. "Kalian semua telah membodohiku!" geramnya pelan.


"Tak ada siapa pun yang bermaksud untuk membodohimu, Sayang," sanggah Arumi. "Ini hanya tentang waktu yang tepat dan tidak untuk mengungkpakannya. Bersikap tenanglah dan pikirkan baik-baik. Kau harus memberikan keputusan untuk lamaran dari tuan Royce," saran Arumi tetap mencoba bersikap tenang.


"Aku rasa kau pasti sudah mengetahui jawabanku!" tegas Edgar dengan tetap membelakangi Arumi.


"Apa kau yakin, Ed? Kau tidak akan mempertimbangkannya lagi?" bujuk Arumi.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberikan putri yang telah kujaga dengan baik, kepada pria yang lebih pantas menjadi pamannya! Apalagi pria itu sudah memiliki anak!" putus Edgar dengan sangat tegas.


__ADS_2