
"Apakah kita akan tetap menikah meskipun Fleur tidak menyetujuinya?" tatap mata Autumn tampak ragu dia layangkan terhadap Benjamin.
"Kita akan tetap menikah, dengan atau tanpa persetujuan Fleur. Aku sangat menyayangi anak itu, tapi aku juga membutuhkanmu dalam hidupku. Sepertinya memang akan terasa sulit dan berat untuk meraup dua keuntungan dalam satu waktu. Namun, aku yakin Tuhan akan selalu memberikan jalan untuk sebuah niat baik," ujar Benjamin seraya kembali menggenggam jemari Autumn. "Aku senang karena tuan Hillaire akhirnya bersedia menerima lamaranku, meskipun entah dengan rasa tulus atau justru sebaliknya. Selama dia sudah mengatakan iya, maka pintu masuk itu telah terbuka untukku. Aku akan membawamu, Elle," ucap pria bermata abu-abu itu lagi, membuat Autumn kembali menyandarkan kepalanya, pada bahu berlapis mantel trench coat hitam sang kekasih. Untuk sejenak, kedua insan yang sedang dilanda kasmaran itu saling terdiam menikmati senja yang mulai turun menyelimuti kota Paris. Keduanya selalu berharap agar musim gugur kali ini, menjadi moment terindah dan bukan berakhir dengan kelabu.
"Aku akan berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Fleur. Sejujurnya jika aku merasa takut, tapi keyakinanmu untuk hal itu telah membuatku merasa percaya diri. Aku akan melakukan yang terbaik," ucap Autumn yang mulai menumbuhkan sikap positif dalam dirinya.
"Sudah seharusnya kau berpikir begitu. Usia muda, tak berarti membuat seseorang akan selalu terpenjara dalam sifat manja dan kekanak-kanakan. Kau pasti tahu bahwa ada banyak orang dewasa yang jauh lebih kekanak-kanakan. Aku menyukai karaktermu yang selalu bicara apa adanya. Kau seakan tidak takut dengan pandangan buruk seseorang atas dirimu," Benjamin mengalihkan tatapannya pada paras cantik Autumn. Perasaan itu telah kembali, dan bahkan jauh lebih kuat dari apa yang pernah dia persembahkan untuk Samantha dulu.
"Aku hanya melakukan apapun yang aku sukai dan aku inginkan. Terserah orang lain akan berpikir apa tentang diriku, karena mereka bukan robot dengan otak yang dapat dikendalikan menggunakan sistem secanggih apapun. Setidaknya, itu yang selalu ibu tekankan padaku. Tak selamanya kita akan selalu terlihat baik dan keren di mata orang lain, terlebih dalam pandangan seseorang yang memang merasakan kebencian tersendiri. Rambutku akan beruban sebelum waktunya jika terus memikirkan hal seperti itu," Autumn tertawa renyah atas kata-katanya sendiri. Sesaat kemudian, dia membalas tatapan lembut Benjamin. "Kau juga ternyata merupakan pribadi yang sangat luar biasa. Pernah ada seseorang yang mengatakan padaku, kenalilah sesuatu dengan sedetail mungkin, baru aku bisa mengambil kesimpulan atau menghakiminya sekalian. Aku tahu kau pria yang nakal, tapi ternyata aku menyukai dan merasa nyaman berada dalam kenakalanmu," ujar Autumn kembali tertawa renyah, sehingga memperlihatkan sepasang lesung pipi yang cantik.
Senja itu, mereka habiskan berdua dengan sangat manis. Benjamin pun kembali ke rumahnya membawa perasaan yang mulai tenang dan ringan. Pria itu melangkah ke ruang kerja, kemudian tampak menghubungi seseorang. Dia juga memanggil Aamber agar segera menemuinya. Tanpa harus menunggu terlalu lama, wanita paruh baya itu muncul. Dia berdiri dengan jarak beberapa langkah dari tempat Benjamin berada. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan, Ben?" tanyanya membuka percakapan.
__ADS_1
"Ya," jawab Benjamin singkat dan biasa saja.
"Fleur sudah bercerita padaku tentang rencana pernikahanmu dengan Elle. Apakah itu benar?" tanya Aamber dengan nada bicara yang terdengar cukup aneh.
"Itu benar," jawab Benjamin lagi masih dengan nada bicara yang sama. "Berhubung Fleur selalu menurut padamu, maka kuberikan kau tugas kali ini. Bujuklah putriku bagaimanapun caranya, agar dia bisa menerima rencana pernikahan ini. Masalah nanti seperti apa sikapnya terhadap Elle, itu akan menjadi urusanku. Aku tidak ingin rencana yang sudah dipersiapkan berakhir dalam kegagalan. Sekali ini saja, Aamber," tegas dan tak main-main perintah dari Benjamin kepada sang pengasuh putrinya.
"Ben, aku tidak ...." Aamber tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Benjamin menyela hingga wanita itu terdiam.
Aamber seketika terhenyak mendengar ancaman serius tersebut. Dia tak mengira bahwa Benjamin akan mengeluarkan ancaman yang begitu tegas padanya, seakan-akan dirinya yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi. "Tidak, Ben. Kau tahu jika aku sangat menyayangi Fleur. Aku sudah tua dan kesepian, tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Tolong jangan lakukan hal seperti itu padaku," mohon wanita paruh baya bertubuh agak gemuk tersebut. Dia tahu jika Benjamin bisa saja melakukan apa yang dikatakannya, bukan hanya sekadar mengancam.
"Aku serius kali ini, Aamber. Jadi, tolong agar kau bisa bekerja sama," Benjamin mulai mengubah intonasinya menjadi lebih lunak. "Aku memiliki niat baik, yaitu berkeluarga. Bagaimanapun juga aku membutuhkan seorang pasangan yang akan menemaniku hingga melewati hari tua nanti. Kau pasti tahu, suatu saat Fleur akan menemukan seorang pria yang dicintainya dan menikah. Dia pasti akan pergi meninggalkanku. Saat itulah aku membutuhkan seorang teman, bukan hanya sekadar pengisi kesepian semata, melainkan seseorang yang jauh lebih istimewa dari itu. Kau pernah menikah dan berkeluarga. Aku yakin jika dirimu pasti bisa memahami maksudku dengan baik," lirih kata-kata yang terlontar dari bibir Benjamin saat itu, membuat Aamber lagi-lagi terdiam dan berpikir.
__ADS_1
"Fleur takut jika kau akan menomorduakannya," ucap Aamber pelan saat menanggapi perkataan Benjamin.
"Aku tahu itu. Aku sudah bisa memahami maksud dari semua sikap keras Fleur dalam menolak Elle. Namun, aku tak akan mengalah, karena ini merupakan sebuah keputusan yang telah kuambil dengan pertimbangan yang matang. Aku akan melangsungkan pernikahan bersama Elle pada musim gugur ini," tutur pria bermata abu-abu itu.
"Musim gugur ini? Apakah itu tidak terlalu ...."
"Kau tidak perlu turut campur dalam hal ini, karena tugasmu hanya sebatas pada Fleur. Segala hal yang menjadi urusan pribadiku, bukan merupakan ranahmu, Aamber. Ingatlah itu baik-baik," tegas Benjamin lagi, membuat wanita berambut pendek itu hanya bisa mengangguk setuju dengan lesu.
"Baiklah, Ben. Namun, kumohon jangan bersikap terlalu keras kepada Fleur. Aku tidak tega melihatnya. Tadi dia menangis tak henti-henti," lirih ucapan Aamber yang merasa ikut sedih atas diri anak kecil asuhannya.
Mendengar perkataan Aamber, Benjamin yang awalnya berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja kerja, segera menegakkan tubuhnya. Dia lalu menghampiri wanita paruh baya tersebut. "Kau tidak perlu mengingatkanku akan hal itu. Fleur adalah putriku. Aku tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan padanya. Selama masih dalam kendali yang baik, aku rasa wajar saja. Aku tak ingin dia terlalu bersikap manja, apalagi merasa bahwa setiap hal yang diinginkannya harus terpenuhi dan dapat terlaksana. Tidak, Aamber. Sudah waktunya dia untuk membuka mata dan melihat seperti apa kehidupan yang sebenarnya. Selagi dia masih kecil, aku harus memberitahu Fleur tentang hal seperti itu agar dia bisa lebih mawas diri. Jangankan untuk seorang bocah polos seperti Fleur, bahkan gadis yang sudah dewasa pun masih berada dalam kendali orang tuanya, sehingga dia tak bisa melakukan apapun yang dirinya inginkan."
__ADS_1