
Sementara Benjamin terlihat resah. Dia tak tahu ke mana Fleur, terlebih karena Aamber pun tidak menjawab atau membalas pesan darinya. Pria tampan bermata abu-abu tersebut hanya dapat mondar-mandir tak karuan. Namun, semua kekhawatiran ayah satu anak itu akhirnya sirna, ketika sang putri dan pengasuh yang merupakan neneknya telah kembali ke rumah. Dengan segera dia menghampiri keduanya. "Dari mana saja kalian?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
Fleur dan Aamber saling pandang untuk sejenak. Setelah itu, mereka kembali menoleh kepada Benjamin yang masih memasang raut aneh. "Kami ...." Fleur tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis kecil itu tampak ragu untuk berkata jujur kepada sang ayah.
"Kau tidak pergi ke klinik terapi dr. Wiltord?" nada bicara Benjamin penuh dengan selidik dan kecurigaan.
"Tidak, Ben. Tadi Fleur mengajakku untuk pergi ke kediaman keluarga Hillaire," jelas Aamber tetap terlihat tenang.
Benjamin menautkan alisnya seolah tak mengerti. Dia memandang Fleur dan juga Aamber secara bergantian. "Apa maksudnya?" tanya pria bermata abu-abu itu.
"Ya, Papa. Aku ke sana," timpal Fleur dengan yakin.
"Untuk apa?" tanya Benjamin seraya menatap sang putri masih dengan raut tak mengerti. Dia lalu menghampiri Fleur dan berlutut di hadapan anak semata wayangnya. Benjamin menangkup wajah manis dengan mata abu-abu yang bercahaya itu. "Aku harap kau tidak membuat masalah baru, Fleur," ucapnya was-was. Keresahan tampak jelas pada wajah rupawan pria tiga puluh lima tahun tersebut. Dia takut jika Fleur berulah dan semakin membuatnya berada dalam masalah.
"Kau tenang saja, Ben. Kami ke sana bukan untuk mengacau," Aamber mengambil alih jawaban yang seharusnya dikemukakan oleh Fleur.
Benjamin menoleh padanya untuk sejenak. Namun, tak lama dia kembali mengalihkan perhatian kepada Fleur. "Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"
"Maafkan aku, Papa. Aku sudah menimbulkan banyak masalah bagimu," sahut Fleur penuh sesal. "Aku sengaja datang ke sana untuk mencari Elle, tapi ternyata dia tidak ada. Tuan Hillaire mengatakan bahwa Elle sedang tidak berada di Paris," terangnya. Sesekali, gadis kecil itu tertunduk karena tak berani melawan sorot mata yang dilayangkan Benjamin terhadapnya.
"Apa maksudmu?" tanya pria berambut cokelat tembaga itu. Benjamin kembali berdiri dan memperlihatkan postur tegapnya. Namun, dia masih memandang ke arah Fleur dengan tatapan yang penuh selidik bercampur rasa heran.
__ADS_1
"Ya, Ben. Tuan Hilaire mengatakan bahwa Elle memang sedang tidak berada di Paris. Namun, ketika Fleur meminta untuk memberi tahu tentang keberadaannya, ternyata tuan Hillaire tak bersedia mengatakan apapun. Begitu juga dengan nyonya Hillaire. Dia mengatakan bahwa Elle sedang tak ingin diganggu," jelas Aamber.
Benjamin menatap wanita paruh baya tersebut dengan lekat. Dia juga terlihat menautkan alisnya karena tak mengerti. Benjamin tak yakin apakah Autumn benar-benar tidak berada di Paris.
"Apa kau yakin bahwa tuan Hillaire tidak sedang berbohong?"
"Aku rasa tidak. Pria itu terlihat sangat berkharisma. Sepertinya, tak mungkin pria seperti dia melakukan sesuatu yang bodoh," Aamber kembali menegaskan. Sementara Benjamin hanya terdiam.
Hingga siang berlalu dan berganti malam, Benjamin masih duduk termenung. Belasan pesan dan juga panggilan dia tujukan kepada Edgar, tapi tak ada satu pun yang berbalas. Edgar sepertinya memang sengaja menutupi keberadaan Autumn. Namun, jika gadis itu memang tidak berada di Paris, lantas di mana dia kini?
Marseille, hanya kota itu yang ada di dalam benak Benjamin. Namun, dia sendiri merasa tak yakin, terlebih ketika Autumn mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke suatu tempat yang tidak pria itu ketahui.
Benjamin kemudian menuangkan segelas anggur. Dia lalu meneguknya sedikit demi sedikit. Pria itu terus termenung, hingga akhirnya tertidur di atas sofa.
Tanpa terasa, pagi sudah datang. Suara ketukan di pintu ruang kerja, membangunkan pria berambut cokelat tembaga itu. Dengan malas, Benjamin bangkit dan terduduk sejenak. Dia juga menyugar rambutnya. Sebelum beranjak dari sana, Benjamin sempat memijit tengkuk kepala yang terasa pegal, barulah dia berdiri kemudian berjalan ke arah pintu.
Di luar ruang kerja, Fleur telah duduk manis di atas kursi rodanya. Gadis kecil itu sudah terlihat cantik dan rapi. "Bonjour, Papa," sapanya dengan hangat dan ramah.
"Très bien, merci," balas Benjamin. "Kau sudah terlihat sangat cantik," Benjamin menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan Fleur yang berada di atas kursi roda.
"Apa Papa lupa? Hari ini aku akan memulai les piano," ujar gadis berambut cokelat tembaga itu mengingatkan sang ayah.
__ADS_1
"Oh, iya. Apakah memang hari ini?" Benjamin menautkan alisnya. Pikiran Benjamin masih tertuju kepada Autumn, sehingga dia seakan lupa dengan hal lainnya.
"Astaga, Papa. Kau sungguh kacau dan terlihat menyedihkan. Maafkan aku," Fleur memasang wajah sendu yang dipenuhi oleh rasa sesal. Dia tertunduk sambil memilin jemari yang diletakkannya di atas pangkuan. Di sana juga terlihat sebuah dompet dengan ukuran cukup besar berwarna biru langit.
Sikap gadis kecil tersebut, tentu saja telah membuat hati Benjamin menjadi terenyuh. Segera dipeluknya putri dari Samantha Morris dengan erat. Tak lupa, Benjamin mengecup kening gadis kecil tersebut dengan hangat. "Mintalah nenekmu untuk menemani. Hari ini aku harus ke kantor sebentar," ucapnya seraya kembali berdiri.
"Apa hari ini Papa baik-baik saja?" tanya Fleur terlihat cemas. Dia melihat Benjamin yang sangat kacau saat itu.
"Aku harus mandi dan berganti pakaian," sahut pria bermata abu-abu tersebut dengan nada yang terdengar biasa saja.
"Baiklah. Aku akan menunggu di sini sebelum Papa berangkat ke kantor," balas Fleur. Gadis kecil itu menyunggingkan senyuman manis, membuat hati Benjamin terasa begitu damai. Kembali dihampirinya putri kecil berambut panjang tersebut. Benjamin mengelus pucuk kepala Fleur dengan penuh kasih.
"Aku tidak akan lama," ucapnya pelan. Setelah itu, Benjamin berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sementara Fleur menggerakkan kursi rodanya masuk ke ruang kerja sang ayah. Di atas meja, dia melihat foto antara dirinya dan juga Benjamin. Dulu, pria tiga puluh lima tahun itu selalu terlihat tenang dan tanpa beban, sangat berbeda dengan saat ini ketika dia ditinggalkan oleh Autumn. Fleur kembali menggerakkan kursi rodanya mendekati jendela. Gadis kecil bermata abu-abu itu merenung di sana untuk beberapa saat.
Dipandanginya daun-daun yang berguguran di halaman. Sebentar lagi, musim gugur segera tergantikan oleh musim dingin. Salju akan menghiasi kota Paris. Terakhir kali Fleur menikmati musim di dingin di kota mode tersebut adalah ketika dirinya berusia tujuh tahun. Tak terbayangkan jika dia akan kembali menikmati musim itu lagi di sana.
Seutas senyuman muncul di sudut bibir Fleur, membuat gadis kecil itu terlihat semakin manis. Kakinya mungkin tak bisa dia gunakan untuk menari lagi, tapi kini dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang ayah. Jika bukan karena insiden waktu itu, mungkin Benjamin tak akan membawanya pindah dari Marseille.
"Apa yang kau pikirkan, Fleur?" suara berat Benjamin yang sudah kembali dari kamarnya, membuat Fleur tersadar dan segera menoleh. Gadis kecil itu tersenyum. Dia memperhatikan sang ayah dengan saksama. Benjamin saat itu mengenakan kemeja biru langit dengan lengan dilipat hingga tiga per empat, tanpa blazer seperti biasanya.
__ADS_1