The Gray Autumn

The Gray Autumn
Ombre Coquine


__ADS_3

Benjamin mendehem pelan saat mendengar jawaban dari Autumn. Sebisa mungkin ia tak menunjukan sikap aneh atau semacamnya, berhubung Edgar sepertinya memperhatikan tingkah Autumn sejak tadi. Benjamin tetap fokus pada makanan di dalam piringnya.


"Ada apa ke Marseille? Tidak biasanya kau ingin ke sana," tanya Edgar dengan nada menyelidiki. Sedangkan Autumn tak segera menjawab. Ia melirik kepada Arumi. Wanita itu tersenyum lembut.


"Kau masih ingat Joelene, Sayang?" tanya Arumi kepada Edgar.


"Joe? Siapa?" Edgar menautkan alisnya kerena tak dapat mengingat nama yang Arumi sebutkan tadi. Entah tidak ingat, atau bahkan mungkin tak mengenalnya sama sekali.


"Joelene LaRue, Ayah. Ia sahabatku saat sekolah dulu," jelas Autumn mencoba mengingatkan Edgar.


"Ayah tak akan mengingatnya, Elle. Kecuali jika kau membawa langsung sahabat lamamu kemari, itu juga jika orang tersebut benar-benar ada," celoteh Darren yang seketika membuat Autumn melotot tajam padanya.


"Tutup mulutmu!" sergah Autumn. Belum apa-apa, ia sudah merasa jengkel kepada pemuda yang saat itu hanya terkekeh geli.


"Hey, jaga sikap kalian di depan Tuan Royce!" lerai Arumi. "Jangan ribut saat di meja makan," lanjutnya mengingatkan. Sementara Benjamin hanya tersenyum simpul melihat sikap putra-putri dari koleganya tersebut.


Tanpa memedulikan ledekan Darren, Autumn menjelaskan tentang maksudnya pergi ke Marseille. Ia berbicara dengan begitu yakin, sehingga membuat Edgar percaya padanya. Sedangkan Benjamin berkali-kali mengernyitkan kening. Ia tak menyangka jika Autumn begitu pandai bersandiwara. Gadis itu tampak begitu meyakinkan, mulai dari kata-kata hingga bahasa tubuhnya.

__ADS_1


"Memangnya kau akan berapa lama di sana, Elle?" tanya Arumi setelah Autumn selesai berbicara kepada Edgar. Bukannya menjawab, Autumn justru malah melirik kepada Benjamin. Pria itu tak memberitahunya akan berapa lama berada di Marseille. Sesaat kemudian, Autumn mengalihkan pandangan kepada sang ibu.


"Aku rasa mungkin sekitar dua atau tiga hari," jawab Autumn ragu. "Jika sempat aku akan mengunjungi makam kakek dan nenek, um ... aku butuh liburan," ujar gadis itu lagi.


"Terakhir kita pergi ke sana kau terus menggerutu, Elle," celetuk Darren kembali menimpali. "Kau bahkan pulang dengan membawa kekesalanmu kemari. Entah apa atau siapa yang telah membuatmu demikian," ledek pemuda itu lagi dengan puas. Ia tertawa pelan tapi terlihat begitu menikmati saat melihat raut protes dari Autumn. Sementara Benjamin hanya menggaruk keningnya. Ia tahu betul kejadian terakhir sebelum mereka kembali ke Paris.


"Tutup mulutmu, Bodoh!" sentak Autumn. Ia bertambah jengkel terhadap celotehan sang adik yang dirasa semakin menyebalkan.


"Elle, Sayang. Jaga sikapmu, Nak!" Arumi kembali melerai kedua buah hatinya yang sudah cukup dewasa, tapi masih berperilaku seperti kanak-kanak. "Kau juga, Darry. Berhentilah mengganggu kakakmu!" tegur Arumi terhadap Darren yang saat itu hanya senyam-senyum menanggapi teguran dari sang ibu.


"Maafkan kekacauan mereka, Tuan Royce," ucap Edgar seraya menggeleng pelan. Ia tak habis pikir dengan sikap putra-putrinya.


"Anda sungguh pengertian, Tuan Royce. Aku rasa karena itulah Anda bisa menjadi seorang bos besar yang sukses, sebab pemahaman yang Anda miliki akan sesuatu sungguh mendalam. Sangat jauh berbeda dengan pemahaman dangkal adikku," Autumn tertawa renyah karena telah berhasil membalas semua ledekan Darren padanya.


Darren terlihat akan membalas sang kakak. Akan tetapi, dengan segera Arumi mencegahnya. "Sudah cukup! Jangan sampai tuan Royce mengetahui sikap kekanak-kanakan kalian berdua lebih jauh lagi. Biarkan ia menikmati makan malamnya dengan tenang," ujar Arumi cukup tegas. Kata-kata itu ia tujukan untuk kedua anaknya. Sedangkan Edgar hanya berdecak tak percaya.


"Kau sudah mulai mengenal tuan Royce dengan baik rupanya," ujar Edgar yang ia tujukan kepada Autumn.

__ADS_1


"Ah, iya tentu. Tuan Royce mengajariku banyak hal. Segala sesuatu yang belum aku ketahui sebelumnya. Ia menjelaskan dengan begitu terperinci dan amat sangat mendetail, hingga aku bisa memahami semua yang ia ajarkan padaku dengan mudah. Aku belajar banyak hal darinya, dan itu sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa. Sebuah pengalaman yang mengagumkan dan tak akan pernah aku lupakan. Menurutku tuan Royce adalah pembimbing yang sangat hebat dan begitu berpengalaman," tutur Autumn sambil menopang wajahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk memainkan sendok. Ia menatap Benjamin dengan sorot matanya yang dipenuhi kekaguman. Dalam benak gadis itu kembali terbayang semua aktivitas panas yang pernah ia lakukan bersama pria tersebut.


"Baguslah jika kau telah belajar banyak. Aku juga merasa begitu tersanjung karena tuan Royce bersedia mengajarimu secara langsung, Elle," Edgar menanggapi semua penuturan Autumn dengan raut bangga sekaligus heran dan tak percaya.


Sementara Benjamin hanya menggumam pelan. Ia tak tahu harus berkata apa selain tersenyum dan mengiyakan ucapan Edgar. "Aku hanya memberi sedikit arahan, Tuan Hillaire. Putri Anda belajar dengan sangat cepat dan mampu menangkap semua informasi dengan baik. Nona Hillaire memang luar biasa," Benjamin balik menyanjung Autumn. Tatapannya yang sangat memesona, jauh lebih memabukan dari minuman beralkohol, sehingga membuat Autumn semakin mabuk kepayang dibuatnya.


Gadis berambut cokelat itu tersenyum manis. Semua lamunan nakalnya bersama Benjamin terus berputar, terlihat dengan begitu jelas layaknya saat ia sedang menonton televisi. Autumn terus terhanyut dalam kekaguman yang membuatnya seakan menjadi gila. Belum pernah dirinya merasakan hal seperti itu terhadap pria manapun.


"Jadi bagaimana, Yah?" tanya Autumn setelah beberapa saat ia menikmati halusinasi naklanya. Gadis itu benar-benar berharap agar Edgar mengatakan 'Iya'.


"Baiklah. Dua hari cukup untukmu berada di sana. Tidak lebih!" pungkas Edgar tegas. Ia mengisyaratkan agar Autumn tak banyak protes dan membahas hal itu lagi. Mau tak mau, gadis bermata abu-abu itu pun terpaksa menyetujui keputusan sang ayah. Dua hari sudah jauh lebih dari cukup, meskipun sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu lebih lama di sana, bersama si tampan Benjamin Royce tentunya.


Oh, entah apa yang akan terjadi jika ia dapat melewatkan waktu dengan pria rupawan itu. Terbayang dalam ingatannya ketika mereka menikmati matahari tenggelam dari bibir pantai. Itu pasti akan menjadi sebuah momen yang sangat indah dan romantis.


Autumn kembali mengalihkan tatapannya kepada pria rupawan yang lebih banyak diam dan menyimak 'kehangatan' di meja makan khas keluarga Hillaire. Benjamin menyadari hal itu. Ia pun membalas tatapan Autumn untuk sejenak. Benjamin memberi isyarat agar Autumn menyetujui keputusan Edgar. Gadis itu pun tersenyum kecil. Ia dapat memahami isyarat tersebut dengan begitu jelas.


Beberapa saat telah berlalu. Semua aktivitas di meja makan sudah selesai. Benjamin dan Edgar tampak berbincang sebentar, sebelum pemilik dari The Royal Royce itu berpamitan untuk pulang. Namun, Benjamin tak langsung pergi. Ia terdiam sejenak di dalam mobilnya untuk mengirimkan pesan kepada Autumn.

__ADS_1


Kebahagiaan Autumn semakin bertambah ketika ia membuka pesan masuk dari Benjamin. Pria itu mengirimkan emoji hati berwarna merah. Autumn segera membalasnya dengan emoji wajah yang tengah menjulurkan lidah (Face with Stuck-Out Tongue emoji), membuat Benjamin hanya tersenyum saat melihatnya. Tak berselang lama, pria itu kemudian melajukan mobilnya dan pergi dari sana.


__ADS_2