
"Aku sadar bahwa usia kami semakin tua. Rasanya terlalu menggelikan jika harus terus berada dalam kungkungan masa lalu. Lagi pula, aku ataupun ibumu ... kami telah saling melupakan," ucap Moedya lagi. "Waktu berlalu dengan begitu cepat. Putra pertamaku bahkan kini sudah berusia dua puluh tahun. Tak ada lagi yang aku inginkan saat ini selain menikmati sisa umurku," Moedya mengela napas kemudian mengempaskannya perlahan.
"Kenapa tidak kau coba untuk menyapa ayahku terlebih dulu? Siapa tahu dia akan membalasmu dengan baik," saran Autumn.
"Begitukah? Apa menurutmu itu ide yang bagus?" Moedya kembali terdengar ragu.
"Entahlah," Autumn tertawa renyah, "aku tidak berani untuk menyarankan hal lain yang terkesan mengguruimu, Paman. Kau pasti jauh lebih tahu apa yang harus dilakukan. Kenapa aku berbicara seperti ini denganmu? Karena aku rasa kau ... ayahku pria yang sangat baik, Paman. Dia memiliki komitmen tinggi dalam hidupnya. Hal itu terkadang membuatku sangat kagum, tapi tak jarang dia terlihat seperti seorang diktator," tutur Autumn diiringi senyuman kecil.
"Ayahmu pria yang hebat, Elle. Karena itulah ibumu memilihnya," ucap Moedya menanggapi.
"Ya, kau benar sekali, Paman," sahut gadis berambut cokelat itu. Dia menatap Moedya dengan lekat. Di bagian tangan pria itu ada sebuah tato bertuliskan nama Ranum. "Apakah Ranum nama istrimu?" tanya Autumn kembali bersuara setelah beberapa saat terdiam.
"Bukan," jawab Moedya seraya menggeleng pelan, "Ranum adalah nama ibuku," lanjutnya. "Kau tahu, Elle? Ibuku sangat menyayangi Arumi. Mereka menjalin kedekatan yang luar biasa," Moedya tersenyum getir.
"Oh, ya?"
Moedya kembali mengangguk pelan. "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi," Moedya tampak gelisah. Dia berkali-kali menyentuh pangkal hidungnya. "Lalu, bagaimana antara kau dengan Benjamin Royce? Apakah kau sangat mencintainya?" ayah dari Patra tersebut mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Ini terasa baru untukku, ketika diriku merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Ben begitu dewasa dan juga lembut. Dia pengertian dan terkadang cerewet. Namun, tak jarang Ben memperlakukanku seperti anak-anak. Dia sering mengatakan bahwa aku menggemaskan. Dia ... dia ...." Autumn mengulum senyumnya seraya tertunduk. Tak pernah diduga jika dirinya akan merasakan jatuh cinta yang begitu hebat terhadap ayah satu anak itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar sedang jatuh cinta," ujar Moedya menanggapi. "Rasanya sangat luar biasa, bukan?" Autumn mengangguk polos. "Pertahankan perasaan itu. Jatuh cinta memang indah, tetapi kadang terasa begitu suram. Satu hal yang harus selalu diingat, jika kau merasa bahwa dia adalah jodohmu, maka jangan pernah menyia-nyiakannya atau dirimu akan merasa menyesal. Jangan sampai kau bernasib sama sepertiku," tutur Moedya dengan nada penuh penyesalan.
"Dulu mungkin aku terlalu egois dan menempatkan diri hanya sebagai pihak yang paling terluka. Aku lupa bahwa tidak ada sebuah hubungan yang teramat sempurna.
Setiap pasangan pasti memiliki kesalahan masing-masing. Sesuatu yang sangat fatal ketika aku mengabaikan hal itu," Moedya tertunduk lesu. Helaan napas panjang mengiringi nada penyesalan yang dia ungkapkan kepada Autumn.
"Ingatlah satu hal, Nak. Jangan terlalu fokus pada kesalahan dan juga kekurangan pasanganmu. Seberapa besar pun kekeliruan yang terjadi di antara kalian, maka bicarakan dan selesaikan dengan baik-baik, karena semua orang berhak mendapat kesempatan kedua. Jangan bersikap seperti diriku yang terlalu sombong, mengingkari semua kebaikan orang yang kucintai hanya karena satu kesalahan yang dia lakukan," Moedya terdiam. Dia tak melanjutkan kata-katanya, ketika mendengar suara yang sangat dirinya kenal. Pria itu menoleh ke arah sumber suara.
Arumi telah berdiri di ambang pintu menuju beranda. Dia melayangkan tatapan kepada Autumn. "Elle, masuklah," suruhnya dengan intonasi yang datar dan pelan.
Tanpa banyak membantah, Autumn segera berdiri. Dia melirik kepada Moedya untuk sejenak, kemudian melangkah ke dekat sang ibu berada. Autumn menatap Arumi untuk sejenak. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Gadis itu melangkah ke arah tangga dan berdiri di sana. Sementara Arumi pun tampak canggung. Untuk sejenak, pandangannya beradu dengan sorot mata yang telah sekian lama tidak dia lihat. Tatapan Moedya masih sama seperti dulu. Namun, kini terlihat ada beban yang sangat besar di dalamnya.
"Bisakah kita bicara sebentar, Arum?" pinta Moedya dengan penuh harap.
"Bicara tentang apa?" tanya Arumi tetap menjaga jarak dari sang mantan kekasih beberapa puluh tahun silam.
Sebelum menjawab pertanyaan Arumi, Moedya memilih untuk mendekat. Namun, Arumi segera bergerak mundur hingga tetap terdapat jarak di antara dirinya dengan pria itu. "Selagi kamu ada di sini, maka beri aku kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang selalu menjadi beban dan ganjalan dalam hatiku," ujar Moedya cukup lirih. Akan tetapi, Arumi tak menanggapi ucapannya. Dia hanya berdiri mematung.
"Arum, izinkan aku untuk meminta maaf padamu," ucap Moedya lagi dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Maaf untuk apa, Moe ... Moedya," Arumi tampak agak gugup saat itu. Setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya dia kembali berbicara empat mata dengan putra dari Ranum tersebut.
"Maaf untuk semua kesalahan yang telah kulakukan padamu. Aku sadar bahwa diriku telah melakukan sebuah kekeliruan yang sangat besar dengan membiarkanmu pergi begitu saja ...."
"Tidak, Moedya! Tolong, jangan mengungkit hal itu. Kita bukan anak muda lagi. Tolong jangan membuat sesuatu yang ...."
"Tidak, Arum. Bukan itu maksudku," bantah Moedya. "Aku sudah menerima kebodohan dan segala kesalahan yang telah kulakukan. Aku rela dalam menjalani kehidupanku bersama Diana, karena memang dia yang telah kupilih. Akan tetapi, aku juga masih berutang maaf padamu. Setiap hari, setiap bulan dan tahun berganti, aku selalu berharap bisa bertemu kembali denganmu untuk membebaskanku dari segala ganjalan ini," tutur Moedya terdengar sungguh-sungguh. Akan tetapi, lagi-lagi Arumi hanya terpaku menatapnya. Dia merasa bingung harus berkata apa.
"Maaf karena telah membuatmu kecewa, sakit hati, bahkan marah padaku. Aku tahu kau sangat membenci dan mungkin tak ingin lagi melihat diriku. Namun, mulai saat ini marilah kita saling membebaskan diri dari segala unek-unek di masa lalu. Aku tidak akan merasa tenang jika belum mendengar kata maaf langsung dari dirimu," tatap mata Moedya menyiratkan sebuah penyesalan yang teramat dalam.
"Tak ada yang perlu dimaafkan darimu. Lagi pula, aku sudah melupakan semuanya. Segala hal di antara kita, telah kukubur dan kubuang jauh dari semenjak aku menerima cinta dari Edgar," balas Arumi pelan. Namun, ternyata kepedihan itu tetap saja datang dan menyapanya. Rasa sakit atas kenangan pilu tersebut kembali muncul di sudut sanubari. Terdengar lagi di telinga Arumi, setiap ratapannya saat memanggil nama Moedya yang telah pergi dan tak menoleh sedikit pun.
Betapa saat itu Arumi merasa sangat hancur. Setiap deraian air mata dari kesendirianya selama tiga tahun, ternyata tak berbuah manis dari pria yang dia harapkan datang untuk kembali membawanya dalam kehidupan penuh cinta. Justru Edgar lah yang terus memberikan dukungan, meskipun selalu Arumi tolak.
Tanpa terasa, air mata menetes di sudut bibir Arumi. Sekuat apa dirinya menyingkirkan kenangan buruk puluhan tahun silam itu, ternyata dia tetap harus mengaku kalah. Arumi tertunduk seraya menahan tangisnya agar tidak pecah. Namun, hal itu tak berlangsung lama, ketika Moedya menyodorkan sebuah cincin safir biru kepadanya. Akan tetapi, Arumi tak segera menerima cincin tersebut. Dia hanya terisak pelan.
"Ini adalah amanat dari mendiang ibuku sebelum dia meninggal dunia. Cincin tersebut tidak kuberikan kepada Diana, karena ibuku sudah memberikannya padamu. Oleh karena itu, tolong terima dan simpan baik-baik. Dengan begitu, semua yang menjadi bebanku selama ini sudah terlepas. Tolong ambil dan terimalah, Arum," Moedya mengkahiri penuturannya dengan sebuah harapan agar Arumi bersedia menerima cincin peninggalan Ranum tersebut.
"Terima saja, Arum," ucap Edgar yang ternyata sudah berada di sana dan mendengarkan semuanya.
__ADS_1