
Arumi ataupun Moedya sama-sama tertegun, ketika pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ada beberapa perubahan dalam diri Moedya, salah satunya adalah rambut dia yang kini terlihat jauh lebih rapi. Pria itu juga tampak sedikit gemuk dari beberapa puluh tahun yang lalu. Moedya kemudian menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang terlihat ragu. Dia mungkin tak berani untuk melakukan hal tersebut, karena takut jika Arumi tak membalas dengan semestinya.
Apa yang Moedya takutkan memang terjadi. Arumi lebih memilih untuk mengalihkan pandangan kepada Keanu yang saat itu memanggilnya. "Hey, Arum!" seru pria itu dari bawah.
"Hai, Kak," balas Arumi seraya melambaikan tangan kepada sang kakak. Dia lalu menyodorkan ponsel yang baru diambilnya. "Ini, Elle. Aku ingin menemui pamanmu dulu," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Autumn yang hanya tertegun pada awalnya. Tak berselang lama, gadis bermata abu-abu itu segera mengikuti sang ibu menuju ke lantai satu.
Arumi menuruni deretan anak tangga bersamaan dengan masuknya Keanu. Tanpa diduga ternyata Moedya pun ikut serta, membuat Arumi menjadi sedikit risih. Namun, wanita empat puluh delapan tahun itu berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa tak nyamannya. Dia tersenyum lembut saat menyambut pelukan hangat dari Keanu. "Apa kabar, Kak?" sapa Arumi dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan.
"Baik, meskipun aku sangat lelah," jawabnya seraya mengurai pelukan dari sang adik. "Maaf karena aku tidak sempat menjemputmu ke bandara," ucap Keanu lagi.
"Sudahlah, Kak. Aku bahkan baru selesai makan malam di sini," balas Arumi. "Ada salam dari Edgar. Sebenarnya Ed ingin ikut kemari, tapi tiba-tiba dia harus pergi ke Bordeaux untuk urusan bisnis," jelas Arumi masih dengan senyumannya. Sesuatu yang tak luput dari perhatian Moedya sejak tadi. Pria itu tak menyangka bahwa dia dapat melihat mantan kekasihnya lagi, setelah puluhan tahun berlalu. Sementara Arumi masih terlihat sangat cantik. Dia begitu awet muda dengan penampilannya yang sangat terjaga
Moedya tak berani menyapa adik dari Keanu itu. Dia hanya terpaku memandangi sang mantan kekasih dengan perasaan tak menentu, meskipun pada kenyataannya Moedya sudah benar-benar melupakan kisah cinta masa muda bersama wanita yang kini telah memiliki dua anak tersebut. Akan tetapi, getar-getar yang berasal dari sepercik kenangan manis antara dirinya dan Arumi telah membuat dia tersipu sendiri.
"Paman, kenapa tidak menyapa ibuku? Bukankah dulu kalian berdua adalah teman dekat?" pancing Autumn yang tiba-tiba muncul di sana. Tentu saja, pertanyaan itu dia tujukan kepada Moedya.
"Ibumu sedang melepas rindu dengan kakaknya. Aku yang hanya sekadar sahabat, akan sabar menunggu giliran," sahut Moedya dengan nada bercanda.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Arumi dengan sedikit was-was. Dia memandang Autumn dan Moedya secara bergantian.
__ADS_1
"Oh, tentu. Aku dan paman Moe sering berbincang-bincang bersama. Kami biasa membahas banyak hal," terang Autumn dengan senyuman khasnya, membuat Arumi semakin terlihat gelisah. Diam-diam dia melirik kepada Moedya dan seakan ingin meminta sebuah penjelasan kepada pria yang dulu mencintai rambut gondrongnya.
Akan tetapi, Moedya masih terlihat biasa saja. Dia malah tersenyum seraya mengulurkan tangan kepada Arumi, mengajak wanita itu untuk bersalaman. "Apa kabar, Arum? Lama sekali kamu tidak berkunjung ke Indonesia," sapanya. Terlihat jelas jika sebenarnya pria itu juga sedang menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mendera.
"Baik," jawab Autumn seraya membalas jabat tangan dari Moedya. "Aku sudah terbiasa dengan kota Paris," ujar Arumi buru-buru menarik kembali tangannya.
"Semoga kamu tidak lupa dengan Indonesia," ucap Moedya lagi mencoba kembali berbasa-basi. Namun, Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Sementara Autumn melihat ada sesuatu yang lain, sebuah gelagat aneh yang ditunjukkan oleh mereka berdua.
"Elle, bolehkah kupinjam ponselmu sebentar? Aku ingin menghubungi ayahmu," ucap Arumi kemudian dalam bahasa Perancis. Dia menoleh kepada putri sulungnya yang saat itu tengah memandang dengan sorot aneh.
"Oh, ya tentu. Ponselku ada di kamar," sahut Autumn. Dia memberi isyarat agar sang ibu mengikutinya. Setelah berpamitan kepada Moedya serta Keanu, ibu dan anak itu pun berlalu dari sana diiringi oleh pandangan kedua pria tadi.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" Keanu melirik sahabatnya, lalu tertawa pelan. Namun, obrolan itu tak berlanjut karena di luar sana terdengar suara mobil yang baru masuk. Patra datang untuk menjemput sang ayah.
Sementara itu, Arumi menutup pintu kamar Autumn rapat-rapat. Dia seakan ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan sang anak. Wanita itu mengajak putrinya duduk di tepian ranjang. "Katakan padaku, apa saja yang sering kau dan Moedya bicarakan?" pinta Arumi yang terlihat cukup resah.
Sikap Arumi yang demikian, telah membuat Autumn semakin penasaran. Gadis bermata abu-abu tersebut menautkan alisnya. "Kenapa, Bu? Apa yang membuat Ibu terlihat begitu resah?" tanyanya. Akan tetapi, Arumi tidak menjawab. Dia hanya mengempaskan napas pelan.
"Paman Moe sering bercerita tentang banyak hal yang menarik. Namun, aku merasa jika dia mungkin pernah melakukan suatu kesalahan atau entahlah, sesuatu yang sangat disesalinya," tutur Autumn seraya mengernyitkan kening. Sementara tatap matanya terus menelisik bahasa tubuh sang ibu yang terlihat tak biasa.
__ADS_1
"Katakan sesuatu padaku, Bu. Siapa paman Moe sebenarnya?" tanya gadis itu dengan penuh selidik.
"Apa maksudmu?" Arumi mengubah posisi duduknya. Dia tak lagi menghadap kepada sang anak. Arumi seakan hendak menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tak biasa.
"Apa karena itu ayah terlihat malas jika Ibu mengajak untuk datang ke Indonesia?" pancing Autumn dengan sengaja.
"Hey, jangan sampai ayahmu tahu bahwa aku bertemu dengan Moedya di sini," Arumi dengan segera membalikkan badan, sehigga kembali menghadap kepada putrinya. "Aku tidak ingin mencari masalah. Ayahmu pria yang tenang, tetapi dia sangat menakutkan jika sudah sudah tersulut emosi," terang Arumi lagi.
"Lalu, kenapa ayah harus marah?" pancing Autumn lagi penasaran.
"Ayolah, Elle. Jangan memencingku," tolak Arumi. Dia beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke dekat pintu. Arumi bermaksud untuk keluar dari kamar itu.
"Bolehkah jika kutebak sendiri, Bu?" tanya gadis itu membuat Arumi mengurungkan niat. Dia kembali menoleh kepada putri sulungnya.
"Apa yang ingin kau tebak, Sayang?" tanyanya sambil melipat kedua tangan di dada. Ekspresi wajah Arumi seakan tengah menantang gadis berambut cokelat itu.
Autumn tersenyum manis, kemudian menghampiri sang ibu yang masih berdiri di dekat pintu. "Jadi, berapa lama ibu dan paman Moe menjalin kedekatan?" tanyanya membuat Arumi menjadi salah tingkah.
đđđ
__ADS_1
Bagi yang ingin tahu bagaimana kisah masa lalu Arumi, Edgar, serta Moedya, silakan baca novel berjudul Ryanthi (Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan season 2) dan Kabut Di Hati Arumi.