The Gray Autumn

The Gray Autumn
Gravier


__ADS_3

Benjamin menatap paras cantik Autumn dengan sorot matanya yang penuh cinta. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat kembali merasakan getar-getar asmara dengan sebenarnya, bukan hanya tentang kepuasaan ranjang semata.


"Sebaiknya aku pulang sekarang," ucap Autumn pelan. Ia tersenyum manis di depan Benjamin. "Aku hanya ingin memastikan padamu bahwa Leon bukanlah kekasihku lagi. Hubungan kami telah kuanggap berakhir dari semenjak dia menghilang tanpa kabar," gadis itu menegaskan, agar Benjamin tak salah paham terhadap dirinya.


"Jangan khawatirkan hal itu, Elle. Aku tak mempermasalahkannya sama sekali," Benjamin meraih tangan Autumn dan menggenggamnya. "Aku akan bicara dan memberikan Fleur penjelasan sekali lagi agar ia dapat memahaminya," ujar pria rupawan tersebut.


Autumn tersenyum dan mengangguk pelan. "Dia masih kecil, jadi mungkin masih bingung," balas Autumn pelan.


"Ah, tidak! Fleur anak yang cerdas. Tak mungkin jika ia tak dapat mencerna kata-kataku," bantah Benjamin dengan wajah yang kembali tampak gusar. "Jangan tersinggung atau merasa sakit hati."


Gadis bermata abu-abu itu kembali tersenyum. Belum pernah Autumn dapat bersikap setenang seperti saat itu. Perasaannya memang terasa sedikit aneh dan ia pun merasa tak yakin dengan apa yang ada di dalam hatinya. "Sebaikanya aku pulang saja, Ben. Jaga Fleur dan temani dia. Aku tunggu di rumah," Autumn kemudian beranjak dari duduknya dan langsung diikuti oleh Benjamin.


"Aku mencintaimu, Elle," ucap Benjamin dengan dalam.


"Aku jauh lebih mencintaimu, Ben. Namun, untuk saat ini sebaiknya kau fokus dulu kepada Fleur. Jangan khawatirkan aku. Tenang saja," gadis berambut cokelat itu kembali tersenyum. Ia segera memejamkan mata ketika Benjamin menyentuh bibirnya dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan ke mana-mana. Tetaplah di rumah hingga aku pulang," pesan Benjamin.


Autumn mengangguk pelan. "Jangan khawatir. Fokuslah pada Fleur, dia jauh lebih membutuhkanmu saat ini," ucap gadis itu kembali mencium Benjamin sebelum akhirnya membalikan badan dan berlalu dari sana, dengan diiringi tatapan aneh dari sepasang mata abu-abu Benjamin. Pria itu merasakan ada hal lain yang bahkan belum dapat dia tafsirkan dengan jelas. Benjamin ingin memanggil gadis itu untuk kembali, tetapi hal tersebut dia urungkan. Pria berwajah rupawan itu hanya mampu terpaku. Sementara Autumn sudah tak terlihat lagi.


Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Autumn untuk tiba di kediaman mewah Benjamin. Gadis itu bergegas menuju kamar yang dia tempati. Autumn mengeluarkan kopernya dari bawah ranjang dan menaikkannya ke atas kasur. Dia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Dalam hati, dirinya merasa cukup terhina dengan perlakuan kasar dari seorang anak kecil. Autumn tidak pernah membiarkan siapa pun, kecuali kedua orang tuanya untuk berkata dengan nada bicara seperti yang di lakukan Fleur tadi. Nalurinya sebagai seorang gadis dengan watak yang suka memberontak, tentu saja tak terima akan hal itu.


"Leon sialan! Ini semua gara-gara dia!" gerutu Autumn dengan jengkel. "Aku harus membuat perhitungan dengannya," ucap gadis itu lagi seraya duduk di tepian tempat tidur dan berpikir sejenak. Dia tahu bahwa mantan kekasihnya itu tak akan bersedia menjawab telepon ataupun bertemu dengannya. "Leon seorang pecundang. Dia tak mungkin berani mempertanggungjawabkan segala kekacauan yang sudah terjadi," ucap gadis itu lagi pada dirinya sendiri.


Autumn kembali melirik kopernya yang berada di atas kasur. Terbersit niat untuk pergi secara diam-diam dari rumah itu, tetapi Autumn segera mengurungkannya ketika bayangan wajah tampan Benjamin muncul dalam ingatan. Dia pun mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menatap langit-langit kamar dengan plafon yang dihiasi beberapa buah lampu.


Mengetahui bahwa Fleur telah kembali, Autumn segera menuju kamar putri dari kekasihnya itu. Ia harus bersikap dewasa dan mengesampingkan rasa kesal atas sikap kasar Fleur terhadap dirinya. Autumn bermaksud untuk menyapa gadis itu. "Hai, Fleur. Aku senang kau sudah pulang. Bagaimana kabarmu hari ini?" Autumn memasang senyuman manis dengan ekspresi yang benar-benar ramah.


Fleur yang baru dipindahkan ke atas kasur oleh Benjamin, segera menoleh kepada kekasih dari ayahnya tersebut. "Kau tidak lihat keadaanku, Elle? Ini jauh lebih buruk dari ketika aku tidak berhasil menjadi juara dalam kompetisi menari," jawab Fleur dengan ketus.


"Fleur, jaga bicaramu," tegur Benjamin.

__ADS_1


Gadis kecil berambut cokelat tembaga itu menoleh kepada sang ayah. Dia lalu mengalihkan pandangannya kepada Autumn yang terlihat tidak enak atas perkataannya. "Lagi pula, kupikir kau sudah kembali ke Paris. Kenapa kau masih di sini?"


"Astaga, Fleur!" sergah Benjamin. "Kau sudah keterlaluan!" tegasnya.


Melihat sikap sang ayah yang terlihat marah padanya, Fleur segera menyembunyikan wajah di dalam pelukan Aamber. Wanita paruh baya tersebut memberi isyarat kepada Benjamin agar pria itu bisa bersikap lebih tenang. "Tenanglah, Fleur. Sebaiknya kau istirahat dulu. Akan kubuatkan sereal kesukaanmu," ucap Aamber lembut. Dia kembali memberi isyarat kepada Benjamin agar segera membawa Autumn keluar dari kamar. Tanpa banyak bicara, pria bermata abu-abu itu segera keluar sambil meraih tangan Autumn yang saat itu hanya berdiri terpaku.


"Fleur benar-benar marah padaku, Ben," ucap Autumn penuh sesal.


"Entah kenapa dia jadi bersikap menyebalkan seperti itu. Putriku gadis kecil yang baik dan juga ramah, Elle," Benjamin tampak menahan rasa kesalnya terhadap sikap buruk Fleur.


"Dia menjadi sangat sensitif. Aku bisa memahaminya jika dia kecewa karena tidak dapat mengikuti kompetisi, tapi aku juga tidak tahu harus berkata apa karena dia terus menyalahkanku atas apa yang terjadi pada dirinya," Autumn terlihat sedih dan juga menyesalkan hal tersebut. Dia pikir, hubungan baiknya dengan Fleur akan terus berlanjut. Jika sudah seperti itu, bukan tidak mungkin jika hal tersebut pasti menjadi batu sandungan dalam hubungan percintaannya dengan Benjamin.


"Aku akan membujuknya. Kau tenang saja, Elle. Namun, ini pasti akan membutuhkan waktu," ujar Benjamin seraya mengempaskan keluhan pendek.


"Apakah itu artinya kau akan menunda niatmu untuk berbicara kepada ayahku?" tanya Autumn ragu. Sebenarnya, dia tak ingin menanyakan hal itu pada saat ini. Akan tetapi, Autumn juga harus memikirkan langkah yang harus dia ambil untuk ke depannya.

__ADS_1


Benjamin tak segera menjawab. Dia menatap lekat Autumn yang terlihat agak muram. Pria itu pun mendekat. "Aku pasti akan bicara pada tuan Hillaire. Itu sudah menjadi niatku, tapi tolong beri aku waktu," pintanya dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2