The Gray Autumn

The Gray Autumn
Honesty is Better


__ADS_3

Autumn menatap tajam ke arah Gabriel. Sedangkan pria itu sebaliknya. Dia menatap gadis itu dengan lembut dan penuh cinta. Autumn seakan ingin meminta penjelasan kepada pria berambut pirang tersebut. "Ya, Elle. Aku sudah meminta izin kepada tuan Hillaire untuk mengajakmu berkencan. Aku pikir tuan Hillaire akan memarahi atau bahkan mengusirku, tapi ternyata dia sangat baik," senyum lebar Gabriel kembali hadir dan menghiasi wajah tampannya. Sepasang matanya yang berwarna hijau tampak begitu bersinar karena terlampau bahagia.


"Aku sangat menghargai keberanianmu, Gabriel. Jarang sekali ada pria yang bisa bersikap terang-terangan seperti dirimu. Kau mengingatkanku pada masa mudaku dulu," Edgar menepuk lengan Gabriel dengan senyuman lebar. Pria itu terlihat sangat bangga atas sikap yang Gabriel tunjukan padanya.


"Baiklah, Gabriel. Aku sangat lelah. Kita lanjutkan saja perbincangan ini besok," ujar Autumn merasa tidak nyaman dengan situasi yang sedang dihadapinya saat itu.


"Tentu, Elle. Aku harap besok kau tidak datang terlambat," pesan Gabriel lagi masih dengan sikap dan raut wajah yang sangat bersahabat. Setelah itu, dia berpamitan kepada Edgar dan juga Arumi. Sedangkan Darren sejak tadi sudah berlalu ke kamarnya. Dengan terpaksa, Autumn mengantar pria itu ke luar hingga menuju mobilnya terparkir.


"Apa maksudmu, Gabriel? Bagaimana kau bisa melakukan hal itu tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu?" protes Autumn yang merasa terganggu dengan sikap Gabriel. Sementara Gabriel sendiri masih terlihat tenang.


"Memangnya kenapa, Elle? Aku seorang lajang, dan kau pun tak memiliki kekasih. Aku rasa tidak akan menjadi masalah jika kita mulai berkencan," ujar pria bermata hijau itu tenang. "Asal kau tahu. Aku sudah tertarik padamu dari semenjak kau menjadi anggota dari timku. Entahlah, tapi kau terlihat sangat berbeda dan aku menyukai sesuatu yang unik. Hal unik pasti istimewa, karena tidak setiap orang memilikinya," ujar pria itu lagi.


"Semua orang memiliki keunikannya masing-masing," bantah Autumn.


"Ya, itu pasti dan memang seperti itu adanya. Akan tetapi, ada satu hal menarik yang hanya dimiliki oleh orang tertentu dan tidak dimiliki oleh yang lainnya," bantah Gabriel.


"Ah, sudahlah. Jangan merayuku lagi, karena aku tidak akan terkesan. Kau juga harus mengetahui satu hal bahwa aku sudah memiliki kekasih. Oleh karena itu, aku tak akan berkencan dengan pria manapun termasuk dirimu," ujar Autumn dengan yakin. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Sungguh? Apakah pria yang waktu itu memaksamu ...."


"Tidak, tidak, bukan dia. Ada pria lain yang tak perlu aku sebutkan namanya. Namun, yang pasti kami sudah berkencan dan tentu saja saling mencintai," tegas Autumn lagi.


Gabriel menggaruk keningnya perlahan. Pria bermata hijau itu juga menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibirnya. "Begitu, ya? Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Jangan mencari alasan, Elle," ujar Gabriel ragu. "Lagi pula, alasan apa yang membuatmu tak menyukaiku? Katakan sesuatu yang dapat membuat diriku lebih merasa yakin jika memang kau sudah memiliki kekasih," tantangnya dengan penuh percaya diri.


Sementara Autumn hanya tertawa mendengar tantangan itu. "Astaga, aku tak menyangka jika kau ternyata keras kepala juga. Sudah kukatakan bahwa aku sudah memiliki kekasih. Dia pria yang sangat tampan dan kharismatik, sedikit nakal tapi aku sangat menyukainya. Baiklah, aku rasa cukup. Aku baru tiba di sini, sangat lelah, dan ingin segera mandi lalu merebahkan tubuhku. Sampai bertemu lagi besok, Gabriel," Autumn melambaikan tangannya dan kembali menuju halaman. Dia tak ingin menunggu hingga Gabriel pergi dari sana.


Sedangkan Gabriel tertegun untuk sejenak. Ditatapnya Autumn yang kini sudah menghilang di balik pintu rumah megahnya. Tak ada alasan bagi pria berambut pirang itu untuk tetap berada di sana. Dia memutuskan untuk pulang dengan membawa rasa penasaran yang besar atas penjelasan dari Autumn. Gabriel merasa tak yakin jika gadis itu telah memiliki seorang kekasih.


Autumn terlihat begitu tak acuh. Tidak tampak jika dia menjalin sebuah hubungan serius dengan seorang pria.


Seusai makan malam, Arumi kembali mengajak putri sulungnya untuk berbicara. Dia ingin mempertegas apa yang sudah gadis itu katakan padanya siang tadi. Arumi ingin meyakinkan dirinya bahwa Autumn tidak sedang mengada-ada.


"Sekali lagi aku bertanya, Elle. Apa kau yakin jika dirimu menjalin hubungan dengan Benjamin Royce?" tanyanya.


"Harus berapa kali kukatakan bahwa memang seperti itu kenyataannya," jawab Autumn tenang.

__ADS_1


"Astaga, Elle. Tolong jangan bermain api," tegur Arumi. "Ayahmu tak akan menyukai hal itu."


"Ya, ayah menyukai Gabriel. Namun, sayangnya aku sama sekali tidak tertarik padanya. Ayolah, Bu. Benjamin adalah pria yang baik. Dia sangat lembut dan juga penuh perhatian," tegas Autumn meyakinkan Arumi.


"Ya, dia bersikap seperti terhadap semua wanita," bantah Arumi.


"Dari mana Ibu tahu hal itu? Jangan katakan jika Ibu pernah dekat dengannya," celoteh Autumn seenaknya. Dia begitu jengkel karena Arumi terus menekankan bahwa Benjamin bukanlah pria yang baik.


"Elle!" sergah Arumi. "Kau sangat keterlaluan! Aku tidak pernah mencintai pria lain selain ayahmu!" tegas Arumi. Dia hampir terbawa emosi. Namun, dengan segera wanita itu kembali menenangkan dan dapat menguasai dirinya dengan baik. Arumi memilih untuk duduk dan mengela napas dalam-dalam. "Baiklah," ucapnya kemudian. "Jika memang menurutmu dia adalah pria yang baik, maka bawa pria itu ke hadapanku dan kita lihat seberapa besar keberaniannya. Kau tidak usah khawatir, karena aku belum berbicara tentang hal ini kepada ayahmu," lanjut Arumi.


Autumn segera duduk di dekat sang ibu. Ditatapnya wanita cantik itu dengan lekat. "Ibu yakin ingin bertemu dengan Ben secara pribadi?" tanyanya tak percaya.


"Ya, memangnya kenapa? Aku harap kau tidak merasa takut untuk mempertemukan kami," sahut Arumi tenang.


Autumn mengalihkan tatapannya pada sesuatu yang lain. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, gadis itu tersenyum. "Baiklah. Aku akan membawanya ke hadapan Ibu dan membuktikan padamu bahwa aku tidak salah memilih seorang kekasih," ujar gadis itu yakin. "Setelah Ibu bertemu dengannya, aku pastikan bahwa Ibu akan meralat semua pikiran negatif tentang Ben," lanjutnya.


"Kita lihat saja nanti. Aku ingin setelah itu kau juga berbicara pada ayahmu. Jangan sampai dia berharap terlalu banyak pada Gabriel," selesai berkata demikian, Arumi beranjak dari duduknya dan berlalu keluar dari kamar Arumi.

__ADS_1


Sementara itu, Autumn kembali termenung. Dia tak tahu apakah Benjamin bersedia untuk bertemu langsung dengan Arumi atau tidak. Akan tetapi, sebisa mungkin dirinya harus dapat meyakinkan pria itu. Autumn sudah terlalu lelah untuk bermain kucing-kucingan dengan kedua orang tuanya. Saatnya untuk bersikap jujur.


__ADS_2