The Gray Autumn

The Gray Autumn
En Appel


__ADS_3

Autumn mengeluh kesal setelah dua panggilannya tak dijawab oleh Benjamin. Sudah hampir lima belas menit, dia dan Arumi menunggu kedatangan pria itu di tempat yang sudah mereka sepakati. Namun, hingga jam makan siang hampir berakhir, ternyata Benjamin tak kunjung datang. "Di mana tuan Royce? Kenapa dia tidak muncul juga?" Arumi sudah terlihat bosan menunggu.


"Tunggu sebentar lagi, Bu. Panggilanku barusan tidak dijawab. Aku rasa ... mungkin dia sedang di jalan," bujuk Autumn, meskipun dia tak yakin. "Semoga," gumamnya pelan. Teramat pelan, sehingga Arumi tak mendengarnya.


"Aku hanya meminta izin untuk pergi sebentar pada ayahmu. Waktuku habis, Elle. Aku masih harus pergi ke tempat lain," ujar Arumi dengan agak kesal. Sedangkan Autumn hanya mengempaskan napas pendek. Jam istirahat makan siangnya pun sebentar lagi akan habis. "Baiklah. Kita tunggu pria pujaan hatimu itu sepuluh menit lagi. Jika lebih dari itu, maka jangan mencegahku untuk angkat kaki dari sini," ujar Arumi lagi dengan tegas. Sebuah helaan napas panjang berkali-kali meluncur dari bibirnya.


Sementara Autumn tak dapat berkata apa-apa. Akan tetapi, secercah harapan muncul ketika ponselnya berdering. Nama Benjamin muncul pada layar ponsel tersebut. Dengan segera, gadis itu menjawabnya. "Syukurlah. Kau di mana, Ben? Aku dan ibu sudah menunggumu sejak tadi. Kenapa kau lama sekali? Cepatlah, karena jam istirahatku akan segera habis," Autumn terus memberondong Benjamin dengan tanpa henti.


"Elle ...." terdengar suara berat pria bermata abu-abu itu dari ujung telepon. Ragu Benjamin untuk mengatakan sesuatu kepada Autumn. "Elle, maafkan aku ...." ucapnya dengan begitu dalam.


"Kenapa kau harus meminta maaf?" tanya Autumn heran. Perasaannya mulai tak enak saat itu. Sesaat diliriknya sang ibu yang masih duduk menunggu. Autumn kemudian mengempaskan napas berat. "Kau ... keterlaluan, Ben!" ucap gadis bermata abu-abu itu dengan nada penuh kecewa.


"Putriku sakit. Semalam dia demam tinggi. Lalu, pagi ini tiba-tiba kejang. Sekarang aku sedang menemaninya di rumah sakit. Kondisi Fleur baru stabil," jelas Benjamin yang seketika membuat Autumn terhenyak saat mendengarnya. Dia merasa bersalah karena telah melampiaskan kekecewaannya tanpa bertanya terlebih dahulu, apa yang menjadi alasan dari Benjamin.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Autumn dengan setengah berbisik.

__ADS_1


"Kondisinya sudah mulai membaik. Sekarang dia sedang tidur, tapi aku tidak bisa pergi meninggalkannya. Aamber mengalami insiden kecil di kamar mandi. Dia terjatuh dan kakinya terkilir," tutur Benjamin. "Oh, astaga ...." keluh pria itu kemudian. "Aku benar-benar minta maaf, Elle."


"Ya, aku mengerti. Akan tetapi, ibuku sangat kecewa. Aku takut dia berpikir negatif tentangmu, Ben," ucap Autumn lagi dengan nada khawatir.


Benjamin tak segera menjawab. Pria itu terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ayah dari Fleur tersebut kembali berkata, "Berikan ponselmu padanya, Elle," suruhnya.


"Untuk apa?" tanya Autumn tak mengerti.


"Berikan saja," ucap Benjamin lagi.


Autumn menuruti ucapan sang kekasih. Dia menyodorkan ponselnya kepada Arumi yang masih duduk dengan wajah datar. "Ben ingin bicara dengan ibu," ucap gadis itu seraya duduk di sebelah Arumi. Dia merasa penasaran dengan apa yang akan Benjamin katakan kepada sang ibu.


"Très bien, merci. Maafkan aku nyonya Hillaire. Anda pasti sudah menungguku sejak tadi," ucap Benjamin membuka percakapan di antara mereka.


"Ya, itu benar sekali. Aku sudah menghabiskan beberapa menit dengan duduk di sini dan hanya memperhatikan orang yang berlalu-lalang," jawab Arumi menahan rasa jenuh yang sejak tadi sudah menggunung dalam hatinya.

__ADS_1


"Sekali lagi maafkan aku. Ada beberapa hal yang di luar rencana. Salah satunya adalah karena putriku tiba-tiba tidak enak badan dan harus di rawat di rumah sakit," jelas Benjamin. "Aku tidak bisa meninggalkannya. Karena itu, dengan terpaksa aku harus membatalkan semua jadwal yang sudah dibuat. Sebelumnya aku berusaha untuk menghubungi Elle, tapi mungkin dia sedang sibuk," jelas pria berambut cokelat tembaga itu dengan panjang lebar.


Ada satu hal yang membuat Arumi terdiam sejenak, setelah mendengarkan penjelasan pria itu. Dia menatap tajam kepada Autumn, membuat gadis dua puluh tiga tahun tersebut tidak mengerti. "Oh, begitu? Ya, aku bisa memahaminya, tuan Royce. Semoga putri anda segera pulih," balas Arumi tanpa melepaskan tatapan tajam dari putri sulungnya itu. Sementara Autumn sudah terlihat resah. Dia belum pernah membicarakan status Benjamin kepada sang ibu.


"Terima kasih atas pengertian anda, nyonya Hillaire. Satu hal yang pasti bahwa aku sangat mencintai putri anda," Benjamin terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Ya, aku tahu jika usia kami terpaut cukup jauh, tapi aku harap itu tidak menjadi masalah yang berarti untuk anda ataupun tuan Hillaire. Aku akan segera bicara dengannya. Kebetulan besok kami ada rencana untuk bertemu," ucap pria itu lagi dengan penuh harap.


"Ya, Elle sudah bicara banyak hal tentang anda meskipun tidak semua dia katakan. Silakan bicara sendiri dengan Edgar, karena menurutku itu sudah seharusnya menjadi tugas anda. Suamiku sangat menyukai pria yang berani berterus terang. Aku tidak dapat mengambil keputusan apapun. Sebagai seorang ibu, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kedua anakku," terang Arumi masih terus menatap kepada Autumn, yang kini telah dapat memahami arti dari sorot tajam sang ibu.


"Terima kasih atas pengertiannya, nyonya Hillaire," tutup Benjamin. Dia harus menyudahi perbincangan dengan Arumi, karena Fleur terbangun.


Sementara Autumn harus merangkai kata untuk dia sampaikan kepada Arumi, yang kini seakan tengah meminta sebuah penjelasan padanya. "Ibu ... um ... Ben ...." Autumn berkata dengan raut wajahnya yang tampak bingung.


"Apakah tuan Royce pernah menikah sebelumnya?" selidik Arumi dengan tatapan intens terhadap Autumn.


"Tidak," jawab gadis bermata abu-abu itu seraya menggeleng pelan. "Ben masih lajang, tapi dia memang sudah memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun dari kekasihnya yang dulu," jelas Autumn. Suaranya terdengar pelan dan penuh keraguan.

__ADS_1


"Astaga, Elle!" Arumi membelalakan matanya saat menanggapi penjelasan Autumn. "Kau sudah siap untuk menjadi calon ibu tiri dari anak mantan kekasih pria yang kau cintai? Bagiku tak masalah selama kau bisa menghadapinya. Akan tetapi, kau harus ingat dengan segala konsekuensi dari keputusan yang akan kau ambil!" tegas dan cukup dalam penekanan suara yang keluar dari mulut Arumi.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Elle. Terlebih dengan ayahmu. Entah bagaimana reaksinya jika dia mengetahui kisah cinta rahasiamu dengan tuan Royce, apalagi jika dirinya mengetahui bahwa pria itu sudah memiliki anak. Kau harus berusaha untuk bisa berpikir dan bersikap jauh lebih dewasa dari dirimu yang sekarang!" Arumi memilih untuk berlalu pergi sambil mendengus pelan.


__ADS_2