The Gray Autumn

The Gray Autumn
Un Permis


__ADS_3

Autumn tiba di kediamannya dengan wajah berseri. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas di kantor, seketika sirna karena dirinya kini memiliki alasan tanpa harus berbohong kepada kedua orang tuanya. Setelah masuk, Autumn segera menuju dapur. Ia lalu mengambil segelas air minum dan meneguknya meski tak sampai habis. Gadis itu kemudian mengambil yoghurt buah kesukaannya.


Dapur itu begitu luas dan mewah dengan nuansa warna abu-abu yang mendominasinya. Seperti biasa, Autumn berdiri dengan setengah bersandar pada meja kabinet berlapis marmer yang terlihat sangat mengkilap. Ia lalu menyantap yoghurt buah itu dengan tenang, hingga Arumi masuk dan menghampirinya. "Kapan kau pulang, Elle?" sapa wanita itu sambil membuka lemari es. Arumi mengeluarkan beberapa bahan untuk menyiapkan makan malam.


"Aku baru datang, Bu," jawab Autumn. Ia memperhatikan Arumi dengan kesibukannya saat itu. Sementara Autumn sendiri masih asyik menghabiskan sisa yoghurtnya. "Bu," panggil Autumn pelan. Arumi menyahut meskipun tanpa menoleh kepada putri sulungnya itu. Ia sibuk dengan bahan-bahan masakan di atas meja.


"Ibu masih ingat dengan Joelene?" tanya Autumn kemudian membuat Arumi menghentikan pekerjaannya untuk sesaat.


"Ya. Apa kabar dengannya? Bukankah dulu kalian berteman akrab?" Arumi menanggapi sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Aku bertemu dengannya tadi. Joelene sudah menikah, tapi aku tidak menghadiri acara pernikahannya," ucap Autumn lagi. Ia telah menghabiskan yoghurtnya dan membuang wadah kosong ke dalam keranjang sampah. Gadis itu kemudian berdiri di dekat Arumi.


"Joelene akan menggelar acara resepsi pernikahannya, dan ia ingin agar aku bisa hadir," tutur Autumn lagi.


"Apa kau membutuhkan gaun pesta yang baru, Sayang?" tanya Arumi.


"Tidak juga. Aku hanya membutuhkan izin dari Ibu dan juga ayah untuk pergi ke Marseille, karena Joelene akan mengadakan acara pestanya di sana. Aku harap Ibu bisa membantuku membujuk ayah."


"Marseille? Kenapa harus di sana?" tanya Arumi.

__ADS_1


"Astaga, Bu. Apa tidak ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting?" protes Autumn. Sementara Arumi menanggapinya dengan sebuah tawa pelan. Ia menghentikan aktivitasnya lalu menoleh.


"Kenapa kau tak meminta izin sendiri kepada ayahmu? Ibu rasa ia akan memperbolehkanmu pergi, dengan catatan kau bisa meyakinkannya terlebih dahulu," ucap Arumi lagi. Ia kembali pada kesibukannya.


"Itulah yang membuatku merasa malas, Bu. Ibu tahu sendiri seperti apa tuan Hillaire. Sulit sekali meyakinkannya," keluh Autumn.


"Ayahmu hanya bermaksud baik, Sayang," bela Arumi lembut. "Namun, selama kau menunjukan bahwa dirimu mampu mematahkan ketakutannya, aku rasa ia pasti akan memberikan kebebasan padamu. Ah, sebenarnya ayahmu tak pernah memberikan kekangan yang terlalu berarti," bantah Arumi.


"Lalu, apa maksudnya dengan memasang alat pelacak di ponselku? Ibu pikir aku tidak merasa risih karena hal itu?" keluh Autumn lagi.


"Ayahmu melakukan hal yang sama kepadaku, dulu sekali. Awalnya aku protes dan tak menyetujui hal itu, tapi pada akhirnya aku baru menyadari jika hal itulah yang telah menyelamatkanku. Dari sana aku berpikir, Ed pasti tahu apa yang terbaik. Ia membuatku merasa aman dan begitu nyaman. Suatu hari nanti kau pasti akan menyadari hal itu, Elle," terang Arumi. Untuk sesaat ia melirik putri sulungnya. Sesaat kemudian, Arumi kembali pada masakan yang sedang ia buat.


Berdiri di depan pintu ruang kerja sang ayah, Autumn tak langsung mengetuknya. Ia tertegun untuk sejenak. Sayup-sayup terdengar jika Edgar tengah berbicara dengan seseorang. Dari suaranya, Autumn yakin bahwa orang yang sedang berbicara dengan sang ayah adalah Benjamin Royce. Tiba-tiba saja, gadis itu menjadi gugup. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbalik dan pergi dari sana. Namun, sebelum Autumn sempat melakukannya, pintu ruang kerja tersebut telah lebih dahulu terbuka. Dua orang pria gagah muncul dari dalam.


"Elle," sapa Edgar yang mendapati Autumn di sana. Gadis itu terlihat salah tingkah ketika ia melirik Benjamin yang tengah memperhatikannya dengan sorot mata yang sedikit nakal.


"Selamat malam, Nona Hillaire," sapa Benjamin dengan senyumamnya yang menawan.


"Selamat malam, Tuan Royce," balas Autumn dengan senyuman manisnya. Binar indah terlihat jelas pada sepasang mata abu-abu gadis itu. Dalam hati, rasanya Autumn ingin sekali menghambur ke dalam pelukan pria rupawan di hadapannya, sambil mencium mesra pria tersebut. Namun, untuk saat ini ia hanya dapat menggigit bibir demi menahan perasaan itu.

__ADS_1


"Ayah, tadinya aku ingin bicara sebentar," ucap Autumn mengalihkan pandangan kepada Edgar yang saat itu tengah memperhatikannya.


"Tentang apa? Bagaimana jika kita lanjutkan di meja makan saja?" cetus Edgar. "Tuan Royce, makan malamlah di sini. Istriku sudah menyiapkan menu spesial," pinta pria bermata abu-abu itu seraya melirik kepada Benjamin yang berdiri di sebelahnya.


"Tidak usah, Tuan Hillaire. Jangan merepotkan," tolak Benjamin halus dan sopan.


"Tentu saja tidak. Kebetulan sekarang sudah waktunya makan malam. Mari, bergabunglah bersama kami," ajak Edgar lagi seraya mempersilakan Benjamin untuk menemaninya menuju ruang makan.


Benjamin tersenyum simpul. Sebelum menjawab, ia menyempatkan diri untuk melirik Autumn. Gadis itu menaikan alis sebelah kanannya sebagai isyarat agar Benjamin menerima tawaran dari Edgar. Akhirnya, pria berambut cokelat tembaga itu pun mengangguk setuju. "Baiklah, Tuan Hillaire. Terima kasih sebelumnya," balas Benjamin sopan. Ia pun melangkah sejajar dengan Edgar, sementara Autumn mengikutinya dari belakang dengan senyuman yang terus terkembang.


Benjamin masih terlihat begitu gagah dan maskulin, bahkan jika dilihat dari belakang. Pesona pria itu memang sungguh luar biasa.


Tak berselang lama, mereka sudah tiba di ruang makan dengan meja berukuran besar dan berukir khas Eropa. Benjamin duduk di dekat Darren. Sedangkan Autumn duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Semoga Anda menyukai menu yang aku siapkan, Tuan Royce. Jika tahu Anda akan malam di sini, mungkin aku akan menyiapkan menu yang lain," ucap Arumi ramah.


"Ini sudah jauh lebih dari cukup, Nyonya Hilllaire," Benjamin menanggapi ucapan Arumi. Ia lalu mengalihkan tatapan kepada Autumn yang sejak tadi tak berpaling darinya. Benjamin mengisyaratkan agar gadis itu tak bersikap berlebihan.


"Apa yang ingin kau katakan, Elle?" tanya Edgar kemudian membuat Autumn seketika menoleh padanya.

__ADS_1


"Aku? Oh, iya," Autumn tergagap. "Aku ingin meminta izin untuk pergi ke Marseille."


__ADS_2