The Gray Autumn

The Gray Autumn
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Lembut, jemari Benjamin menelusuri punggung halus Autumn yang berada di atas tubuhnya. Sesekali, pria bermata abu-abu tersebut mengecup kening gadis cantik berambut pendek itu. "Apa kau lapar?" tanyanya. Dia menatap wajah Autumn yang terlihat kelelahan setelah bercinta sebanyak beberapa ronde dengannya siang itu.


"Aku sangat lelah," sahut Autumn pelan dan malas, "tapi juga lapar," lanjutnya seraya mengarahkan wajah kepada Benjamin yang saat itu menjadi alas tidurnya.


"Katakan, kenapa kau sampai merasa lelah?" goda Benjamin diiringi tawa renyah. Tak terkira kebahagiaan yang dia rasakan saat itu, atas kebersamaannya dengan Autumn yang selama ini teramat dia rindukan.


"Kenapa kau bertanya padaku? Jangan katakan jika Tuan Royce sudah menjadi seorang pelupa," Autumn menumpuk telapak tangannya di atas dada bidang pria rupawan itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Benjamin tak segera menjawab. Dia belum juga melepaskan tatapannya dari paras cantik sang kekasih yang terlihat jauh lebih dewasa dengan model rambut barunya. Pria bermata abu-abu itu kemudian mengelus rambut cokelat Autumn dengan lembut. Diselipkannya beberapa lembar rambut yang terjatuh ke depan, pada telinga kiri gadis itu. "Bagaimana jika kau ingatkan aku kembali, sehingga aku tak menjadi lupa," rayu Benjamin seraya menjalarkan sentuhan tangannya pada pinggul Autumn, kemudian mere•masnya perlahan. Tatap mata Benjamin pun penuh isyarat yang menyiratkan bahwa naluri kelelakiannya kembali hadir, dan ingin segera dia puaskan.


Sementara Autumn tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum. Namun, senyumnya seketika sirna ketika dengan tiba-tiba Benjamin membalikkan posisi. Kini, dirinyalah yang berada di atas tubuh polos Autumn. Gadis berkulit kuning langsat itu tak sempat menolak, karena Benjamin terlebih dulu mengulang penyatuan panas di antara mereka. Entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari itu, Autumn kembali merasakan hentakan yang membuat dia seakan terbang ke nirwana.

__ADS_1


Siang terus merayap meninggalkan hari yang melelahkan. Autumn tertidur dengan pulas di atas tempat tidur, dengan hanya ditutupi selembar selimut. Dia belum sempat turun dari sana sejak tadi. Gadis itu benar-benar kelelahan. Lain halnya dengan Benjamin. Pria tampan tersebut sudah merapikan dirinya. Dia kembali mengenakan kemeja putih tadi.


Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu. Dengan segera, pria tiga puluh lima tahun itu membukanya. Apa yang dia tunggu telah tiba, yaitu makanan. Benjamin sangat lapar setelah energinya terkuras habis dalam 'pertarungan sengit' melawan sang kekasih. Setelah menerima pesanan itu, kembali ditutupnya pintu kamar rapat-rapat. Ayah dari Fluer tersebut lalu berjalan mengitari tempat tidur. Benjamin kemudian duduk di tepian, pada sisi di mana Autumn tertidur lelap.


Seutas senyuman tulus penuh kebahagiaan, terlukis jelas di wajah tampan lajang satu anak itu. Sorot matanya pun tampak sangat bersinar, menandakan perasaan luar biasa yang tengah melanda hatinya. Sungguh itu merupakan sebuah gejolak asmara yang tak mampu untuk dia bendung. Benjamin tak peduli meskipun dirinya akan terlihat bodoh. Satu hal yang pasti, dia telah benar-benar jatuh cinta terhadap Autumn. Gadis muda dua puluh dua tahun itu sudah membuatnya tergila-gila.


Perlahan dan begitu lembut, Benjamin mengecup kening Autumn yang masih terlelap. Dia juga mengelus pipi dengan sapuan tipis blush on warna oranye yang membuat wajah Autumn terlihat semakin segar. Apa yang dia lakukan itu, telah membuat Autumn bereaksi. Tak berselang lama, gadis itu pun membuka matanya, kemudian tersenyum. "Hai, kau sangat tampan," ucap Autumn setengah meracau. Sesaat kemudian, gadis itu kembali terpejam.


"Hey, Elle. Ayo, bangunlah," Benjamin menepuk lembut pipi sang kekasih, berharap agar gadis itu sadar sepenuhnya. "Aku sangat lapar, Sayang. Ini sudah lewat dari jam makan siang," ucap pria itu lagi mendekatkan bibirnya ke telinga Autumn.


"Karena itulah, ayo bangun dan isi kembali tenagamu. Perjalanan kita masih panjang," celoteh Benjamin yang seketika membuat Autumn segera membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya gadis itu sambil mere•mas tepian selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Ah, tidak! Aku sangat lelah. Jangan mengajakku bercinta lagi hari ini," tolaknya membuat Benjamin tertawa pelan. Pria tiga puluh lima tahun tersebut menggeleng perlahan.


"Selama kau terus berada di atas tempat tidur dengan tanpa busana seperti ini, maka ... maka aku pasti akan ...." Belum sempat Benjamin melanjutkan kata-katanya, Autumn segera menyibakkan selimut. Dia bergegas turun dari tempat tidur dan berlalu begitu saja ke dalam kamar mandi. Autumn tak peduli jika saat itu Benjamin memandangi tubuh polosnya dengan penuh kekaguman.


Beberapa saat berlalu, Autumn telah kembali tampil cantik dan segar. Dia sudah mengenakan skinny jeans beserta atasan sabrina. Autumn juga sudah merapikan rambutnya. Tak lupa juga dia menyematkan jepitan kecil yang semalam diberikan oleh Benjamin untuknya. Selesai berbenah diri, gadis itu segera menghampiri sang kekasih yang telah siap menghadapi beberapa menu khas Indonesia di atas meja. Benjamin terlihat bingung. Saat memilih makanan tadi, dia asal pesan saja.


"Kelihatannya enak," ujar Autumn yang segera duduk di sebelah sang kekasih. Dia yang telah lebih lama berada di Indonesia, tentunya sudah tak asing lagi dengan menu-menu seperti itu. Tanpa rasa canggung, Autumn segera mencicipi semua makanan yang tersaji.


"Bagaimana rasanya?" tanya Benjamin. Pria bermata abu-abu itu hanya ternganga saat melihat Autumn yang makan dengan begitu lahap.


"Ini sangat enak, Ben. Cobalah," Autumn mengambil satu suapan kemudian menyodorkannya ke dekat mulut Benjamin. Pria berparas rupawan itu tak menolak. Lagi pula, dirinya sudah benar-benar lapar. Ternyata, satu suapan saja tak cukup baginya. Dengan senang hati Autumn kembali menyuapi. Sesekali mereka tertawa dan kembali menjalin keakraban. Bercengkerama sambil bersenda gurau bersama. Tanpa terasa makanan pun habis.

__ADS_1


"Oh, aku kekenyangan," ujar Autumn sambil menyandarkan tubuhnya pada Benjamin yang duduk sambil meluruskan kaki di atas sofa. Didekapnya tubuh Autumn dari belakang. Benjamin pun mengecup rambut gadis itu dan mengirup aromanya yang menyegarkan. "Apa kau akan tetap menyukaiku, seandainya tubuhku menjadi gemuk?" tanya Autumn dengan begitu polos.


"Aku jatuh cinta kepada sosok Autumn. Pada pribadi dan daya tariknya, bukan hanya pada bentuk tubuhnya yang indah," jawab Benjamin yakin sambil mencium mesra gadis itu.


__ADS_2