
Fleur menatap sang ayah dengan semakin tajam. Gadis kecil bermata abu-abu itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, selain melalui sebuah isyarat. Dia ingin menunjukan bahwa dirinya tidak menyukai nama yang Benjamin sebutkan tadi. Fleur kemudian mengalihkan tatapannya pada sisa macaron yang tinggal beberapa buah lagi di dalam kotak. Gadis kecil itu tertunduk. "Memangnya apa yang bisa Elle lakukan? Menurutku dia hanya gadis manja yang pemarah," ujar Fleur dengan ketus, membuat Benjamin segera beranjak dari duduknya. Dengan setengah berjongkok, Benjamin meraih tangan gadis kecil itu kemudian menggenggamnya. "Jangan membujukku, Papa," ucap Fleur lagi. Dia seakan sudah tahu dengan apa yang akan Benjamin lakukan.
"Aku harus membujukmu, Fleur," ucap pria bermata abu-abu itu masih dengan sikap dan nada bicaranya yang lembut. "Dengar, Elle adalah gadis yang baik dan juga sangat menyenangkan. Kau harus lebih mengenalnya agar bisa mengetahui seberapa luar biasanya dia," bujuk Benjamin. Dia terus mencoba meyakinkan putri semata wayangnya tersebut.
"Luar biasa bagi Papa, belum tentu bagiku," sanggah Fleur seraya membuang muka dari sang ayah.
"Tolonglah, Fleur. Kau masih kecil, Sayang. Tidak sepantasnya dirimu bersikap sekeras ini," tegur Benjamin. "Ketahuilah sesuatu. Aku sudah merencanakan sebuah pesta pernikahan dengan Elle," tutur pria itu lagi dengan yakin, membuat Fleur seketika menoleh dan membelalakan kedua matanya. Dia tampak sangat tidak menyukai apa yang baru saja Benjamin beritahukan. "Ya. Kau tidak salah dengar. Aku akan melangsungkan pernikahan bersama Elle pada musim gugur ini. Semoga kau bisa bekerja sama dan menerima keputusanku," harap Benjamin.
Fleur tidak menjawab. Gadis kecil masih dengan sepasang matanya yang menatap tajam kepada sang ayah. Dia juga mere•mas kotak dengan sisa beberapa buah macaron, hingga kotak itu menjadi tak berbentuk. Setelah itu, Fleur melemparkannya ke hadapan Benjamin sambil menangis histeris. Pria berambut cokelat tembaga itu refleks menghindar, sehingga dirinya sedikit terjengkang ke belakang. "Keluar dari kamarku, Papa!" usir Fleur dengan setengah berteriak.
Benjamin berdiri seraya memperhatikan putri semata wayangnya. Dia merasa heran atas perubahan sikap Fleur yang begitu drastis. Pria itu sugguh tak habis pikir, karena Fleur dengan sangat keras menolak kehadiran Autumn di antara mereka. "Apa masalahmu Fleur? Kenapa kau begitu membenci Elle?" tanyanya dengan penekanan yang cukup tegas.
"Aku tidak menyukainya! Aku tidak suka terhadap Elle atau wanita manapun yang akan kau nikahi! Jika dia bukan Elle, maka aku tetap tidak akan mengizinkanmu untuk membawa siapa pun kemari!" tolak Fleur masih dengan sikapnya yang histeris. "Papa hanya milikku dan tidak akan kubagi dengan wanita manapun!" tegas gadis kecil itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau memiliki pikiran seperti itu? Siapa yang sudah menanamkan kekonyolan ini padamu, Fleur?" sebisa mungkin Benjamin tetap dapat menguasai amarahnya yang mulai tersulut. Namun, untunglah dia masih memiliki kesadaran penuh, bahwa yang tengah dia hadapi saat itu adalah putri kandungnya sendiri.
"Tidak ada siapa pun yang mempengaruhi pikiranku! Aku memang tidak ingin kau menikah dengan wanita manapun, Papa!" tegas Fleur lagi membuat Benjamin menautkan alisnya dengan ekspresi tak percaya.
"Tidak, Fleur. Tidak! Ini bukan dirimu," tolak Benjamin seraya menggeleng pelan.
"Pergi dari sini, Papa! Jika kau masih ingin tetap memilih Elle, maka biarkan aku kembali ke Marseille. Kau tidak usah menjengukku lagi! Biar saja aku seperti tidak memiliki orang tua sama sekali" ucapan Fleur makin lama semakin berani.
"Fleur!" sergah Benjamin. Sorot mata abu-abu pria itu mulai terlihat tajam. "Jangan pernah bicara sembarangan! Apa yang akan kukatakan pada ibumu, jika nanti dia mempertanyakan rasa tanggung jawabku atas dirimu?"
"Aku hanya ingin menjalani hidup dengan normal!" nada bicara Benjamin mulai tegas dan meninggi. Namun, tak lama kemudian pria itu segera tersadar. Dia segera mengatur napasnya agar jauh lebih tenang serta terkendali. "Kau tahu bahwa selama ini aku selalu mendahulukanmu di atas semua hal. Tolonglah, Fleur. Aku akan menikah dengan Elle. Jadi berikan persetujuanmu dan jangan banyak membantah lagi," ucap Benjamin kemudian.
"Silakan saja Papa nikahi dia, tapi jangan harap aku akan tetap berada di sini!" ancam Fleur kemudian.
__ADS_1
"Kau mengancamku?" pria bermata abu-abu itu mengernyitkan keningnya. "Memangnya kau akan pergi ke mana? Siapa yang akan merawatmu? Kau tahu sendiri jika Aamber pun sudah sering mengalami gangguan kesehatan. Lalu, kau masih ingin memaksanya untuk bekerja keras, terlebih harus menghadapi gadis kecil dengan watak sepertimu!" tegas Benjamin.
"Aku tidak peduli meskipun harus menjadi gelandangan!" jawab Fleur masih dengan sikap kerasnya. Wajah ceria dan tawa lebar tadi sirna sudah dari paras cantik gadis kecil bermata abu-abu itu.
"Katakan sekali lagi, Fleur!" nada tegas dan dalam dari Benjamin, telah membuat anak sepuluh tahun tersebut menangis dengan tersedu-sedu.
Bersamaan dengan itu, Aamber muncul. Melihat situasi yang tidak mengenakan, dia segera menghampiri Fleur dan mendekapnya erat. Dibelainya rambut gadis kecil yang selalu menjadi kesayangan. "Tenanglah, Nak," ucapnya lembut dan penuh perasaan. Sementara Fleur merangkul pinggang sang pengasuh dengan semakin erat. Dia menyembunyikan wajahnya di sana sambil terus menangis. "Sudahlah, jangan menangis. Kau adalah anak yang kuat dan juga sangat tangguh," bujuk Aamber membesarkan hati Fleur.
"Papa tidak menyayangiku. Tak seperti dirimu, Bibi," ucap Fleur di sela isak tangisnya.
"Teruslah kau berpikir seperti itu, Fleur. Jika bukan karena rasa sayangku padamu, maka aku tidak akan memedulikan atau meminta persetujuan untuk menikahi Elle. Namun, nyatanya aku masih melakukan hal itu. Apa salahku jika ingin menikahi seorang wanita selain ibumu?" amarah Benjamin tak mampu dibendungnya lagi. Namun, lagi-lagi dia harus kembali sadar dan mengendalikan diri. Benjamin kembali ingat jika yang sedang dia hadapi adalah anak kecil berusia sepuluh tahun. Sesaat kemudian, dia mengalihkan perhatiannya kepada Aamber. "Tenangkan dan beri pengertian padanya. Kita akan bicara nanti," tegas, pria bermata abu-abu tersebut berkata kepada sang pengasuh.
Aamber tidak menjawab. Dia hanya menanggapi ucapan dari sang pemilik kediaman mewah itu dengan sebuah anggukan pelan. Sementara tangannya masih terus mengelus lembut rambut panjang Fleur. Raut kecewa atas sikap keras Benjamin terhadap Fleur, terlukis dengan jelas di wajah wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Benjamin segera keluar dari kamar Fleur dengan membawa kemarahannya. Benjamin lebih memilih untuk menghindar, daripada lepas kendali. Ada baiknya jika dia menenangkan diri terlebih dahulu. Bertemu dengan Autumn adalah ide terbaik.