
Enam belas jam mengudara akhirnya telah Autumn lewati, ketika kakinya menapaki tanah Indonesia. Aroma negara itu memang sangat berbeda dengan Perancis yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Entah kapan terakhir kali Autumn mengunjungi negara kepulauan tersebut.
Seorang pria dengan rambut cepak dan perawakan hampir sama seperti Edgar, tampak melambaikan tangan kepada Autumn. Di sebelahnya, berdiri wanita bertubuh mungil yang saat itu tersenyum lebar ketika Autumn telah berada tepat di hadapan mereka berdua. "Ya, Tuhan. Kamu sudah sebesar ini dan tinggi sekali," ucap wanita yang tiada lain adalah Puspa. Dia mendongak demi menatap wajah cantik Autumn. "Apa kabarmu, Nak?" sapanya lembut. Sementara Autumn saat itu hanya tersenyum. Dia tidak mengerti dengan apa yang Puspa ucapkan. Gadis bermata abu-abu tersebut melirik Keanu dan seakan meminta bantuan.
Keanu pun dengan santai menerjemahkan kata-kata yang tadi Puspa ucapkan. "Ya, sudah. Kau pasti lelah, kan? Sebaiknya kita segera pulang, jadi kau bisa segera beristirahat," ajaknya. Dia meraih gagang koper milik Autumn dan segera menggeretnya keluar dari bandara.
"Bagaimana kabar orang tuamu, Elle?" tanya Keanu ketika mereka sudah berada di perjalanan. Suasana lalu lintas yang cukup padat, membuat laju kendaraan menjadi tersendat-sendat.
"Mereka mengirim salam untukmu, Paman," jawab Autumn yang duduk di jok belakang. Sesekali pandangannya tertuju ke luar, pada suasana ibu kota dengan segala hiruk pikuknya. Gadis itu merasa benar-benar asing saat berada di sana. Belum satu hari dia berada di Indonesia, rasa rindu sudah mulai menyapa. Akan tetapi, Autumn segera menepiskannya. Dia menyandarkan kepala sembari memejamkan mata. Lagi pula, Autumn tak mengerti dengan apa yang tengah Keanu dan Puspa perbincangkan saat itu. Gadis itu lebih memilih untuk beristirahat, hingga beberapa saat berlalu dan terdengar suara Keanu yang membangunkannya.
"Elle, bangunlah. Kita sudah sampai."
Autumn seketika membuka matanya. Mobil yang dia tumpangi telah berhenti di depan sebuah rumah megah khas Indonesia. Segera, gadis itu keluar dan menyambut hembusan angin yang terasa berbeda di sana. Angin yang tak sedingin di Perancis.
"Ayo," ajak Puspa dengan ramah. Dia menggandeng lengan Autumn dan mengajak gadis itu untuk masuk. Dari dalam rumah, muncul seorang gadis berambut sebahu dengan tinggi sekitar 165 cm. Dia adalah Jenna, putri kedua pasangan Keanu dan Puspa. Sedangan Dinan yang merupakan anak pertama mereka, kini telah berkeluarga dan memiliki tempat tinggal sendiri.
__ADS_1
Jenna terlihat ramah, sama seperti ibunya yang murah senyum. Dia memiliki rentan usia sekitar kurang lebih tiga tahun lebih tua dari Autumn. Akan tetapi, hingga saat ini Jenna masih melajang. "Hai," sapanya akrab. Dia menyodorkan tangan kepada gadis bermata abu-abu itu. "Kamu bisa Bahasa Inggris?" tanyanya.
"Ya, tentu," jawab Autumn memaksakan diri untuk bersikap ramah.
"Baguslah, karena aku ngga bisa Bahasa Perancis," ujar gadis manis itu seraya terkikik pelan.
"Mungkin lain kali kamu harus belajar Bahasa Perancis. Siapa tahu kamu dapat jodoh orang sana, Jen," Puspa ikut menimpali. Namun, perhatiannya kini tertuju kepada Keanu yang menghampiri mereka sambil menggeret koper milik Autumn. "Suruh Titin yang membawakan kopernya, Pa. Kamar untuk Elle sudah siap di lantai dua," ucapnya kepada sang suami.
"Bi Titin lagi nyuci piring, Ma. Sini, biar aku saja yang membantu Elle," sela Jenna. Dia segera merebut gagang koper dari tangan ayahnya.
"Baiklah, Elle. Ayo, biar kutunjukkan di mana kamarmu," ajak Jenna. Autumn mengangguk pelan. Setelah berpamitan kepada Keanu dan Puspa yang masih berada di teras, kedua gadis itu masuk dan menuju ke lantai dua. "Kata mamaku, kamar ini dulu merupakan kamar milik tante Arum," terang gadis berambut pendek itu setelah mereka berada di dalam sebuah kamar dengan ukuran cukup luas.
Autumn mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, yang sepertinya baru dicat tersebut. Interior kamar itu memang berbeda jauh dengan kamarnya di Perancis. Namun, suasana dalam ruangan tersebut dapat membuat dirinya merasa nyaman. "Aku suka kamarnya," ujar gadis itu dengan senyuman yang dia layangkan kepada Jenna.
"Aku yang memilihkan warna cat tembok ini. Tante Arum bilang kalau kamu suka warna peach," balas Jenna dengan bangga.
__ADS_1
"Ya, itu benar," jawab Autumn seraya duduk di tepian ranjang. Gadis itu terdiam sejenak.
"Apa besok kamu mau ikut?" tawar Jenna seraya duduk di sebelah Autumn.
"Ke mana?" tanya gadis berambut cokelat itu.
"Kita akan mengunjungi toko. Sudah tiga tahun ini yang mengelolanya," terang Jenna.
"Sweet in Jar?" tanya Autumn seraya menautkan alis.
"Ya, betul sekali. Toko legendaris yang turun-temurun dari nenek kita. Kalau kamu mau ikut, besok harus sudah siap pukul delapan pagi," ujar Jenna, "tapi menurutku daripada kamu hanya diam di rumah, kan?" lanjut gadis berambut pendek itu. Sedangkan Autumn hanya mengangguk setuju saat menanggapi ucapan Jenna.
"Baiklah. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Sore ini aku mau keluar sebentar," ucap Jenna lagi seraya beranjak dari duduknya, dengan diiringi tatapan dari Autumn. "Aku harap kamu betah selama berada si sini, Elle. Nanti kita akan jalan-jalan keliling kota," Jenna masih saja berbicara. Sementara Autumn lagi-lagi hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. "Ya, sudah. Aku pergi dulu, ya," kali ini Jenna benar-benar keluar dari dalam kamar dan meninggalkan Autumn sendirian.
"Ah, dia sangat cerewet," gumam gadis bermata abu-abu itu. Autumn lalu merebahkan tubuhnya untuk sejenak, seraya merogoh ponsel dari dalam tas. Dia membuka galeri dan melihat-lihat beberapa foto yang pernah diambilnya bersama Benjamin. "Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Ben?" gumamnya lagi. Dia lalu membolak-balikkan tubuh, seakan tengah membuat dirinya merasa nyaman. Akan tetapi, apa yang gadis itu cari ternyata tak juga dia temukan. Autumn pun memutuskan untuk keluar kamar.
__ADS_1
Dengan tenang, gadis bertubuh semampai tersebut melangkahkan kaki, hingga akhirnya menuruni tangga ke lantai pertama. Tujuan Autumn saat itu adalah halaman belakang rumah tersebut. Namun, langkahnya harus terhenti ketika dia berpapasan dengan seorang pria yang sepertinya berusia sama dengan sang paman. Pria itu memperhatikan Autumn dengan lekat, seolah tengah menelisiknya dengan teliti. Hal tersebut membuat gadis bermata abu-abu tersebut menjadi tidak nyaman. Tanpa berbasa-basi, Autumn bermaksud untuk kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru saja dia akan berlalu dari sana, suara Keanu telah terlebih dulu menghentikannya.