The Gray Autumn

The Gray Autumn
Une Catastrophe


__ADS_3

"Astaga!" lirih Autumn tak percaya seraya kembali duduk. Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Fleur seandainya mengetahui hal tersebut. Sementara Benjamin pun terlihat gusar. Tugasnya kini untuk memberitahukan hal itu kepada putri kesayangannya.


Bagi Fleur, balet sudah seperti seorang sahabat. Gadis kecil itu sangat mencintai tarian tersebut. Fleur selalu antusias saat mengikuti setiap sesi dari latihannya. Beberapa pertunjukan dan perlombaan pun telah ia ikuti. Kenangan termanis bagi Fleur ialah ketika ia menjadi juara saat membawakan tariannya yang bertema Danse Du Phénix (Tarian Burung Phoenix). Benjamin bahkan menyaksikan sendiri, betapa piawainya ia dalam membawakan tarian tersebut.


"Putri Anda baru akan bisa dibawa pulang setelah dua atau tiga hari. Tolong diperhatikan aktivitasnya selama di rumah, berhubung kita tahu sendiri seperti apa anak-anak pada kesehariannya," pesan sang dokter. Benjamin menanggapinya dengan menganggukan kepala tanda mengerti. "Baik. Terima kasih, Dokter," ucapnya.


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi dulu," Dokter itu pun berlalu meningalkan mereka berdua.


"Bagaimana ini, Ben?" tanya Autumn cemas. Ia menatap pria yang teramat dicintainya dengan rona penuh kesedihan.


"Entahlah, Elle. Aku juga masih bingung bagaimana cara menyampaikannya, tapi tentu saja Fleur harus mengetahui hal ini. Kita tidak bisa merahasiakan keadaan yang sebenarnya," jawab Benjamin pelan. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang membuat pria itu menjadi serba salah.


"Aku benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Fleur. Seandainya saja ...." Autumn tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Benjamin menggenggam erat jemari lentik gadis berambut panjang itu.


"Ini bukan salahmu, Elle. Aku juga tak mungkin jika harus menyesali keadaan, karena semuanya sudah terjadi," sela Benjamin. Genggaman tangannya menjadi semakin erat Autumn rasakan. Hal itu memberinya sebuah energi yang sangat luar biasa. Semua kegelisahan dalam diri Autumn berkurang dan bahkan hampir memudar, ketika pria rupawan itu mencium tangannya dengan hangat. Segera gadis itu merapatkan tubuh dan menyandarkan kepalanya pada pundak Benjamin.


"Ini lebih meresahkan jika dibandingkan dengan ketika aku harus pulang secara sembunyi-sembunyi, dan menaiki jendela untuk ke lantai dua. Aku sangat khawatir, Ben," ucap Autumn pelan.


"Aku akan berusaha untuk menjelaskan hal ini kepada Fleur. Pasti akan terasa sulit, tapi aku harus melakukannya. Aamber mungkin bisa membantuku. Ia sangat dekat dan mengerti karakter Fleur. Aku akan bicara dengannya nanti," ucap Benjamin lagi. Ia lalu beranjak dari duduknya. "Apa kau ingin sesuatu, Elle?" tawar pria itu lembut.

__ADS_1


Autumn tersenyum. "Apapun yang kau bawakan untukku," jawab gadis bermata abu-abu itu, membuat Benjamin menatapnya untuk sesaat. Ia lalu tersenyum kalem dan berkata, "Aku sudah membawakanmu cinta, Elle," Benjamin kemudian tertawa renyah. "Tolong jaga Fleur sementara aku keluar. Aku tidak akan lama," ucapnya lagi. Setelah itu, Benjamin berlalu dengan diiringi tatapan penuh kasih dari Autumn.


Sesaat setelah Benjamin keluar, seorang perawat muncul dan menghampiri Autumn. "Nyonya, putri Anda sudah siuman. Ia juga telah selesai diobservasi. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan," lapor perawat tersebut dengan sopan.


"Oh, baiklah," sahut Autumn tampak sumringah. Tak berselang lama, Fleur yang masih dalam keadaan terbaring muncul. Ia sempat menoleh kepada Autumn yang segera menghampiri dan mengikuti laju brankar menuju kamar rawat yang sudah disiapkan untuk Fleur.


Sebuah kamar VVIP akan ditempati oleh gadis kecil itu selama menjalani masa perawatannya di rumah sakit tersebut. Autumn segera mendekati putri dari kekasihnya itu. "Apa kau butuh sesuatu, Fleur?" tawarnya.


Fleur tidak segera menjawab. Gadis berambut cokelat tembaga itu hanya termenung menatap ujung kakinya yang masih tertutup selimut. "Aku ingin melihat kakiku, Elle," ucapnya pelan dan tanpa menoleh kepada Autumn.


"Kakimu tidak apa-apa, Fleur. Menurut dokter, selama kau menjaga aktivitasmu dari segala sesuatu yang terlalu berat, maka cederanya pasti akan segera pulih," terang Autumn dengan tenang. Ia lalu duduk di tepian ranjang dengan menghadap kepada gadis kecil sepuluh tahun itu.


"Kita tunggu ayahmu dulu. Ia yang akan menjelaskan semuanya. Sekarang, sebaiknya kau istirahat. Aku akan menemanimu di sini," Autumn menyentuh pipi gadis kecil yang yang tampak memasang wajah merajuk. Autumn harus pandai-pandai mengolah kata agar ia tak salah bicara.


"Kenapa harus menunggu papa? Jika kau mengetahui sesuatu, maka kau bisa mengatakannya secara langsung saat ini juga," desak Fleur. Ia merasa tak sabar jika harus menunggu sampai Benjamin kembali. Akan tetapi, Autumn merasa tak berhak untuk mengatakan apapun terhadap Fleur, meski ia mengetahui dengan jelas apa yang dokter jelaskan sebelumnya.


"Iya, Fleur. Aku pikir Ben jauh lebih berhak untuk memberikan penjelasan padamu. Bersabarlah sebentar lagi, ia sedang keluar membeli makanan," ucap Autumn lagi. Ia tak menyangka jika dirinya bisa bersikap sesabar itu dalam menghadapi seseorang. Selama ini, Autumn merupakan tipikal gadis yang berani dan tak suka menyembunyikan apapun. Ia akan mengatakan tentang apa saja yang memang tidak sesuai dengan hatinya. Orang-orang terdekat gadis itu telah mengetahui karakternya yang keras.


Akan tetapi, semenjak Autumn mengenal sosok Benjamin, ia menjadi jauh lebih tertutup. Gadis itu bahkan begitu pandai menyembunyikan hubungan asmaranya dari Edgar dan juga Arumi.

__ADS_1


"Kau tak ingin memberitahuku, Elle. Kalau begitu, cepat suruh papaku agar segera datang!" pinta Fleur dengan setengah mendesak. Gadis itu terlihat semakin merajuk. Ia mulai menangis ketika merasakan tidak nyaman pada kakinya yang baru dioperasi.


"Hey, Fleur. Sudahlah, jangan menangis. Apa perlu kupanggilkan perawat kemari agar memeriksamu?" Autumn terlihat resah. Apalagi saat itu Fleur menolak tawarannya. Gadis kecil tersebut terus menangis. Autumn yang belum terbiasa mengurusi hal seperti itu, akhirnya memutuskan untuk menghubungi Benjamin. Ia lalu merogoh ponselnya dari dalam tas. Gadis itu memberithukan bahwa Fleur telah berada di ruang perawatan, dan meminta agar Benjamin segera datang.


Tak berselang lama, akhirnya pria tampan itu muncul di sana. Benjamin meletakkan semua barang yang ia beli di atas meja dekat sofa. Setelah itu, ia segera menghampiri Fleur yang masih menangis. Segera direngkuh pundak gadis kecilnya dengan penuh kasih sayang. Benjamin terlihat sangat berpengalaman dalam hal seperti itu. Ia menenangkan Fleur dengan segala cara, hingga gadis bermata abu-abu tersebut akhirnya berhenti menangis.


"Papa, kenapa kakiku begini dan rasanya sangat tidak nyaman?" keluh Fleur setelah beberapa saat ia terdiam.


"Tidak apa-apa, Fleur. Dokter mengatakan bahwa tulang kakimu ada yang patah, sehingga harus kembali disambung. Rasanya pasti tidak nyaman, tapi nanti juga kau akan segera membaik," jelas Benjamin lembut. Ia lalu mengecup kening Fleur dengan penuh cinta.


"Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku akan sembuh dalam waktu tiga hari?" tanya Fleur polos. Wajah lugunya membuat Benjamin dan Autumn merasa tak tega. Mereka berdua saling pandang untuk sesaat.


"Kau harus istirahat dulu untuk beberapa hari, Fleur. Butuh waktu agar cedera yang kau alami bisa pulih seperti sedia kala," jelas Benjamin lagi.


"Oh, itu bencana!" resah Fleur.


"Memangnya kenapa, Fleur?" tanya Autumn penasaran.


Fleur menoleh kepada Autumn, kemudian pada Benjamin. "Aku harus mengikuti kompetisi tiga hari lagi," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2