
Autumn tersentak mendengar jawaban dari Benjamin. Gadis itu seketika tak mampu berkata apa-apa. Dia sama terkejutnya dengan Arumi dan juga Edgar. Sementara Benjamin sendiri masih terlihat begitu tenang dan penuh percaya diri. Sepertinya dia telah yakin dengan keputusan yang diambilnya.
"Ben ...." ucapan Autumn tertahan. Dia merasa bingung harus berkata apa. Autumn tak percaya bahwa sang kekasih akan melamarnya dengan begitu tiba-tiba.
"Kenapa, Elle? Kau terkejut dengan apa yang kulakukan?" Benjamin menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. "Aku hanya ingin membuktikan padamu dan juga semuanya, bahwa diriku memang lebih dari sekadar serius dalam menjalani hubungan ini," tegasnya.
"Ya, tapi aku sangat terkejut," balas Autumn tampak kebingungan.
"Kau tidak perlu merasa bingung, Elle. Cukup katakan bahwa kau bersedia, maka akan kuyakinkan tuan dan nyonya Hillaire agar dapat menerimaku," Benjamin mengalihkan perhatiannya kepada Edgar dan Arumi.
"Sikap Anda benar-benar seenaknya, Tuan Royce! Anda pikir aku akan dengan mudahnya menerima lamaran ini? Tentu saja tidak!" tolak Edgar dengan tegas. Raut kecewa tampak jelas pada sorot mata Autumn yang dia tujukan untuk Edgar. Sedangkan Arumi dapat memahami hal itu dengan sangat jelas. "Putriku masih terlalu muda untuk menikah. Usianya baru dua puluh dua tahun. Masa depan yang panjang menanti untuk dia lalui. Aku tidak mempersiapkan Elle untuk lelucon seperti ini!" tegas Edgar lagi. Dia menolak mentah-mentah lamaran dari Benjamin.
"Tenanglah, Ed," Arumi menyentuh pundak sang suami dan memeganginya sesaat. Dia harus membuat pria itu tetap terkendali. Tak akan baik jadinya jika Edgar sampai hilang kontrol.
__ADS_1
"Aku tidak menyukai lelucon seperti ini, Arum!" sergah Edgar. Sorot mata yang tajam dia layangkan kepada Benjamin yang masih terlihat tenang. "Kau adalah orang yang terpelajar, Benjamin Royce. Apakah kau tidak merasa malu karena telah mengencani gadis yang jauh lebih muda darimu?"
"Justru karena diriku terpelajar, maka aku meminta izin kepada Anda. Jika aku tidak memiliki rasa malu, mungkin saja Elle sudah kubawa lari tanpa sepengetahuan orang tuanya," balas Benjamin. Walaupun ucapan pria itu terdengar tegas dan amat serius, tetapi bahasa tubuhnya masih memperlihatkan sikap yang sangat tenang.
Untuk sejenak, Edgar terdiam. Pria penuh kharisma itu tampak sedang berpikir. "Baiklah. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Aku akan menilai seberapa pantas kau untuk memiliki putriku," selesai berkata demikian, Edgar berdiri dan beranjak meninggalkan mereka. Dia berlalu menuju ruang kerjanya.
"Beri ayahmu waktu, Elle. Dia adalah kepala keluarga. Sudah menjadi kewajibannya untuk mengambil keputusan yang paling tepat. Selagi itu, ada baiknya kalian juga kembali memikirkan hal ini. Menikah adalah sebuah keputusan yang besar. Jadi, aku sarankan jangan terlalu terburu-buru. Ingatlah, jika pernikahan dan memiliki keluarga sendiri adalah puncak dari segala tujuan hidup. Sebisa mungkin itu hanya terjadi sekali saja. Hal yang sakral seperti itu janganlah dijadikan sebagai permainan," Arumi memulai petuahnya.
"Jika kalian memang sudah benar-benar siap, maka silakan. Itu akan jauh lebih baik. Namun, jika keputusan ini diambil hanya karena dorongan perasaan yang sedang bergelora, aku rasa sebaiknya pertimbangkan lagi," saran wanita itu dengan lembut.
Sedangkan Arumi menanggapi ucapan serta sikap manis Benjamin dengan sebuah senyuman lembut yang tampak tulus. "Aku senang mendengarnya. Akan tetapi, suamiku belum mengetahui jika Anda sudah memiliki seorang anak. Aku rasa, sebaiknya Anda memikirkan hal itu juga, Tuan Royce," saran Arumi lagi yang seketika membuat Benjamin terdiam. "Maafkan aku, Tuan Royce. Aku harus mengingatkan Anda akan hal itu," ucap Arumi lagi sedikit tidak enak.
"Tidak apa-apa, Nyonya Hillaire. Itu adalah sebuah kenyataan yang memang tidak dapat kupungkiri, meski dengan jalan apapun. Aku akan segera memikirkan cara untuk menyampaikannya kepada tuan Hillaire. Semoga dia dapat memahami dan juga menerimanya. Aku harap suami Anda dapat bersikap dengan jauh lebih bijaksana," ujar Benjamin masih terlihat tenang.
__ADS_1
"Suamiku adalah pria yang baik. Aku rasa, dia pasti tahu keputusan apa yang harus diambilnya, terlebih kalian berdua pun sudah saling mengenal. Seharusnya itu menjadi sebuah pertimbangan juga baginya," ujar Arumi seraya beranjak. "Silakan lanjutkan berdua. Aku harus ke kamar dulu," Arumi kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Arumi, Ben segera mendekatkan dirinya kepada Autumn. Dia tahu jika gadis itu pasti sedang tak karuan. "Tenanglah, Elle," ucapnya kembali mengecup punggung tangan sang kekasih.
"Apa kau yakin, Ben? Kau tahu bukan jika Fleur tidak menyukaiku? Apakah pernikahan ini tidak hanya akan menambah masalah bagimu?" Autumn terdengar ragu atas keputusan Benjamin.
"Kau ingin menjadi nyonya Royce atau tidak?" pria bermata abu-abu itu menanggapi ucapan Autumn dengan begitu tenang.
Autumn tampak gelagapan mendengar pertanyaan pria tampan itu. Dia menjadi salah tingkah karenanya. Tersungging sebuah senyuman kalem di sudut bibir Benjamin. Dia tahu dan dapat memastikan jawaban dari Autumn. "Kau tidak perlu khawatir, Elle. Fleur hanya anak kecil. Aku bisa mengatasinya," ucap pria itu.
"Aku rasa tidak semudah itu," bantah Autumn ragu.
"Dia putriku, Elle. Seharusnya aku tahu bagaimana cara mengatasi anak sendiri. Namun, justru ayahmu yang membuatku merasa khawatir. Aku tidak bisa menebak ke mana arah pikirannya."
__ADS_1
"Sama sepertimu, Ben. Kau dan ayahku tak ada bedanya sama sekali. Aku rasa, apa yang ibuku katakan memang benar. Sepertinya kalian memang satu tipe," ucap Autumn yang seketika membuat Benjamin tertawa pelan. Tanpa sungkan dia meraih wajah cantik sang kekasih, kemudian menciumnya dengan mesra meski hanya sesaat. "Kau sangat nakal, Ben. Namun, aku menyukainya. Kau seakan memberikan nyawa kedua pada hidupku, sehingga diriku semakin bergairah dalam menjalaninya. Tidak ada hal yang terasa membosankan lagi bagiku. Semuanya terasa indah dan jauh lebih berwarna," ucap Autumn sesaat setelah Benjamin melepaskan bibirnya. "Jujur saja kemarin aku sempat ingin mundur dan pergi darimu. Akan tetapi, entah kenapa kakiku rasanya begitu berat untuk melangkah," lanjutnya lagi.
"Lagi pula, sudah kukatakan bahwa aku tak akan pernah membiarkanmu pergi dariku. Kita bisa melanjutkan ini nanti, setelah aku memberikan nama belakangku untukmu. Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahmu setiap hari, setiap saat ...." Benjamin kembali melu•mat bibir gadis pujaannya.