
Fleur tersenyum manis menyambut kehadiran sang ayah di sana. Benjamin tampak jauh lebih segar, meskipun tak serapi biasanya. "Kemarilah, Papa," ajak Fleur, "aku ingin kau duduk di sofa," lanjutnya.
Tanpa banyak bicara, Benjamin segera menghampiri putrinya dan menurut saja. Dia lalu duduk di sofa saat Fleur menggerakkan kursi roda ke hadapannya. Tak berselang lama, Fleur membuka dompet biru langit yang sejak tadi ada di atas pangkuan dan entah berisikan apa di dalamnya. Benjamin baru mengetahui ketika Fleur mengeluarkan sebuah sisir dari sana.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya pria bermata abu-abu itu dengan raut wajah yang terlihat jauh lebih rileks.
"Aku tidak suka melihat rambutmu yang acak-acakan, Papa. Ketampananmu jadi berkurang karenanya," ujar Fleur seraya menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
"Sejak kapan kau bisa membedakan pria tampan?" tanya Benjamin dengan senyumannya yang terlihat begitu kalem.
Fleur hanya terkikik geli. Dia lalu menyuruh Benjamin agar mendekat padanya. Pria tiga puluh lima tahun itu pun setengah membungkukkan tubuh sehingga bisa lebih dekat kepada sang putri, barulah Fleur mulai menyisir rambutnya dengan rapi.
Sementara Fleur melakukan hal itu, Benjamin hanya terdiam sambil memperhatikan putri semata wayangnya tersebut. Seutas senyuman kembali muncul menghiasi paras tampannya.
"Papa tahu? Nyonya Hillaire menyuruhku agar sering-sering berkunjung ke sana. Dia mengatakan bahwa dirinya akan mengajariku membuat kue. Dia juga memberiku sekotak èclair. Rasanya sangat enak. Nyonya Hillaire mengatakan bahwa dulu saat dia masih tinggal di Indonesia, dirinya mengelola toko kue peninggalan mendiang ibunya. Itu berarti nenek Elle juga pandai membuat kue. Mereka ...."
"Indonesia?" ulang Benjamin seraya menautkan alisnya.
"Papa pernah ke sana?" tanya Fleur yang telah selesai menyisir rambut sang ayah.
__ADS_1
"Tidak," jawab Benjamin pelan. Tatap matanya tampak ragu. Dia juga seperti tengah memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, perhatiannya kembali pada sang putri yang masih menatapnya dengan heran. "Apa ini sudah selesai, Fleur?" tanyanya. Benjamin terlihat jauh lebih bersemangat.
Fleur mengangguk pelan. Gadis kecil itu kembali tersenyum dengan mata berbinar. "Apa Papa akan berangkat ke kantor sekarang?" tanyanya. "Sebentar lagi guru les pianoku akan datang," ucap gadis kecil itu seraya kembali memasukan sisir ke dalam dompet make up di atas pangkuannya. Dia lalu mengeluarkan sebuah cermin kecil, kemudian menyodorkannya kepada Benjamin.
Benjamin segera menerima cermin tersebut. Dia memeriksa hasil karya putrinya. Rambut cokelat tembaga yang tadi hanya dia sisir dengan asal-asalan, kini tampak jauh lebih rapi. "Luar biasa. Kau sangat berbakat dalam segala hal. Aku menyayangimu, Fleur," sanjungnya diakhiri dengan sebuah kecupan hangat di kening gadis kecil itu. Benjamin lalu berdiri sambil merapikan kemeja yang dia kenakan.
"Papa akan berangkat sekarang?" tanya Fleur terus memperhatikan sang ayah yang terlihat sudah bersiap.
"Iya. Aku tidak akan lama. Sampai nanti, Fleur," pamit Benjamin seraya keluar dari ruang kerjanya. Dia melangkah gagah menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Tak lupa, pria itu mengenakan mantelnya terlebih dahulu.
Selama di dalam perjalanan, pikiran Benjamin terus tertuju pada obrolannya dengan Fleur tadi. "Indonesia," gumamnya. Niat awal yang tadinya hendak pergi ke kantor, Benjamin urungkan. Dia mengalihkan tujuannya ke tempat lain. Pria bermata abu-abu itu melajukan mobil yang dirinya kendarai dengan cukup kencang, hingga dia pun tiba di kediaman keluarga Hilaire.
"Tuan belum kembali. Dia sedang pergi ke bandara," jawab pelayan itu sopan.
"Ke bandara? Apa tuan Hillaire akan pergi?" tanya Benjamin lagi penuh selidik. Dia terlihat begitu penasaran.
"Tidak. Tuan hanya mengantar nyonya dan juga tuan muda. Mereka akan pergi ke Indonesia untuk mengunjungi nona Autumn," jelas pelayan tersebut membuat sepasang mata abu-abu milik Benjamin seketika berbinar. Pelayan itu memang tidak mengetahui hubungan antara Benjamin dengan Autumn. Dia hanya mengenal pria bermata abu-abu tersebut sebagai kolega dari majikannya.
"Indonesia? Memangnya tuan Hillaire memiliki kerabat di sana?" pancing Benjamin lagi. Ini adalah kesempatan emas bagi dirinya untuk mengorek banyak informasi dari pelayan yang memang sudah lama bekerja di kediaman Edgar.
__ADS_1
"Ya, Tuan. Nyonya Hillaire berasal dari Indonesia. Terkadang kakaknya yang bernama tuan Keanu datang kemari," jelas wanita paruh baya itu lagi.
"Keanu?" ulang Benjamin seraya menautkan alisnya.
"Ya, Tuan. Setahuku dia adalah pemilik sebuah resort mewah bernama Surya Alam Winata. Dulu sewaktu nona Autumn masih balita, aku pernah diajak ke sana. Benar-benar tempat yang nyaman," tutur pelayan itu lagi tanpa menyadari bahwa dia sudah memberikan sebuah informasi yang sangat berharga kepada Benjamin.
Dengan senyuman puas yang terkembang di paras tampannya, Benjamin segera berpamitan dari sana. Informasi yang dirinya dapatkan sudah jauh lebih dari cukup. Dia bergegas kembali ke kediamannya dengan niat untuk mengurus dan mempersiapkan keberangkatan ke Indonesia. Sambil menunggu proses pengurusan dokumen keimigrasian selesai, Benjamin mencari tahu tentang resort yang disebutkan oleh pelayan di kediaman Edgar. Dari sana juga, dia menemukan profil tentang Keanu.
Mantap sudah niatnya untuk datang ke Indonesia. Pria itu benar-benar tak sabar ingin segera berangkat.
"Papa yakin akan pergi ke Indonesia?" tanya Fleur setelah mengetahui niat sang ayah.
"Ya," jawab Benjamin yakin. Dia lalu berlutut di hadapan putri semata wayangnya, "tapi maaf karena aku tidak bisa mengajakmu dan juga Aamber. Kondisimu sekarang tidak memungkinkan untuk naik pesawat," ucap Benjamin dengan raut menyesal.
"Apa kau akan lama di sana, Papa?" tanya Fleur pelan.
"Aku rasa tidak. Aku hanya ingin memastikan apakah Elle benar-benar ada di Indonesia atau itu hanya akal-akalan tuan Hillaire untuk menyembunyikan Elle dariku," jelas Benjamin. Dia harap Fleur bisa memahaminya.
"Kenapa Elle harus bersembunyi darimu, Papa? Apa dia memang menjauh karena diriku?" tanya Fleur dengan raut yang terlihat sendu.
__ADS_1
"Tidak, tentu saja bukan karena itu. Kami orang-orang dewasa memang kerap bersikap demikian. Elle menjauh dariku bukan karena dirimu, tapi karena dia memang ingin lebih memantapkan hatinya. Elle masih berusia muda. Dia ingin sedikit merenung agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Aku sangat menghargai hal itu. Dia harus mempersiapkan diri sebelum melanjutkan rencana pernikahan kami berdua. Namun, pada kenyataannya aku tidak bisa," Benjamin tersenyum getir. "Aku sangat membutuhkannya. Sama seperti terhadapmu, aku juga tak ingin berjauhan dengannya," tutur Benjamin dengan lirih dan dalam.