The Gray Autumn

The Gray Autumn
Roman Picisan


__ADS_3

Autumn tersenyum manis. Ia menatap wajah rupawan Benjamin penuh cinta, dan pria itu dapat merasakan hal tersebut dengan jelas. Benjamin adalah pria dewasa yang telah berpengalaman. Lain halnya dengan Autumn yang masih labil dengan emosi meledak-ledak. Ia masih kesulitan untuk dapat memantapkan perasaannya sendiri. Ia ibarat sebuah pohon yang tak memiliki batang kokoh. Ke mana angin berembus, maka ke sanalah ia bergerak.


"Aku rasa, aku akan sangat menyukainya. Akan tetapi, tiga bulan bukanlah waktu yang lama dan aku tidak dapat mengikuti event pertengahan tahun yang diselenggarakan di hotelmu," sesal Autumn pelan.


"Kenapa tidak bisa? Kau boleh datang jika kau mau. Mintalah akses masuk kepada Gabriel. Aku yakin ia akan memberikannya padamu dengan senang hati," ujar Benjamin dengan setengah menyindir. Autumn pun bukannya tak mengerti dengan hal tersebut. Ia paham maksud dari nada bicara Benjamin terhadap dirinya. Gadis berambut cokelat itu tersenyum manis.


"Jangan katakan jika kau cemburu padanya," goda Autumn seraya mencubit lengan berlapis T Shirt pendek berwarna putih yang Benjamin kenakan. Sedangkan pria berambut cokelat tembaga itu hanya tersenyum simpul. Ia lalu menyentuh pipi mulus Autumn dengan lembut. "Itu memang kenyataannya. Aku dapat melihat dengan jelas jika Gabriel tertarik padamu," ujarnya.


"Kita sudah membahas hal itu kemarin malam, dan aku sudah menjelaskannya, bukan?" bantah Autumn. "Aku bisa saja bertanya padamu tentang wanita-wanita yang kau kencani. Namun, aku yakin kau pun tak akan suka membahas hal itu," balasnya.


"Ya, kau benar. Aku tak harus membahasnya lagi. Aku memang tak suka dan tak akan membicarakan sesuatu yang kuanggap tidak terlalu penting," ucap Benjamin tenang. "Katakan padaku, apa yang kau rasakan saat ini, Elle?" tanya pria itu dengan setengah berbisik.


"Aku merasakan banyak hal dalam hatiku, sehingga semuanya begitu membingungkan," jawab Autumn pelan. Kedua bola matanya bergerak dengan tak beraturan.


"Katakan salah satunya?" pinta Benjamin, membuat Autumn kembali menyunggingkan senyuman manisnya. Ia menautkan kedua alisnya yang berwarna hitam dan terlukis dengan indah bagaikan mahakarya seniman profesional.


"Kau ingin mengetahui sesuatu, Ben? Baiklah akan kukatakan padamu. Aku menyukaimu, Benjamin Royce. Entahlah, tapi kau terlihat begitu berbeda dengan pria lainnya yang pernah kutemui. Kau membuatku terombang-ambing dalam kegalauanku sendiri. Sementara aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku.


Aku sempat marah dan begitu membencimu, tapi kenyataannya aku tak bisa melawan perasaan yang jauh lebih besar dari itu. Aku sangat menyukaimu. Apakah salah jika aku mengungkapkan ini?" Autumn mengulum bibirnya. Sedangkan Benjamin masih menatap lekat wajah cantik itu.


"Aku tidak akan menyalahkan perasaanmu, karena itu sangat manusiawi. Tak jarang kita ditaklukan oleh sesuatu yang terkadang tak masuk akal dan mungkin sedikit gila," Benjamin tersenyum samar seraya menyentuh keningnya.

__ADS_1


"Apakah menurutmu ini sesuatu yang gila dan tak masuk akal?" tanya Autumn polos.


"Tidak juga. Ada banyak orang yang jauh lebih ekstrim dari ini," jawab Benjamin tenang. "Berapa usiamu, Elle?" Benjamin kembali menyentuh wajah cantik gadis itu. Ia tak henti-hentinya mengelus lembut pipi dengan polesan tipis blush on merah muda.


Autumn terlihat ragu. Namun, ia harus menjawab pertanyaan itu. "Dua puluh dua tahun," jawab gadis itu. Sementara Benjamin seketika terdiam. Ia berhenti mengelus pipi Autumn meskipun belum menyingkirkan tangannya dari wajah cantik tersebut. Entah apa yang dipikirkan Benjamin saat itu, yang pasti sikapnya membuat Autumn seketika diliputi rasa khawatir.


"Apakah itu masalah bagimu, Ben?" tanyanya terlihat terlihat resah.


Benjamin tak segera menjawab. Sepasang mata abu-abunya masih beradu dengan mata abu-abu milik Autumn. Mereka seakan tengah menyelami perasaan masing-masing. Akan tetapi, Autumn kesulitan untuk dapat mengartikan tatapan penuh misteri itu.


"Apa yang akan ayahmu katakan seandainya ia mengetahui semua ini?"


"Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupku," bantah Autumn dengan yakin.


"Kalau begitu, biarkan aku mengenalmu," pinta Autumn.


"Kau yakin tak akan merasa menyesal setelah benar-benar mengenalku?" tegas Benjamin. Ia beranjak dari duduknya. Autumn segera mengikuti pria itu. Ia berdiri tepat di hadapannya.


"Katakan hal apa yang akan membuatku menyesal? Apakah itu sesuatu yang benar-benar penting sehingga membuatmu harus melawan apa yang kau rasakan?" desak Autumn dengan tatapan tegas. Sedangkan Benjamin terdengar mengempaskan napas penuh sesal.


"Aku bukan pria yang baik," jawabnya.

__ADS_1


"Aku tahu itu. Namun, tidak setiap orang baik menjalani awal kehidupannya dengan sesuatu yang baik. Aku mendengar banyak cerita inspiratif tentang hal seperti itu," sanggah Autumn.


"Ayahmu tak akan menyukai kedekatan kita," bantah Benjamin lagi.


"Kau seorang pemimpin sebuah perusahaan besar, dan kau takut pada ayahku? Di mana nyalimu, Ben?"


"Aku tidak takut. Aku hanya tak ingin merusak hubungan baik kami," kilah Benjamin tak terima dengan ucapan Autumn.


"Apakah jika menjalin hubungan denganku maka itu seketika akan langsung membuat hubungan baikmu dengan ayahku menjadi hancur? Kenapa kau begitu memusingkan hal tersebut?"


"Restu orang tua sangat penting, Elle!" tegas Benjamin.


"Bagaimana kau bisa tahu jika ayahku tak akan merestui hubungan kita?" Autumn merasa kesal. Ia berkata dengan nada bicara yang semakin tinggi. Gadis itu masih tak dapat memahami dengan apa yang Benjamin pikirkan. "Kau sangat menyedihkan dan mengecewakan, Ben! Jika kau memang tak menyukaiku, maka katakan saja. Jangan mengemukakan terlalu banyak alasan, karena itu akan terdengar sangat bodoh," Autumn mulai menurunkan volume suaranya. Ia kembali duduk di sofa dan terdiam.


Melihat hal itu, Benjamin merasa tak enak hati. Ia lalu duduk di sebelah Autumn dengan setengah membungkukan badannya. "Aku hanya merasa takut. Jika kau mengatakan bahwa aku menyedihkan, ya kau memang benar. Selama ini, aku tak berani untuk jatuh cinta dengan terlalu dalam kepada wanita manapun," ungkapnya pelan.


"Karena itu ada banyak wanita dalam hidupmu?"


"Mereka hanya datang dan pergi begitu saja, Elle. Tak ada satu pun yang istimewa. Aku tak berani untuk membuat satu komitmen yang serius," jelas Benjamin lagi.


"Kau bukan seorang pengecut, kan?" cibir Autumn sinis, membuat Benjamin segera menoleh. Namun, bukannya marah, tapi pria itu justru tertawa pelan. Ia lalu menegakkan tubuhnya dan kembali berdiri. Direntangkannya tangan ke hadapan Autumn. Pria itu mengajak gadis yang tengah memasang wajah cemberut tersebut untuk mengikutinya. Setelah Autumn ikut berdiri, Benjamin kemudian mengajaknya menuju dapur.

__ADS_1


"Kenapa kita kemari?" tanya gadis itu polos.


"Masakan sesuatu untukku," titahnya dengan enteng.


__ADS_2