
“Tadi tuan Royce datang kemari untuk mencari Anda,” lapor pelayan yang baru saja mempersilakan Edgar untuk masuk. Pria itu baru kembali dari bandara.
Edgar menoleh sejenak kepada wanita yang merupakan pelayan senior di kediamannya. Dia menatap wanita paruh baya tersebut dengan sorot yang aneh. “Apa yang kau katakan padanya?” tanya suami dari Arumi tersebut sedikit was-was.
“Aku mengatakan bahwa Anda sedang mengantarkan nyonya dan tuan muda ke bandara,” jawab pelayan tadi masih dengan sikapnya yang sopan.
“Kau tidak mengatakan hal lain padanya?” selidik pria bermata abu-abu itu. Dia sudah merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Aku hanya menjawab bahwa Anda mengantarkan nyonya dan tuan muda yang akan menjenguk nona Elle di Indonesia, hanya it ....”
Belum sempat si pelayan senior melanjutkan kata-katanya, Edgar sudah terdengar mengempaskan sebuah keluhan penuh sesal. Akan tetapi, dia juga tak bisa menyalahkan sang pelayan karena wanita itu memang tak tahu apa-apa. Tanpa banyak bicara, Edgar berlalu menuju ke ruang kerja. Usahanya untuk menyembunyikan Autumn mungkin memang harus berakhir. Dia yakin jika Benjamin pasti tak akan tinggal diam setelah mengetahui keberadaan putri sulungnya tersebut. Namun, Edgar rasa itu tak masalah. Lagi pula, dirinya ingin melihat seberapa gigih pria beranak satu itu dalam usaha mendapatkan Autumn.
Sementara itu, setelah hampir tujuh belas jam di dalam perjalanan, akhirnya Arumi dan Darren dapat menginjakkan kaki di Indonesia. Sungguh merupakan sesuatu yang tak pernah Arumi bayangkan, bahwa dia dapat kembali mengirup udara di negara kelahirannya. Atmosfir yang terasa di sana pun sangat jauh berbeda dengan kota Paris.
Ada rasa haru yang menyeruak dalam diri wanita empat puluh delapan tahun itu, ketika dirinya telah tiba di kediaman keluarga Winata. Rumah penuh kenangan dari masa mudanya dulu. Bangunan megah tersebut masih berdiri kokoh dan tidak terlalu banyak berubah. Arumi dan Darren berdiri sejenak sambil memperhatikan seorang sopir yang ditugaskan oleh Keanu untuk menjemput mereka ke bandara.
“Arum!” seru Puspa yang segera menyambut kedatangan adik iparnya di sana. Wanita bertubuh mungil tersebut langsung saja menghambur ke hadapan Arumi. Keduanya pun saling berpelukan dengan haru. Entah kapan terakhir kali mereka bertemu, yang pasti sudah lebih dari tujuh tahun lamanya.
“Astaga, Kakak semakin cantik dan awet muda,” sanjung Arumi tanpa melepas senyuman lebarnya.
“Eh, lihat dirimu. Justru kamu yang terlihat masih secantik dulu. Ya Tuhan, Edgar pasti selalu memanjakanmu. Aku yakin itu,” ujar Puspa dengan senyuman nakalnya.
“Itu sudah pasti. Kakak tahu seperti apa sikapnya padaku,” sahut Arumi bangga. Dia lalu memberi isyarat kepada Darren agar segera menyapa Puspa. Pemuda dua puluh tahun itu menurut. Segera disalaminya sang tante yang tidak terlalu dia kenal.
__ADS_1
“Dia sangat mirip dengan Edgar,” bisik Puspa kepada Arumi, seraya menggandeng lengan sang adik ipar dan mengajaknya masuk. Sementara Darren mengikuti mereka dari belakang. “Maaf karena kami hanya menyuruh sopir untuk menjemput kalian. Keanu baru akan kembali hari ini dari Bali. Sementara Elle dan Jenna sedang sibuk di toko. Sementara aku ....”
“Sudahlah, Kak. Tidak apa-apa. Lagi pula aku dan Darren sudah berada di sini,” potong Arumi. “Jadi Elle benar-benar menyibukan dirinya di toko?” tanya Arumi tak percaya.
“Ah, kamu tidak akan percaya. Selama berada di sini Elle sangat rajin. Dia selalu bangun pagi dan tak jarang membantuku di dapur. Setiap hari dia pergi ke toko bersama Jenna. Aku rasa sebentar lagi dia akan mengikuti jejakmu,” tuturnya.
“Ouw ....” Arumi tersenyum lebar. Dia lalu melirik kepada putra bungsunya. Darren terlihat sangat kelelahan. “Apa kau ingin merebahkan tubuhmu, Sayang?” tawarnya.
“Tentu, Bu. Aku sangat lelah," jawab Darren dengan segera. Dia menunggu tawaran itu sejak tadi. Namun, Arumi dan Puspa malah asyik berbincang dengan menggunakan bahasa yang tidak dia mengerti.
“Tin, antarkan Darren ke kamar yang sudah disiapkan,” suruh Puspa kepada seorang pelayan yang kebetulan lewat di sana.
Wanita muda bernama Titin itu mengangguk. Darren pun segera mengikutinya. Sementara Arumi melanjutkan perbincangan dengan Puspa, hingga dia lupa untuk menghubungi Edgar dan memberitahu bahwa dirinya telah tiba di Indonesia. Kedua wanita itu asyik mengobrol dengan banyak pembahasan, hingga Autumn dan Jenna kembali dari toko.
......................
Seusai makan malam, Arumi mengajak Autumn untuk berbincang di balkon lantai dua. Di sana pula dirinya dulu biasa bercengkerama dengan mendiang Ryanthi. Tak terbayangkan oleh Arumi bahwa adegan itu akan terulang pada dirinya bersama Autumn.
"Bagaimana Indonesia?" tanya Arumi dengan senyuman lembutnya.
"Luar biasa. Aku menemukan banyak hal baru di sini," sahut Autumn terlihat antusias. Raut wajahnya tampak begitu lepas.
"Jadi, apa kau akan ikut pulang denganku atau ingin tetap di sini?" tanya Arumi lagi. "Ayahmu memintaku kemari. Dia ingin agar kau segera kembali. Akan tetapi, jika ternyata kau masih ingin di sini maka kuizinkan hal itu," ucapnya lagi masih dengan nada bicara yang terdengar lembut.
__ADS_1
"Aku suka di sini, tapi aku jauh lebih menyukai Paris," sahut Autumn kemudian mengulum bibirnya.
"Ya, terlebih jika kau mendemgar apa yang akan kuceritakan," ujar Arumi membuat Autumn merasa penasaran. Namun, gadis itu tak berani bertanya. Ada rasa malu dan juga was-was yang tiba-tiba menyergap. Sedangkan Arumi dapat menangkap hal itu dengan baik. Segera disentuhnya punggung tangan sang putri. Dia mencoba memberikan sebuah ketenangan padanya.
"Beberapa hari yang lalu Fleur datang ke rumah. Gadis kecil itu mencarimu, Elle," ucap Arumi yang seketika membuat Autumn membelalakan kedua matanya karena tak percaya.
"Untuk apa? Aku harap dia tidak bersikap buruk di depan ibu dan ayah," Autumn tampak khawatir.
"Tentu saja tidak, justru sebaliknya. Dia gadis kecil yang sangat manis. Fleur telah mengingatkanmu padamu sewaktu kau masih seusia dirinya," jelas Arumi. "Aku rasa dia sungguh-sungguh ingin bertemu denganmu, Elle. Apa kau tak ingin mengakhiri persembunyianmu ini?"
Autumn tak segera menjawab. Pandangan gadis itu lurus tertuju pada pekatnya malam. Sesaat kemudian, tersungging sebuah senyuman kecil di wajahnya. "Entahlah, Bu. Terkadang aku berharap Ben datang kemari dan mengajakku kembali ke Perancis. Namun, aku rasa itu tidak mungkin. Ben bahkan tak tahu aku berada di mana saat ini," Autumn kemudian tersenyum getir.
"Apa menurutmu dia benar- benar tidak tahu kau ada di sini?" Arumi menatap lekat putri kesayangannya.
"Entahlah. Seandainya Ben tahu, apa dia akan datang kemari?" Autumn menatap balik sang ibu.
"Saat itulah kau akan mengetahui seberapa besar dia merindukanmu, Elle. Aku hanya berharap, Benjamin adalah pria yang gigih. Namun, setahuku dia kerap menghubungi ayahmu. Ben juga pernah datang ke rumah dan berbicara dengan Edgar," tutur Arumi pelan, membuat bunga-bunga bermekaran di hati Autumn. Rasa rindunya semakin menjadi kepada si pemilik senyum menawan Benjamin Royce.
Autumn mengela napas dalam-dalam. Dirasakannya angin malam, yang tak sedingin angin di musim gugur. "Kita akan merindukan saat-saat seperti ini, Bu," ucap gadis itu pelan. "Haruskah kita abadikan?" ucapnya lagi seraya melirik sang ibu.
"Oh, tentu. Akan kuambilkan ponsel milikmu, Sayang," balas Arumi seraya beranjak menuju kamar yang ditempati Autumn. Kamar yang dulu merupakan ruangan favoritnya.
Selagi Arumi masuk untuk mengambil ponsel, Autumn berdiri di balkon sendirian. Pikirannya mulai menerawang jauh ke kota Paris. Bayangan wajah tampan Benjamin menghibur hatinya yang gundah. Sesaat kemudian, tatapan gadis itu beralih pada mobil sedan yang baru masuk ke halaman. Dua orang pria keluar dari mobil tersebut. Autumn kembali tersenyum. "Hai, Paman," serunya dari balkon, membuat kedua pria yang tiada lain adalah Keanu dan Moedya segera menoleh. Namun, pandangan Moedya tidak tertuju kepada Autumn, melainkan pada wajah di sebelah gadis itu.
__ADS_1