The Gray Autumn

The Gray Autumn
Finalement


__ADS_3

"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Royce. Aku Keanu Winata. Selamat datang di Indonesia," sambut Keanu dengan ramah. Sebagai seseorang yang berusia di atas Benjamin, sikap pria itu sungguh rendah hati, sehingga membuat Benjamin terkesan.


"Terima kasih, Tuan Winata. Kebetulan ini adalah kunjungan perdanaku ke Indonesia, dan yang menjadi tempat tujuan pertama adalah resort milik Anda. Sungguh sebuah tempat liburan yang sangat menakjubkan," terang Benjamin yang diakhiri dengan sanjungan bagi Keanu.


"Oh, Anda terlalu berlebihan, Tuan Royce. Sebenarnya, kami juga telah membuka resort di daerah lain. Salah satunya adalah Bali. Sementara, resort yang Anda kunjungi merupakan usaha turun temurun. Aku hanya mengelola, mengembangkan, dan memberi sedikit sentuhan yang baru," terang Keanu merendah. Pria itu memperhatikan Benjamin untuk sejenak. Dia sempat mempelajari profil tentang pengusaha muda tersebut sebelum bertemu secara langsung dengannya. Bagi Keanu, Benjamin masih terbilang muda untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Hal itu telah mengingatkannya kepada Edgar Hillaire sang adik ipar. Benjamin juga memiliki pembawaan yang hampir mirip dengan suami dari Arumi tersebut.


"Jadi, Anda adalah pemilik hotel The Royal Royce?" Keanu kembali berbicara setelah terdiam beberapa saat.


"Ya. Anda benar sekali, Tuan Winata," sahut Benjamin dengan penuh percaya diri. "Perlu Anda ketahui bahwa aku sudah sering menjalin kerja sama dengan perusahaan seperti ini. Ada beberapa perusahaan besar di Perancis yang bermitra denganku. Namun, kini aku ingin mencari pengalaman baru," tutur pria berusia tiga puluh lima tahun itu.


"Tentu saja, Tuan Royce. Perusahaan kami selalu membuka jalur kerja sama yang selebar-lebarnya bagi perusahaan manapun. Kebetulan, adik iparku juga adalah pemilik perusahaan perhotelan dan asuransi di Perancis," terang Keanu.


"Kebetulan sekali. Kalau boleh tahu, apa nama perusahaan adik ipar Anda?" tanya Benjamin dengan tatapan lekat tertuju kepada Keanu.


"Autumn Palace," jawab Keanu dengan segera. "Itu merupakan salah satu usaha milik adik iparku. Resort mewah," terangnya.


Benjamin tersenyum lega. Itu artinya dia tidak datang pada orang yang salah. "Ya, aku mengetahuinya. Jadi, tuan Hillaire memang benar adik ipar Anda?" tanya Benjamin meyakinkan.


"Benar sekali. Anda mengenalnya?" Keanu balik bertanya.


Benjamin tak segera menjawab. Pria bermata abu-abu itu terdiam sejenak. Rasa hatinya untuk segera bertemu dengan Autumn sudah tak tertahan lagi. Namun, dia juga tak boleh bertindak dengan terburu-buru. "Siapa yang tidak mengenal tuan Hillaire. Dia termasuk ke dalam sepuluh pengusaha sukses di Perancis," jelas Benjamin dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


"Itu sangat luar biasa dan salah satunya adalah Anda, Tuan Royce," ujar Keanu balik menyanjung Benjamin. "Perusahaan kami akan merasa sangat terhormat bisa bekerja sama dengan Anda."


Benjamin kembali menyunggingkan senyuman khasnya yang menawan. "Kita mungkin bisa membahas ini dengan jauh lebih serius lagi. Aku merasa tersanjung karena Anda bisa langsung menerima permintaanku untuk bertemu. Semoga ini menjadi awal yang baik," ujar Benjamin lagi seraya membetulkan sikap duduknya.


"Ya, kebetulan aku sedang ada di tempat dan tidak terlalu sibuk. Adikku baru tiba dari Perancis. Rencananya kami akan mengadakan pesta sebagai acara penyambutan dan sarana untuk berkumpul. Jika Anda berminat, maka silakan datang dan bergabunglah bersama kami," undang Keanu.


Sementara Benjamin kembali terdiam dan berpikir sejenak. Sesaat kemudian, pria berambut cokelat tembaga itu menjawab, "Terima kasih atas undangannya, Tuan Winata. Sekali lagi aku merasa sangat terhormat. Kita baru bertemu hari ini dan Anda sudah mengundangku ke acara pesta keluarga. Itu sungguh luar biasa."


"Tidak perlu sungkan, Tuan Royce. Kita bisa melanjutkan perbincangan nanti. Kalau boleh tahu, Anda akan berapa lama di Indonesia?"


"Entahlah. Aku harap tidak terlalu lama, karena aku juga masih memiliki banyak urusan di Perancis."


"Baiklah. Aku harap Anda bisa hadir. Nanti akan kukirimkan alamatnya. Irawan sudah memberikan alamat email Anda padaku," ujar Keanu seraya berdiri dan langsung diikuti oleh Benjamin. Keduanya berjalan menuju pintu keluar. "Pestanya besok malam. Anda pasti akan menikmatinya, karena kami telah menyiapkan hidangan khas Indonesia yang wajib untuk dicoba," ucap Keanu lagi semakin terlihat akrab.


Sepulang dari kantor milik Keanu, Benjamin memutuskan untuk kembali ke hotel. Selama berada di ibu kota, pria itu menginap di salah satu hotel berbintang yang lokasinya tak jauh dari kantor milik Keanu. Namun, karena mendapat undangan pesta, dia mengurungkan niatnya tersebut. Dengan mobil dan sopir sewaan, pria bermata abu-abu itu berkeliling kota untuk mencari sesuatu. Menjelang malam, barulah dia kembali ke tempatnya menginap.


......................


Kesibukan terlihat di kediaman keluarga Winata. Orang-orang berlalu lalang karena tengah mempersiapkan pesta untuk menyambut Arumi. Walaupun ibu dua anak itu sudah berusaha menolak, tetapi Puspa bersikeras untuk tetap mengadakan pesta tersebut.


Menjelang sore, semua persiapan telah selesai. Taman samping rumah yang luas telah disulap menjadi arena berkumpulnya para tamu undangan nanti malam. Meja-meja dan segala sarana penunjang telah disediakan. Selain itu, satu hal yang menjadi sebuah kejutan bagi Arumi. Edgar tiba-tiba hadir di sana. Sang suami tak memberitahunya bahwa dia akan datang ke Indonesia.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya saat ini kau sudah berada di Bordeaux?" Arumi masih tak percaya dengan kejutan itu.


"Ya, seharusnya. Akan tetapi, aku membatalkannya dan lebih memilih untuk datang kemari. Perjalanan yang sangat melelahkan," Edgar mengempaskan napas panjang. Berpisah selama beberapa hari dengan Arumi, membuatnya terlihat kacau. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya lagi seraya mengecup bibir sang istri sesaat, karena saat itu terdengar suara ketukan di pintu.


Autumn telah bersiap dengan dress cantik yang dia beli kemarin bersama Jenna. Gadis itu juga memamerkan model rambut barunya. "Aku harap ayah masih punya cukup tenaga untuk mengikuti jalannya pesta," ujar Autumn dengan nada meledek.


"Jangan macam-macam dengan ayahmu, Elle. Dia adalah pria paling perkasa," celoteh Arumi sambil tertawa. Namun, Edgar tak menanggapinya sama sekali. Dia sibuk merapikan penampilan di depan cermin.


"Oh, baiklah. Aku harap apa yang Ibu katakan memang benar," balas Autumn seraya berlalu dari depan kamar yang ditempati orang tuanya.


Waktu pun terus bergulir tanpa terasa. Satu per satu tamu undangan hadir di sana. Begitu juga dengan Moedya beserta keluarganya. Tampak Diana yang sepertinya tak nyaman saat bertemu dengan Arumi. Begitu pula dengan Moedya yang harus bersalaman dengan Edgar. Namun, kedua pasangan itu pada akhirnya saling menjauh dan menikmati jalannya pesta sendiri-sendiri.


Sementara Patra terus berusaha mendekati Autumn. Pemuda yang berusia sama dengan Darren tersebut melakukan segala cara agar dapat menarik perhatiannya. Di sisi lain, Aldrin juga rupanya menaruh perhatian lebih kepada gadis bermata abu-abu tersebut. Dia tidak terlalu peduli meskipun malam itu Jenna sudah tampil begitu cantik dan anggun.


Semua terlihat menikmati pesta. Lain halnya dengan Keanu yang terus mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Dia belum juga melihat kehadiran Benjamin di sana. Namun, tak berselang lama pria itu pun tiba. Dengan langkah gagah, dia langsung menghampiri Keanu yang segera menyambut kedatangannya.


"Syukurlah, Tuan Royce. Aku pikir Anda tidak jadi datang kemari," ucap Keanu lega. "Satu hal lagi yang kutakutkan adalah, Anda tersesat dan kesulitan menemukan alamat rumah ini," ujar Keanu lagi diiringi tawa pelan.


"Aku sudah menyewa sopir pribadi selama di sini. Jadi, aku bebas pergi ke manapun tanpa takut tersesat," balas Benjamin dengan senyumannya yang terlihat ramah. Namun, tak lama perhatiannya teralihkan pada seraut wajah cantik yang tengah dia cari. "Aku permisi sebentar," pamitnya kemudian.


"Oh, tentu. Silakan nikmati pestanya. Nanti bergabunglah bersama kami di sana," Keanu menunjuk ke sudut lain taman.

__ADS_1


"Iya. Baiklah," jawab Benjamin. Rasa hatinya sudah tak karuan ingin segera menghampiri gadis cantik tadi. Dia melangkah tegap dalam balutan kemeja berlapis blazer hitam. Benjamin tampak begitu rapi saat itu. Seperti biasa, dia selalu terlihat memesona. Tanpa disadari, dirinya menjadi pusat perhatian beberapa wanita yang ada di sana. Akan tetapi, perhatian Benjamin tak teralihkan sama sekali dari sosok gadis dengan dress merah, beberapa langkah di depannya. Namun, ada yang berbeda dari gadis itu. Sesuatu yang membuatnya terlihat semakin manis.


Langkah kaki Benjamin akhirnya berhenti tepat di belakang gadis bertubuh semampai yang sejak tadi tak luput dari perhatiannya. Untuk sejenak dia terdiam. "Elle," sapanya kemudian.


__ADS_2