
Seperti biasanya. Autumn kembali takluk dan menikmati sentuhan lembut bibir Benjamin saat itu, bahkan hingga beberapa menit telah berlalu. Benjamin segera menghentikan ciumannya. "Sudah malam, masuklah. Besok kita bicara lagi," ucapnya dengan setengah berbisik.
"Apa kau yakin?" Autumn terlihat ragu dengan ucapan Benjamin. Pria itu pun membalasnya dengan sebuah anggukan. Ia kemudian menjauhkan wajahnya dari Autumn dan kembali memegang kemudi. "Selamat malam, Elle," ucapnya terdengar begitu dalam dan berat.
"Selamat malam, Ben," balas Autumn seraya melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu. Ia lalu keluar diiringi tatapan nanar dari Benjamin. Pria itu masih berada di sana, bahkan hingga Autumn masuk dan menghilang di balik pintu gerbang rumahnya.
Untuk sesaat, Benjamin terdiam dan berpikir. Ia berkali-kali mengela dan mengempaskan napas beratnya. Entah apa yang menjadi ganjalan dalam hati pria berparas rupawan tersebut. Sesaat kemudian, ia lalu menyalakan mesin mobilnya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Autumn telah berada di dalam rumahnya. Gadis itu berjalan perlahan. Seandainya bisa, ia mungkin akan berusaha untuk tak terlihat oleh siapa pun. Namun, lain kemarin lain malam itu. Autumn tak menyangka jika ia akan mendapatkan kejutan. "Baru pulang, Elle?" suara Edgar membuat langkah pelan Autumn seketika terhenti. Gadis itu tertegun dan menoleh. Edgar tampak sedang duduk tenang sambil menyilangkan kakinya.
"Ayah, aku ...." Autumn terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Edgar, yang saat itu tengah melangkah ke arahnya. Namun, seketika wajah cemas Autumn memudar, seiring dengan munculnya senyuman hangat yang tersungging di bibir sang ayah.
"Bagaimana hari ini? Apa kau menemukan kendala yang sangat berarti?" tanya Edgar dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tenang. Hal tersebut membuat wajah Autumn yang sempat memucat, kembali berseri.
"Aku belum menemukan kendala yang terlalu berarti, Yah. Teman-teman satu timku pun sangat bersahabat dan membuatku merasa nyaman," terang Autumn dengan jauh lebih tenang.
__ADS_1
"Baguslah. Aku harap kau menikmati masa magangmu di sana. Bagaimana pestanya?" tanya Edgar dengan tiba-tiba dan membuat Autumn kembali merasa gugup.
"Pesta? Dari mana Ayah mengetahuinya?" tanya Autumn penasaran. Akan tetapi, tak berselang lama gadis itu menjawab pertanyaannya sendiri. "Ya, dari siapa lagi kalau bukan Tuan Royce," gumamnya.
"Aku hanya menanyakan hari pertamamu di sana. Tuan Royce sangat peduli dengan para karyawannya. Ia menjaga hubungan baik dengan mereka, karena itu dirinya sangat disegani. Tadi ia mengatakan jika kalian tengah mengadakan pesta penyambutan untukmu," tutur Edgar.
"Ya, hanya pesta kecil-kecilan. Kami bercerita dan sedikit bercanda, saling mengakrabkan diri. Itu saja," jelas Autumn. Gadis itu terdiam sesaat. Ia harus segera pergi dari hadapan sang ayah, sebelum pria itu bertanya macam-macam. Terlebih saat itu Edgar seperti mencurigai sesuatu. Dengan segera, Autumn melepas mantel yang dikenakannya. "Aku sangat lelah. Aku ingin mandi dan langsung tidur. Selamat malam, Yah," setelah mencium pipi sang ayah, gadis itu bergegas menuju kamarnya. Raut cemas kembali terlukis di wajah cantik yang terlihat cukup lusuh.
Setibanya di dalam kamar, Autumn segera menutup pintu rapat-rapat. Ia bersandar untuk sejenak dan mengatur pernapasan. Didekatkannya mantel yang tengah ia pegang ke hidung dan dihirupnya dalam-dalam. Wangi aroma parfume milik Benjamin tercium di sana dengan cukup jelas. Autumn kembali terbayang akan ciumannya tadi bersama pria itu.
Tersungging sebuah senyuman di bibirnya. Ternyata ia tak mampu untuk menjauh. Dirinya tak dapat menahan diri dari godaan pria bermata abu-abu itu. Semua perasaan kesal dan marah yang sempat datang, sirna begitu saja ketika ia melihat betapa memesonanya seorang Benjamin Royce. "Kau sangat bodoh, Elle!" rutuk Autumn pada dirinya. Gadis itu berkali-kali menepuk kening. Namun, tak lama kemudian ia kembali mengirup sisa-sisa aroma Benjamin pada mantelnya.
Kebahagiaan yang Autumn rasakan kian bertambah, ketika ia mendengar ponselnya berdering. Dengan segera Autumn memeriksanya, dan senyuman manis itu kian terkembang ketika muncul nama Mr. Royce di layar. "Tuan Royce?" sapanya.
"Nona Hillaire. Apa kau belum tidur?" suara berat dan seksi Benjamin terdengar di ujung telepon, membuat hati Autumn serasa digelitik manja.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjawab panggilan telepon darimu jika sudah tidur," sahut Autumn menahan rasa bahagia di hatinya.
"Kalau begitu, cepatlah tidur karena besok kau harus bangun pagi dan berangkat ke kantor. Jangan sampai terlambat di hari keduamu," ujar Benjamin lagi, membuat Autumn semakin berbunga-bunga.
"Baiklah, Tuan Besar," jawab gadis itu diselingi tawa pelan.
"Langsung tidur. Aku tak ingin jika sampai kau begadang malam ini. Kurang tidur akan membuat kulitmu cepat keriput," ujar Benjamin lagi.
"Kata siapa?" protes Autumn tak percaya.
"Aku yang mengatakannya baru saja," jawab Benjamin enteng. "Ya, sudah. Selamat malam dan semoga mimpi indah," Benjamin pun menutup sambungan teleponnya. Sementara Autumn masih merebahkan tubuh. Perlahan gadis itu mulai memejamkan mata. Ia kembali meresapi semua perasaan indah yang tengah menyapa dan membuatnya begitu tersanjung.
Autumn telah dibutakan oleh cinta. Ini sesuatu yang sangat berbeda baginya. Perasaan seperti itu tak ia rasakan terhadap pria lain, termasuk Leon yang telah hampir satu tahun ia kencani. Namun, Benjamin Royce begitu berbeda. Terlalu sulit untuk dijabarkan seperti apa perasaannya saat itu. Satu hal yang pasti, Autumn seakan lupa dengan semua wanita yang mengelilingi Benjamin selama ini.
Sesaat kemudian, ponsel Autumn kembali berdering. Dengan mata yang masih terpejam, gadis itu meraih dan segera menjawab panggilan tersebut. Autumn masih memamerkan senyum cerianya. "Ada apa lagi, Tuan Royce? Aku janji akan segera tidur setelah kau menutup sambungan telepon ini, dan tidak menggangguku hingga esok pagi atau aku tidak akan dapat tidur semalam suntuk karena terus memikirkanmu," Autumn berbicara dengan tanpa menyadari siapa yang telah menghubunginya saat itu.
__ADS_1
Namun, lama-kelamaan gadis itu merasa heran karena ia tak mendengar jawaban apapun dari seberang sana. Autumn pun membuka matanya perlahan. "Tuan Royce?" sapanya lagi.
"Siapa Tuan Royce?" terdengar suara pria lain dari seberang sana. Suara yang Autumn kenal dan bukanlah milik Benjamin, melainkan Leon.