
Autumn dan juga Leon serentak menoleh pada suara suara tadi. Seorang pria berambut pirang berjalan menghampiri mereka berdua. Ia terlihat tak menyukai sikap Leon terhadap Autumn. "Apa kau tak malu berbuat kasar kepada seorang gadis? Terlebih, di tempat umum seperti ini," sergah pria yang tak lain adalah Gabriel. Entah apa yang tengah ia lakukan di sana.
"Tuan ...." Autumn menatap ke arah Gabriel. Sedangkan Leon segera melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan gadis itu. Ia lalu berdiri tepat di hadapan Gabriel dan seakan menantang pria tersebut untuk berduel.
"Oh, jadi ini pangeran yang sekarang menjadi pujaan hatimu hingga kau menolakku mentah-mentah!" sentak Leon emosi seraya meluruskan telunjuknya tepat di hadapan wajah pria berambut pirang itu, dan membuat Gabriel segera menoleh kepada Autumn dengan wajah bertanya-tanya.
Menyadari kesalahpahaman terhadap Gabriel, Autumn segera meraih dan menarik lengan pria yang telah ia anggap sebagai mantan kekasih, sehingga Leon sedikit mundur dan membalikan badan kepadanya. "Sudah kukatakan jika itu bukan urusanmu!" sanggah Autumn tegas. "Sudahlah, Leon! aku harus segera ke kantor. Aku tidak ingin terlambat di hari keduaku!" raut wajah Autumn yang biasa terlihat manis dan ceria, kini tampak begitu menakutkan. Gadis itu sangat marah dengan sikap Leon. "Kau sudah merusak pagiku yang indah!" gerutu Autumn lagi.
"Kau benar, Nona Hillaire. Kau tak boleh terlambat, terlebih karena hari ini kita akan mengadakan rapat penting yang harus dihadiri oleh seluruh anggota tim di kantor, termasuk dirimu tentunya. Ayo, sebaiknya kita berangkat bersama ke sana," Gabriel meraih dan menarik tangan Autumn hingga mendekat padanya.
Namun, sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu, Gabriel menyempatkan untuk berbicara sejenak kepada Leon. "Siapa pun dirimu, Tuan. Aku melihat kau melakukan kekerasan terhadap perempuan, dan aku bisa saja melaporkan hal tersebut," ancamnya kepada Leon. Ia lalu menuntun Autumn menuju mobil dan membukakan pintu untuk gadis itu. Sementara Leon masih berdiri mematung dan menatap kepergian Autumm dengan pria yang ia anggap sebagai Tuan Royce seraya mendengus kesal.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sekitar sini, Tuan Archambeau?" tanya Autumn heran, ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor The Royal Royce.
"Ibuku tinggal di sekitar sini. Semalam saat pesta usai, ia menghubungi dan memintaku untuk datang. Ibuku adalah seorang wanita tua yang keras kepala. Ia lebih memilih tinggal sendiri di rumah peninggalan mendiang ayahku," jelas Gabriel dengan gaya bicaranya yang begitu ramah. Pria itu tak pernah melepaskan senyuman hangat selama ia berbicara.
__ADS_1
"Oh, kasihan sekali. Ibu Anda pasti merasa sangat kesepian," gumam Autumn polos.
"Ya, kau benar, Elle. Bolehkah jika aku memanggilmu seperti itu selama di luar kantor?" Gabriel melirik Autumn yang saat itu menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Tentu saja, Tuan Archambeau. Itu memang namaku," jawab Autumn dengan diiringi tawa renyah. Gabriel tersenyum lebar seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Kau juga boleh memanggilku Gabriel, agar tidak terlalu formal. Sebenarnya aku kurang menyukai sesuatu yang bersifat formal. Aku lebih menikmati hal-hal yang ringan dan menghibur tentunya," ujar pria bermata hijau itu sambil terus mengemudikan mobilnya, melintasi jalanan kota Paris yang belum terlalu ramai.
"Oh, tidak terasa. Sebentar lagi musim gugur akan tiba," gumam Gabriel tanpa menoleh kepada Autumn. Sesekali ia melihat sekeliling jalanan kota Paris yang indah. Tampak menara Eiffel berdiri kokoh dan terlihat sangat gagah. "Siapa pria tadi?" pada akhirnya Gabriel menanyakan tentang Leon.
"Apa pria itu kekasihmu?" selidik Gabriel. Ia begitu tertarik untuk mengetahui sesuatu yang bersifat pribadi dari diri Autumn. Sedangkan gadis itu tak segera menjawab. Autumn bukanlah tipe orang yang mudah terbuka dan bercerita banyak hal terhadap orang lain. Ia bahkan jarang sekali membagi kisah-kisah percintaannya dengan sang ibu, Arumi. Padahal Arumi kerap memancingnya untuk bercerita.
"Oh, baiklah. Terlalu privasi. Aku bisa memahaminya, Elle," ucap Gabriel lagi. Ia berusaha untuk menyembunyikan rasa kecewanya. Ia pikir karena Autumn seseorang yang ramah dan ceria, maka gadis itu akan dengan mudah menceritakan segala hal kepadanya. Namun, ternyata Gabriel menganggap itu terlalu sederhana.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di halaman parkir kantor The Royal Royce. Gabriel turun terlebih dahulu. Ia lalu membukakan pintu untuk Autumn. "Aku harap teman-teman tidak berpikir macam-macam karena aku menumpang mobilmu," ujar Autumn dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Kita tak bisa memaksakan pemikiran seseorang untuk sejalan dengan apa yang seharusnya. Biarkan saja mereka dengan apa yang mereka pikirkan," balas Gabriel dengan tenang.
"Pemikiranmu sangat sederhana, Tuan Archambeau. Kau pasti sangat menikmati hidup," ucap Autumn lagi. Mereka sudah tiba di meja Autumn. Di sana beberapa rekan kerja Autumn pun sudah terlihat bersiap untuk memulai aktivitas pagi itu.
"Selamat pagi semuanya. Jangan lupa, setengah jam lagi kita akan mengadakan rapat. Jadi, persiapkan diri dan materi yang akan kalian sampaikan nanti," ucap Gabriel dengan gaya bicaranya yang masih terlihat kalem.
Akan tetapi, tidak dengan Autumn. Gadis itu tampak salah tingkah. "Materi? Maksudnya?" tanya gadis bermata abu-abu tersebut seraya mengernyitkan kening.
"Ah, hampir lupa. Kau harus menyusun dan mengemukakan sebuah ide untuk kita bahas pada saat rapat. Ide itu untuk acara pertengahan tahun nanti, sebagai ritual rutin yang biasa dilaksanakan hotel The Royal Royce. Kau bisa memikirkannya mulai dari sekarang, masih ada waktu setengah jam," jelas Gabriel dengan senyum kalemnya.
Namun, tidak dengan Autumn. Gadis itu seketika membelalakan kedua matanya. Ia ingin melakukan protes, tetapi tak mungkin dan rasanya terlalu berlebihan jika sampai dirinya melakukan hal bodoh tersebut. Mau tak mau, Autumn harus memaksa otaknya untuk berpikir cepat dan mendapatkan sebuah ide yang dirasa brilian.
Entah apakah itu akan menjadi ide brilian atau tidak, tapi Autumn harus berpikir dengan matang dalam waktu setengah jam saja. "Astaga, ada apa dengan hari ini? Sialnya aku!" gumam gadis itu dengan setengah menggerutu. Ia menyalakan komputernya dan mulai mencari inspirasi. Hingga sepuluh menit kemudian, Autumn akhirnya mendapatkan sebuah ide.
Setengah jam yang ditunggu akhirnya tiba. Autumn dan rekan-rekannya berjalan bersama menuju ke ruang rapat. Mereka menunggu di sana, hingga Gabriel masuk. Pria itu yang akan memimpin rapat kali ini. Namun, tentu saja Gabriel tak duduk di kursi sang pemimpin. Ia memilih untuk berdiri saja.
__ADS_1
"Baiklah, Teman-teman. Aku harap, kalian sudah siap dengan ide brilian masing-masing. Seperti biasa, ide yang paling unik yang akan kuambil."