The Gray Autumn

The Gray Autumn
Retour en France


__ADS_3

Ini adalah hari terakhir Autumn berada di Indonesia, setelah dia menghabiskan waktu sekitar kurang lebih dua minggu. Ada banyak hal yang dia dapatkan selama berada di kampung halaman sang ibu, salah satunya adalah tentang mempertahankan sesuatu yang telah menjadi sebuah keyakinan diri. Sedih dan bahagia. Perasaan gadis itu bercampur aduk dan menjadi tak karuan sama sekali. Untuk sejenak, ingatannya tertuju pada seseorang yang kerap dia panggil dengan sebutan paman Moe.


Tak ubahnya dengan Autumn. Suasana di dalam kamar yang ditempati Arumi dan Edgar pun terasa sepi. Wanita empat puluh delapan tahun itu merasa canggung untuk menyapa sang suami, yang sejak kejadian kemarin lebih banyak diam. Entah apa yang ada dalam pikiran Edgar saat itu, karena satu yang pasti adalah Arumi tak berani mengusiknya. Akan tetapi, perasaan tak nyaman tersebut kian menyeruak, sehingga membuat Arumi menjadi serba salah.


"Semua barang-barangmu sudah selesai kukemas. Kita tinggal berangkat," Arumi memberanikan diri untuk membuka percakapan. Akan tetapi, saat itu Edgar tidak segera menjawab. Dia tengah asyik dengan ponselnya. Arumi pun hanya berdiri sambil memperhatikan hingga beberapa saat berlalu.


"Apa kau tidak mendengar ucapanku, Ed?" tanya wanita itu memastikan. Jantungnya berdebar kencang, ketika dia menantikan Edgar untuk menanggapi kata-katanya.


"Kau akan ikut pulang ke Paris atau masih ingin di sini?" pertanyaan yang seketika membuat Arumi terbelalak tak percaya. Tak pernah diduga bahwa Edgar akan bersikap demikian terhadapnya. Tanpa melepas pandangan dari layar ponsel, pria bermata abu-abu itu kemudian berdiri dengan posisi membelakangi sang istri. Edgar baru melepaskan perhatiannya dari ponsel yang sedari tadi dia mainkan, ketika Arumi memeuknya dari belakang.


"Apa maksudmu, Ed? Tolong jangan bersikap seperti itu padaku," pinta Arumi lirih. Dia membenamkan wajah cantiknya pada pundak bagian belakang pria bertubuh tegap itu.


"Seperti apa, Arum?" Edgar balik bertanya.

__ADS_1


"Kau tahu bahwa aku mencintaimu," jawab Arumi seraya terisak pelan.


"Inilah yang aku takutkan, Arum. Kau mencintaiku, tapi dirimu akan selalu menangis untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Moedya," ucap Edgar datar. Dia tak merespon pelukan yang diberikan oleh Arumi.


"Tidak, kumohon jangan berkata seperti itu. Aku mencintaimu, Ed. Kau pasti tahu dan dapat merasakannya ...."


"Siapa yang bisa menebak isi hati seseorang, Arum? Dua puluh tahun lebih kita bersama dan melewatkan banyak musim berdua. Kenapa dalam kurun waktu selama itu, aku masih saja merasa takut?" Edgar terpaku dan masih tak merespon pelukan dari Arumi. Akan tetapi, Arumi pun seakan tak berniat untuk melepaskan dekapannya, meski Edgar terkesan membiarkan dia begitu saja.


"Kita sudah semakin tua. Sebentar lagi Elle bahkan akan menikah. Haruskah kita berada dalam situasi seperti ini?" Arumi terus membujuk sang suami, agar berhenti bersikap demikian.


"Tidak, Ed! Tidak!" tolak Arumi. Dia membantah keras ucapan Edgar. "Tidak ada yang akan kuterima dari ucapanmu. Aku menangis bukan karena merasa berat terhadap Moedya. Aku menangis karena menyadari betapa rapuh dan lemahnya diriku saat itu. Tak ada sisa cinta untuk pria manapun. Semua rasa cintaku telah kupersembahkan semuanya untukmu," Arumi memeluk Edgar dengan semakin erat. "Mari kita pulang. Bawalah segera aku kembali, agar kau tak berpikir yang macam-macam lagi. Ayo, kita kembali ke Perancis dan tetap berada di sana," ajak Arumi lagi.


Mendengar hal itu, Edgar seketika luluh Perlahan dia membalikkan tubuh. Segera ditangkupnya wajah cantik Arumi yang tak pernah berubah sejak dulu. "Maafkan aku, Arum. Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu menangis atau merasa bersalah. Aku tahu bahwa kau mencintaiku. Aku hanya ingin menghilangkan perasaan takut ini dan mencoba menghadapinya."

__ADS_1


"Aku tidak ingin lebih lama lagi berada di sini. Ayo kita kembali, ke rumah kita dan menanti musim dingin. Akan kubuatkan kau cokelat hangat," Arumi terus terisak.


"Bukankah aku yang selalu membuatkamu itu, Arum?" bantah Edgar. Seutas senyuman muncul di bibirnya yang dihiasi janggut cukup tebal. Sisa-sisa ketampanan di masa muda, masih terlihat jelas dalam parasnya yang kini sudah semakin matang.


Tanpa ragu, Arumi segera mencium pria itu. Sisi mesra dalam diri keduanya memang tak pernah hilang karena termakan usia. Sikap manis dan hangat seorang Edgar pun kembali terlihat. Sekuat apa pria itu? Nyatanya dia selalu merasa lemah jika sudah berhadapan dengan sikap lembut Arumi dalam memperlakukannya. "Aku tidak akan pernah bisa marah padamu," ucapya sesaat setelah mereka selesai berciuman.


"Itu bagus, karena aku tidak suka saat melihatmu marah padaku," balas Arumi seraya tersenyum. Baru saja dia akan kembali mencium sang suami, suara ketukan di pintu telah berhasil menghentikan niatnya tersebut.


"Apa Anda berdua sudah siap untuk pergi, Tuan dan Nyonya Hillaire?" suara Autumn terdengar jelas dari balik pintu kamar. Dia mengingatkan bahwa mereka harus segera berangkat ke bandara. Arumi tersenyum seraya menepuk pelan pipi Edgar. Dia melangkah ke dekat pintu, kemudian membukanya. Wajah cantik Autumn tampak dengan senyuman lebar. "Maaf, aku hanya ingin memberitahukan bahwa diriku dan Darren sudah siap untuk berangkat ke bandara," ucap gadis itu terlihat riang. Ya, tentu saja dia pasti bahagia, karena tak lama lagi dirinya akan kembali bersama dengan sang kekasih tercinta.


"Oh, terima kasih atas pemberitahuannya. Kami sudah siap. Benar kan, Sayang?" Arumi sedikit berseru sambil menoleh ke dalam, di mana Edgar tengah menyiapkan koper mereka.


"Baguslah, karena aku tidak ingin jika kita sampai ketinggalan pesawat," ujar Autumn lagi seraya berlalu dari hadapan sang ibu. Sementara Arumi hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Dia lalu kembali ke dalam kamar. Edgar terlihat sudah siap dengan kaca mata hitamnya. "Kita pulang sekarang?" tanya Arumi dengan lirih.

__ADS_1


Edgar yang baru selesai merapikan rambut, segera menoleh. "Ya, Arum. Kita akan segera kembali ke rumah," sahutnya. Kembali disambut pelukan hangat Arumi dengan senyum penuh suka cita. "Tetaplah di dekatku, Sayang. Karena hanya dirikulah yang akan selalu membuatmu bahagia," Edgar mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan hangat di kening, pipi, serta bibir Arumi.


Sebuah tawa renyah terdengar dari bibir wanita itu. "Kenapa aku merasa bahwa diriku kembali pada usia dua puluh tiga tahun jika sudah kau perlakukan seperti ini," ujarnya dengan geli.


__ADS_2