The Gray Autumn

The Gray Autumn
Esquive


__ADS_3

Sementara itu, Autumn terus melangkahkan kaki di antara bangunan tinggi menjulang dengan arsitektur megah khas Eropa. Dia tak memedulikan hawa dingin yang cukup menusuk tubuh. Autumn terus berjalan, meskipun saat itu dirinya tak tahu akan ke mana.


Sejenak, gadis cantik berpostur semampai itu tertegun dan berdiri di dekat tiang lampu. Autumn tampak berpikir sambil memperhatikan orang-orang dan juga kendaraan yang berlalu-lalang di depannya. Dia mengela napas panjang, dengan kedua tangan yang masih berada di dalam saku mantel. Tak mungkin jika dirinya terus menghabiskan waktu di jalanan, dalam cuaca yang terasa dingin. Namun, untuk pulang pun dia merasa begitu malas.


Masih teringat dengan jelas sikap Edgar yang begitu murka. Bukan tak mungkin saat dirinya pulang nanti, pria itu pasti akan langsung memberondongnya dengan segala petuah yang berakhir pada kata tidak setuju. Apalagi, Edgar telah mengatakan bahwa dirinya tak peduli dengan kerja sama yang dia lakukan bersama Benjamin. Itu artinya, Edgar sudah benar-benar yakin dengan keputusannya, karena Autumn sangat mengenal sang ayah. Dia tahu bahwa pria penuh kharisma tersebut, tidak pernah asal bicara.


Autumn kembali mengempaskan napas penuh sesal. Namun, sepertinya kini dia tahu harus ke mana. Gadis berambut cokelat itu kemudian melanjutkan langkahnya, hingga dia tiba di depan sebuah gedung apartemen yang menjulang. Autumn kemudian menghubungi sahabat lamanya, yaitu Maeva. Gadis yang berpofesi sebagai model itu, segera mendatanginya ke luar. Setelah saling bertukar kabar, Maeva mengajak Autumn untuk masuk. Kebetulan di sana ada beberapa teman-teman gadis tersebut. Mereka adalah rekan-rekan Maeva sesama model. Namun, rupanya gadis-gadis tadi akan berpamitan ketika Autumn tiba di sana, sehingga kini hanya ada dia dan Maeva berdua saja.


"Kau ke mana saja, Elle? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kau masih magang di kantor milik tuan Royce?" Maeva menyuguhkan yoghurt buah kesukaan Autumn yang langsung disambut ceria oleh gadis itu.


"Tinggal menghitung hari saja, Ev. Aku sudah merasa jenuh berada di sana," keluh Autumn sambil menikmati yoghurt buah kesukaannya.


"Hey, kenapa kau harus merasa jenuh jika memiliki bos setampan Benjamin Royce," goda Maeva seraya duduk sambil memeluk bantal, serta mengangkat dan melipat kedua kakinya di atas kursi.


"Dia tidak datang setiap hari," jelas Autumn pelan.


"Lagi pula, untuk apa seorang bos harus turun tangan dalam urusan pekerjaan. Andai aku memiliki suami seorang bos sebuah perusahaan besar, maka aku tidak akan bekerja. Menikmati hidup dan bersenang-senang akan jauh lebih baik agar kita tetap awet muda," Maeva terkikik geli atas ucapannya sendiri.


Sementara Autumn tampak memeriksa ponselnya. Ada beberapa panggilan masuk dari Arumi yang dia abaikan. Sebenarnya gadis itu merasa tak enak hati, tapi kali ini dia sedang benar-benar malas untuk menemui orang tuanya. Autumn hendak kembali memasukan ponsel tersebut, ketika nama Benjamin muncul di layar sebagai pembuat panggilan. Gadis itu tampak ragu untuk menjawab panggilan tersebut. Pada akhirnya, Autumn memilih untuk mengabaikannya.

__ADS_1


Sekali lagi, nama Benjamin kembali muncul. Autumn bermaksud untuk tidak menjawabnya. Namun, Maeva terlihat melayangkan tatapan aneh padanya, membuat Autumn mau tak mau mengesampingkan rasa malasnya. Belum sempat dirinya bicara, Benjamin telah lebih dulu bertanya, "Kau di mana, Elle?"


"Tenanglah, aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir," jawab Autumn dengan nada biasa saja.


"Apa kau sudah di rumah?" tanya Benjamin lagi.


"Tidak. Aku sedang tidak ingin pulang, aku ...."


"Kau di mana? Aku akan menjemputmu sekarang juga," sela Benjamin.


"Tidak usah. Sudah kukatakan ...."


"Katakan di mana kau sekarang, karena aku akan segera menjemputmu!" suara Benjamin terdengar jauh lebih tegas dan penuh penekanan, membuat Autumn mendengus pelan. Akan tetapi, gadis itu tidak segera memberi tahu posisinya kini. "Elle, jangan bertele-tele. Katakan sekarang juga atau aku akan mendatangi rumahmu," ancam Benjamin.


"Oh, mana mungkin aku berani menantang calon ayah mertua," sahut Benjamin terkekeh pelan. Tanpa dia ketahui, ucapannya telah membuat Autumn tersenyum kecil. Akan tetapi, senyuman itu seketika sirna ketika dirinya teringat akan kejadian tadi siang di ballroom hotel milik Benjamin. Rasa tidak nyaman kembali menyeruak di hati gadis cantik pemilik sepasang lesung pipi itu.


"Aku sedang sibuk. Akan kututup teleponnya," tanpa menunggu jawaban dari Benjamin, Autumn mengakhiri perbincangan tersebut. Dia lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Siapa? Apa dia kekasihmu?" tanya Maeva penasaran.

__ADS_1


Autumn mengempaskan napas dalam-dalam. Dia kembali menikmati yoghurt buah dan menghabiskannya. "Calon suamiku," jawab Autumn tak acuh, tetapi berhasil membuat Maeva terbelalak sempurna. "Kenapa? Apa itu terdengar aneh?" Autumn memainkan sepasang bola matanya.


"Calon suami? Apa kau serius?" tanya Maeva penuh selidik dan setengah tidak percaya.


"Tentu saja aku serius. Kau tahu jika aku tidak suka bercanda atau bicara sembarangan," sahut Autumn terlihat tenang dan tanpa beban. Namun, Maeva masih tampak menyangsikan ucapan Autumn. Gadis itu kemudian membetulkan posisi duduknya. "Aku akan segera menikah dengan seorang pria yang berusia jauh lebih tua dariku. Aku mencintainya, Ev. Namun, entah mengapa rasa takut dan ragu tiba-tiba menganggu pikiran. Aku juga merasa bersalah dan ... entahlah, Ev. Aku ingin pergi dan menenangkan diri," raut wajah Autumn tiba-tiba berubah muram. Sepasang matanya menatap kosong, ke arah meja di mana tersimpan ponsel yang kini kembali menyala. Akan tetapi, Autumn membiarkannya saja hingga ponsel itu kembali padam. Tak berselang lama, sebuah panggilan kembali masuk.


"Kau tidak ingin menjawab panggilan itu, Elle?" tanya Maeva yang langsung dapat memahami arti sikap sahabatnya.


"Biarkan saja," jawab Autumn. Dia hanya memandangi ponselnya yang menyala dan padam selama beberapa kali. "Sudah kukatakan jika aku sedang ingin menghindar," ucapnya lagi datar.


"Kenapa kau tidak pergi berlibur saja. Pilih negara atau tempat yang mungkin tak ada dalam pikiran kekasihmu," saran Maeva. "tetapi, kenapa kau ingin menghindari calon suamimu sendiri? Menurutku itu sangat aneh. Apakah itu termasuk ke dalam bridezilla syndrome?" Maeva menyibakkan rambutnya ke belakang.


"Tak apa-apa. Hal yang biasa terjadi pada setiap pasangan yang akan menikah. Aku rasa, diriku sedang membutuhkan sedikit ruang untuk bernapas dengan leluasa," Autumn mencari alasan. Walaupun Maeva adalah sahabat dekatnya, tetapi dia tak harus menceritakan masalah yang terlalu pribadi kepada gadis manis itu.


"Ya, kalau begitu seperti saranku tadi. Pergilah berlibur untuk beberapa hari untuk menenangkan pikiran. Tutup dulu segala akses yang bisa dijangkau oleh calon suamimu, dan biarkan rasa rindu menguasai kalian berdua. Jika saatnya nanti kalian berdua bertemu lagi, maka rasa rindu yang menggebu itu pasti akan membuatmu dan juga si dia jadi menggila ...." Maeva memberikan sarannya kepada Autumn dengan diakhiri sebuah tawa geli. Terlebih ketika dia melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh sahabatnya tersebut.


Namun, apa yang Maeva sarankan tadi sempat membuat Autumn terdiam sejenak, sambil memikirkannya baik-baik. Pergi ke suatu tempat di mana dirinya bisa menenangkan diri, merupakan ide yang sangat brilian. Namun, dia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana. "Seberapa luas negara Perancis? Aku rasa, Ben pasti akan mencari dan dapat menemukanku," gumam Autumn. Tanpa sadar, dirinya menyebutkan nama sang kekasih.


"Ben? Apakah itu nama calon suamimu, Elle? Tega sekali karena kau tidak memperkenalkannya padaku," Maeva memasang wajah kecewa di hadapan Autumn.

__ADS_1


"Haruskah kuperkenalkan padamu?"


"Ah, terserah," Maeva beranjak dari duduknya. "Aku akan memesan sesuatu untuk makan malam. Apa kau ingin makan malam di sini?" tawarnya. Namun, sebelum Autumn memberikan jawaban, gadis itu sudah berlalu ke dalam kamar untuk mengambil ponsel. Sementara Autumn melangkah ke dekat jendela, lalu berdiri di sana.


__ADS_2