The Gray Autumn

The Gray Autumn
Sepenggal Kisah


__ADS_3

"Apa?" Autumn terbelalak. "Patra sudah menghubungimu juga? Apa-apaan itu?" gadis bermata abu-abu tersebut mengempaskan keluhan pendek. "Tadinya aku berharap kau menolak, karena aku sedang tak ingin pergi keluar," ujarnya menyesalkan sikap Jenna.


"Ayolah, Elle. Bagaimana mungkin aku bisa menolak jika iming-imingnya adalah Aldrin," sahut Jenna masih terlihat tenang. "Sudahlah. Lagi pula, rasanya terlalu sayang jika kamu tidak pergi ke mana-mana selain ke toko, rumah, kemudian toko lagi, rumah, dan ...."


"Hey, gadis-gadis!" seru Puspa dari pintu. "Jenna, Sayang. Apa kamu akan terus-terusan berada di dalam kolam?" tanyanya.


"Hhh, itulah mamaku. Dia sangat cerewet," gerutu Jenna dengan pelan. Dia tampak sangat terganggu.


Akan tetapi, meskipun gadis itu menggerutu dengan pelan, Autumn masih dapat mendengarnya. Gadis itu hanya tertawa pelan saat menanggapi sikap sepupunya. "Apa yang tante katakan?" tanya Autumn penasaran.


"Dia menyuruhku berhenti berenang. Setelah itu, aku harus membantunya menyiapkan sarapan padahal di rumah ini ada pelayan," gerutu Jenna lagi. Gadis berambut pendek tersebut segera naik. "Iya, Mama!" sahutnya dengan nyaring seraya meraih handuk.


"Lagi pula, kamu itu ada-ada saja. Pagi-pagi begini sudah berendam terus di dalam kolam," balas Puspa. "Katakan pada Elle, sarapan akan siap setelah kamu datang ke dapur untuk membantu Mama," ucap wanita itu lagi seraya kembali ke dalam rumah.


"Apa lagi yang bibi katakan?" Autumn kembali bertanya masih dengan mimik penasaran.


"Kita tidak akan mendapat sarapan jika aku tak segera datang ke dapur," sahut Jenna setelah melingkarkan handuk di pinggang. "Kamu masih ingin di sini, Elle?" tanyanya kemudian. Namun, Autumn tidak menjawab. Dia hanya membalas pertanyaan Jenna dengan sebuah anggukan. "Ya, sudah. Aku masuk dulu, ya," pamit Jenna. Gadis itu berlalu dengan langkahnya yang agak tergesa-gesa.

__ADS_1


Saat itu Autumn hanya tersenyum kecil ketika menyaksikan sikap kekanak-kanakan sepupunya. Dia berpikir untuk sejenak. Mungkin saja orang lain pun merasakan hal yang sama ketika melihat sikap kekanak-kanakan dalam dirinya. Namun, apakah sikap dewasa itu bisa dipaksakan dengan begitu mudahnya. Dia sendiri bahkan belum memahami, makna terdalam dari sebuah kata kedewasaan.


Ditatapnya langit ibu kota yang cerah. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir tanpa polesan lipstik. Gadis itu boleh berbangga hati, karena ternyata Benjamin datang ke hadapan Edgar untuk mencarinya. Itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi gadis bermata abu-abu itu. Haruskah dirinya mengalah dan segera kembali ke Perancis. Oh, sebegitu lemahnya Autumn di hadapan cinta seorang Benjamin.


Sesaat, lamunan Autumn kemudian beralih pada sesuatu yang lain. Kenangan manis di kota Marseille, pada awal perjumpaan antara dia dengan pria yang kini mengisi hatinya. Semua itu terjadi dengan begitu cepat. Rasa cinta tumbuh tanpa di duga. Namun, siapa sangka harus terhalang restu dari putri sang kekasih.


"Kenapa sendirian saja?" sapaan suara seorang pria, seketika membawa Autumn kembali pada alam sadarnya. Dia menoleh pada sosok yang kehadirannya di sana tak sempat disadari. Tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri tak jauh darinya, dan kini ikut duduk di tepian kolam renang. "Apa kau sedang ada masalah, Nak?" tanya pria yang tak lain adalah Moedya. Entah untuk apa dia datang pagi-pagi begitu ke sana.


Autumn tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menatap pria dengan tato yang terlihat jelas pada lengannya. Gadis cantik bermata abu-abu itu tersenyum kecil. "Apakah Paman memang sering kemari?" tanyanya. Dia tak menjawab pertanyaan tadi.


"Ya," jawab Moedya. "Aku dan pamanmu adalah sahabat baik sejak lama. Lama sekali, bahkan sebelum ibumu kembali dari Perancis dulu," terangnya dengan tatapan menerawang.


Moedya tertawa pelan menanggapi pertanyaan dari Autumn. Tawa yang makin lama terlihat semakin getir. Pada akhirnya, pria itu terdiam dan menatap riakan air kolam. "Ya. Aku dan ibumu berteman dengan baik. Sangat baik," jawabnya diiringi senyum simpul. Dia lalu mengempaskan napas pelan. "Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Moedya. Walaupun terus berusaha untuk melawan, tetapi rasa penasaran akan diri Arumi masih tetap ada dalam sanubarinya.


"Kabar ibu sangat baik. Dia selalu menikmati hari-harinya di Paris, meskipun terkadang ibu berkata bahwa dia merindukan Indonesia. Sekarang aku tahu apa yang ibu rasakan. Baru beberapa hari di sini, aku sudah merindukan Paris. Apakah Paman pernah ke sana?" tanya Autumn seraya melirik Moedya.


"Tidak, aku tidak pernah ke sana. Mungkin setelah ini, Paris akan ada di daftar kunjungan liburan keluarga kami," ujar Moedya. "Jadi, kau sendiri datang kemari apakah hanya untuk berlibur?" tanyanya.

__ADS_1


"Um ... iya," jawab Autumn dengan ragu.


Moedya menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Dia lalu menatap gadis cantik yang telah mengingatkan dia kepada sosok Arumi, kekasih dari masa lalu. Ingin rasanya Moedya membelai rambut gadis itu, seperti yang selalu dia lakukan terhadap putri sendiri. Namun, pria tersebut tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Dia hanya mengepalkan tangan di atas paha, menahan perasaan getir dalam dada. "Kuharap kau tidak sedang menghindari seseorang," ucapnya pelan, tapi berhasil membuat Autumn seketika menoleh. Pria itu membalasnya dengan tersenyum lembut.


"Maksud, Paman?" tanya Autumn.


"Ya, maksudku tidak ada seseorang yang sedang kau hindari di Paris?" pancing pria bertato itu. Sedangkan Autumn memilih untuk tidak menjawab. Gadis berambut cokelat tersebut hanya tersenyum nanar. Sikap yang ditunjukkannya membuat Moedya dapat memahami sesuatu. Untuk sejenak, pria itu kembali terdiam dan menatap lurus ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Namun, tak lama kemudian Moedya kembali bicara, "Dulu, aku pernah menghindari seseorang. Wanita yang sangat kucintai," pria itu tersenyum kecil. Sedangkan Autumn hanya mendengarkan.


"Kupikir, dengan melakukan hal itu bisa membuat kami akan saling merasa rindu dan membutuhkan satu sama lain. Akan tetapi, apa yang kulakukan ternyata merupakan sebuah kesalahan. Aku justru dianggap mengabaikannya di saat dia sedang membutuhkan dukungan. Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan, dan menghadirkan rasa sesal yang tidak ada ujungnya. Namun, semua adalah konsekuensi yang harus kuterima. Jadi, sebelum penyesalan itu datang, ada baiknya untuk memikirkan baik-baik langkah yang akan kau ambil," tutur Moedya dengan panjang lebar.


"Kau kehilangan wanita itu?" tanya Autumn dengan tatapan lekat kepada Moedya.


"Ya. Aku kehilangan dia dan mungkin memang harus seperti itulah jalan untuk kami berdua. Aku sadar bahwa tak ada yang perlu disesali, meskipun terkadang tak bisa kupungkiri bahwa jauh di lubuk hati yang paling dalam ... sudahlah," Moedya kembali tersenyum getir. "Lagi pula, itu hanya masa lalu."


"Aku tidak ingin hidup dalam penyesalan, Paman," Autumn tertunduk seraya memainkan kakinya yang berada di dalam kolam.


"Kau tak harus menyesali apapun, selama yang kau lakukan bukan suatu kebodohan. Nikmatilah harimu di Indonesia. Apalagi kau jarang sekali datang kemari."

__ADS_1


Autumn mengangguk pelan. "Aku sangat terkesan bisa berkunjung kemari. Di Paris saat ini sudah memasuki musim gugur. Sebenarnya, itu adalah musim yang sangat kusukai, tapi harus kulewatkan begitu saja," ujar gadis itu.


__ADS_2