
"Hari ini aku tidak ke toko," ucap Autumn sambil merapikan rambut pendek berponi rapi. Dia juga membetulkan pakaian yang dikenakannya.
"Kau mau ke mana, Elle? Apa kau sudah membuat janji dengan Benjamin?" tanya Arumi yang sedari tadi memperhatikan tingkah polah anak gadisnya.
Mendengar pertanyaan sang ibu, Autumn segera terdiam kemudian membalikkan badannya. "Aku harap ayah mengizinkanku untuk pergi," sahut gadis dengan skinny jeans dan atasan sabrina lengan pendeknya.
"Sepertinya iya. Ayahmu mengatakan padaku bahwa semalam Benjamin meminta izin padanya untuk mengajakmu keluar," sahut Arumi seraya beranjak dari duduknya. Dia lalu menghampiri putri sulungnya itu yang masih berdiri terpaku. "Kekasihmu itu ternyata sangat manis, Elle," goda wanita empat puluh delapan tersebut sambil terkikik. "Aku juga akan pergi bersama ayahmu serta Darren. Bagaimana jika kau dan Benjamin bergabung saja dengan kami?" tawar Arumi.
Autumn terdiam sejenak. Dia tak yakin jika Benjamin akan setuju. "Aku rasa Ben sudah memiliki acara sendiri, apalagi jika dia meminta izin dari semalam kepada ayah. Itu artinya dia sudah mempersiapkan semuanya," Autumn kembali terdiam dan memainkan kedua bola mata abu-abunya yang indah. "Ayolah, Bu. Jangan membuatku merasa galau," rengeknya manja sambil memegangi lengan Arumi.
Mendengar ucapan sang anak, Arumi hanya tertawa renyah. "Sudahlah, Elle. Aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani," ujarnya. Dia lalu menghadap kepada Autumn seraya mengelus lembut pipi mulusnya. "Bersenang-senanglah. Nikmati harimu selagi masih berada di Indonesia. Ayahmu sudah mengatakan padaku bahwa kita akan kembali ke Perancis akhir minggu ini," tuturnya lagi yang seketika membuat gadis berambut cokelat itu terbelalak.
"Secepat itukah, Bu?" tanya Autumn tak percaya. Namun, belum sempat Arumi menjawab pertanyaan tersebut, suara ketukan di pintu terdengar lebih dulu sehingga membuat wanita empat puluh delapan tahun tadi segera berlalu ke arah pintu kamar. Segera dibukanya pintu tersebut. Titin tampak berdiri di luar kamar dengan sikapnya yang sopan.
"Ada apa, Tin?" tanya Arumi.
"Ada yang mencari nona Elle. Dia menunggu di ruang tamu," jawab asisten rumah tangga yang masih berusia muda itu, membuat Arumi segera menoleh kepada Autumn. Dia memberi isyarat agar gadis tersebut segera turun. Autumn pun membalasnya dengan sebuah senyuman lebar. Setelah kembali memastikan penampilannya di depan cermin, dia bergegas keluar kamar dan langsung menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
Akan tetapi, seketika Autumn tertegun saat melihat pria yang menunggunya di ruang tamu. Adalah seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah bercampur uban. Dia mengenakan kemeja pendek yang dimasukkan ke dalam celana, sehingga memperlihatkan bentuk perutnya yang buncit. Pria itu tersenyum seraya mengangguk ramah. "Selamat siang, Nona. Tuan Benjamin Royce meminta saya untuk menjemput Anda sekarang," ucapnya dalam bahasa Inggris yang teramat fasih, membuat Autumn tercengang. Namun, dengan segera gadis cantik berambut pendek itu menyunggingkan sebuah senyuman.
Sesaat kemudian, Edgar tampak hadir di sana bersama Keanu. Kedua pria tersebut sepertinya baru kembali dari kantor, karena penampilan mereka yang terlihat cukup rapi. "Kau hendak pergi sekarang, Elle?" tanya Edgar memperhatikan putrinya. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan kepada si pria paruh baya tadi.
"Dia sopir suruhan Ben, Ayah," ujar Arumi memberitahu sang ayah yang terlihat curiga. "Dia fasih berbahasa Inggris," Autumn kembali berbicara.
Tanpa diduga, Edgar menghampiri pria yang merupakan sopir suruhan Benjamin tersebut. "Siapa nama Anda?" tanya Edgar dengan sopan mengingat pria di hadapannya terlihat jauh lebih tua dari dirinya. Dia juga bertanya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Seperti yang telah diketahui, Edgar memang menguasai tiga bahasa dengan sangat baik.
"Nama saya Zainal Hasan, Tuan. Ini kartu tanda pengenal saya," pria dengan kemeja pendek kotak-kotak itu menyodorkan kartu yang dia maksud kepada Edgar. Dengan segera, suami dari Arumi tersebut segera menerima dan memeriksanya.
"Anda akan membawa putriku ke mana?" tanya Edgar lagi dengan nada dan raut wajah penuh selidik.
"Sudahlah, Ed. Jangan terlalu berlebihan. Benjamin pasti tahu apa yang dilakukannya," Keanu ikut bersuara. Dia menepuk lengan adik iparnya sambil tersenyum.
"Bisakah saya membawa nona Elle sekarang?" tanya Zainal lagi. Dia tak bisa terlalu lama membuang waktu di sana.
Namun, Edgar tak segera menjawab. Dia kembali menoleh kepada Autumn yang lagi-lagi hanya tersenyum. Setelah itu, pria bermata abu-abu tersebut hanya mengangkat bahunya. Dia lalu mendekat kepada putri sulungnya tersebut. Edgar kemudian mengecup kening gadis tersebut. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan," pesan yang dia berikan sebelum gadis itu pergi bersama Zainal.
__ADS_1
Selama di dalam perjalanan, Autumn tak henti-henti tersenyum. Sepasang mata abu-abunya yang indah tampak begitu bercahaya. Kebahagiaan tersirat dalam rona wajahnya yang tampak sangat ceria, terlebih ketika Zainal memarkirkan mobil yang dia kendarai di depan sebuah hotel berbintang.
"Bukankah Ben menungguku di restoran?" tanya Autumn heran.
Zainal menoleh kemudian tersenyum ramah. "Saya hanya menjalankan amanat dari tuan Benjamin Royce," jawabnya. "Beliau menunggu Anda di lobi," ujar Zainal lagi. Dia lalu keluar dan membukakan pintu untuk Autumn.
"Merci (Terima kasih)," balas Autumn atas sikap ramah dan sopan yang diperlihatkan Zainal padanya. Pria paruh baya itu mungkin tak mengerti ucapan Autumn, tapi dia segera tersenyum. Tanpa banyak bicara lagi, gadis bermata abu-abu itu melangkah masuk dengan anggun menuju lobi.
Benar saja, senyuman menawan telah menyambutnya di sana. Benjamin segera berdiri saat melihat kehadiran sang kekasih. Dia terlihat begitu memesona dalam balutan kemeja putih, dengan lengan yang dilipat hingga tiga per empat. Sambil terus memamerkan senyumannya, dia berjalan menyambut Autumn yang juga tengah melangkah ke arahnya.
"Kau cantik sekali hari ini," sanjung Benjamin menatap Autumn dengan penuh arti.
"Belum apa-apa kau sudah merayuku," balas Autumn tersipu. Dia mengulum senyumnya dan sesekali menunduk.
"Ayo," ajak pria berambut cokelat tembaga itu seraya meraih pergelangan tangan Autumn. Dia mengajaknya menuju lift. Di dalam lift tersebut ada beberapa orang. Namun, Benjamin tak juga melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan gadis itu, bahkan hingga mereka tiba di depan kamar yang ditempatinya. Tanpa berlama-lama, pria tersebut mengajak Autumn untuk masuk. Baru saja gadis dengan atasan sabrina berwarna peach itu meletakkan tas di atas sofa, Benjamin segera merengkuh pinggang rampingnya.
"Kau sangat nakal," ucap Autumn sebelum sentuhan bibir ayah satu anak itu membungkam mulutnya hingga terdiam.
__ADS_1
"Bukankah kau ingin mengajakku makan siang bersama?" Autumn melepaskan bibir dari kekuasaan pria bermata abu-abu tadi. Dia bahkan menahannya dengan menempelkan jari telunjuk pada permukaan bibir sang kekasih yang bermaksud untuk kembali menciumnya.
Benjamin tersenyum seraya membuka mulutnya sedikit. Tanpa diduga, dia menggigit telunjuk Autumn dengan perlahan, membuat gadis dengan sepasang lesung pipi itu tertawa renyah ketika ujung telunjuknya ada di antara deretan gigi putih dan rapi sang mantan cassanova. Autumn kemudian menarik jari lentiknya dari sana. Dia mengganti itu dengan sentuhan bibir yang jauh lebih menggoda serta menggairahkan.