The Gray Autumn

The Gray Autumn
Chagrin et Regret


__ADS_3

"Ben ...." Aamber bergerak mundur saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Benjamin. Sedangkan Fleur menatap tak mengerti kepada sang ayah yang terlihat dipenuhi kemarahan. Sesaat kemudian, gadis kecil itu mengalihkan pandangan kepada Aamber yang terlihat penuh penyesalan. "Kenapa kau mengatakannya, Ben?" lirih suara Aamber terdengar sedikit bergetar. Pada akhirnya wanita itu menangis.


"Kau yang memaksaku untuk mengatakan ini, Aamber!" jawab Benjamin penuh penekanan. "Seharusnya kau tahu diri dan sadar dengan posisimu. Namun, lihat apa yang kau lakukan? Kau mengusik ketenangan hidupku bahkan mengacaukannya!" Benjamin yang biasa bersikap tenang, kini terlihat tak mampu lagi menahan emosi. Semua yang terjadi selama ini, telah membuatnya menjadi teramat kalut.


"Kau tahu jika aku melakukannya demi Fleur!" bantah Aamber dengan tegas.


"Jangan selalu mengatasnamakan Fleur! Kau pikir aku tak mengerti maksudmu?" Benjamin terlihat mengatur napas. Dia mencoba untuk kembali pada karakternya yang tenang. "Dengarkan aku, Aamber. Kau tidak berhak mengemukakan alasan apapun padaku, dari semenjak kau dan suamimu menolakku mentah-mentah."


"Aku tidak pernah menolakmu, Ben," bantah Aamber dengan cukup tegas. "Aku terpaksa menuruti suamiku," ujarnya membela diri.


"Tidak ada alasan yang bisa membenarkanmu, Aamber," tolak Benjamin. "Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Samantha dan ingin menikahinya. Akan tetapi, yang kau dan suamimu lakukan justru malah membuatku harus kehilangan dia," raut wajah Benjamin terlihat penuh dengan kebencian saat itu.


"Kau tahu alasannya, Ben. Putriku sakit parah. Kami hanya merasa takut," ujar Aamber dengan suara bergetar.


"Kau takut? Apa yang kau dan suamimu takutkan? Bagiku tetap tak ada alasan yang masuk akal," sanggah Benjamin. Dia tetap menolak semua alasan yang dikemukakan oleh Aamber.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terduduk di ujung tempat tidur. Wajahnya tertunduk lesu. Air mata terus mengalir deras menyertai isakan yang meluncur dari bibirnya. Aamber seperti telah kehilangan kata-kata. Namun, dia juga merasa harus memberikan sebuah penjelasan kepada Benjamin, terutama kepada Fleur yang saat itu masih terlihat tak mengerti, dengan pembahasan dari ayah dan juga seseorang yang selama ini dia anggap sebagai pengasuh.


"Kau tahu jika Samantha menderita sakit parah. Dia putri kami satu-satunya. Berat bagiku dan juga Duncan untuk melepasnya, terlebih kepada pria sepertimu," tutur Aamber pelan.


"Pria sepertiku?" Benjamin menautkan alisnya. "Memangnya ada apa denganku? Kenapa semua orang menilaiku dengan begitu buruk?"


"Kau tampan, berasal dari keluarga kaya, dan sedikit banyak aku ataupun Duncan mengetahui bahwa kau memiliki banyak teman wanita ...."


"Itu tidak berarti aku hidup tanpa hati!" sela Benjamin dengan emosi yang kembali hadir. "Kau pikir aku tidak memiliki perasaan?"


"Kami hanya takut, Ben!" bantah Aamber dengan tegas. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Benjamin dengan lekat. "Kami takut ketika kau mengetahui bahwa Samantha sakit, maka kau akan mengabaikannya bahkan mungkin meninggalkan dia begitu saja. Di luar sana masih banyak gadis cantik bertubuh sehat. Karena itulah, kami lebih memilih untuk merawat Samantha tanpa memberikannya kepada siapa pun," Aamber kembali terisak. Kepedihan yang teramat dalam, tampak jelas pada dirinya.


Benjamin tak segera menjawab. Dia menatap putri semata wayangnya untuk sesaat. Setelah itu, Benjamin mengalihkan perhatian kepada Aamber. Dia sepertinya ingin agar wanita tersebut segera memberikan penjelasan kepada Fleur.


Ragu dan terlihat khawatir. Perlahan, Aamber beranjak dari duduknya kemudian menghampiri gadis kecil itu. Dia berlutut di hadapan Fleur dan seakan ingin meminta sebuah pengampunan. "Fleur, aku adalah nenekmu, Sayang. Kau cucuku satu-satunya," jelas wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bibi?" tanya Fleur masih belum mengerti. Sedangkan Benjamin hanya terpaku memperhatikan mereka.


"Tidak, Sayang. Aku ingin sekali mendengarmu memanggilku nenek. Akan tetapi, aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya padamu," tutur Aamber sambil berurai air mata.


"Kenapa?" tanya Fleur. Dia lalu menatap kepada sang ayah. "Papa tidak pernah mengatakan jika ternyata aku memiliki seorang nenek. Aku tidak tahu jika kau adalah nenekku, Bibi," ujar Fleur lagi dengan raut aneh.


"Iya, Sayang. Itu semua karena aku tidak memiliki keberanian, dan menyadari semua kesalahan yang telah terjadi selama ini. Aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku adalah nenekmu," jelas Aamber sambil terus terisak.


"Katakan padanya kenapa kau harus merasa malu, Aamber," desak Benjamin yang sudah kehilangan kesabarannya atas sikap wanita yang selama ini diketahui sebagai pengasuh oleh Fleur.


Aamber terlihat ragu. Sesekali, wanita itu menoleh kepada Benjamin. Berat rasa hati Aamber untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Namun, sikap dan tatapan yang dilayangkan Benjamin saat itu terasa begitu mengintimidasi. Aamber merasa tersudut dan tak punya pilihan. Diraihnya jemari tangan Fleur, lalu dia genggam dengan erat. "Maafkan aku, Fleur. Maafkan aku," isak Aamber kembali bersuara. Wanita itu tertunduk.


"Jangan bertele-tele, Aamber. Katakan saja yang sebenarnya!" desak Benjamin.


"Fleur, aku ... saat itu kau baru dilahirkan ke dunia. Di satu sisi, aku sangat bahagia karena kehadiranmu. Akan tetapi, di sisi lain ada kepedihan yang teramat besar," tutur Aamber mengawali ceritanya. "Saat itu, sehari setelah Samantha melahirkanmu, kondisinya kian memburuk. Dia tak mampu lagi bertahan hingga akhirnya harus menyerah pada penyakit yang selama ini menggerogotinya. Aku dan juga Duncan begitu sedih dan terpukul. Harapan besar kami sirna dan hancur seketika. Duncan begitu kecewa. Kedewasaannya hilang dan yang tertinggal hanya amarah. Dia tidak bisa menerima kehadiranmu. Karena itulah, dengan terpaksa aku menyerahkan kau yang masih berumur beberapa hari kepada Ben, papamu," papar Aamber dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Papamu memiliki segalanya, Sayang. Lihatlah, dia bisa mengurusmu dengan baik. Dia juga memenuhi segala kebutuhanmu. Kau akan jauh lebih terjamin jika tinggal dengannya. Penyesalanku hanya satu. Sebagai seorang ibu, aku tidak mampu memperjuangkan kebahagiaan Samantha, sehingga dia harus melewati semuanya seorang diri. Kini, perasaan sakit itu muncul kembali saat aku melihat Ben menemukan wanita lain yang dia cintai. Aku merasa sedih dan tak tega dengan putriku sendiri. Selain itu, aku juga merasa takut jika Elle tidak bisa menjadi ibu yang baik. Sekarang aku masih hidup dan bisa menjagamu, tapi aku semakin tua dan entah sampai kapan bisa bertahan untuk terus menemani" jelas Aamber lagi


"Kau pikir aku tidak menyayangi Fleur? Kau dan suamimu sama piciknya, Aamber. Pikiranmu teramat sempit, sehingga membuat hidup yang kau jalani terasa menghimpit dan membuarmu kesulitan membuka diri," ucap Benjamin dengan dalam dan tegas.


__ADS_2