
"Papa baik-baik saja?" tanya Fleur. Pada akhirnya gadis kecil itu memberanikan diri untuk bersuara. Dia menatap sang ayah dengan raut yang tampak khawatir. Sementara Benjamin hanya menoleh sesaat, kemudian memaksakan diri untuk tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, pria bermata abu-abu itu kembali fokus pada lalu lintas kota yang sedang dilewatinya.
"Apakah menurut Papa aku akan segera sembuh dan bisa terlepas dari kursi roda?" Fleur kembali mengajak Benjamin untuk berbincang.
"Tidak ada yang mustahil, Fleur. Selama kau berusaha dan ada keinginan untuk sembuh, maka prosesnya pasti akan jauh lebih cepat," jawab Benjamin. Dia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Fleur. Sebuah senyuman lembut pun muncul dan membuat gadis kecil tersebut merasa tenang.
"Bagaimana jika setelah terapi nanti, Papa menemaniku berkeliling Paris?" raut penuh harap terlihat jelas di wajah cantik Fleur.
"Ya, tentu," jawab Benjamin sambil mengusap-usap pucuk kepala sang anak. Untuk kemudian, dia kembali fokus pada kemudinya. Tak berselang lama, mereka pun tiba di tempat tujuan, yaitu sebuah klinik dari seorang terapis yang sudah ternama di kota itu. Dalam cuaca yang cukup dingin, Benjamin kembali membantu Fleur untuk duduk di atas kursi rodanya. Sebelum masuk, dia sempat mengedarkan pandangan pada sekitar tempat tersebut. Pria tampan itu berharap bahwa dirinya akan menemukan sosok Autumn di antara orang-orang yang berlalu-lalang di sana. Namun, harapan hanya menjadi sebuah angan-angan saja. Pada kenyataannya, Benjamin tak tahu saat ini sang kekasih yang juga merupakan calon istrinya tersebut tengah berada di mana. Pria itu kembali tersadar, ketika Fleur menarik lengan mantelnya. "Apa kita tidak akan masuk?" tanya gadis kecil tersebut.
Benjamin tersenyum kelu. Dia mengangguk pelan, kemudian segera mendorong kursi roda Fleur dan membawanya masuk. Setelah di dalam, mereka langsung bertemu dengan sang terapis yang selama ini membantu Fleur. Sementara putrinya tengah menjalani serangkaian terapi, Benjamin duduk sambil memperhatikan. Akan tetapi, pikirannya justru melayang entah ke mana.
Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin Benjamin bisa berkonsentrasi dengan baik.
Sementara Autumn sendiri terlihat mulai terbiasa dengan atmosfer yang berbeda, setelah beberapa hari berada di Indonesia. Gadis itu mencoba untuk mencari hiburan dengan melakukan banyak hal. Salah satunya adalah mengikuti Jenna pergi ke toko. "Di rumah ini kamu harus panggil aku dengan sebutan kakak. Kamu tahu 'kan alasannya apa? Pertama, karena usiaku beberapa tahun lebih tua dari kamu. Kedua, karena papaku adalah kakak dari tante Arum. Jadi, sudah seharusnya kamu memanggilku kakak," jelas gadis berambut pendek itu sambil berjalan di sebelah Autumn. Keduanya tengah menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Jenna!" panggil Keanu. Dengan tergesa-gesa, pria paruh baya itu menghampiri kedua gadis tersebut.
"Ada apa, Pa?" Jenna yang meskipun telah berusia lebih tua dari Autumn, nyatanya tak terlihat jauh lebih dewasa. Sebagai anak bungsu, sikap manjanya masih kerap hadir dan terkadang terlihat dengan jelas.
"Kamu mau ke toko, bukan?" tanya Keanu.
"Iya, memangnya kenapa?" gadis berkulit sawo matang itu balik bertanya.
"Sebelum ke toko kamu lewat di depan perumahan om Moedya, kan? Papa mau nitip sesuatu. Tolong kamu berikan sama om Moedya secara langsung," jelas Keanu seraya menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada putri bungsunya.
"Iya, sudah. Makanya Papa nitip sama kamu," ucap Keanu lagi. Sementara Autumn hanya menyimak, karena tidak mengerti dengan percakapan di antara ayah dan anak itu. Akhirnya, tanpa banyak membantah Jenna pun setuju untuk membawakan titipan dari sang ayah. Seperti hari-hari kemarin, Jenna kembali mengendarai motor maticnya.
Itu merupakan pengalaman pertama bagi Autumn. Dia mulai menikmati setiap kebiasaan yang tak pernah dilakukannya selama tinggal di Paris. Namun, itu semua benar-benar akan menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan, termasuk ketika Jenna membelokan laju motor yang dia kendarai ke sebuah kawasan perumahan elite. Dia lalu menghentikan kendaraan roda duanya di depan rumah megah dengan pintu gerbang dari kayu yang terlihat sangat kokoh.
Setelah dipersilakan masuk oleh satpam yang bertugas di sana, Jenna kembali melajukan motornya untuk memasuki halaman. "Ayo, Elle. Kamu mau ikut ke dalam atau menunggu di sini?" tawarnya kepada Autumn, yang saat itu tengah sibuk mengedarkan pandangan pada sekeliling halaman rindang dan asri.
__ADS_1
"Jika kau tidak lama, maka aku menunggu di sini saja," putus gadis bermata abu-abu itu.
"Baiklah. Cuma sepuluh menit," ujar Jenna seraya tertawa pelan. Autumn hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. Setelah Jenna masuk, gadis berambut cokelat tersebut memutuskan untuk menunggu sambil duduk di atas motor tanpa melepas helmnya. Autumn juga mulai melamun saat itu. Pikirannya melayang jauh ke kota Paris, pada seraut wajah tampan dengan senyuman menawan yang selalu membuat dirinya tak berdaya. Ya, Autumn tak kuasa melawan perasaannya. Dia mulai merindukan sosok Benjamin Royce.
Autumn terus termenung, hingga tanpa dia sadari bahwa di belakangnya telah berdiri seorang pria muda yang sejak beberapa saat lalu memperhatikannya. Pria muda itu kemudian berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Autumn yang masih termenung dengan posisi membelakangi. Pria tadi bersiul pelan seraya memperhatikan Autumn. Seketika gadis bermata abu-abu itu tersadar dan menoleh. Dia menautkan alisnya sambil menatap aneh kepada si pria. "Cari siapa?" tanya pria muda tadi. Sedangkan Autumn tidak segera menjawab. Dia tidak mengerti apa yang pria muda itu katakan padanya. Namun, untungnya saat itu Jenna segera muncul di sana. "Hai, Jen," sapanya. Perhatian pria muda tadi beralih kepada putri dari Keanu tersebut.
"Hai, Pat. Mau ke mana? Tumben pakai kemeja," Jenna tampak mengernyitkan keningnya.
"Aku mau kondangan," jawab pria muda yang tiada lain adalah Patra. Putra sulung dari Moedya. "Ini siapa, Jen?" tanyanya menunjuk kepada Autumn dengan isyarat mata.
"Ah, iya. Ayo kenalan dulu," Jenna menyenggol lengan Autumn dengan lengannya. Dia lalu mengisyaratkan agar Autumn memperkenalkan diri. Akan tetapi, Autumn tak mengerti harus bagaimana. Jenna pun tertawa renyah. "Ini Elle, sepupu aku dari Perancis. Dia tidak bisa Bahasa Indonesia. Jadi, kalau kamu ingin ngobrol dengannya, kamu pakai bahasa Inggris atau Bahasa Perancis sekalian."
"Wow, gadis Perancis," ujar Patra terlihat antusias. "Hai, namaku Patra," dia menyodorkan tangannya dan mengajak Autumn untuk bersalaman.
Tak ada alasan bagi gadis terebut untuk menolak keramahan dari Patra. Dia membalas jabat tangan pria muda tadi. Bersamaan dengan itu, seorang wanita berpenampilan rapi, memakai setelan kebaya moden muncul di sana. Dia tertegun menatap kepada Autumn.
__ADS_1