
...Happy Reading...
Saat ini aku memang sudah resmi pensiun dari pekerjaanku yang dulu, namun aku meminta Ken dan beberapa temanku untuk membantuku menyelidiki kasus saat aku kecelakaan waktu itu.
Sebenarnya aku juga tidak membawa pasukan, aku hanya tidak ingin kak Hana merasa khawatir dengan keselamatanku saja.
" Semua sudah siap Komandan, kita bisa berangkat sekarang!" Ucap Ken yang sudah terlihat bersiap dengan pakaian serba hitam.
" Jangan panggil aku komandan, aku sudah bukan komandan kalian lagi." Aku merasa segan saat mereka masih menggangap aku seperti saat dinas bersama mereka.
" Tapi menurut kami, anda adalah komandan dihati kami, selamanya." Ucap mereka serempak yang berhasil membuat hatiku trenyuh.
" Jangan sampai kalian cinta denganku, nanti kekasihku bisa ngamuk dengan kalian, karena punya banyak saingan." Aku sengaja membuat lelucon, agar suasana haru tidak terlihat dengan jelas karena rasa kesetiakawanan dari mereka yang ternyata sangat solid.
" Cieee... yang lagi anget-angetnya?" Ledek mereka secara bersamaan.
" Taupun!" Ucapku dengan seribu bayangan wajah Hana yang langsung melintas.
Bukan anget lagi, kalau berduaan dengannya dibawah selimut, bahkan AC full pun masih terasa fanas, opsh... astaga, itu lagi yang ada di pikiranku, semoga ini semua cepat clear dan aku bisa mengulangi adegan malam itu lagi dengan halal, hmm... si Juki sudah tidak tahan lagi brother.
Belum lama ini uncle Simon dan uncle Mark bilang bahwa kejadian itu murni kecelakaan, karena memang tidak ada penyerangan atau tindakan apapun denganku, dan kecelakaan itu terjadi dengan mobil didepanku, bukan mobil yang seolah mengejarku. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menutup kasusku.
Namun aku masih merasa janggal dengan kejadian itu, dan saat kesehatanku sudah pulih seperti sedia kala, aku memutuskan untuk kembali menyelidiki kasus itu sendiri, karena aku tidak mau jika nanti seandainya aku sudah menikah, mereka masih mengincarku atau bahkan mengincar dan menggangu orang-orang yang aku sayangi, kak Hana misalnya, apalagi dia seorang CEO, sudah pasti akan lebih mudah mengenalinya.
Sebenarnya rinduku pun sudah tidak tertahan lagi, apalagi aku pernah berjanji untuk segera menikahinya disaat aku sudah bisa melihat lagi, namun rasa cemasku akan keselamatan istri dan anak-anakku nanti, membuatku bertekad untuk menuntaskan kasus itu.
Walau otakku terkadang sering oleng karena sudah pernah mencicipi indahnya Surga dunia, bahkan sempat nambah satu porsi lagi, namun sebisa mungkin aku menahannya dan selama ini lebih memilih melakukan fitnes atau kegiatan lainnya, agar pikiranku ini tidak dihantui oleh suara des@h@n dari bibiir seksih dari kekasihku itu.
Sebenarnya bukan hanya kak Hana yang tersiksa karena takut khilaf, aku pun sama, tapi aku lebih memilih mengalihkan itu semua dengan kegiatan lain, bukan menghindar darinya, karena saat melihat wajahnya hatiku merasa tenang, entah mengapa adem saja bawaannya.
__ADS_1
Tapi beberapa hari ini aku memang sedang fokus mencari bukti dan juga saksi yang menyangkut kecelakaanku hari itu, jadi memang jarang bertemu dengan kak Hana, tapi aku yakin setelah ini semua selesai, seharipun aku tidak akan melewatkan waktu untuk berdua bersamanya.
" Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" Aku langsung bergegas masuk ke mobil dengan segala rencana yang sudah tersusun di otakku.
" SIAP KOMANDAN!" Jawab mereka yang selalu kompak kapanpun dan dimanapun.
Aku hanya bisa tersenyum saja saat melihat rekan-rekan kerjaku dulu yang masih menggangap aku sebagai komandannya, tidak ada yang berubah dari mereka, walau aku sedang dalam posisi dibawah sekalipun, Ken juga selalu mengunjungiku di sela-sela kesibukannya, walau hanya sebentar saja.
Perjalanan kami tempuh sekitar setengah harian, kami mendapatkan info bahwa orang yang menyerang kak Ganesh hari itu memang berhubungan dengan kecelakaan yang aku alami, sebenarnya aku sudah menduga, namun karena terjadi sesuatu yang tidak diharapkan olehku, aku bisa apa dengan segala kekuranganku saat itu.
Mobil yang berhenti secara mendadak itu memang disengaja, mereka sudah mengintaiku saat aku keluar dari rumah, mereka memang berkomplotan sengaja ingin mencelakaiku.
Namun yang aku heran, kenapa uncle Simon dan uncle Mark menyembunyikannya dariku, dan malah sengaja menutup kasusku beberapa hari yang lalu.
Aku sengaja tidak muncul dan memilih tetap didalam mobil saat Ken dan rekan-rekanku turun untuk mencari informasi terkait.
Namun yang membuatku aneh, tidak butuh waktu yang lama, mereka langsung bergegas kembali ke dalam mobil lagi.
" Bukan tidak mau mengaku ataupun bersaksi, namun semua pelaku yang berhubungan dengan kasus kamu hari itu, semua sudah tew@s beberapa hari selang kejadian hari itu." Jawab Ken yang juga terlihat kebingungan.
" Apa?" Aku terkejut dong, pelaku itu tidak cuma satu atau dua orang, tapi komplotan, kok bisa tew@s semua.
" Pantas saja kami tidak menemukan pelaku satupun saat itu, padahal kami sudah berusaha mencarinya?" Ken bahkan sampai menggaruk kepalanya sendiri.
" Dan yang lebih membuatku merasa aneh lagi, keluarga pelaku tidak menemukan jenaz@hnya juga, tapi mereka mendapatkan secarik surat yang menandakan sebuah permintaan maaf dan menerima sebuah cek yang nominalnya lumayan banyak, katanya untuk biaya t@hlilan dan juga usaha untuk menunjang masa depan keluarganya." Ucap Ken kembali, awalnya dia tidak percaya, namun tadi ditunjukkannya bukti dengan beberapa foto di ponsel keluarga pelaku.
" Mungkin si pelaku sudah penyakitan kali, jadi memang sudah yakin, sebentar lagi akan tiba masanya Tuhan untuk menjemputnya, jadi mereka buat surat wasiat." Celoteh rekanku yang terlihat sudah buntu juga.
" Itu kalau cuma satu orang, mereka satu komplotan bro, tew@s semua, dan pihak keluarga pun terlihat menerima itu semua." Ken pun masih mencoba menelisik kasus itu.
__ADS_1
" Mungkin karena jumlah uangnya yang lumayan fantastis, haess... jaman sekarang memang semua sudah but@ karena uang."
" Yang aku heran, kenapa mereka bisa melakukan aksi pembunuh@n itu dengan bersih tak berjejak sama sekali?" Aku baru pertama kali menemui masalah seperti ini, sepanjang karierku.
" Atau mereka punya musuh lain?" Tanya rekanku yang lainnya.
" Kalaupun musuh, tidak mungkin mereka mau ngasih uang kan, ngapain juga mereka harus capek-capek mengurus masa depan keluarganya, sebaik itu kah para penjahat jaman sekarang?"
Aku semakin dibuat pusing karenanya, namun setidaknya aku sedikit lega, karena keselamatan keluargaku nanti tidak akan terancam lagi.
" Iya juga sih."
Apa ini ulah uncle Simon dan uncle Mark ya? tapi kenapa mereka bilangnya saat itu murni kecelakaan? kenapa mereka harus menutupinya dariku? sebenarnya apa yang terjadi?
Aku tidak berani mengutarakan keanehan yang aku rasakan saat ini kepada rekan kerjaku, karena belum ada bukti yang jelas, dan ini hanya prasangka ku saja, aku tahu betul uncle Simon dan uncle Mark memang bukan orang biasa.
" Tapi menurutku info dari kak Ganesh hari itu, dia sempat menghajar pelaku seorang wanita, dan dari data pelaku yang tew@s itu, semuanya pria, apa mungkin ada yang terlewatkan?" Ken menaikkan kedua alisnya seolah mencurigai sesuatu.
" Woah... berarti belum semua pelaku tertangkap ini, sepertinya kita harus mencari informasi lain."
Aku kembali dibuat gusar oleh prasangka dari Ken, bagaimana pun caranya aku harus mengusut tuntas kasus ini sampai ke akarnya, agar aku bisa hidup dengan tenang nantinya.
" Kita harus bergerak cepat sekarang, waktuku tidak banyak lagi, hubungi juga detektif yang bekerja sama dengan kita."
" Siap laksanakan!" Mereka langsung paham dengan tugas mereka masing-masing.
Aku harus segera menyelesaikan misi ini, apalagi kak Hana menyuruhku pulang besok, aku tidak ingin dia ngambek dan akhirnya kami harus bertengkar lagi.
..."Takdir yang dituliskan Tuhan merupakan hal terbaik dalam hidup kita, walau terkadang yang terbaik itu tak selalu indah."...
__ADS_1
To be Continue...