
...Happy Reading...
Perlahan dokter itu menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya, dia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini sebelumnya.
Namun dia juga tidak bisa berbuat banyak, karena memang cukup banyak dia mengeluarkan remukan kaca dari kedua mata Ray.
" Cepat siapkan obat penenang." Bisik dokter itu kepada perawat yang ada disampingnya.
Dan perawat itu juga langsung bergegas pergi keluar, mencari obatnya keruang jaga yang ada disebelah ruangan itu.
" Apa? kenapa? apa mataku terluka? kenapa aku tidak bisa melihat apapun!" Teriak Ray dengan tangan dan tubuhnya yang gemetaran.
" Raaaaaaayyyy.. hiks.. hiks..!" Mala tidak kuasa untuk menahan tangisannya dan Carlos dengan sigap memeluk istrinya agar suaranya tidak semakin keras dan membuat mental Ray semakin down karenanya.
" DOKTER APA YANG TERJADI, KENAPA AKU TIDAK BISA MELIHAT!" Ray masih mencoba berperang batin, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi dengannya.
" Ray... tenang Ray." Hana ikut gemetaran melihat kenyataan yang ada.
" KENAPA AKU SEPERTI INI? AKU TIDAK MAU BUTA!" Teriak Ray terus menerus.
" Ray...?"
" AAAARRRRRGGHHHH!" Bahkan dia sampai menjambak rambutnya sendiri.
Suara Ray langsung melengking dan menggema di ruangan itu, membuat semua keluarga yang melihatnya hanya bisa menangis dan memejamkan kedua matanya.
" Cepat suster, siapkan suntikan obat penenang!" Dokter itu langsung ikut berteriak saat perawat tadi kembali masuk keruangan itu membawa obat yang dipesan dokter itu.
" AKU TIDAK MAU, KENAPA AKU BEGINI? KENAPA? MOMMY, DADDY TOLONG AKU!" Teriak Ray dengan histeris dan tidak terkendali, bahkan dia ingin mengucek kedua matanya namun langsung ditahan oleh dokter dan perawat itu.
" Cepat suntikkan sus!" Teriak Dokter itu sambil memegang kedua tangan Ray.
Ganesh dan Adelia langsung membantu menahan kaki Ray, agar tidak menggangu suster itu dalam menyuntikkan obat penenang di tubuh Ray.
Astaga... kenapa seperti ini jadinya, tolong jangan hukum Ray ya Tuhan, dia orang baik, aku sangat menyayanginya Tuhan, tolong sembuhkan dia...
__ADS_1
Hana bahkan membenturkan kepalanya diranjang Ray dengan tetesan air mata yang tidak berhenti sedari tadi.
" My Hana... kamu dimana? aku tidak bisa melihatmu lagi?" Akhirnya suara Ray langsung melembut, terlihat deraian air mata yang mengalir deras di kedua sudut matanya.
" Eherm... aku disini Ray." Jawab Hana mencoba menetralkan tangisannya agar Ray tidak semakin panik.
" Kakak.. jangan tinggalkan aku, aku ingin melihatmu, aku ingin melihat wajahmu, HANAAAA...!" Teriak Ray dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya, sebelum obat penenang berdosis tinggi itu mulai bereaksi.
" Tidak Ray, aku tidak akan pergi sayang... aku akan selalu ada disampingmu." Hana bahkan menggeser posisi duduk Mala disampingnya, dia ingin memeluk tubuh Ray, namun kakinya terasa lemas, akhirnya dia hanya bisa memeluk lengan kekarnya saja.
Apapun yang akan terjadi dengan tubuhmu nanti, aku akan tetap mencintaimu sepenuh hatiku Ray, sampai kapanpun itu, jika memang kedua matamu tidak bisa melihat dunia, aku yang akan membantu melihat dunia itu dan menceritakan semua yang kamu ingin tahu.. aku sayang kamu Ray.. tetaplah kuat, aku disini untukmu sayang...
Akhirnya kedua mata Ray kembali terpejam, dia kembali tidak sadarkan diri karena efek obat penenang berdosis tinggi yang baru saja disuntikkan ketubuhnya.
" Dokter, apa belum ada yang mau menjadi pendonor mata untuk putraku? berapapun biayanya, kami akan menyediakannya dokter." Carlos langsung berjalan mendekat kearah dokter itu.
" Iya dokter, berapapun biayanya akan kami berikan, tolong sembuhkan kedua mata putraku dokter, aku mohon dokter." Mala ikut merengek sambil memeluk kepala putranya.
" Kami sedang mengusahakan, tapi kami tidak bisa menjanjikan, karena tidak mudah untuk mendapatkan donor mata yang sesuai dengan mata putra bapak dan ibu."
" Tolong dokter, apa perlu kita pindahkan saja Ray kerumah sakit yang lebih besar?" Tanya Mala yang juga tidak sanggup saat melihat putranya terpuruk seperti itu.
" Mau kerumah sakit yang terbesar di seluruh penjuru negri ini juga, kalau belum ada pendonor matanya juga sama saja buk, kita tetap tidak bisa melakukan operasi? jadi kita hanya bisa sabar dan berdoa saja." Ucap dokter itu dengan jujur.
" Tapi berapa lama dokter? berapa lama anak saya harus menunggu? aku tidak tega melihatnya seperti ini dokter, tolong putraku dokter." Mala kembali terisak saat menatap nasip malang putranya.
" Kami sedang mencarinya buk, kalau ada kami akan segera menghubungi keluarga pasien dan akan langsung menjadwalkan operasi." Dokter itu paham betul bagaimana perasaan mereka, sebenarnya dia juga ingin melakukan yang terbaik untuk semua pasiennya.
Namun dokter juga hanya manusia biasa, tidak bisa mengubah takdir hanya dalam sekejab mata saja.
" Apa kami boleh ikut membantu mencarikan pendonornya?" Tanya Ganesh yang memang punya banyak kenalan dokter di luar negri dulu.
" Tentu, jika kalian lebih dulu dapat pendonor mata, bisa segera menghubungi saya, kapanpun itu." Jawab dokter itu penuh dengan pengertian.
" Baik dokter." Jawab Ganesh dengan lega, walau dia sering berdebat dengan Ray, namun didalam hatinya dia juga sangat menyayangi Ray seperti adek kandungnya sendiri, apalagi dia sudah banyak membantu tentang kasusnya hari itu.
__ADS_1
Walau sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencarikan pendonor mata itu sampai dapat Ray, kamu yang sabar ya... kami semua menyayangimu.
" Dan satu lagi, tolong jangan tunjukkan kesedihan kalian didepan pasien ya, karena itu akan memperburuk keadaannya." Dokter itu kembali melihat Ray yang lemah tidak berdaya terbaring di ranjang.
" Baik dokter." Jawab mereka serempak.
" Kondisinya belum stabil, jangan pernah tinggalkan dia sendiri dalam keadaan seperti ini, temani dia agar pasien tidak merasa sendiri." Tambah dokter itu.
" Apa akan lama dia histeris seperti ini dokter?" Tanya Adelia sang kakak yang juga tidak tega melihat adek kesayangannya lemas seperti ini.
" Tergantung dari pasien itu sendiri mbak, itu kenapa saya menganjurkan selalu ada seseorang disampingnya, agar perlahan-lahan dia bisa menerima keadaannya."
" Baik dokter."
" Perhatikan juga lukanya, jangan sampai saat dia kembali histeris dia melukai dirinya sendiri, intinya jangan pernah tinggalkan dia sendirian, karena bisa fatal akibatnya." Dokter itu langsung mewanti-wanti kepada pihak keluarga.
" Siap dokter." Jawab Carlos yang paham benar dengan situasinya.
" Pasien bisa dibawa pulang saat dia sudah sadar nanti, tapi kalau kalian masih merasa takut jika pasien akan histeris lagi, bisa menunggu satu atau dua hari lagi, kami akan selalu siap menjaganya." Ucap Dokter itu, pelayanan kelas VVIP memang selalu diutamakan dimanapun berada.
" Baik dokter, kami akan menunggu dia sadar dulu, baru memutuskan pulang sekarang atau nanti." Carlos mencoba untuk tetap bisa tenang apapun yang terjadi, sebagai kepala keluarga memang berat, harus tetap tegar walau badai besar menghantam keluarganya.
" Kalau begitu saya permisi, tekan bel nya saja jika butuh apa-apa, kami akan selalu siap melayani anda." Ucap sang dokter pamit undur diri.
" Terima kasih banyak dokter." Ucap Mereka bersamaan.
Ray... maafkan aku, seharusnya kamu tidak perlu memelukku, seharusnya kamu tidak seperti ini, sayang... apa kamu takut? sama... aku pun takut, sangat takut kehilangan dirimu...
Sedangkan Hana masih menatap wajah Ray dengan sendu, bayangan wajah ceria Ray dengan segala gelak tawa dan gombalannya kembali terngiang-ngiang di fikirannya, membuat dirinya semakin merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa kekasihnya.
..."Jika Tuhan membawamu ke dalam suatu kondisi (cobaan), Dia juga akan memberimu jalan untuk melaluinya."...
..."Hanya Tuhan yang mampu mengubah kekacauan menjadi sebuah pesan, ujian menjadi kesaksian, cobaan menjadi kemenangan, dan korban menjadi juara."...
Ayo.. ayo... jangan lupa relakan VOTE kalian ya kawan, KOPI dan KEMBANG SEKEBONnya juga, biar jari-jari othor ini tetap bisa kuat dan semangat melanjutkan kisah babang tampan kita.
__ADS_1