Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
83. Rejeki Orang Baik


__ADS_3

...Happy Reading...


Sebenarnya Carlos tidak begitu nyaman bicara berdua saja dengan Arka, karena dia masih menggangap Arka adalah saingan terberatnya, karena Mala terlihat susah sekali move on darinya dulu.


" Ada apa?" Tanya Carlos dengan canggung, dia tidak sedekat itu untuk bisa ngobrol santai berdua dengan mantan kekasih istrinya.


" Begini... walau paman tadi sudah menyanggupinya, bahkan dia mau kapanpun kalian mau, tapi kami berharap kalian jangan terburu-buru, biarkan dia melihat indahnya dunia ini sampai waktunya hampir tiba, apa kalian bisa sabar menanti?" Tanya Arka dengan perlahan.


" Tentu.. saya juga tidak tega, kalau harus melihat paman yang berhati baik itu harus begitu di sisa usianya." Carlos paham, dan dia pun berpikiran sama dengan Arka.


" Kalau begitu, terima kasih atas pengertiannya." Untuk pertama kalinya Arka tersenyum dengan suami mantan kekasihnya itu dengan tulus.


" Seharusnya saya yang harus berterima kasih dengan kamu, karena sudah banyak membantu untuk kesembuhan putra kami, bahkan kami berhutang budi dengan kalian semua." Jawab Carlos ikut membalas senyuman itu walau tetap terlihat canggung.


" Kalau begitu, baik-baik kamu denganku!" Arka bahkan menepuk bahu Carlos dengan senyuman penuh arti.


" Apa maksudnya? kalau kamu menginginkan istriku, sampai matipun aku tidak rela." Ucap Carlos yang langsung menatap wajah Arka dengan penuh tanya.


" Hahahaha... apa kamu sudah gila? aku tidak serendah itu, untuk merusak rumah tangga kalian, ckk... hah, pikiranmu masih tetap jelek denganku!" Arka langsung menggelengkan kepalanya, dia sudah mendunga Carlos punya pemikiran seperti itu tadi.


" Maaf... bukan begitu, tapi aku--"


" Sudahlah, aku paham maksudmu! tenang saja, aku tidak akan menggangu istrimu yang cantik dan imut itu." Ucap Arka yang sengaja memanas-manasi Carlos.


" Hey?" Carlos kembali menatapnya saat mendengar kata cantik dan manis keluar dari mulut Arka.


" Hahaha... aku hanya bercanda, tapi memang benar adanya bukan?" Arka tidak takut sama sekali, dia memang sengaja melakukan itu agar tidak terlalu canggung saat berdua dengannya.


" Haish... pria ini memanglah!" Umpat Carlos perlahan sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena sangat kesal namun dia tahan sebisanya.


" Tenang brother... aku bahkan lebih dulu memilikinya ketimbang kamu bukan?" Ucap Arka semakin menjadi.


" KAMU---" Carlos sudah tidak tahan lagi, dia bahkan sampai bangkit berdiri dari kursi yang dia duduki tadi.


" Ayang, sssstttt... ngapain coba melotot kayak begitu!" Umpat Mala dari kejauhan.


Disaat Arka terlihat menebarkan setitik tinta di air yang jernih, tiba-tiba topik utama mereka datang dan berjalan mendekati meja mereka.


" Hahaha...suamimu ternyata masih bucin sedari dulu sampai sekarang ya? belum berubah ternyata dia Mala?" Semakin lebar senyuman dari wajah Arka saat ini.


" Hmmm..." Mala menganggukan kepalanya dengan cepat.


" Maafkan dia ya mas, kalau tadi salah bicara." Ucap Mala kembali yang merasa tidak enak hati.


" Aku tidak salah bicara yank." Carlos merasa tidak terima.


" Sudahlah, nggak usah diperpanjang, sudah kamu beritahu belum yang kita obrolin tadi diperjalanan." Mala memilih mengalah saja, daripada jadi ribet urusannya, karena ada yang lebih penting dari pada membahas tentang mereka pikirnya.

__ADS_1


" Ckkk... huuft!" Carlos menghela nafasnya terlebih dahulu saat ingin melanjutkan ucapannya.


" Ada apa Mala?" Tanya Arka yang hanya tersenyum-senyum saja melihat perdebatan mereka.


" Begini, ada sesuatu yang akan aku berikan kepada mereka." Ucap Carlos mengambil alih, dia tidak ingin melihat Arka menatap istrinya berlama-lama.


" Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari kalian, jangan merasa terbebani." Jawab Arka dengan jujur.


" Tapi kami yang merasa terbebani kalau tidak melakukan apa-apa." Jawab Carlos yang terlihat sedang mengotak-atik ponselnya.


" Anggap saja, ini rejeki untuk saudara kamu yang berhati baik itu mas." Ucap Mala ikut menimpali.


" Mereka ikhlas kok melakukan itu." Ucap Arka kembali.


" Kami juga sangat ikhlas memberikan ini." Carlos menunjukan sesuatu dari layar ponselnya.


" Besok tolong kamu bantu kami, untuk memberikan informasi nama dan menjadi saksi untuk pemindahan kepemilikan perusahaan itu." Ucap Carlos dengan wajah yang serius.


" Kalian memberikan perusahaan itu untuk keluarga pamanku?" Arka bahkan langsung menaikkan kedua alisnya karena terkejut, tidak tanggung-tanggung yang mereka berikan, bahkan saat pamannya belum mendo norkan saja mereka sudah langsung ingin memindahkan nama kepemilikan, seakan tidak takut dengan apa yang terjadi nantinya.


" Walaupun ini hanya perusahaan anak cabang, namun omzetnya cukup bagus, melonjak terus setiap bulannya, jadi tolong kamu bantu mengurusnya nanti." Carlos dan Mala sudah membicarakan itu di mobil tadi.


" Apa kalian serius? apa ini tidak terlalu berlebihan? bahkan paman belum memberikannya." Arka sungguh tidak menyangka dengan balasan yang mereka berikan.


" Walau belum, tapi paman baik itu sudah punya niatan, kami sangat menghargai dan sangat berterima kasih sekali mas, bahkan kami sangat bersyukur bisa mengenalnya, ini tidak seberapa dengan pengorbanan yang akan paman mas itu lakukan." Ucap Mala dengan sangat bahagia.


" Tolong terima ya mas, kami tidak enak jika harus memberikan kepadanya secara langsung, kami takut menyinggung perasaan mereka." Ucap Mala yang terlihat memohon bantuan.


" Hmm... kalau memang ini sudah keputusan kalian, aku bisa apa, semoga kebaikan kalian dibalas berkali-kali lipat oleh yang Maha Kuasa." Jawab Arka sambil menggangukkan kepalanya.


" Amin.. terima kasih banyak ya mas." Mala sangat bersyukur atas semua yang terjadi hari ini.


Gleeeeeeeeeerrrrrr!


Tiba-tiba terdengar suara guntur yang sangat besar menggelegar disana.


" Astaga!" Mala langsung menarik lengan disampingnya.


" SAYANG!" Teriak Carlos tak kalah keras dengan suara guntur itu.


" Ya ampun, aku salah pegang, maaf mas, maafkan aku... aku terkejut tadi." Mala langsung membungkukkan kepala kearah Arka untuk meminta maaf.


" Pffttthhh... Ya ampun Mala, kamu masih seperti yang dulu." Umpat Arka yang hanya bisa menahan senyuman, saat melihat kebiasaan Mala yang masih ketakutan saat mendengar bunyi guntur.


" Civm!" Pinta Carlos dengan tegas kearah istrinya yang sudah berada disampingnya.


" Apaan sih yank, orang nggak sengaja kok!" Mala langsung mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


" Kamu memeluk lengannya didepan mataku sayang! civm nggak!" Umpat Carlos yang terlihat marah sekali.


" Iya nanti kalau sampai dirumah, malu yank, ini ditempat orang!" Mala mengumpat sambil mengeratkan giginya.


" Nggak perduli!" Umpat Carlos tidak terima, bahkan sepertinya Alam pun menangis karenanya, karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, ditambah dengan angin yang berembus dengan kencang.


" Astaga, kalian ini." Arka kembali terkekeh melihat pertengkaran mereka.


Tulilut.. Tulilut...


" Yank!" Teriak Carlos yang semakin kesal.


" Sebentar, ini Ray telepon." Mala langsung mengangkat telepon dari putranya.


" Hallo mam? kalian kemana? kenapa dirumah cuma ada bibi?" Tanya Ray dibalik telpon.


" Kami sedang ada keperluan di luar kota sayang, tapi sebentar lagi kita akan pulang kok nak." Ucap Mala yang merasa kasian mendengarnya.


Duaaaaarrrr!


" Haduh... hujannya kok lebat banget ini?" Mala merinding sendiri jadinya.


" Sepertinya kita tidak bisa pulang dalam keadaan cuaca ekstream seperti ini, akan sangat berbahaya dijalan, apalagi banyak pepohonan disepanjang jalan." Ucap Arka yang melihat kondisi diluar rumah.


" Benar juga ya? lama nggak ya?" Mala pun ikut mengamatinya.


" Ckk... gimana ini, kasihan Ray sendirian di rumah." Ucap Carlos.


" Nak, sepertinya kami pulang nunggu hujan agak reda ya, kamu nggak papa kan, kalau mau sesuatu panggil bibi saja, tadi aku sudah suruh dia stand by didepan pintu kok." Ucap Mala yang sudah meletakkan kursi didepan kamar putranya tadi sebelum pergi.


" Hmm... baiklah." Jawab Ray dengan lemah.


" Kalau butuh teman, suruh Hana datang nak, apa perlu mommy menghubunginya sekarang?" Ucap Mala yang tidak tega kalau Ray kesepian dikamarnya.


" Dia sibuk mom, padahal ini hari libur, aku sudah menghubunginya berulang kali, tapi tidak diangkatnya." Jawab Ray dengan nada yang terdengar kesal.


" Owh... mungkin dia masih ada pekerjaan lain nak, biar nanti mommy kirim pesan ya, tapi kalau Hana memang tidak bisa datang, kamu yang sabar ya, kalau hujan reda mommy segera pulang okey?" Mala pun tidak bisa memastikan kedatangan Hana, karena sekarang dia seorang CEO, yang punya tanggung jawab yang besar.


" Hmm.. ya sudah." Jawab Ray dengan lemas.


" Baik-baik ya dirumah, maafkan mommy, tapi ini untuk kebaikan kita semua, mommy tutup telponnya ya, bye Ray." Mala menghela nafasnya dengan lega, dan segera mengirim pesan kepada Hanami agar menemani Ray sampai mereka kembali pulang.


Dia sungguh tidak menyangka jika akan ada hujan badai seperti ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa berdoa semoga semua lancar nantinya, dan Ray bisa sembuh seperti sedia kala.


..."Pertolongan Alloh mungkin tidak datang terlalu cepat, dan tidak pula terlalu terlambat, tetapi Ia-Nya selalu datang di waktu yang tepat."...


Jangan lupa VOTE kalian othor tunggu ya bestie...🥰, hadiahnya juga loh ya...

__ADS_1


__ADS_2