
...Happy Reading...
Akhirnya Ray, Hana dan Samantha sampai disebuah rest area, tempat makan lesehan didekat rumah Ray, mereka sengaja ingin mencari tempat yang lebih ramai orang, namun terpisah juga, karena disana walau lesehan tapi ada pondok-pondok kecil dari kayu, jadi para penjahat itu pasti tidak akan menyerangnya disana, namun Ray yakin kalaupun mereka mengejar juga pasti sudah kehilangan jejaknya, karena tadi Ray sengaja melewati jalan pintas kesana, yang jarang diketahui orang umum.
" Jadinya makan disini nih? Hana langsung memonyongkan bibirnya dengan kesal.
" Disini enak loh kak menu bakarannya, asyik lagi tempatnya, kakak cobain deh, pasti ketagihan."
" Enakan juga yang tadi, huft... bahkan mungkin uang yang aku tinggalkan diatas meja tadi, bisa buat beli gerobak abang itu sekalian." Sebenarnya bukan masalah tempat dan uangnya tadi, itu hanya alasannya saja, dia hanya tidak bisa berduaan dengan Ray karena Samantha ikut dengan mereka juga disana.
" Yaelah kak... nggak usah dipikirin, nanti kalau aku sudah kerja, gajiku buat kakak semua deh." Ucap Ray dengan mantap.
" Kamu pikir aku matre?" Hana langsung tidak terima.
" Emang siapa yang bilang kakak matre?" Ray pun sebenarnya tidak bermaksud begitu, karena dia tau tunangannya memang tidak seperti itu.
" Ahh... aku pulang aja, malas berantem sama kamu!" Hana ingin beranjak pergi namun ditarik kembali oleh Raymond.
" Astaga, kumat lagi kalian... masih on going lagi ini ternyata dramanya?" Samantha langsung beringsut mundur ke pojokan pondok kayu itu, sambil menutupi kepalanya dengan topi dari jacket hodie miliknya.
" DIAM!" Teriak mereka bersamaan.
" Nah tu bisa kompak, ribut muluk deh kayak di pasar bubar, pusing tau dengernya!" Samantha sebenarnya bukan tipe orang yang pendiam, namun karena dia tidak punya banyak teman, jadi dia jarang bergaul, namun entah mengapa dia terlihat semangat sekali saat mengomentari sepasang kekasih yang gesrek ini, heboh aja bawaannya.
" Kakak sayang.. dengerin aku dulu, besok kita ke sana lagi okey, sekarang kita makan disini dulu, kamu pasti laper kan, dari tadi belum makan, aku suapin mauk?" Rayu Ray kembali.
" Ckk... nyebelin." Hana akhirnya meleleh kembali saat ada panggilan embel-embel sayang terucap manis dari bibirr Ray.
" Lagian disini seru kak, romantis lagi." Raymond tetap tak patah arang, karena dia ingin menginterogasi Samantha malam ini juga.
" Romantis dari Hongkong? apanya coba yang romantis?"
" Kita bisa makan sambil pelvk-pelvkan." Bisik Ray disamping telinga Hana.
" Apaan sih, hubungan romantis itu cuma berdua, kalau ada yang ketiga berarti itu syaiton!" Ucap Hana sambil melirik kearah Samantha.
Sudah diam juga masih saja dibawa-bawa, haish... nasip orang ketiga yang tidak tahu apa-apa?
" Wait.. wait.. jadi aku berperan sebagai syaiton sekarang? dari tadi peranku buruk terus, kapan dramanya happy ending ini?" Samantha kembali bersuara namun Hana terlihat cuek saja.
" Maaf ya Samantha, bukan begitu maksud kekasihku." Raymond langsung merasa nggak enak hati. "Kayak gini loh kakak sayang." Ray kemudian menselonjorkan satu kakinya dan menarik tubuh Hana agar merapat didepannya.
" Jangan begini Ray, malu lah." Hana langsung berusaha mundur, namun Ray menahannya dan malah memeluk pinggang Hana dengan tangan kirinya.
" Aduh Gusti kenapa aku harus berada ditengah-tengah dua manusia ajaib ini." Ucap Samantha lirih sambil mengusap wajahnya.
" Disini juga masih ada orang lain kali, mereka benar-benar menggangapku sebagai penunggu pondok kayu ini?" Ucap Samantha kembali dan langsung menutup wajahnya dengan jacketnya.
" Makan Samantha, kamu juga pasti belum makan kan?" Ray malah terkekeh melihat Samantha yang seperti anak kecil yang merajuk dipojokan.
" Kalian saja yang makan, aku sudah kenyang mendengar perdebatan kalian." Samantha tetap tidak bergerak. "Atau kalau tidak ada hal lain aku pulang saja, aku bisa cari tempat yang aman nantinya." Banyaknya kejadian hari ini yang dialami Samantha membuat tubuhnya terasa letih tak berdaya.
" Samantha, jawab aku dengan jujur, kenapa kamu ikut jadi salah satu geng mafia itu?" Raymond langsung masuk kedalam topik intinya.
" What? geng mafia?" Hana yang sedari tadi pasang wajah cemberut langsung melongo mendegar perkataan calon suaminya.
" Itu tidak ada urusannya dengan kalian, terima kasih sudah membantuku tadi, tapi aku harus pulang sekarang." Samantha ingin beranjak pergi dari sana.
" Apa kamu nggak kasian sama almarhum ayahmu? dia pasti sedih jika tahu kalau anaknya ikut dalam perbuatan kotor seperti itu." Ucap Raymond yang seolah menancapkan belati tajam diarea jantung Samantha, sangat tetap sasaran.
Samantha menaikkan satu sudut bibirnya dan tersenyum kecut, dia yang ingin beranjak pergi memilih duduk kembali, merasa tidak terima dengan perkataan Ray yang terlalu menyakitkan baginya.
" Jangan bawa-bawa ayahku dalam masalahku, cukup aku saja yang tahu."
Penderitaannya hanya dia yang tahu, orang lain hanya bisa berkomentar, namun dialah yang menjalaninya pikirnya.
" Samantha, aku berhak tahu?" Ray masih ngotot, karena tujuannya baik, hanya untuk membantunya.
" Memang apa hubungannya denganmu, hanya karena kedua mat@ ayahku ada padamu, jadi kamu mau seenaknya sendiri mengatur hidupku dan menghina diriku, begitu?"
Duaaaar!
Kemarahan seorang Samantha yang tidak pernah dia tunjukkan kepada orang lain akhirnya tercurah disini, hati Samantha hancur, ibarat kaca pecah seribu.
Ya ampun, aku salah menilainya, ternyata dia anak pendon○r mata yang menolong Ray.
Hana jadi merasa bersalah, ingin meminta maaf tapi waktunya tidak tepat, jadi dia memilih ingin memberikan ruang untuk mereka berdua berdiskusi, karena dia tidak tahu apa-apa soal ini.
__ADS_1
" Emm... kalau begitu kalian silahkan berunding dulu, aku tinggal sebentar." Hana sudah bangkit namun lagi-lagi tangannya ditarik kembali oleh Ray agar kembali duduk disampingnya.
" Kakak jangan pergi, kamu berhak tahu semua tentangku, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita, karena kamu adalah calon istriku, mengerti?" Ray berbicara dengan tegas, tidak manja seperti biasanya.
" Ciihh.." Samantha langsung melengos mendengarnya, dia seolah merasa dihakimi oleh dua orang disini, padahal semua yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan sepasang kekasih ini, pikirnya.
" Samantha, aku tahu... kalau aku ini bukan siapa-siapa bagi kamu, tapi justru karena kedua mat@ ayahmu ada bersamaku, aku tidak ingin kedua mat@ ini melihat kamu berada dijalur yang salah."
Ray sebenarnya tulus ingin membantunya, namun dia juga harus tahu seluk beluk dari masalah yang dihadapi Samantha, baru dia bisa mengambil tindakan yang tepat.
" Dan aku masih ingat, daddyku pernah mendapatkan pesan dari almarhum ayahmu, dia bilang harus menjagamu, dan itu akan aku anggap sebagai kewajiban untukku." Ray tidak mau mengecewakan orang yang begitu baik dengannya.
" Kamu tidak perlu melakukan itu, aku bisa jaga diri sendiri kok." Jawab Samantha dengan perih.
" Nyatanya bagaimana? kamu tadi hampir dikeroyok sama dua pria itu tadi kan, mereka pasti geng mafia itu juga kan?" Ray masih mengingat pria yang dihajarnya dengan Hana habis-habisan tadi.
" Itu bukan urusanmu, urus saja wanitamu itu, nggak perlu capek-capek mengurus hidupku!" Umpat Samantha yang merasa tidak sedekat itu dengan Ray, dia tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang asing yang belum dia kenal dengan benar.
" Aku sudah mengurusnya walau tanpa kamu suruh sekalipun, beberapa hari lagi kami akan menikah." Jawab Ray dengan bangga.
" Emang siapa yang nanya soal pernikahan." Jawab Samantha dengan ketus.
" Ya karena kamu harus datang juga, aku mengundangmu." Ucap Ray tanpa merasa berdosa sama sekali.
" Wah... undanganmu benar-benar lain dari pada yang lain, setelah menghinaku, lalu kamu menyuruhku datang ke acara pernikahanmu? hahaha... apa wajahku ini sudah terlihat seperti Malaikat, yang tidak punya rasa marah dan benci?" Samantha menatap takjub pria dihadapannya kini.
" Ray... kamu ini gimana sih?" Hana berbisik disamping telinga kekasihnya, tidak habis pikir juga dengan pemikiran Raymond.
" Samantha, aku hanya ingin tahu alasan kamu saja? satu yang perlu kamu ingat, aku tidak akan pernah mencelakaimu, aku hanya ingin membantumu, percayalah!" Ray ingin meyakinkan Samantha, namun dia tidak tahu harus menyampaikannya seperti apa.
" Aku belum membutuhkan bantuan itu, maaf aku pamit."
" Tolonglah Samantha.. kenapa kamu keras kepala sekali sih." Ray memelankan suaranya.
" Ckk." Dan Samantha tetap belum goyah.
" Samantha, tolong jangan begini, ayolah, aku hanya ingin mendengarnya, dan kita bisa mencari solusinya bersama nanti."
" Aku tidak butuh solusimu, biarlah aku urus diriku sendiri."
" Sabar Ray, jangan pake emosi, okey sayang?" Bisik Hana dengan lembut.
Berrrrrr!
Ternyata panggilan sayang dari Hana yang jarang terdengar itu juga mampu mendinginkan suasana hati Raymond.
" Okey... kalau kamu tidak percaya denganku, aku akan memanggil Ken saja untuk kesini." Ray memikirkan cara lain.
" Ken? kamu tidak main-main kan Ray? Ken itu rekan kerjamu dulu kan?"
" Hmm." Ray menggangukkan kepalanya dengan cepat.
" Dia kan seorang anggota polisi, bagian reserse Kriminal lagi dan sekarang yang menggantikan kamu menjadi komandan bukan? apa kamu mau melaporkan Samantha dengan pihak berwajib?" Hana seolah memperjelas siapa Ken yang sekarang.
" Ya... kalau dia tidak mau bercerita denganku karena aku ini mantan anggota kepolisian, mungkin dia lebih percaya dengan Ken, baju seragamnya mungkin terlihat meyakinkan, bukan begitu Samantha?"
" Kamu mengancamku?" Teriak Samantha sambil mendelik kesal.
" Untuk apa?" Tanya Ray perlahan.
" Trus kenapa kamu mau melaporkan aku ke pihak yang berwajib, kamu ingin mereka menangkapku, begitu?"
" Aku tidak melaporkanmu, Ken sudah tahu semua tentangmu, seluk belukmu dan juga kegiatanmu sehari-hari, termasuk geng kalian!"
" Benarkah?" Hana malah yang lebih terkejut sendiri, ternyata sudah sejauh itu.
" Dan yang lebih wow lagi kak, Ken terlihat sangat tertarik dengannya?" Ray malah terlihat curhat.
" Dengan Samantha?" Hana bahkan sampai membuka mulutnya karena terlalu terkejut mendengarnya.
Cup!
" Dengan kasusnya!" Ray langsung membungkam mulut Hana dengan bibirr tipisnya, agar tidak terus menganga, tanpa memperdulikan Samantha yang merasakan double kesalnya.
" Emph... Ray, ini ditempat umum." Hana langsung memukul dadaa kekar Raymond yang malah terkekeh tanpa dosa, wajah Hana yang menggemaskan akhirnya kembali bisa meredakan segala amarahnya.
" Aku kesal dengannya kak Hana, aku ingin membantunya, tapi dia menyebalkan sekali." Tanpa dua wanita itu duga, Ray langsung kembali dengan sifat manjanya, dia bahkan memelvk pinggang Hana dan menyandarkan kepalanya dibahu kekasihnya.
__ADS_1
" Mungkin dia belum siap kali Ray, beri dia waktu." Hana mengusap lembut kepala calon suaminya itu.
" Cih.. kok ada model begituan ya?" Samantha malah tersenyum kecut melihatnya.
" Tuh kan, dia malah kembali meledekku, memang cuma kamu my Hana, yang bisa mengerti perasaanku." Rengek Ray kembali, dia bahkan mengeratkan kembali pelvkannya.
" Ya haruslah, kan memang cvma aku calon istrimu." Ucap Hana dengan cepat.
" Woah.. drama apalagi ini." Samantha dibuat takjub saat menyaksikan itu didepan kedua matanya.
" Love you kakak sayang..." Ray menyentil dagu lancip Hana.
" Pffthhh... apaan sih kamu Ray?" Pipi Hana langsung terlihat bersemu merah karenanya.
" Jawab dong kak!" Pinta Ray dengan manja.
" Love you more and more kesayangan aku." Hana menyatukan kening mereka.
Membuat Samantha berasa ingin muntah, dan memilih beranjak dari sana, namun saat baru selangkah dia berjalan, dia terhenti saat mendengar perkataan Ray kembali.
" Padahal aku cuma tidak ingin mengecewakan almarhum ayahnya, agar beliau yang berhati baik itu, tidak sia-sia memberikan kedua mat@nya untukku, padahal dia hanya ingin terus melihat putrinya tumbuh sampai dewasa dengan baik, walau tidak dengan raganya. Itu pesan terakhirnya, tapi apa daya, karena sepertinya aku tidak bisa membantunya." Ray memasang wajah memelasnya.
" Astagfirulloh... beliau pasti sedih ya, semoga paman baik itu dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosanya, dan diberikan tempat terbaik disisi-Nya, Amin."
" Aku melakukan itu semua karena terpaksa!" Akhirnya Samantha mulai membuka gemboknya.
Yess... berhasil!
Raymond langsung tersenyum, dia memang sengaja merengek dan bertingkah manja dengan Hana, karena ingin mencari celah agar Samantha bisa luluh, dan Hana pun ternyata tanpa sadar telah membantunya, karena terkadang suara keras tidak membuat orang menyerah, dan itu memang benar adanya, buktinya Samantha luluh juga sekarang.
" Maksud kamu gimana?"
" Aku... aku pun sebenarnya tidak ingin gabung dalam geng itu, tapi..."
" Duduk kembali ditempatmu, agar orang lain tidak mendengar suaramu." Ray langsung memberikan isyarat.
" Pada awalnya, aku hanya mencoba saja, tidak benar-benar ingin masuk dalam anggota itu, karena aku memang memerlukan bayarannya, kami sangat memerlukan uang hari itu, dan gajiku sebagai pekerja paruh waktu sangat kecil sekali, namun ternyata pengobatan ayahku tidak selalu berhasil, butuh waktu yang lama, akhirnya aku terjebak didalamnya."
" Bukannya kamu mendapatkan beasiswa di kampusmu?"
" Iya... tapi kampus itukan tergolong kampus elit, walau aku mendapatkan beasiswa, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari, sarana dan prasarana dari kegiatan kampus elit, kalian pasti tahu sendiri kan?"
" Kamu tidak harus mengikuti gaya mereka Samantha, jadilah dirimu sendiri?"
" Aku bahkan tidak punya banyak teman dikampus, agar aku tidak terlalu tertekan dengan gaya hidup mereka yang semua rata-rata anak konglomerat, namun saat itu ayahku drop, keluarga kami berada di titik terendah dan uang keluarga kami sudah habis untuk biaya pengobatan ayah selama beberapa tahun ini, walau Om Arka sering menawarkan bantuan, tapi tidak mungkin aku selalu menyusahkan om Arka, karena kami sudah sangat merepotkannya." Kedua mata Samantha sudah mulai memanas, lautan air mata itu sebentar lagi akan mengalir dengan derasnya.
" Lalu apa cuma itu jalan satu-satunya? kan bisa cara lain Samantha?"
" Cara apa? bahkan sertifikat tanahku pun sudah kami gadaikan, penghasilan mama sebagai buruh juga tidak seberapa, untuk makan dan bayar angsuran tiap bulan pun terkadang kurang."
" Selain om Arka bahkan keluarga kami yang lain sudah tidak bisa membantu kami lagi, mereka juga bukan orang kaya semua, mereka juga punya keluarga, tidak mungkin aku selalu mengemis pada mereka agar membantu penyembuhan ayahku yang harapannya sangat tipis, tapi... tapi aku masih ingin melihat ayah tersenyum denganku, untuk itu aku berusaha mati-matian mencari uang untuk bisa memberikan perawatan dokter terbaik untuk ayah." Ucapnya lagi.
Akhirnya pecah juga tangisan Samantha kali ini, baru dengan merekalah dia membuka rahasianya selama ini, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu jika Samantha ikut dalam geng gelap seperti itu.
" Astaga... maafkan kami Samantha." Hana langsung merasa kasihan melihatnya, ternyata banyak orang kesusahan disekelilingnya, tidak melulu hanya masalah cinta saja.
" Sudahlah... mungkin ini memang takdir keluarga kami."
" Kak, peluklah dia." Ray menyenggol lengan Hana.
" Aku?" Hana merasa segan, karena ini kali pertamanya dia berjumpa dengan Samantha.
" Ya iyalah, masak aku yang peluk, emang kakak rela aku meluk wanita lain?"
" Mau aku kup@si kulit mu seperti bawang?" Suara Hana pelan tapi terdengar menyeramkan.
" Ampun kakak, hehe.." Ray langsung bergelayut manja dilengan Hana seperti bocah.
" Tidak perlu, aku sudah terbiasa hidup sulit dan menyedihkan seperti ini, jadi aku tidak butuh pelukan kalian!"
" Gimana kalau aku saja yang memelukmu?"
Dibawah temaramnya sinar rembulan malam, tiba-tiba terdengar suara pria yang ternyata sudah berdiri disamping mereka dengan tatapan tajam. Dan itu berhasil membuat tiga penghuni pondok itu terkejut bukan kepalang.
... "Cinta seorang ayah akan selalu tersembunyi di dalam hatinya dan senyumannya."...
..." Karena Ayah, adalah cinta pertama anak perempuannya, yang tak akan mengkhianati apalagi menyakiti hati anaknya."...
__ADS_1