
...Happy Reading...
Ray tetaplah Ray yang selalu bertingkah cuek dan apa adanya, sifatnya tidak banyak berubah dari dulu, apalagi dikala santai dan posisi diluar kantor seperti ini, namun jika sedang bertugas jangan ditanyakan lagi, dia seolah berubah menjadi Raja hutan yang selalu mengakhiri musuhnya dengan tanpa ampun.
Dan saat kekesalan Ray semakin memuncak karena telah memergoki kakak dan kakak iparnya sedang ingin saling menyosor, Ganesh lebih memilih untuk mengalah saja, karena dia ingin segera membicarakan masalah penting kali ini.
" Sayang, tolong buatkan minuman untuk adek kamu ya!" Pinta Ganesh dengan nada berubah menjadi lembut.
" Woaaahh... apa kamu mempersunting kakakku hanya untuk menjadi pesuruhmu, hah?" Ray langsung memelototkan kedua matanya.
" Ray!" Adelia langsung melirik tajam kearah adeknya.
" Selama ini dirumah kami, tidak ada yang menyuruh kakakku melakukan hal itu." Umpat Ray kembali.
" Ray kamu ini ngomong apa sih?" Adelia langaung mencubit pinggang adeknya.
" Dirumah kami, ada dua asisten rumah tangga yang mengurusi kebutuhan kami, lalu apa rumah sebesar ini tidak ada asisten rumah tangga begitu? payah sekali." Ray semakin tidak terkendali.
" Ray, jangan begitu! hal yang wajar jika suami menyuruh seorang istri, itu akan menjadi ladang ibadah, lagian juga buatin minuman untuk kamu ini, kalau kamu nggak mau minum ya sudah, jangan ngomong tidak sopan seperti itu!" Jiwa seorang kakak sejati langsung muncul dari Adelia.
" Haissh... dasar bocah tengil!" Ganesh hanya tersenyum miring menanggapinya.
" Jadi mau minum nggak nih, emang kamu nggak haus apa, baru pulang kerja kan?" Tanya Adelia kembali.
" Hehe... mau, jus alpukat ya kak?" Pinta Ray yang langsung tersenyum jika kakaknya sudah ceramah dadakan seperti itu.
" Ya sudah, tunggu disitu, kakak buatin ya." Ucap Adelia yang langsung beranjak dari sana.
" Okey, owh iya kak."
" Apalagi?" Adelia kembali menoleh ke belakang.
" Jangan lupa dikasih susu coklat ya kak, yang banyakkan dikit!" Ucap Ray yang memang menyukai minuman itu.
" Lainnya?" Adelia bahkan langsung bersidekap.
" Cemilannya juga boleh deh kak!" Ucap Ray yang membuat Adelia memutarkan kedua bola matanya keatas.
" Ya."
" Ciiih... tadi sok marah, sekarang malah kamu yang jadi merepotkan istriku!" Umpat Ganesh yang langsung berdecih.
" Kenapa jadi aku, kamu sendiri tadi yang menyuruhnya duluan." Ray langsung protes.
" Kamu kan bisa meminta air putih saja, jadi kakakmu tinggal menuang saja ke gelas kosong, selesai kan, nggak pake ribet!" Balas Ganesh.
" Diiihhh... masak iya ngundang orang sibuk dan penting sepertiku hanya diberi air putih saja! nggak modal banget kalian, orang kaya tapi perhitungan, masa adek ipar disuguhi air kosong!"
" Heii... kau ya!"
" Ada apa ini?" Raras tiba-tiba datang melerai perdebatan mereka.
" Hai aunty, aku sudah datang." Ray langsung menyalami tangan Raras dengan sopan.
" Terima kasihya nak, maaf apa aunty menggangu kamu?" Tanya Raras dengan senyum yang mengembang.
" Tidak apa-apa aunty."
" Okey, Ray sudah datang, sekarang katakan apa yang terjadi sampai kalian pulang bulan madu cepat seperti ini?" Raras sudah penasaran sejak tadi.
" Huuft... kemarin saat kami baru saja sampai dan ingin makan diluar, ternyata ada dua orang yang ingin mencoba menyerang kami." Ganesh menjelaskan dari awal kejadian.
" APA!" Teriak Raras.
__ADS_1
" Tapi semua sudah terkondisikan, aku cuma luka saja, sebenarnya aku hanya ingin tahu, siapa dalang dari mereka semua, karena sepertinya mereka mengintai kami, padahal baru saja kami sampai disana."
" Jadi kalian belum sempat ngapa-ngapain?" Entah mengapa pertanyaan itu yang muncul pertama kali dari mulut Raras.
" Kami baru saja selesai mandi dan Adelia mengajak untuk makan diluar."
" Jadi sampai sekarang Adelia masih perawan begitu?" Sebenarnya Raras juga khawatir namun rasa penasarannya tentang hal itu sangat kuat, lagian juga mereka sekarang sudah ada ditempat yang aman pikirnya.
" MOMMY!"
" Pffftthhhh... payah!" Ray langsung memegang perutnya karena menahan tawa.
" Enggak nak, mommy cuma tanya doang sayang, yang penting kalian kan sudah selamat."
" Apaan sih mommy ini, aku cuma belum sempat saja!" Ganesh langsung tidak terima.
" Tapi kamu sehat kan Nesh?" Tanya Raras kembali yang semakin membuat Ganesh meradang.
" Maksud mommy apa?"
" Ya mana mungkin nggak ada waktu gitu loh, kalian menikah sudah dari kemarin, dan perjalanan dari sini ke benua Eropa bukannya sebentar, ditambah lagi itu jet pribadi daddymu ada kamarnya, apa kalian tidak memanfaatkan itu, atau kamu memang---" Pertanyaan Raras menggantung, membuat Ray tidak bisa lagi menahan tawanya.
" Bahahahahahahaha!" Bahkan dia sampai membungkuk karena menahan kram diperut.
" Mom! mommy ini mikirin apa sih!"
" Ya kali aja kamu butuh jamu atau obat apa gitu? kasian kan sampai sekarang istrimu masih belum disentuh!" Raras pun ikut tersenyum sebenarnya.
" Mommy bisa keluar dulu nggak! aku mau ngomong penting sama Ray!" Ganesh sudah menahan malu sejak tadi, apalagi disitu ada Ray.
" Tapi nak?"
" Ini menyangkut tentang kejadian kemarin dan keselamatan keluarga kita juga mom, bisa tinggalkan kami sebentar?"
" Iya." Jawab Ganesh lesu.
" Hahahaha... bapak Ganesh yang terhormat!" Ray langsung mulai mengejeknya.
" Nggak usah mulai luu!" Ganesh langsung melengos.
" Kalau anda membutuhkan seorang dukun urut, aku siap membantu anda, anytime!" Ucap Ray dengan nada yang semakin membuat Ganesh kesal.
" Diam kamu, aku tidak membutuhkan itu, aku cuma perlu bantuan kamu!"
" Kenapa harus aku?"
" Heii... ini menyangkut keselamatan kami, kakakmu juga! apa kamu mau melihat kakak kesayanganmu jadi janda di umurnya yang sekarang ini?"
" Biar saja, dia janda juga masih rasa perawan, tinggal nikah aja lagi, gitu aja kok susah!" Jawab Ray dengan santainya, padahal tangannya langsung mengotak atik ponselnya untuk bertanya keberadaan team nya di kepolisian.
" Dasar bocah gendeng! Luu nyumpahin gw mati sekarang!" Teriak Ganesh.
" Bukan aku ya yang bilang?" Wajah mengejek namun tangannya langsung mencari informasi terkait.
" Kamu mau mati duluan sekarang, hah!" Ganesh berusaha untuk bangkit berdiri dan melempar sebuah bantal ke hadapan Ray yang malah tertawa cekikikan disana.
" Astaga... ada apa ini kak?" Adelia datang dengan membawa satu jus alpukat dan satu gelas susu hangat dan beberapa kue disana.
" Lihat adekmu itu yank, dia tidak mau membantu kita?" Ganesh langsung mengadu.
" Bukan kita, lebih tepatnya kamu saja, makannya jadi orang jangan sok jagoan, bikin banyak orang sakit hati, punya mantan sana sini, jadi banyak yang dendam kan sama anda tuan muda yang terhormat!" Ejek Ray kembali.
" Aku cuma minta bantuan kamu untuk menyelidiki saja!"
__ADS_1
" Kenapa harus aku? aku sedang tidak bertugas sekarang, jadi cari saja petugas lainnya!" Jawab Ray yang cuek, namun terus mantengin ponselnya.
" Karena aku mau kasus ini diselidiki secara diam-diam, aku tidak mau memperburuk keadaan perusahaan daddy yang baru saja membaik!"
" Kalau aku tidak mau? gimana?"
" Hei... aku cuma mau kamu menyelidiki dan menjadi saksi saja, karena aku tidak mau dicap pembunuh nanti kalau tidak ada bukti yang kuat dari kepolisian!"
" Ray... bantuin kakak kenapa sih? kamu kok jadi begini sih?" Adelia ikut membantu suaminya.
" Bantuin nggak ya?" Jawab Ray masih dengan gaya tengilnya.
" Ray... kamu mau minta apa dariku?" Ganesh langsung mengajukan penawaran.
" Apa sih? kamu mau nepotisme dengan seorang anggota kepolisian? owh maaf anda salah orang bos!" Ray langsung jual mahal.
" Astaga Ray, ini secara pribadi!" Umpat Ganesh.
" Aku sudah punya segalanya!" Jawab Ray dengan sombong.
" PACAR?" Ganesh menaikkan satu sudut bi birnya.
" Heiii... jangan bawa-bawa hubungan pribadi dalam masalah seperti ini!"
" Bagaimana kalau aku bantu kamu dapetin hati Hana, kamu menyukainya sejak dulu bukan?" Ucap Ganesh sambil menaikkan kedua alisnya.
" Hmm... dan sampai sekarang bahkan mereka belum jadian kak." Seolah Adelia menjadi kompak dengan suaminya dalam menertawai adeknya sendiri.
" Pffftthhh... Tampanlah konon, hal kacang seperti ini saja lambat!" Sekarang giliran Ganesh yang mengejek Ray.
" Diamlah kalian, aku tidak butuh bantuan kalian, enak saja kalian menyepelekan aku begitu saja!"
" RAY!"
" Bodo amat, aku mau pulang!" Ray langsung melenggangkan kakinya keluar rumah mewah itu, karena sudah mendapatkan info terbaru.
" Astaga dek, tunggu dulu!"
" Tuan muda Ganesh yang terhormat, urusan kita belom selesai!" Ray kembali menoleh ke dalam sebentar.
" SIAP KOMANDAN, kita bisa berunding nanti, masih punya nomor telponku kan, aku akan mengajarimu 1001 cara menakhlukkan hati seorang wanita, asal kamu mau membantuku!" Seolah Ganeshlah pawang dari semua wanita.
" Asssiaaallll!"
" Hei... aku sudah panggil Hana kemari, jangan pergi dulu!" Teriak Ganesh.
" Sudahlah kak."
" Lihat itu adekmu, dia tidak mau menolong masalah kakak ipar dan kakaknya sendiri, adek macam apa dia!"
" Tenang saja kak, aku tahu betul siapa Ray! dialah orang nomor satu, yang paling tidak ingin aku terluka."
" Enak saja, aku yang nomor satu sekarang!" Ganesh langsung tidak terima, saat dia dikalahkan walau dengan adek iparnya sendiri.
" Astaga... salah ngomong lagi aku!" Adelia hanya bisa menghela nafasnya dengan perlahan.
Puas sekali rasanya Ganesh bisa mengejek Ray kali ini, walau endingnya tetap saja, Adelia lebih memuji adek kandungnya ketimbang dirinya, dia pun percaya Raymond pasti akan membantunya, walau dimulut dia bilang tidak sekalipun.
..."Garam tidak pernah nakal tapi selalu dicubit, gula yang diam tetapi selalu diaduk, kopi yang pahit tapi selalu dibilang enak, cabe tidak pernah suka persoalan tapi selalu kena tumbuk, bawang tidak pernah salah tapi selalu di iris-iris."...
..."Itulah hidup selalu penuh dengan pengorbanan, tapi percayalah dibalik pengorbanan selalu ada pencapaian."...
...Setangkai bunga Mawar, Kopi dan teman-temannya ditunggu loh bestieš„°...
__ADS_1