Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
98. Biar Nekad asal selamat


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari-hari berlalu dengan semestinya, agenda meeting dengan klien sering membuat seorang Hanami lelah, ternyata menjadi CEO itu tidak mudah seperti yang orang lain lihat.


" Haish... sekarang aku jadi tahu, kenapa CEO itu rata-rata nikahnya terlambat!"


" Gimana mau pacaran coba, makan siang pun harus dengan klien, terkadang akhir pekan pun ada jadwal meeting darurat karena klien dari luar negri harus kembali pulang ke negaranya?"


" Lalu bagaimana dengan nasipku? aku ini seorang wanita, kalau pria terlambat menikah tidak masalah, nah kalau gw? gimana kalau kurang perawatan, apa nanti bisa jadi penuaan dini?"


" Argh... aku tidak mau jadi perawan tua?"


Hana meletakkan kepalanya dimeja kantor, kepalanya terasa pusing, badannya terasa pegel semua, sepertinya jam tidurnya tidak cukup dalam beberapa hari ini.


" Owh astaga...hari itu kan Ray sudah berjanji mau nikahin aku kalau sudah sembuh?" Hana langsung teringat akan hal itu.


" Dia lupa apa pura-pura lupa ya? aku yang terlalu sibuk atau dia yang memang tidak mau menikah denganku?"


" Awas saja kamu Ray, berani kamu bermain-main denganku, aku tidak akan segan-segan membayarmu dengan kontan biar SAH sekalian!"


Hana langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kekasihnya yang sudah hampir tiga hari ini tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


" Hallo kak, ada apa? sudah makan belom, jangan lupa makan yang banyak ya?" Jawab Ray dibalik panggilan telponnya.


" Kamu ini sebenarnya pacarku atau alarm makanku sih? kenapa setiap aku telpon kamu nyuruhnya makan terus?" Hana pura-pura kesal, padahal hatinya bahagia diperhatikan seperti itu oleh kekasihnya.


" Hehe... kan sudah aku bilang, aku nggak mau cuma melvk tulang doang sayang." Jawaban Ray kembali seperti sedia kala, yang selalu berbicara sesuka hatinya.


" Ciiieeeeeeeeee?" Terdengar suara orang-orang yang kompak menyorakinya.


" Kamu dimana Ray?" Tiba-tiba Hana malah merasa curiga, kenapa terdengar suara orang ramai-ramai didekatnya, terlebih lagi Hana mendengar suara cewek juga disana.


" Aku lagi ngumpul sama rekan-rekan anggotaku dulu, ada yang ulang tahun, jadi sekalian ngajakin makan siang gitu, yaa... itung-itung reuni kecil-kecilan, mereka sedang libur bertugas hari ini." Ucap Ray bahkan suaranya terdengar bahagia saat ini.


Aku capek kerja, berat menahan rindu dengannya, dia malah enak-enakan ngumpul reuni sambil makan-makan, mana ada suara ceweknya juga lagi, dasar berondong nyebelin!


" Owh ya? kapan pulang?" Namun unek-uneknya hanya bisa dia simpan didalam hati.


" Pulang? emang kenapa? aku baru saja sampai kak." Jawabnya dengan enteng.


" Aku lima L Ray?"


" Lima L? apa itu?"


" Lemah, lemas, letih, lesu."


" Kasian sayangku ini, sabar ya? tapi itu tadi baru empat L, satunya lagi apa?" Ray ternyata sempat menghitungnya tadi.


" Love you."


" Pffftttthhh... adohaii kakak sayang, aku jadi tambah kangen kan ini jadinya!" Ucap Ray sambil tersipu saat mendengarnya.


Memang itu tujuanku..


" Ya sudahlah.. banyak temanmu? pengen lihat?" Hana jadi kepo dengan suara-suara yang sedari tadi menyoraki obrolan mereka.


" Kakak mau aku kirim foto?"


" Boleh, pengen lihat temen-temen kamu juga!"


" Okey, kalau begitu aku tutup dulu ya, nanti kalau kakak sudah pulang dari kantor kita telponan lagi, okey?"


" Hmm.."

__ADS_1


" Bye kakak sayang."


Akhirnya panggilan mereka pun berakhir, dan tidak lama kemudian muncullah sebuah notifikasi pesan dari Ray.


" Woaaah... dasar brondong ganjen, sekian banyaknya teman-teman cowok, kenapa pula dia harus duduk diapit oleh polwan-polwan itu?"


" Ckk... mana cantik-cantik lagi, nyebelin banget Ray ini."


" Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, kalau aku tidak bergerak secepatnya, bisa-bisa berondongku ditikung orang ditanjakan!"


Hana mengepalkan kedua jemarinya, padahal foto Ray dan kawan-kawannya hanya duduk lesehan memutar mengelilingi makanan, itu pun berjarak dan mereka terlihat asyik dengan hidangan masing-masing, dan Polwan itu tidak terlihat sedang menggoda Ray, namun entah mengapa Hana berfikirnya lain.


" Aku harus ambil tindakan sekarang juga!" Hana langsung mengambil tas dan kunci mobilnya.


" Cancel semua meetingku siang ini, jadwalkan lagi besok pagi." Ucapnya kepada sang sekertaris letoynya.


Hana langsung beranjak pergi tanpa mau mendengarkan jawaban dari sekertarisnya, walau berulang kali dipanggil namun Hana hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun, itu berarti dia menolak alasan apapun.


Mobil sport berwarna biru dongker itu melaju dengan sangat cepat menembus ramainya jalan raya, hingga tak butuh waktu lama sampai ditempat tujuan.


" Assalamu'alaikum." Hana mengetok pintu yang terbuat dari kayu jati yang terukir dengan sangat indah dan mewah itu.


" Wa'alaikumsalam." Terdengar suara orang menyaut dari dalam.


" Hana? mari masuk nak." Mala langsung menyambutnya dengan senyuman.


Ternyata Hana nekad menemui Mala, dan kebetulan yang menyambut kedatangannya adalah Mala sendiri, karena tadi dia hendak pergi ke taman samping rumahnya.


" Iya aunty, emm... aunty sibuk nggak sekarang, Hana ganggu nggak aunty?" Hana menoleh kanan kiri, sepertinya sepi, karena sudah pasti uncle Carlos berada dikantor kalau jam-jam segini.


" Enggak kok, aunty malah seneng ada temennya, soalnya Adelia juga pergi kerja." Jawab Mala dengan jujur, karena memang hanya ada dia dan dua asistennya dirumah sebesar itu.


" Beneran aunty? soalnya Hana mau bicara sedikit serius sekarang." Hana sebenarnya ragu, namun jika dia tidak nekad, hanya akan ada rasa bersalah terus menerus dihatinya.


" Owh ya? tentu nak, katakan saja ada apa?" Mala langsung menanggapinya dengan serius juga.


" Emm... begini aunty, emm..." Hana masih terlihat kebingungan mau mengawali pembicaraannya seperti apa.


" Katakan saja nak, apapun itu jangan sungkan, kamu sudah aunty anggap sebagai anak sendiri, apalagi kamu kekasihnya Ray kan sekarang?" Mala menggengam jemari Hana yang sudah terasa basah karena gugup.


Iya juga ya, mereka kan sudah tahu hubunganku dengan Ray, dan tidak ada yang menentang kami, berarti setidaknya ada lampu hijau dong ya? maju terus Hana, pantang mundur!


Hana mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, karena dia pun sudah prustasi dengan apa yang menggangu pikirannya.


" Hana mau... emm... mau melamar Ray aunty."


" Uhuk.. uhuk.." Karena terlalu terkejut Mala langsung terbatuk saat ingin menjawabnya.


" Aunty? apa aunty tidak setuju?" Hana langsung mengusap punggung Mala, kedua mata Mala bahkan sampai berair karenanya.


" Hana? aunty ambil minum dulu ya sebentar." Mala langsung mengusap da danya sambil melesat kearah dapur.


Tuh kan... seharusnya aku tidak buru-buru, harusnya aku bilang dulu sama Ray tadi, huft... kenapa aku selalu lambat berfikir kalau sudah berkaitan dengan Raymond sih, apa ini karma karena dulu aku selalu menolaknya.


Hana menutupi wajahnya sendiri, dengan kedua telapak tangannya, dia bingung harus berbuat apa, baru melihat Ray reuni saja pikirannya sudah kemana-mana.


" Hana... minum dulu nak, kamu pasti kepanasan tadi kan?"


Mala ternyata membawa minuman dingin untuk Hana, seolah dia tahu kalau hati gadis itu sedang terbakar api cemburu.


" Maaf aunty, Hana membuat aunty terkejut ya?" Hana terlihat merasa bersalah.


" Sedikit... tapi nggak papa, aunty baik-baik saja kok." Wajahnya sudah kembali tersenyum, bahkan lebih ceria.

__ADS_1


" Kalau begitu Hana datang lain kali saja aunty, Hana pamit saja, maaf sudah menggangu aunty." Hana langsung bangkit dan menundukkan kepalanya kearah Mala.


" Heh? kok sudah mau pulang? katanya mau melamar Ray, begitu aja nglamarnya nih?" Mala langsung menarik lengan Hana.


" Jadi aunty tidak merasa keberatan Hana melamar Ray tadi?" Hana langsung terlihat bersemangat.


" Mana mungkin aunty keberatan sayang, aunty malah seneng dong, cuma---"


" Cuma apa aunty? apa aku perlu membawa mama sama papa kemari?" Tanya Hana yang langsung terlihat exited.


" Bukan begitu, tapi bukannya yang harus melamar itu pihak laki-laki sayang? jadi harusnya Ray yang mendatangi kalian bukan?" Mala mencoba berkata perlahan agar Hana tidak salah paham.


" Ckk... Ray itu ngasih janji manis doang aunty, hari itu dia janji mau melamar aku, kalau dia sudah bisa melihat, nyatanya sampai sekarang tidak ada obrolan tentang itu setelah dia sembuh."


Hana menghempaskan tubuhnya kembali di sofa mewah itu, seolah dia sedang menceritakan kekesalannya kepada ibu dari sang pelaku tanpa rasa takut apalagi rasa malu. Batinnya yang tersiksa membuat jiwa nekadnya sekeras baja, tidak terkalahkan oleh apapun.


Hmm.. ternyata cerita anaknya lebih keren dari pada kisah cinta mamanya, ahh.. aku suka calon menantu yang seperti ini, dia terlihat sangat takut akan kehilangan putraku, itu artinya dia sangat menyayangi Ray, padahal kemarin aku sempat berfikir Hana mau jadi kekasih Ray karena dia hanya kasihan melihat keadaan Ray saat itu, karena dulu kan dia selalu berdebat dengan Raymond kalau sudah bertemu.


Mala malah tersenyum-senyum sendiri melihat wajah Hana yang kesal, Mala merasa bisa bernafas dengan tenang saat melihat keberanian Hana.


" Hana... aunty mau nanya sesuatu boleh?"


" Boleh aunty, katakan saja." Hana langsung kembali menegakkan tubuhnya.


" Sesayang apa kamu dengan putra aunty?"


" Emm... aku tidak pandai mengungkapkannya dengan kata-kata aunty, tapi yang pasti Raymond adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum aku tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi." Ucap Hana sambil menerawang jauh angan-angannya, membayangkan sosok Ray yang selalu menghiasi otaknya, kapanpun dan dimanapun.


" Apa kamu mencintainya?" Mala seolah kembali flashback tentang kehidupan cinta saat dia masih remaja dulu.


" Hmm... aku mencintai Ray, tanpa tahu bagaimana, kapan dan dari mana, aku hanya merasa nyaman saja saat berada didekatnya, dan resah saat jauh darinya." Hana memejamkan matanya sesaat, seolah lega telah mengeluarkan apa yang dia rasakan selama ini.


" Baiklah... kamu lulus jadi calon menantuku." Jawab Mala dengan mantap.


" Maksudnya... aunty menyetujui hubungan kami?"


" Memang sejak kapan aunty melarang hubungan kalian?" Tanya Mala balik.


" Hehe... bukan begitu aunty, maksudnya apa aunty setuju kalau kami melanjutkan ke jenjang yang lebih serius begitu." Ucap Hana sambil tersenyum.


" Tentu saja nak, semakin cepat semakin bagus dong, sini mommy pelvk!" Mala langsung memelvk tubuh ramping Hana, dia pun ikut berbahagia akan hal ini.


" Tapi... Ray belum tau aunty, entah dia setuju apa enggak, aku sering dibuat bingung sama putra aunty itu."


" Kenapa?"


" Bilangnya aja sayang banget, cinta sampai mati, buktinya apa? perkataan doang tanpa pembuktian bukannya sia-sia aunty?" Hana seolah mengadu semua tentang Ray.


" Memangnya Hana bocah, yang bahagia cuma dikasih obral janji manis doang? Hana sudah dewasa aunty, apa jangan-jangan karena Hana lebih tua darinya, jadi dia ragu menikah dengan Hana?" Ucap Hana kembali, raut wajahnya pun terlihat memelas, seolah dia sedang teraniaya dengan keadaan.


" Eherm... aunty punya rencana, mau denger nggak?"


Mala adalah sesosok orang tua yang bisa dijadikan tempat curhat layaknya seorang sahabat, dia memang sangat welcome dengan siapapun, tidak pernah memandang umur.


" Apa itu aunty?" Hana langsung terlihat bersemangat, seolah mendapatkan pendukung.


" $%&@$#€£¥%$₩@$#."


Hana terlihat tersenyum-senyum saat mendengar bisikan orang tua kekasihnya, seolah dia sangat senang dengan rencana yang disarankan untuknya.


" Apa kamu setuju?" Mala menatap wajah Hana yang terlihat berbinar.


" Sudah pasti Hana setuju dong aunty, ide aunty memang briliant, Toos dulu dong aunty!"

__ADS_1


Hana langsung high five ria dengan Mala dan langsung disambutnya dengan tawa yang cukup renyah didalam ruang tamu yang bak istana itu.


..." Satu kata membebaskan kita dari semua beban dan rasa sakit dalam hidup, yakni CINTA."...


__ADS_2