Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
138. Happy Ending


__ADS_3

...Happy Reading...


Dalam beberapa hari ini Hesti hanya sibuk menonton drama Korea yang berpuluh-puluh episode itu, tidak ada yang dia kerjakan disana, hanya makan dan tidur saja, bahkan mungkin berat badannya sekarang sudah bertambah karena dia jarang membakar lemak di perutnya.


" Hadeeh... apa aku melamar kerja jadi TKW ke Korea saja ya?"


" Kan lumayan gitu, bisa ketemu langsung dengan artis-artis di film itu?"


Karena kalau Hesti hanya terbaring di ranjang saja, fikiran dan otaknya hanya fokus kepada Arka, jadi dia memilih menghabiskan waktu menepinya didepan layar TV yang sudah seperti layar bioskop itu.


Dia sudah terbiasa hidup sendiri di Kos, jadi walau dia tinggal sendiri disana, Hesti tidak takut apapun, lagian kalau siang dia ditemani dengan sepasang suami istri yang menjaga Villa itu.


" Hachim... hachim..."


Tiba-tiba tiada angin dan tiada hujan Hesti langsung bersin-bersin.


" Aish... Om Arka sedang apa ya?"


Tiba-tiba pikirannya langsung kembali ke duda tampan yang meresahkan itu.


Tulilut.. tulilut...


" Hallo Del.. ada apa?" Ternyata nama yang tertera disana adalah sahabatnya.


" Hmpth.. emm.. anu.. Hes, cepat berkemas sebentar lagi sopirku akan datang menjemputmu, argh!"


Adelia menelpon Hesti dengan suara yang membuat bulu kuduknya serasa merinding.


" Heh... kamu kenapa? lagi BAB ya? dih... jorok banget sih luu!" Umpat Hesti seketika.


Hesti fikir Adelia sedang menelponnya di kamar mandi, karena suara Adelia terdengar mengej@n dan menahan segala ucapannya.


" Bu... bukan, argh!" Suara Adelia sukit digambarkan oleh Hesti.


" Atau jangan-jangan kamu mau melahirkan ya? bayimu mau lahir prematur Del?" Hesti sontak langsung bangkit berdiri dan bersiap-siap, apalagi tadi Adelia menyuruh sopir untuk menjemputnya.


" Emph... bukan, pokoknya sebentar lagi sopirku datang menjemputmu!"


" Trus kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?"


" Aku lagi dihukum!" Jawab Adelia kembali.


" Hah... dihukum sama siapa?"


" Bye!"


Hesti ingin berteriak, namun dia mengurungkannya karena mendengar suara desah@n Ganesh juga disana.


" Emh.. uh.. ah.. yank!" Jeritnya diseberang sana.


Gila nih orang, apa dia lupa mematikan ponselnya?


Hesti sengaja tidak bersuara, namun tetap menempelkan ponsel ditelinganya sambil mematikan TV disana, agar suaranya terdengar dengan jelas.


" Kak.. uh.. aku sudah nggak tahan kak."


E.. buset, sebenarnya Adelia sedang dihukum apaan sih? masak dihukum suaranya kayak orang keenak@n gitu?


Hesti hanya bisa memeluk bantal kursi dan kembali menghayati suara mereka dari balik ponsel.


" Yank... yank... argh!"


Akhirnya terdengar juga suara lengvhan panjang dari Ganesh.


Ya Tuhan, apa mereka sedang emm...


" Haih... ternyata sampai juga dari belakang ya yank? kalau tahu begini kan aku bisa terus mengunjungi dedek tiap malam dan tidak takut mengencet perut kamu nantinya, hehe..."


" DASAR ADELIA AGHATA MESUM!"


Saat menyadari itu semua, Hesti langsung berteriak dari balik ponselnya dan memilih melempar ponsel itu ke sembarang arah, sampai tanpa sengaja ponselnya pecah berderai menjadi keping-kepingan berserakan di lantai.


Kedua kakak beradik generasi Sultan itu sekarang memang tiada hari terlewatkan tanpa suara desah@n.


Namun tidak masalah, karena mereka memang sudah Sah dimata hukum dan agama, bahkan suara itu yang mampu membuat keluarga semakin harmonis setiap harinya.


" Haduh... ponselnya remuk?" Hesti langsung mengamati ponsel itu.


" E... bodo amatlah, bukan ponsel gue ini, siapa suruh dia berbuat mesum saat nelpon gue, hancurlah ponselnya sendiri." Umpat Hesti yang langsung melenggang pergi ke kamar untuk membereskan baju-bajunya kembali, karena dia sengaja meninggalkan ponsel miliknya di kosan dan memilih menggunakan ponsel Adelia yang tidak dipakai.


Benar saja, tak selang berapa lama, sang sopir sudah berada didepan Villa, tanpa banyak bertanya lagi Hesti langsung memasuki mobil itu, lagian juga dia sudah lima hari disana, mau tidak mau juga dia harus tetap pulang menghadapi kenyataan, karena tidak mungkin dia akan selamanya tinggal di Villa walau mewah dan gratis sekalipun.


" Pak kita mau kemana? ini bukan jalan menuju kosan ku loh?" Saat dia sudah sampai di kota, Hesti langsung panik saat sang sopir melintasi jalan lain.


" Nona Adelia menyuruh saya mengantarkan anda ke suatu tempat." Jawab sang sopir dengan santai.


" Kemana?" Tanya Hesti curiga.


" Nanti nona akan tahu jika sudah sampai."


" Bapak nggak sedang main-mainkan, walau tidak ahlinya saya juga bisa loh pak karate!" Hesti malah jadi ketakutan sendiri.


" Tenang saja, saya tidak akan melukai anda nona." Ucap Sopir itu yang malah terkekeh dibalik kemudinya.


Kok kayak jalan kerumah Om Arka ya?


Tak lama kemudian sopir itu benar-benar memberhentikan mobilnya didepan rumah Arka.


" Loh... kita ngapain turun disini pak? ini bukan rumahku?"Hesti langsung protes.


" Silahkan turun nona." Bahkan sopir Adelia langsung membukakan pintu mobil untuknya.


" Pak... aku nggak mau kesini, ini bukan rumah saya aku bilang."


Untuk saat ini Hesti belum siap jika harus bertemu dengan keduanya.

__ADS_1


" Kenapa kamu nggak mau kesini Hes? katanya mau melamar jadi ibu tiriku?"


Degh!


Jantung Hesti seolah berhenti berdetak, mencoba meyakinkan diri bahwa suara itu bukan suara Dimas.


" Turunlah... ayahku sudah menunggumu!"


Astaga... dia beneran Dimas loh? tapi apa dia bilang tadi? ibu tiriku?


" Ayok... kenapa bengong!"


Dimas langsung menarik lengan Hesti yang malah melongo saat melihatnya.


" Kita ke kamarnya ya? dia sakit sekarang." Ucap Dimas yang sudah terlihat baik-baik saja.


" Dimas, itu kah kamu?"


" Emang siapa lagi?" Tanya Dimas balik.


" Kamu tidak marah denganku?"


" Jelas aku marah, kamu pergi kemana saja, ayahku sampai sakit gara-gara memikirkanmu." Umpatnya dengan nada datar.


" Kamu perduli dengan ayahmu? apa kamu tidak marah lagi dengannya?"


" Jelas aku perduli dia ayahku."


" Dimas."


Saat sudah sampai didepan pintu Arka yang sedikit terbuka itu, Hesti menahan langkah Dimas yang ingin masuk.


" Kenapa?" Dimas langsung menoleh kearah Hesti.


" Maafkan aku ya... aku sama sekali tidak punya niatan untuk menghancurkan hubungan kalian berdua, aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku, sama seperti dengan Adelia." Jelas Hesti mencoba menerima semua kenyataan pahit menurutnya.


" Jadi aku tidak mau kamu salah paham, aku bisa mengerti dan aku akan mundur saja, aku yakin kita pasti akan baik-baik saja, kita tetap bisa berteman seperti dulu lagi." Jelasnya lagi.


" Tolong jangan benci ayahmu ya, dia tidak salah, aku yang terus memaksa untuk masuk kedalam kehidupan ayahmu, tolong maafkan aku."


Hesti bahkan meneteskan air matanya, dia sungguh berbicara tulus dari hati, sedari kecil dia selalu disayangi oleh ibuk dan ayahnya, tidak terbayangkan jika harus saling membenci karenanya, dia pun pernah merasa kehilangan, namun kalau kehilangan orang tua, dia bahkan tidak sanggup untuk sekedar membayangkannya saja, jadi mundur adalah pilihan yang terbaik untuk semua menurut Hesti.


" Hmm... sudah selesai belum ngocehnya, temui dulu ayahku, dia sudah hampir gila karenamu!" Ucap Dimas yang membuat Hesti semakin melongo.


" Tapi kamu?"


" Aku baik-baik saja, jangan lupa suruh ayahku makan ya, walaupun sudah tua dia sering bandel orangnya."


" Dimas?" Hesti seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Aku percayakan ayah kepadamu, jangan membuatku kecewa karena melukainya, aku pergi dulu, bye!"


Hesti tidak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya mampu memandang tubuh Dimas yang perlahan mulai menjauh darinya.


" Dimas... apa kamu disana?" Arka yang tadi tidur terbangun karena mendengar suara orang diluar kamarnya.


" Dimas ayah haus? tolong ambilkan minum untukku?" panggil Arka kembali dari dalam kamarnya karena tidak ada jawaban.


" Mau minum kopi atau susu murninya aja?" Hesti melongokkan kepalanya kedalam kamar Arka.


" Wah... aku sedang berhalusinasi ini, apa demamku belum turun ya?" Arka malah memejamkan matanya berulang kali seolah tidak percaya dengan orang yang dia lihat.


" Ckk... om ini, jadi nolak ini dikasih susu murni, ya sudah biar dihabiskan sama si calon dedek aja nanti." Hesti langsung berjalan mendekat dengan segala banyolan gilanya.


Sebenarnya dia sangat rindu, namun dia tidak berani mengatakan itu, akhirnya membanyol adalah salah satu cara agar dia tidak canggung menghadapi orang spesial dihatinya.


" Hesti, apa itu kamu sayang?" Arka mengucek kedua matanya berulang kali.


" Emang Hesti yang Om kenal ada berapa?" Hesti langsung duduk ditepi ranjang milik Arka.


" Sayang!"


Arka langsung menarik dan memeluk tubuh Hesti dengan erat tanpa memperdulikan selang infus yang masih menempel di tangannya.


" Siapa yang om panggil sayang?" Ucap Hesti sambil menahan senyuman.


" Hesti... kamu kenapa?" Arka langsung terlihat lesu kembali.


" Nggak papa, aku baik-baik saja kok." Jawab Hesti dengan tenang.


" Apa selama beberapa hari ini kamu sudah bisa melupakan Om, dan menemukan pria lain di luaran sana?" Raut wajah Arka kembali muram seketika.


" Maksud Om apa sih?"


" Apa kamu selingkuh dibelakang aku?" Arka melepas pelukannya dan menatap dengan tajam kedua mata Hesti.


" Apaan sih Om, percayalah.. aku nggak akan selingkuh, kecuali Tuhan menciptakan kamu lebih dari satu."


Eaaa!


Guratan senyuman dari wajah pucat Arka langsung kembali terlihat disana.


" Ini baru calon istri Om." Arka kembali memeluk Hesti dengan erat dengan lega, ketika ketakutannya tidak jadi kenyataan.


" Emang siapa calon istri Om?" Ledek Hesti kembali.


" Si Tukang Gombal!" Jawab Arka cepat.


" Siapa itu, aku nggak kenal." Hesti berontak ingin melepaskan pelukan dari Arka namun tidak bisa, ternyata dalam keadaan sakitpun kalau soal peluk memeluk ternyata Arka ahlinya.


" Diam dulu, biarkan seperti ini, Om kangen sama kamu sayang."


Bahkan air mata hangat menetes dipipi Arka, selama beberapa hari ini dia sungguh kehilangan sosok Hesti, entah bagaimana dia harus melalui hari-harinya tanpa Hesti pikirnya, itulah mengapa dia langsung drop kesehatannya.


" Cih... aku memang ngangenin dari dulu kan Om?"

__ADS_1


" Hmm." Jawab Arka yang hanya bisa menggangukkan kepalanya dengan senyum yang merekah.


" Kok nangis sih, pusing ya kepalanya? Om sakit apa sampai harus di infus segala sih?"


Hesti akhirnya membawa kepala Arka kedalam pelukannya sambil mengecek suhu dikeningnya.


" Sakit menahan rindu."


" Ceileh... om bisa aja!"


" Wanita itu memang menyebalkan ya, di mulut saja dia koar-koar bilang cinta, bilang sayang, namun tidak bertemu sampai hampir seminggu saja dia baik-baik saja, malah tambah gemoy begini loh?" Arka menengadahkan wajahnya dan mencubit pipi Hesti yang memang imut.


" Aku juga kangen kali Om." Jawab Hesti dengan hati yang berbunga-bunga, menjadi orang spesial memang menyenangkan pikirnya.


" Bohong!"


" Beneran loh." Hesti langsung menempelkan pipinya dikepala Arka dengan gemas.


" Hmm... aku nggak tahu lagi jika kamu tidak kunjung datang kemari."


" Kenapa emang?" Tanya Hesti sambil terus mengusap kening Arka yang memang masih terasa hangat.


" Ditinggal sehari tanpa kabar darimu, Om masih bisa terlihat biasa-biasa saja. Ditinggal hari kedua, om mulai gelisah nggak selera mau makan. Ditinggal hari ketiga Om semakin terpuruk dan sama sekali tidak bisa menelan makanan apapun."


" Dan ditinggal hari ke empat, om pingsan! apa kamu bahagia sekarang melihat om terluka seperti ini?"


Cup


Hesti langsung mengecvp sekilas bibir Arka yang mulai bawel.


" Lagi." Ucap Arka dengan ekspresi datarnya.


Cup


Hesti menuruti saja permintaan Arka karena dia merasa bahagia saat mendengar Arka tidak bisa berpisah dengannya.


" Kurang!"


Cup.. cup..


" Masih kurang lagi!"


Hesti langsung mendorong perlahan kepala Arka sampai jatuh diatas bantal dan langsung mulai mengeksekusinya.


Pertama hanya kecvpan hangat saja, namun lama kelamaan dia semakin nyaman disana, kemudian lidah mereka saling membelit, saling menyalurkan rasa rindu karena sudah hampir seminggu tidak bertemu, mereka menikmatinya sampai lupa waktu dan saat tangan Arka tanpa sadar menjalar ke bagian bawah, barulah Hesti kembali kedunia nyata.


" Stop Om, walau ini terlihat menggiurkan, namun kita belum halal, nanti aku dimarahin sama ibuk, tau sendirikan ibuk galak banget orangnya? hehe.." Hampir saja dia kebablasan.


" Maaf... om yang salah, om terlalu terbawa suasana." Arka terlihat mengigit bibiirnya sendiri karena menahan malu.


" I love you Om."


" Me too... jangan pernah mencoba punya pikiran untuk pergi dari Om ya sayang, Om tidak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran kamu, aku tidak bisa tanpamu Hesti."


" Benarkah?" Ledek Hesti seolah tidak percaya.


" Kita nikah yuk?"


" Kapan?" Jawab Hesti sambil mengusap rambut Arka perlahan penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


" Besok mau?" Ucap Arka dengan sambil memeluk pinggang Hesti.


" Jangan...! besok itu hari minggu." Jawab Hesti dengan wajah serius.


" Kenapa emangnya?" Tanya Arka yang langsung terheran, biasanya kan pernikahan itu memang meriah kalau hari libur pikirnya.


" Ada acara Doraemon nanti, kalau sekarang aja gimana?" Jawab Hesti yang membuat Arka tergelak dengan lepas.


" Bahahaha... Aaaaa... om kangen banget sama kamu yang kayak gini sayang!" Akhirnya mereka kembali berpelukan dengan mesra.


Dan ternyata Dimas sudah berdiri mematung didepan pintu kamar ayahnya, sambil melihat gelak tawa mereka didalam sana.


Dia terpaksa harus kembali kedalam kamar ayahnya karena kunci mobilnya tertinggal dikamar Arka.


Namun anehnya tidak ada kesedihan yang tercipta, dia ikut tersenyum saat melihat kemesraan mereka berdua.


Dan disaat itulah Dimas menyadari kalau dia hanya suka karena kagum dengan Hesti bukan suka karena cinta dengannya, buktinya hatinya baik-baik saja sekarang.


" Semoga kalian bahagia, langgeng saklawase, sampai maut memisahkan."


Akhirnya Dimas memilih pergi menggunakan taksi saja, meninggalkan ayah dan wanitanya yang sedang bermesraan didalam sana.


Banyaknya kejadian membuatnya tersadar, bahwa menjadi sabar dan ikhlas itu adalah harus, meskipun berat untuk dilakukan.


..."Berani menghadapi kenyataan adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membuang kekhawatiran."...


..."Makin berusaha mengikhlaskan, makin tenang perasaan, makin yakin Allah memberikan yang terbaik di masa depan."...


..."Selalu semangat dan ikhlas menghadapi hari ini karena mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan kita."...


...END...


HAI BESTIE... AKHIRNYA KISAH "TIGA GENERASI SULTAN" SUDAH SELESAI YAA...


Author sudah siapkan novel terbaru yang tak kalah SEMLEHOT yaa☺


Siapkan Iman dan Imin kalian, karena banyak adegan πŸ”žπŸ”ž plus-plus disana🀭


Besok akan tayang tanggal 1 Mei langsung 20 episode ya ( Dari pagi sampai jam sepuluh an)


Sampai bertemu di Novel Author selanjutnya.


Covernya seperti dibawah ini ya πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_1


SEE YOU AGAIN...😘😘😘


__ADS_2