
...Happy Reading...
Dengan sigap Arka langsung mengemudikan mobilnya dan mengaktifkan GPS dari ponselnya, karena dia memang belum pernah pergi ke daerah kampung Hesti.
" Astaga.. pantesan ponselnya nggak aktif, nggak ada sinyal di daerah ini."
Arka terlihat gusar karena jaringan di ponselnya pun hilang, Gpsnya pun tidak bisa berfungsi dengan baik jadinya, akhirnya dia memilih turun dan bertanya alamat Hesti dengan warga setempat.
" Owh... ini masih lumayan jauh mas, desa di belakang bukit sana." Ucap Warga yang Arka tanyai.
" Kalau begitu terima kasih pak."
" Sama-sama." Jawab mereka dengan ramah.
" Ya ampun Hesti? masih baik kamu tinggal di kota, kalau kamu tinggalnya disini bisa gila aku menahan rindu." Umpat Arka kembali meneruskan perjalanannya.
Setelah beberapa jam berlalu, ada seorang anak sekolah yang dengan baik hati mau menunjukkan rumah Hesti disana.
" Om... rumah mbak Hesti ada diujung sana, pokoknya om jalan terus saja, rumah yang paling besar itulah rumahnya, rumahku masih harus jalan naik keatas lagi." Ucap Anak itu.
" Terima kasih yak dek, mau om anterin sekalian sampai rumah?"
" Nggak usah om, mobil sulit lewat ke sana."
" Baiklah kalau begitu, ini buat uang jajan kamu ya, terima kasih banyak sudah bantu om, belajar yang rajin ya."
" Yeay... makasih om." Anak itu langsung berlari dengan ceria sambil melambai-lambaikan dua uang bergambarkan duo bapak-bapak.
Dengan senyum yang mengembang Arka jalan melalui jalan setapak, mobilnya dia parkirkan dipinggir jalan utama, tidak lupa dia rapikan kemeja miliknya, untung dia tadi memilih menggunakan pakaian yang rapi, jadi dia terlihat pede saat bertemu calon mertua nanti.
Namun saat dia sampai didekat rumah paling ujung, dia terpaku ditempat, kakinya serasa melemas, lututnya tiba-tiba sakit, jiwanya seperti terkoyak, dan kepalanya pun langsung berdenyut.
Kenapa ada Tenda Biru?
" Astaga... apa dia benar-benar dijodohkan?"
" Ya Tuhan... baru saja aku ingin memulai kembali, satu cobaan saja belum terlewati, kenapa sudah ada cobaan berikutnya?"
Arka langsung menyandarkan tubuhnya disebuah pohon besar, dan lama-kelamaan tubuhnya melorot dan berjongkok ditanah.
Hesti.. katanya kamu cinta dengan Om, kenapa kamu tidak mau berjuang dulu bersama om?
Lama kelamaan bahu Arka terlihat naik turun, tangannya gemetar, air matanya pun mengalir dengan deras, akhirnya dia sembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya.
" Ya Tuhan... kenapa aku harus merasakan kesakitan karena cinta, untuk yang kedua kalinya?"
" Kenapa harus sesakit ini?"
" Padahal aku sudah jatuh hati dengannya, jatuh sedalam-dalamnya, kenapa harus berakhir seperti ini?"
" Hesti... kenapa kamu jahat sama Om?"
" Hesti... om nggak rela kamu tinggal pergi bersama pria lain."
" Arrrgghhh!"
Arka menjerit sekuatnya, bahkan ada beberapa orang yang sempat menoleh kearahnya, namun karena mereka tengah sibuk melakukan kegiatannya dirumah Hesti, jadi mereka mengabaikan Arka begitu saja, karena jaraknya memang cukup jauh juga.
Saat ada beberapa motor yang lewat dan menklakson dirinya, dia mencoba bangkit dan mengusap air matanya.
Dengan jalan yang tertatih-tatih Arka memilih kembali ke dalam mobilnya dan menumpahkan air matanya kembali dengan meletakkan kepalanya diatas stir mobil.
Sedangkan rumah hesti memang ramai orang, canda tawa terdengar riuh renyah disana.
__ADS_1
" Hesti... beliin ibu jahe sama susu diwarung ya, yang banyak, ibu mau buat wedang jahe."
" Siap buk!"
" Pakai motor biar cepet!"
" Siap ibu Nyai."
" Nggak usah jajan, nanti kelamaan!"
" Astaga ibuk, Hesti sudah dewasa buk, pake acara ngomongin jajan lagi, tapi somay mang Engking masih jualan nggak sih buk?"
" Cepat berangkat sana!" Teriak ibu Hesti.
" Astaga... jangan galak-galak! kasian nanti calon menantu ibu ketakutan!"
" Heleh... kayak ada yang mau aja sama kamu, dari dulu jomblo aja terus, yang lain Lebaran pulang bawa calon suami, kamu pulang cuma bawa kue doang!" Umpat Ibu Hesti sambil mendelik kesal.
" Dasar ibu bawang merah, BYE!"
Hesti memilih mengambil kunci motornya dan berlalu pergi daripada harus mendengar ocehan ibunya itu.
Namun saat dia ingin memasuki jalanan utama, tanpa sengaja dia melirik mobil yang parkir dipinggir jalan.
" Mobil siapa tuh? apa kehabisan bahan bakar ya?" Karena memang jarang ada mobil yang berhenti disana.
" Tapi kayak aku kenal sama mobilnya?" Hesti kembali memundurkan motornya, dan melirik kearah plat mobilnya.
" Astaga.. apa dia om Arka? atau mobilnya dicuri orang? tapi ngapain parkir didekat rumahku?"
Akhirnya Hesti menstandarkan motornya dan berjalan mendekat kearah mobil itu.
Tok.. tok..
" HESTI?" Arka langsung membuka pintu mobilnya.
" Om Arka ngapain disini?"
" Sayang..."
Arka langsung memeluk tubuh Hesti yang mematung ditempat tanpa memperdulikan sekelilingnya ada yang melihat atau tidak.
" Om kenapa?" Hesti mengusap perlahan punggung Arka yang bergetar.
" Hesti.. kenapa kamu tega sama Om, katanya kamu sayang sama om kan?"
" Iya.. tapi..."
" Trus kenapa kamu nggak berjuang dengan hubungan kita? apa kamu sudah menyerah begitu saja?"
" Maksud Om gimana sih?"
" Hesti, kalau kamu benar-benar cinta sama Om, dan kamu mau menerima Om apa adanya, Om sudah siap memintamu kepada orang tuamu, tapi tolong... tunggu Dimas pulang, mau bagaimana pun dia anak Om sayang.."
" Iya aku ngerti Om, tapi..."
" Kalau begitu antar saja sekalian, aku ingin menemui orang tuamu?"
" Iya... tapi apa harus sekarang?"
" Kapan lagi, sebelum semuanya terlambat Hesti, aku tidak mau hubungan kita berakhir sampai disini saja."
Arka langsung menarik lengan Hesti berjalan tergesa-gesa menuju halaman rumahnya yang masih banyak orang.
__ADS_1
" Mana ibumu?" Tanya Arka dengan wajah yang masih memerah.
" Besok aja kali Om, aku masih libur kok sampai lusa."
" Enak saja, Om tidak akan membiarkan kamu dimiliki orang lain, selain Om!"
Arka tidak ingin cintanya kembali dimiliki orang lain karena keterlambatan dirinya.
" Emang dimiliki siapa?"
" Ya orang yang dijodohkan orang tuamu?"
" Dijodohkan? maksud om gimana?"
" Kapan acara Ijab Qobulmu, kenapa sudah dipasang Tenda Biru didepan rumahmu!" Umpat Arka dengan emosi yang membara.
" Hesti... mana jahe sama susu pesanan ibuk!"
Tak lama kemudian muncullah ibu-ibu paruh baya yang langsung memicingkan kedua matanya saat melihat tangan putrinya digandeng dengan erat oleh seorang pria.
" Om Arka, ini tidak seperti yang Om fikirkan, aku bukannya di...."
" Itu ibumu ya!" Arka langsung menarik lengan Hesti mendekat kearah wanita itu dengan semangat menggebu tanpa memperdulikan ucapan Hesti.
" Hesti... siapa dia?"
" Ibu maaf sebelumnya... tapi saya mencintai anak ibu setulus hati." Ucap Arka yang membuat Hesti menutup mulutnya yang tiba-tiba menggaga.
" Apa? mencintai kamu bilang?" Ibu Hesti langsung menyibakkan rambutnya dan menajamkan telinganya.
" Om... dengerin dulu penjelasan aku!" Hesti langsung berbisik disamping telinga Arka.
" Apa sayang... pokoknya aku nggak mau kehilangan kamu kali ini!"
" Om.. aku bukannya mau menikah?"
" Lalu Tenda Biru itu?"
" Itu Tenda TPS, tempat pemungutan suara, bapakku jadi ketua panitia pemilihan LURAH!" Ucap Hesti sambil menekankan kata Lurah disana.
" HAH?" Arka tak kalah panik mendengarnya.
" Hei kamu... tadi kamu bilang apa? Mencintai anak gadis saya? sini-sini... kita ngobrol didalam!" Ucap Ibu Hesti sambil menjentikkan jarinya ke arah Arka.
" Habislah kamu Om!" Ledek Hesti sambil menahan tawa.
" Hesti.. apa ibumu galak?"
" Woah... bukan lagi om!" Hesti memasang wajah seriusnya.
" Kalau ayahmu?"
" Apalagi si bapak, waaarrrbyasaahhh!" Kalau soal mendramatisir suasana, Hesti memang jagonya.
" Hes... kalau Om pulang duluan gimana?" Wajah Arka tiba-tiba melemas.
" Woi... masuk kalian berdua!"
Akhirnya terdengar suara jeritan ibu Hesti dari dalam, yang membuat Arka menghirup udara disekitar rumah Hesti sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan mental dalam menghadapi calon mertua.
... "Di balik takdir-Nya, lebih baik menunggu dalam iman. Di balik rahasia-Nya, lebih pantas berikhtiar dalam perbaikan. Dan di balik rahman-Nya, selalu menitip rindu dalam doa." ...
Jangan lupa jempolnya ya bestie, kita kasih kebahagian dulu buat bang duren sama Hesti ya?
__ADS_1