Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
50. PENCURI


__ADS_3

...Happy Reading...


Cup...


Dunia seakan berhenti berputar sesaat, namun angin terasa berhembus perlahan, mendinginkan hati dan amarah yang seakan memanas, matahari seolah bersinar terang memancarkan cahayanya, bunga-bunga bermekaran mengeluarkan aroma yang menenangkan hati dari pikiran seorang Raymond, saat sesuatu yang mungil dan kenyal itu menempel di bi birnya yang tiba-tiba bergetar di detik-detik setelah kejadian itu.


Andai dia punya alat atau mesin untuk mengulang kembali waktu beberapa detik yang lalu, sudah pasti dia akan mengabadikan moment terindah hari ini.


Entah kerasukan setan dari mana Hana bisa melakukan hal gila seperti itu, dia pun tidak percaya dengan apa yang baru saja dia perbuat, seolah ide itu mengalir begitu saja, saat melihat bi bir tebal itu seolah mengomel terus menerus tanpa henti kepadanya.


Apa ini mimpi? owh tidak, ini kenyataan Gusti...


" Astaga... heiiii... PENCURI!" Umpat Ray yang beberapa detik baru tersadar setelahnya, dia seolah seperti terhipnotis saat itu.


" Aunty... kamu dimana!" Ternyata Hana sudah berlari duluan mencari Raras saat Ray masih belum tersadar dari indahnya dunia.


Hana bahkan memukul kepalanya sendiri sepanjang turun dari anak tangga karena menahan malu yang teramat sangat.


Argh... apa aku sudah gila?


Kenapa aku melakukan hal itu?


Aku tadi menciumnya duluan?


Astaga... dimana harga diriku sebagai wanita, kenapa aku melakukannya !


Mama... bagaimana ini?


Aaaaa... bodoh... bodoh... bodoh... bodoh !


Beberapa umpatan dari Hana yang dia tujukan untuk dirinya sendiri berbaris sudah di pikirannya, ingin sekali rasanya dia berenang menyeberangi Lautan yang luas agar tidak berpapasan dengan Ray untuk saat ini.


" Ada apa sih? kenapa kalian ribut-ribut disini?" Ganesh yang baru saja selesai minum obat ditemani sang istri tercinta langsung keluar kamar untuk memeriksanya, dia masih menggunakan kursi roda untuk sementara ini, karena jahitan lukanya belum begitu kering dan masih terasa sedikit nyeri.


" Hei... kakak!" Teriak Ray ikut berlari menuruni tangga.


" Ray ada apa? aku disini!" Teriak Adelia dari depan kamarnya.

__ADS_1


" Heh... bukan kakak Adelia lah!" Umpat Ray yang langsung berhenti ditengah-tengah tangga dan mendongak keatas.


" Jadi kakak siapa? apa kamu mencariku?" Giliran Ganesh yang bertanya.


" Hah... kalian berdua itu tidak penting!" Ucap Raymond yang kembali berlari menuruni tangga seolah mengacuhkan mereka berdua, namun saat dia masih berada dipijakan tangga paling bawah, tiba-tiba dia kembali berlari menaiki tangga menuju kearah kedua kakaknya.


" Kenapa lagi tu bocah, nggak jelas banget!" Umpat Ganesh yang langsung menyipitkan kedua matanya melihat tingkah Ray saat ini.


Ray sudah seperti orang yang kehilangan akal cerdasnya, karena semua pikirannya dipenuhi dengan bayang-bayang civman pertama dari sang Hanami, wanita yang sudah sejak lama dia taksir itu.


" Owh.. kakak ipar yang terhormat, apa disini ada kamera CCTV?" Tanya Ray yang membuat kedua kakaknya langsung menaikkan kedua alisnya secara bersamaan dan bertanya-tanya.


" Ada." Jawab Ganesh mengiyakan, dengan wajah yang masih terheran-heran.


" Mana... mana? aku minta kak!" Ucap Ray yang seolah bersorak kegirangan, bahkan senyum kebahagiaan diwajahnya seolah sangat terpancar dengan terang.


" Yang dibagian mana? ruang utama, atau dihalaman rumah?" Tanya Ganesh yang mengira itu untuk kepentingan penyidik nantinya, walau menurutnya tidak ada hubungannya.


" Bukan...! tapi yang didepan kamar kakak ini loh, yang di deket tangga ini." Ucap Ray dengan semangat empat lima, bahkan dia memanggil Ganesh dengan sebutan kakak, padahal biasanya juga dia males menggunakan panggilan itu.


" Emang buat apa sih dek? kenapa harus kamera CCTV disini?" Adelia pun ikut penasaran jadinya.


" HAISH..! kenapa nggak bilang sedari tadi kalau CCTVnya bukan disini!" Ray langsung melotot dengan kesal kearah mereka berdua.


Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan kenang-kenangan terindah saat Hana mencivmnya tadi.


" Buang-buang waktu saja kalian, mending tadi buat nyari my Hana, kabur kemana lagi si pencuri hatiku tadi!" Ray kembali berlari menuruni tangga sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang membuatnya bahagia hari ini.


Sedangkan Ganesh dan Adelia hanya bisa saling pandang dan akhirnya menaikkan kedua bahunya masing-masing.


" Kakak... kak Hana!" Ray langsung mempercepat langkah kakinya saat melihat Hana yang ternyata menuju kearah dapur menemui Raras yang terlihat sedang menyiapkan makanan disana.


Mampus gw.. gimana ini ngomongnya? kasih alasan apa ya? bilang aja khilaf yang terdalam ya kan, arghh... tapi masak khilaf kok civman sih, mana di bi bir lagi?


Hana kembali memejamkan kedua matanya dan terus mengumpat dirinya sendiri, bahkan dia memukul-mukul bi birnya yang lancang dan nakal itu, tanpa mau menoleh kearah Ray.


" Kak Hana!" Ray langsung menarik lengan Hana dengan senyuman yang terus menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


" Aunty... lagi ngapain!" Hana langsung menarik paksa tangannya dan langsung memelvk tubuh Raras yang berdiri didepan kompor.


" Heh... Hana, Ray? ngapain kalian disini, sana tunggu didepan saja, aunty buatin cemilan untuk kalian ini." Raras kebingungan sendiri saat kedua tangan Hana melingkar di perutnya, agar dia bisa terbebas dari Ray untuk saat ini.


" Aku mau nemenin aunty saja disini." Jawab Hana yang tidak memperdulikan Ray disana, padahal kedua sorot mata Ray hanya tertuju kepada Hana saat ini.


" Apa kamu sudah bertemu dengan Ganesh tadi?" Tanya Raras yang mengingat kepanikan Hana saat awal mula dia datang kerumah.


" Belum, nanti saja, mungkin kak Ganesh masih istirahat." Jawab Hana yang sebenarnya masih senam jantung sekarang, bahkan dia tidak lagi mengkhawatirkan keadaan Ganesh sekarang, yang dia risaukan adalah bagaimana menghadapi Ray untuk saat ini.


" Kak Hana, kita bicara sebentar diluar bisa?" Ray mencoba menetralkan mimik wajahnya kali ini, agar tetap terlihat tampan dan bersahaja, walau dalam hati sebenarnya dia serasa ingin koprol karena kegirangan.


" Astaga aunty, sepertinya aku nggak bisa jenguk kak Ganesh hari ini, aku lupa masih ada kerjaan dari kantor yang harus aku selesaikan dulu, bye aunty, salam buat kak Ganesh ya!" Hana langsung kembali berlari bahkan melewati tubuh Ray yang langsung terbengong melihatnya.


" Tapi Han?" Raras ikut merasa aneh dengan perubahan sikap Hana yang tiba-tiba.


" Papa, uncle aku pulang duluan ya, bye!" Hana bahkan membuat kedua pria itu melongo, saat melihat kepergiannya yang seperti sedang dikejar depkolektor.


" Kak Hanaaaa... jangan kabur kamu! tanggung jawab dulu ini!" Walau masih dengan seragam lengkap beserta atributnya, Ray masih bisa berlari dengan kencang untuk mengejar Hana yang bahkan terlihat sudah melepas highheelsnya saat berlari keluar rumah.


Aaaaaaa.... mati gw! aku harus bilang apa?


Tubuh Hana melemas saat lengannya berhasil ditarik paksa kembali oleh Ray, kali ini dia mengengamnya dengan erat tanpa mau melepasnya untuk yang kedua kali.


" Hayoooloh... mau pergi kemana kakak sekarang, ada sebab pasti ada akibatnya my Hana, hehe.." Ray langsung menarik dan membalikkan tubuh Hana agar menghadap kembali kearahnya.


Sudah sejak lama Ray ingin berada dalam posisi seperti sekarang ini, menikmati indahnya Ciptaan Tuhan yang dari dulu dia dambakan dengan jarak yang sedekat ini.


Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil, asal kita terus berusaha semampu kita.


..."Cinta itu tak butuh banyak bicara, namun hanya ingin memilikimu hingga akhir usia."...


..."Seseorang yang mencintaimu takkan kehabisan alasan untuk mempertahankanmu dan takkan mencari alasan untuk melepaskanmu."...


TO BE CONTINUE...


Jangan lupa VOTE nya ya bestie🄰

__ADS_1


__ADS_2