Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
47. Butiran Debu


__ADS_3

...Happy Reading...


Kamar tidur yang luas, dengan segala perabot yang mewah dan bermerk pastinya, dan warna dinding kamar yang dicat abu-abu, semakin membuat kesan maskulin bagi Adelia yang memang baru pertama kali memasuki kamar Ganesh selepas hari pernikahan mereka.


" Kenapa sayang? apa ada yang membuat kamu merasa kurang nyaman?" Tanya Ganesh saat melihat istrinya mematung ditempat sambil memperhatikan setiap sudut kamar suaminya itu.


" Owh... tidak kak, tidak ada." Jawab Adelia yang langsung tersadar dari lamunannya.


" Duduk sini yank." Ganesh menarik lengan istrinya agar duduk disampingnya dan bisa memeluk tubuhnya dengan erat.


" Kakak?" Adelia langsung memasang wajah memelas, tubuhnya yang masih terasa kebas kembali ditempelin terus, pria itu sudah seperti magnet dihidupnya kini, asyik nempel saja kerjaannya.


" Katakan saja, apa yang tidak kamu sukai dari kamar ini, aku akan menggantinya, atau mau menambah perabot lain yang kamu butuhkan mungkin? kamu tinggal bilang saja." Ganesh tidak perduli, dia tetap menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.


" Enggak usah kak, begini saja sudah bagus." Jawab Adelia seperti biasa, yang selalu merasa tidak enak hati.


" Sayang... kamar ini sekarang bukan hanya milikku saja, tapi kamar kita berdua, jadi kamu tidak perlu sungkan untuk mengubah apa yang tidak kamu suka, dan boleh menambahkan apa yang kamu perlukan."


" Karena kenyamananmu adalah yang paling utama untukku sekarang dan untuk selamanya." Ucap Ganesh sambil memandang lekat wajah lesu istrinya.


Adelia pun tersenyum, entah mengapa hal sekecil ini pun sangat membuatnya bahagia bahkan menjadi tersanjung, karena dia merasa menjadi sosok yang diistimewakan oleh suaminya.


" Terima kasih kak." Barisan gigi putih Adelia pun akhirnya muncul dan terlihat cantik saat itu.


" Untuk?" Kedua alis tebal Ganesh langsung terangkat keatas karenanya.


Terima kasih karena telah hadir dihidupku, menjadi pelengkap hidupku dan menjadi penyempurna agamaku, aku sungguh tidak menyangka jika kakak memperlakukan aku se istimewa ini, seolah kesalahpahaman yang dulu aku buat, bisa kamu hapuskan begitu saja.


" Untuk semuanya." Adelia tidak mau mengatakannya dengan jujur, karena mungkin hanya akan mengungkit masalah yang sudah terkubur itu.


" Tidak perlu mengucapkan terima kasih denganku, kamu mau menerima aku sebagai suamimu saja, menurutku itu hal yang paling istimewa, bahkan luar biasa."


" Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu sayang, karena tanpamu, apalah artinya diriku yang terlalu banyak kekurangan ini." Ganesh akhirnya menyesali semua sikap cueknya dulu, coba sedari dulu dia bersikap lembut seperti ini dengan Adelia, dia pasti bisa berbicara dari hati ke hati.


Tampan kebangetan, tajir melintir, cerdas dan berkompeten bahkan lulusan dari salah satu kampus terbaik di dunia, seperti ini pun masih kakak bilang banyak kekurangan? lalu bagaimana denganku? yang tidak ada apa-apanya dengan semua itu kak?


" Ngomong apa sih kak?" Adelia terlihat malu sendiri saat Ganesh terus menatapnya, seolah mata yang seperti permen relaxa itu membius dirinya.


Terkadang aku malu sendiri yank, akan semua sikapku yang dulu, karena keegoisanku, karena sikap ketidak perdulianku yang membuat kesalahpahaman kita tak berujung, dan sebelum semua terselesaikan, kamu harus menerima diriku dengan keadaan yang tidak baik seperti itu, dan masih bisa tersenyum walau entah apa yang kamu rasakan, tapi aku berjanji sayang, tidak akan pernah membuatmu terluka kembali, apalagi sampai menyakitimu seperti kemarin, aku pasti akan mengusut tuntas kejadian saat kita pergi bulan madu kemarin, tidak akan aku biarkan siapapun mengusik keluargaku!


" Pokoknya aku tanpamu, seperti butiran debu, hehe!" Ganesh pun menjadi sosok yang berbeda saat berdua dengan Adelia, seolah selalu ingin menyanjungnya, dia berulang kali dibuat jatuh cinta kepada Adelia sang istri tercinta.

__ADS_1


" Apa kakak selalu seperti ini saat berdua dengan mantan kekasih kakak?" Tanya Adelia yang selalu penasaran kepadanya.


" O... tidak, aku tidak pernah begini saat berduaan dengan seorang wanita dikamar." Ganesh langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tapi langsung aku eksekusi yank, nggak sempet buat basa basi lagi, apalagi gombal-gombalan, karena wanita-wanita itu sudah tidak tahan saat baru saja melihat da da bidangku, baru satu kancing saja terlepas mereka sudah mau ngeces, tapi aku janji yank, kamu yang terakhir untukku...


Ganesh tidak bisa jujur dengan hal ini, karena sudah pasti akan terjadi hujan badai, angin ribut, halilintar, kalau sampai dia menceritakan tentang hal yang biasanya terjadi dengannya.


" Aku nggak percaya!"


" Beneran yank, nggak pernah sampai ngobrol manis kayak begini, pokoknya kamu tidak ada bandingannya, kamu tetap yang terbaik dan terindah untukku sampai kapanpun itu." Ganesh mencoba meyakinkan dan mencoba kabur dari kenyataan.


" Ciiih... trus kenapa mereka bisa sampai senekad itu?" Ucap Adelia yang langsung melengos dan berdecih kesal.


" Maksudnya?" Ganesh menangkupkan kedua tangannya ke wajah istrinya dan mengarahkan kembali ke hadapannya.


" Hmmm... pelaku yang kemarin itu pasti ulah suruhan dari mantan kakak kan?" Tanya Adelia, dia sudah menduganya.


" Itu mantan yang mana? mantan yang keberapa?" Tanya Adelia kembali, seolah ingin menginterogasi suaminya.


Karena selama ini dia tumbuh dinegara orang, bahkan tidak sampai mengalami kejadian yang mengerikan seperti itu, dan saat dia kembali ke negara kelahirannya pun tidak pernah sedikitpun terbayang akan hal itu.


" Nggak lucu!" Umpat Adelia.


" Emang siapa yang ngelawak coba?" Ganesh hanya bisa tersenyum saja.


" Kak, jujur deh... mereka suruhan mantan kakak kan?"


" Fuuuh... aku tidak tahu yank." Ganesh mengubah wajahnya menjadi mood serius, karena memang dia tidak tahu sebenarnya.


" Sayang, lupakan saja semua, cukup kamu tahu saja bahwa aku sangat mencintaimu, melebihi apapun yang ada didunia ini." Ganesh mencoba untuk tetap tenang.


" Kakak?"


" Adelia, maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kamu dalam bahaya kembali seperti itu lagi, tapi aku mau minta satu hal darimu."


" Apa itu kak?"


" Untuk sementara rahasiakan dulu kejadian kemarin ya, aku meminta Ray kemari untuk menyelidiki kasusnya secara diam-diam saja."


" Kenapa?"

__ADS_1


" Sayang... aku sudah terlalu banyak mencoreng nama baik keluarga kita, sekarang keadaan perusahaan daddy sudah kembali membaik, kalau aku langsung lapor ke pihak yang berwajib begitu saja, aku takut ada rumor yang tidak baik kembali menerpa perusahaan daddy."


" Jadi aku mohon, untuk sementara ini biar kita saja dulu yang tahu."


" Tapi masak kita harus berbohong juga dengan keluarga kita, aku harus memberi alasan apa saat mereka melihat keadaan kakak seperti ini, aku tidak pandai berbohong kak."


" Kalau dengan keluarga kita tidak perlu berbohong, maksud kakak kita rahasiakan kejadian ini didepan umum, jangan terlihat panik, agar tidak kembali memancing emosi mereka."


" Baiklah, aku mengerti."


" Terima kasih sayang atas pengertianmu."


" Jangan terus menerus bilang terima kasih denganku kak."


" Aku sayang kamu istriku." Bisik Ganesh sambil terus menggoda istrinya.


" Hmm... aku juga." Jawab Adelia malu-malu.


Disaat mereka berdua masih larut dalam perasaan dan mulai memiringkan wajah mereka masing-masing dengan tatapan penuh cinta, tiba-tiba satu botol kaleng minuman kosong melayang ke arah mereka karena tendangan dari seseorang.


Klonteeng!


" Bagus ya kalian! berani-beraninya menyuruh seorang polisi tampan dan sibuk seperti diriku ini, hanya untuk melihat keromantisan kalian berdua!"


" Astaga Ray, kamu ini mengagetkanku saja!" Adelia sampai memundurkan tubuhnya, takut jika kepergok sama mommy mertua, ternyata malah adek kandungnya yang datang.


" Ciiihh... apa aku menggagalkan usaha mesvm kalian berdua, harusnya kalian tutup pintu dulu, apa pintu kamar sebagus ini sudah rusak, hah... payah sekali!" Umpat Ray yang seolah sudah mau muntah saat melihat moment menyesakkan baginya itu.


" Dasar bocah!" Ganesh mencoba menggali kesabarannya dalam-dalam kali ini, karena memang dia sangat membutuhkan pertolongan adek ipar yang selalu pedas mulutnya, jika sudah beradu mulut dengannya.


" Jangan harap kalian mau pamer keuwuwan kalian didepan gw lagi, sory bray nggak ngefek!" Ray mengibaskan satu tangannya dengan cuek, walau sebenarnya bayangan suara saat malam pertama mereka kemarin membuatnya susah untuk tidur dengan tenang.


Orang yang sebenarnya paling Ganesh tunggu-tunggu kedatangannya kali ini sebenarnya memanglah Ray, walau dia mengesalkan dan menjengkelkan, tapi menurut Ganesh hanya Ray lah yang bisa membantunya kali ini. Ganesh tidak ingin mengambil resiko jika tidak segera menyelesaikan masalahnya, walau dengan luka yang masih nyeri terasa di tubuhnya.


..."Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada sabar menerima kenyataan."...


..."Bukan masalah apa yang kau lakukan, tapi kau harus bertanggung jawab apa yang kau ciptakan."...


To be continue...


Jangan lupakan jempol dan hadiahnya ya bestie, karena jempolmu semangatkuh👈

__ADS_1


__ADS_2