Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
66. Berkah Orang Ketiga


__ADS_3

...Happy Reading...


Seluruh rangkaian kegiatan di acara Employee Gathering perusahaan Hana akhirnya selesai sudah, walau sempat ada acara Peter pingsan, namun terlepas dari itu acaranya berjalan dengan lancar.


Peter pingsan karena dia memang punya trauma dan kenangan buruk dengan suara tembakan dan anggota berseragam, namun keadaannya sekarang sudah membaik dan sehat seperti sedia kala.


" Kak, ikut pulang naik mobilku aja ya?" Ray ikut membantu mengemasi barang-barang yang Hana bawa.


Perempuan memang seperti itu, walau hanya menginap dua hari satu malam pun perlengkapan yang dibawa seperti perlengkapan cowok untuk satu minggu.


" Aku bawa mobil sendiri Ray." Jawab Hana sambil terus memasukkan barangnya ke koper.


" Ckk... owh my Hana, apa kamu tidak punya niatan untuk mengganti nama panggilan untukku?" Entah mengapa tiba-tiba Ray mengingat akan hal itu.


" Jadi mau diganti apa? Paijo? bukannya sudah bagus kalau aku panggil Ray?" Hana sama sekali belum kepikiran dengan nama panggilan sayang diantara mereka, bahkan tidak terfikirkan dibenaknya, karena sudah terbiasa menyebut nama sedari dulu.


" Kakak ini nggak ada romantis-romantisnya loh!" Ray mencubit gemas pipi Hana.


" Astaga Ray... hah.. ternyata umur memang tidak bisa dibohongi." Hana hanya tersenyum saja melihat tingkah Ray.


" Maksud kakak apaan coba?" Ray langsung protes, dia hanya ingin seperti pasangan lainnya yang punya panggilan sayang.


" Sudahlah, ayok kita pulang, katanya kamu capek banget!" Hana langsung mengalihkan topik pembicaraan.


" Dasar CEO nyebelin!" Umpat Ray yang masih belum puas kalau keinginannya belum terpenuhi.


" Biarin, mau nyebelin juga kamu suka!" Jawab Hana dengan santainya sambil menarik kopernya keluar dari kamar resort.


" Terpaksa!" Ucap Ray pura-pura.


" Benarkah? emang aku maksa kamu?" Hana langsung menghentikan langkahnya, perasaan dia tidak pernah memaksakan kehendaknya sendiri, pikirnya.


" Walau nggak maksa kan, tetep saja kakak yang merenggut kesucian bi birku, jadi yaa... aku harus tetap menjadi milik kakak, apapun yang terjadi." Ucap Ray yang merasa bangga karena bukan dia duluan yang memulainya.


" Ciih... alasan apa itu! bilang terpaksa lagi aku ganti status hubungan kita menjadi empat tahun yang lalu, mau kamu?" Hana langsung meluncurkan ancamannya.


" Enak aja, orang aku cuma bercanda kok, jangan terlalu serius jadi orang my Hana, nanti rambutnya cepat ubanan loh." Giliran Ray yang langsung mati kutu.


Empat tahun yang lalu adalah masa-masa yang paling ingin Ray lupakan, dia begitu benci melihat Hana yang terlihat menyukai Ganesh melebihi apapun dan tidak pernah menggangap dirinya ada.


" Bukannya lagi ngetrend rambut berwarna putih?" Hana selalu punya stok topik pembicaraan.


" Sekali aja, bisa nggak kak cari jawaban yang nggak ngeselin?" Hanya Hana yang bisa menjadi lawan debat seimbang dengannya.


" Orang sudah dari bawaan lahir kamu itu nyebelin!" Hana kembali menarik kopernya sambil tersenyum.


" Kok jadi aku lagi sih yang jadinya nyebelin?"


Awas aja kamu my Hana, jangan panggil aku Ray kalau nggak bisa buat kamu klepek-klepek..


" Hehe... udah deh, nggak capek apa berantem terus? tadi malem aja kamu bisa jadi manis, mijitin aku sampai ketiduran, sekarang sudah mulai berantem lagi."


Hana mengingat kejadian tadi malam, bukan dia yang memijit Ray, tapi Ray yang malah memijitnya sampai dia tertidur dipangkuan Ray, bahkan sampai pagi mereka tidur dalam posisi seperti itu.


" Aish... pantesan badanku pegel-pegel semua, kak... boleh minta tolong buatin aku kopi dulu nggak? aku masih ngantuk nih, bahaya kan kalau nanti mengemudikan mobil dalam keadaan ngantuk?" Ray langsung pura-pura menguap, saat Hana bercerita tentang kejadian tadi malam, dia jadi punya ide agar Hana mau ikut satu mobil pulang dengannya.


" Okey, aku buatin dalam mug panas sekalian ya, biar nanti bisa sekalian dibawa ke mobil." Kebetulan Hana selalu membawa mug miliknya kalau berpergian jauh, untuk menyimpan air panas.


" Terima kasih kakak sayang." Ray langsung mengedipkan satu mata untuknya.


Dengan cepat kilat Ray berjalan sambil menoleh kanan kiri pergi ke parkiran mobil dan mencari mobil Hana.


" Itu dia mobil my Hana, jangan harap dia bisa hidup berjauhan denganku, hehe..."


Ray langsung mengempeskan ban mobil Hana, tidak tanggung-tanggung, semua dia kempeskan agar ban serepnya tidak berguna jika cuma dua saja.

__ADS_1


Setelah selesai, dia berlari kembali masuk mencari Hana di Pantri Resort, seluruh karyawan sudah pulang karena mereka menggunakan bis dan Hana kemarin lebih memilih mengendarai mobilnya sendiri ke Resort.


" Dari mana kamu? kenapa sampai ngos-ngosan begitu?" Hana menaikkan kedua alisnya saat melihat Ray.


" Habis lari-lari kecil tadi, buat pemanasan biar nggak ngantuk." Jawab Ray sambil tersenyum berjuta makna.


" Kamu kan udah mandi, kenapa baru pemanasan? lihat jadi berpeluh-peluh kan?" Hana mengusap keringat di dahi kekasihnya.


Astaga... aku jadi nggak tega ngerjain my Hana yang kadang-kadang terlihat sweet seperti ini.


" Ini kopinya, ayuk kita berangkat, takutnya sampai dirumah kita kemaleman lagi." Hana langsung menarik kopernya menuju ke halaman Resort.


" Okey, sini aku bawain kopernya, dimana mobil kakak?" Tanya Ray yang pura-pura tidak tahu.


" Paling ujung." Jawab Hana singkat.


Setelah memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil, saat ingin masuk ke kursi pengemudi Hana melihat ada yang aneh dengan posisi mobilnya yang seolah seperti terlihat pendek.


" Apa sih yang salah? astaga Ray!" Teriak Hana sekeras mungkin.


" Hihihi.. i'm so sory my Hana." Ray yang mengamati kekasihnya dari kejauhan terkekeh sendiri jadinya.


" Kenapa kak?" Ray pura-pura terkejut.


" Mobil ban ku kempes semua Ray, gimana dong ini?" Hana menjambak rambutnya sendiri, baru kali ini mobilnya bermasalah seperti ini, padahal dia selalu rajin menservis mobilnya.


" Astaga... pasti bocor ini, wah... bisa kemaleman kalau kita cari bengkel tambal ban, mana semua kempes lagi?" Ray seolah terkejut sambil memeriksa ban yang sebenarnya dia kempeskan.


" Trus gimana dong Ray?"


" Tapi besok aku harus kerja kak, kalau pulang kemaleman bisa remuk badanku kalau kurang istirahat." Dia kembali beralasan agar tidak berlama-lama disana.


" Ray... jangan tinggalin aku disini, ini jauh dari kota Ray." Hana langsung merangkul lengan kekasihnya.


Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri disini my Hana, kamu akan selalu berada disisiku, hehe...


" Ya udah deh, aku pindahin dulu kopernya ya." Hana langsung mengambil koper dan barang-barang penting lainnya di mobil dan memindahkannya ke mobil Ray.


Yes... berhasil, maaf ya kakak sayang, habis kamu ngeyel orangnya, haha...


Dalam perjalanan pulang mereka terus saja bercanda tawa, menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah mereka lalui masing-masing, hingga akhirnya mereka sampai dirumah Ray.


" Kita turun dulu ya kak, aku taruh seragam kotorku dulu kedalam rumah, biar dicuci sama bibi." Ucap Ray yang sebenarnya hanya ingin berlama-lama dengan Hana.


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, setelah itu langsung anter aku pulang." Jawab Hana yang ikut keluar mobil juga.


" Siap kakakku sayang, masuk dulu yuk, tunggu didalam." Ray langsung merangkul lengan Hana.


" Ray?"


" Heh... what's up mbak!" Ray langsung bertos ria dengan seorang wanita yang pernah bekerja sama dengannya, dia terlihat sedang menunggu diteras rumahnya.


" Baik, pak polisi tampan!" Jawab gadis itu dengan senyum yang mengembang, gadis itu ternyata adalah Hesti sahabat akrab Adelia.


Heh? kayak aku pernah lihat gadis ini? tapi dimana ya?


" Nyari kak Adelia ya?" Tanya Ray yang bahkan tidak melihat kekasihnya yang sudah merubah mimik wajahnya.


" Iya, ternyata dia ada dirumah suaminya."


" Nggak nyamperin kesana aja? biar aku kirimkan nanti alamat rumahnya?" Hana bahkan memilih melepas pegangan tangannya karena merasa dicuekin.


" Nggak usah Ray, tadi aku sudah menelponnya, katanya dia sudah dalam perjalanan kemari kok." Jawab Hesti yang terus tersenyum.


" Kalau begitu kenapa menunggu disini mbak? nunggu didalam aja yuk, sambil ngobrol bareng." Jawab Ray dengan santainya.

__ADS_1


Terus Ray... terus saja cuekin aku, biar aku pulang sekalian, ehh... tapi kalau aku pulang nanti mereka malah dua-duaan disini lagi, enak saja! tidak akan aku biarkan itu terjadi.


" Boleh deh, tadi juga sudah disuruh bibi nunggu didalam, tapi sepi nggak ada temennya, jadi aku milih nunggu diluar saja."


" Loh... mommy pergi ya?"


" Mungkin, dari tadi nggak ngelihat aunty Mala, padahal kangen banget mau ngobrol banyak dengan dia, sudah lama nggak ketemu." Jawab Hesti yang semakin membuat hati Hana terbakar.


Apa? ternyata dia sudah lama dekat dengan keluarga Ray, buktinya dia sudah akrab sama aunty Mala, ihh... kamu nyebelin Ray!


Hana semakin dongkol dibuatnya, apalagi saat dia kembali mengingat kejadian disaat resepsi pernikahan Adelia dan Ganesh hari itu, semakin membuat rasa kekesalannya memuncak.


" Ya sudah tunggu saja, kak Adelia bentar lagi juga pasti dateng, udah dibuatin minum sama bibi belum tadi?"


" Udah kok Ray."


" Harusnya ada cemilannya juga dong, tamu istimewa ini, bi... bawain cemilannya buat mbak Hesti ya." Teriak Ray yang semakin membuar Hana resah dan gelisah.


Sial... mana hari itu aku belum sempat nanyain apa hubungan mereka lagi, argh... kenapa aku bisa lupa, sekarang udah terlanjur jadian lagi, masak iya mau putus nyambung gara-gara gadis itu.


Hana memilih duduk di pojokan saat melihat Ray terlihat akrab dengan Hesti.


" Ssstt... udah jadian luu ama tuh cewek? dia yang hari itu kita panas-panasin kan, diacara resepsi kakakmu itu." Hesti berbisik sambil memajukan tubuhnya ke arah Ray, sedangkan Hana yang masih berperang dengan apa yang ada di otaknya membuat konsentrasinya buyar dan tidak mendengar bisikan mereka.


" Iya, betul banget mbak, akhirnya aku bisa memilikinya sekarang." Kedekatakan Ray dan Hana memang ada hubungannya dengan sandiwaranya dengan Hesti kala itu.


" Berarti berkat mbak dong ya?"


" Hehe... ini yang dinamakan berkah orang ketiga, nggak sia-sia aku beliin mbak dua voucher mahal saat itu."


" Kalau begitu biar aku uji coba dulu ya?" Hesti langsung sengaja membuka jacketnya.


" Mbak mau ngapain?"


" Tenang saja, biar aku tes, seberapa dalam perasaan cintanya terhadapmu!"


" Jangan main-main mbak, susah payah loh aku dapetin dia, penuh perjuangan dan waktu yang cukup lama mbak."


" Sttttt... kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja." Hesti ahlinya dalam hal bersandiwara.


" Aku nggak mau dia marah nanti mbak, trus kalau dia mutusin aku gara-gara mbak gimana, aaa... bisa gila aku nanti!" Ray malah yang jadi ketar-ketir sendiri melihat aksi sahabat kakaknya yang satu itu.


" Uhh... kenapa suasananya panas begini ya Ray?" Setelah membuka jacketnya, Hesti lanjut menggulung lengan kemejanya sampai keatas.


" Benarkah?" Ray jadi bingung sendiri, mau ikut meramaikan sandiwara itu atau pura-pura cuek saja.


" Iya loh, padahal ACnya sudah nyala, kenapa gerah begini ya?" Kelakuan Hesti semakin menggila dia membuka kancing kemeja paling atasnya.


Gila ni perempuan, ngapain dia pakai acara buka kancing bajunya segala, mau pamer da da yang tidak seberapa itu apa?


Umpat Hana sambil melirik tajam Hesti dan Ray secara bergantian.


" Hmm... apa aku tambahin lagi suhu ruangannya, biar tambah dingin udaranya?" Ray langsung mengambil remote AC rumahnya.


Woaaaah... apa kamu menikmatinya Ray? awas saja kamu, mending aku pulang kalau begini!


" Ray.. aku mau pulang!" Hana akhirnya bersuara.


" Sebentar ya kak, nunggu kak Adelia sampai dulu, kasian mbak Hesti nggak ada temen ngobrolnya." Ucap Ray yang sebenarnya juga nggak tega saat melihat wajah kusut kekasihnya.


Apa? jadi kamu lebih mentingin dia daripada aku ya Ray!


" SEKARANG JUGA!" Ucap Hana dengan tegas, dia langsung beranjak berdiri dan berjalan cepat keluar dari sana tanpa mau menoleh kearah mereka, karena semakin lama dia berada diantara mereka, semakin panas suasana hatinya.


Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi dia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

__ADS_1


... "Cinta bukanlah sebuah barang yang dapat kita beli, kita tukar maupun kita jual tapi cinta adalah sebuah perasaan yang harus kita nikmati."...


__ADS_2