
...Happy Reading...
Suasana kembali memanas, disaat mereka semua mendengar dari mulut Arka sendiri kalau memang istrinya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa Arka sekarang sudah menjadi duda, bahkan sering dibilang duda keren, karena memang wajahnya yang masih terlihat tampan walau sudah terlihat berumur.
Namun tidak disangka, perbincangan mereka ternyata disimak oleh duo kadal, sahabat yang sudah menjadi saudara dari keluarga Mala, yaitu suami dokter Shella dan dokter Shelly.
" Wait... wait...! ada apakah ini gerangan?" Hendra langsung saja menyela perbincangan mereka disaat suasana terlihat sudah memanas.
" Apa perlu aku ambilkan borgol sekalian? atau pistol mungkin?" Dewa tidak mau kalah kalau sudah bertemu dengan Mala, ada saja ide untuk menjahilinya.
" Baju tahanan sekalian nggak nih?" Hendra langsung menatap wajah Mala dengan senyum yang terlihat mengejek.
" Ide yang bagus itu, biar tambah meriah acara kita malam ini!" Dewa terlihat sangat semangat, padahal mereka baru saja pulang dinas tadi, belum sempat istirahat sama sekali.
" DIAM, DASAR DUO KADAL!" Teriak Carlos dan Mala dengan kompak, padahal biasanya Carlos tidak pernah menanggapinya, namun karena pikirannya sedang kalut karena kedatangan mantan kekasih sang istri dia jadi terbawa suasana.
" Wuidiihh...ngamuk nih Markoneng Wa, siap-siap gencatan senjata ini sih!" Hendra yang selalu waspada jika sudah berhadapan dengan Mala, apalagi kalau sudah melihat lirikan mata yang mematikan seperti itu.
" Dia tidak mungkin mengamuk diacara pernikahan putrinya sendiri Ndra." Dewa bahkan terlihat santai, dia malah berpose dengan memasukkan kedua tangannya dikedua saku celananya.
" Iya juga sih, apalagi dihadapan ehermm... eh ada lagunya kan Wa." Hendra kembali mengeluarkan ide jahilnya.
" Gimana tuh?" Mereka berdua selalu bisa kompak walau tanpa perencanaan terlebih dahulu.
" Bila yang tertulis untukku.. adalah yang terbaik untukmu.. 'Kan kujadikan kau kenangan.. yang terindah dalam hidupku..." Hendra langsung bersenandung ria saat mengingat satu lagu yang tenar dimasa mudanya dulu.
" Sikaaaat maszeeh, hobaah!" Dewa bahkan langsung mengacungkan dua jempolnya ke udara.
" Namun takkan mudah bagiku... meninggalkan jejak hidupmu.. yang t'lah terukir abadi.. sebagai MANTAN yang terindah.." Bahkan Hendra sengaja mengubah lirik lagu dibait terakhirnya untuk menyindir Mala.
Dimas yang tidak mengenali mereka berdua hanya memilih menyimak saja, sedangkan Arka terlihat menahan tawanya, dia tidak marah sama sekali, malah merasa sedikit terhibur karena ulah duo kadal itu.
" SHELLA.. SHELLY!" Teriak Mala saat emosinya sudah menggunung.
" Hehe... iya kak Mala?" Shella dan Shelly langsung menjawab dengan serentak, walau saudara kembar ini sebenarnya merasa malu dengan tingkah suami mereka, namun sebenarnya mereka berdua juga sempat menikmati lagu yang dibawakan Hendra saat itu.
" Amankan suami kalian masing-masing, atau aku formalin mereka berdua dan aku pajang di monumen Yogya Kembali!" Teriak Mala dengan mata tidak beralih dari Hendra dan Dewa yang terus saja menertawakan dirinya.
" Mas... sudah dong, jangan ganggu urusan mereka, kita kasih ucapan selamat dulu buat Adelia dan Ganesh." Shelly langsung menarik lengan suaminya agar pergi dari sana.
" Ayok mas... jangan ikut memperkeruh suasana dong!" Shella pun tidak mau ketinggalan, dia menarik tangan suaminya karena dia juga pernah dengar cerita tentang mantan kekasih Mala yang perpisahannya bisa dibilang tragis itu.
" Aduuh... sebentar dong sayang, ini lagi seru-serunya tahu, kamu naik duluan saja sana, samperin mereka dulu." Hendra bahkan menyuruh istrinya untuk memberikan ucapan selamat terlebih dahulu kepada sang mempelai.
" Iya.. jarang ada pertemuan mantan menegangkan seperti ini loh?" Dewa tetap menolak diajak pergi dari sana, seolah belum puas ngerjain Mala kalau belum melihat dia merengek kepada suaminya.
" Ayaaankk.. lihat kelakuan teman-temanmu itu!" Mala langsung menarik ujung jas suaminya, dia bahkan belum merancang strategi untuk membalas bullyan mereka, karena otaknya masih bercabang dengan kedatangan Arka disana.
" Ini ada apa sih mom, dad?" Saat ketegangan itu terjadi, Adelia dan Ganesh yang melihat dari kejauhan ikut penasaran sendiri, jadi mereka berdua memutuskan untuk turun dan memastikan sendiri apa yang terjadi.
" Nggak papa sayang, kenapa kalian berdua malah ikut turun sih?" Mala langsung mendekat kearah putrinya yang terlihat bingung.
__ADS_1
" Owh iya Adelia, perkenalkan ini ayahku." Dimas langsung menyodorkan ayahnya agar berjabat tangan dengan Adelia.
" Hai om Arka, akhirnya om berkunjung kemari juga, ternyata om lebih kelihatan muda aslinya loh?" Adelia meraih tangan Arka dan menjabatnya, ternyata ini sosok ayah tangguh yang sering diceritakan oleh Dimas.
Ternyata kebaikan hatimu menurun dari Mala nak, tidak pernah bisa melihat orang didekatmu sedih dan kesusahan, Mala... aku sungguh bangga kepadamu, walau kamu tidak bisa menjadi milikku, setidaknya kamu bisa hidup bahagia dengan orang lain dan bisa melahirkan putri yang baik hati seperti Adelia.
Sebenarnya sudah sejak lama Arka ingin bertemu dengan sosok Adelia yang telah banyak membantu penyembuhan psikis putranya dulu.
" Wah... kamu bisa aja nak Adelia, tapi apapun itu, selamat ya nak, semoga kamu bahagia selalu, bisa menjadi istri yang taat kepada suami dan menjadi teladan bagi anak-anak kalian nanti." Arka langsung mengeratkan jabatan tangan Adelia.
" Terima kasih banyak om." Adelia membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.
" Harusnya om yang berterima kasih dengan kamu nak, karena kamu selalu menemani Dimas disaat dia terpuruk disini, maaf om belum bisa membalas semua itu nak." Arka sungguh bangga melihat Adelia, padahal dulu dia sangat berharap gadis itu yang menjadi menantunya, namun dia tahu benar bagaimana kondisi Dimas yang katanya tidak mau pacaran, karena katanya jika dia sudah siap langsung akan menikah saja.
" Apa? selalu menemani? kamu sering nemenin dia yank?" Ganesh langsung kembali terlihat panik saat menyimak obrolan ayah Dimas.
" Apa sih kak, kami kan memang bersahabat sudah sejak lama." Adelia langsung mencubit pinggang suaminya.
" Iya.. bahkan om dulu sempat kepikiran kalau kamu itu calon istri Dimas, karena Dimas tidak pernah mau pacaran katanya." Ucap Arka yang membuat Dimas langsung tersenyum dan melirik kearah Adelia.
Memang iya yah, aku juga berharap begitu sedari dulu, tapi takdir berkata lain, aku ditikung ditanjakan yang terjal dan tidak disangka-sangka.
Ingin sekali Dimas mengutarakan itu semua, namun hanya tertahan ditenggorokan, karena selain tidak mau pacaran, dia juga tahu bahwa sebenarnya hanya Ganeshlah yang memenuhi setiap sudut relung hati Adelia.
" Enak saja om ini, sedari dulu Adelia ini calon istriku om, kami hanya terpisahkan oleh takdir sejenak saja!" Ganesh langsung merasa tidak terima.
" Emang kamu sudah pernah melihat ayah Dimas sebelumnya nak?" Mala malah jadi penasaran sendiri saat melihat putrinya terlihat akrab dengan mantan kekasihnya.
" Kenapa kamu tidak bilang nak?" Mala langsung berbisik dan menyenggol lengan Adelia.
" Tentang?" Adelia menaikkan kedua alisnya.
" Kalu mereka itu ayah dan anak?" Bisik Mala kembali.
" Emang kenapa sih mom?" Adelia masih belum mengerti juga.
" MALA ALEXANDER! woaah... gimana kalau kita sudahi saja acara malam ini!" Carlos sungguh tidak tahan saat mendengar istri dan putrinya yang saling berbisik membahas Arka dihadapannya kini.
" SETUJU.. daddy mertua!" Ganesh langsung menepukkan kedua tangannya ke udara, karena itu juga yang dia harapkan.
" Kamu nggak keberatan?" Carlos seolah mendapat folowers baru malam ini.
" Jelas tidak daddy mertua, lagian ngapain resepsi lama-lama, buang-buang waktu saja, mending kita istirahat saja kan dad?" Ucap Ganesh dengan semangat.
" Heleh... bilang aja kamu sudah ngebet mau unboaxing putriku kan!" Mala langsung menjeling kearah Ganesh yang nempel terus dilengan putrinya.
" Hehe.. sudah malam ini mommy mertua." Ganesh hanya bisa cengar cengir saja saat idenya ketahuan.
" Kalau begitu kami berdua pamit saja." Arka langsung merangkul bahu putranya dan mengajaknya untuk pulang.
" Loh... kok langsung pamit sih Om, kakak dan daddy pasti hanya bercanda saja tadi?" Adelia jadi merasa tidak enak hati, gara-gara ucapan daddy dan suaminya mereka langsung pamit pulang.
__ADS_1
" It's okey Adelia, lain kali kita bisa ngobrol lagi." Ucap Arka dengan tenang.
" Ehermm... ngapain?" Ganesh langsung kembali protes.
" Apaan sih kak!" Adelia kembali mencubit pinggang suaminya karena kesal.
" Tapi mungkin aku memang harus pamit Adelia, soalnya ayah juga baru saja pulang dari Singapore dan belum sempat istirahat tadi." Akhirnya Dimas ikut bersuara, karena dia rasa malam itu sudah cukup untuk menjahili Ganesh.
" Baiklah, terima kasih sudah mau datang ya Mas dan untuk Om, senang sekali bisa bertemu dengan om langsung disini." Adelia kembali membungkukkan badannya dengan sopan.
" Tentu nak, lain kali kamu bisa mampir kerumah kalau senggang." Arka tersenyum dan menggangukkan kepalanya.
" Maaf, nggak ada waktu senggang setelah ini Om." Ganesh langsung menjawabnya duluan.
" Kalau begitu aku pamit Adel, sekali lagi selamat ya?" Dimas sudah bosan sendiri melihat sikap Ganesh yang terlihat posesif seperti itu.
" Siap Mas, hehe.."
" Hmm... apapun dan siapapun yang kamu pilih dalam perjalanan hidupmu kali ini, aku akan selalu berharap yang terbaik untukmu Adel, Tuhan akan selalu melindungi dan menuntun kamu ke jalan yang diridhoiNya, semoga cinta darimu untuknya, dan cinta darinya untukmu, akan menjadi kisah indah dan abadi sampai akhir hayat nanti, selamat datang di rumah cinta terakhirmu, aku turut bahagia untuk kalian, selalu dan selamanya." Ucap Dimas dengan perlahan tapi mengena dihati.
" Thank you so much Dimas, kamu memang sahabat terbaikku." Adelia selalu kagum dengan segala ucapan dan perkataan dari diri Dimas yang selalu bijak dan menentramkan hati.
" Kalian nggak mau pulang juga!" Ucap Mala kepada duo kadal yang malah terlihat asyik menyimak perbincangan mereka.
" Enggak, kita mau ikut nginep di hotel ini." Jawab mereka kompak.
" NGGAK!" Bukan hanya Mala yang menolak, Ganesh pun langsung ikut berteriak.
" Bisa kita lanjutkan acara kita malam ini? masih banyak tamu disana." Simon akhirnya datang disaat suasana sudah kondusif.
" Tentu besan, kita bisa lanjut sekarang!" Setelah rivalnya pulang, sudah tidak ada lagi yang dikhawatirkan oleh Carlos.
" Aisssshhh... masih lanjut lagi ini? jadi kapan acaraku dimulai ini?" Ganesh terlihat keberatan dengan ide kedua daddynya.
" Emang kamu mau ngapain?" Tanya Simon sambil menoleh kearah Ganesh yang terlihat sedang gusar.
" Sudah jam berapa ini dad? WAYAHE... WAYAHE...!" Teriak Ganesh sambil melihat jam tangan mahalnya.
" Ciiih... jangan mimpi kamu bisa Cap-Cep Uhh malam ini!" Senyum Simon langsung menyeringai.
" Aaaaaaaaa... aku sudah tidak tahan lagi dad!" Ganesh seolah merengek dengan daddynya.
" Pergi sono ke kamar mandi, nanti daddy suruh pelayan anterin sabun mandi satu ember kesana!" Jawab Simon sambil tersenyum miring.
" HAHAHAHA...!" Semua keluarga yang berada disana ikut tertawa melihat kekesalan Ganesh malam ini.
Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Tapi terkadang saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan kadang tidak membuat hidup menjadi lebih baik.
... "Ada masa ketika kau memberikan isyarat cinta, namun ada juga saat kau memberikan isyarat untuk pergi."...
..."Tidak semua hal tinggal selamanya di hidupmu, karena mereka hanya datang sebagai pelajaran hidup, untuk mengajarimu arti waktu."...
__ADS_1