Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
61. Nggak Jomblo lagi


__ADS_3

...Happy Reading...


Suara tembakan masih saling bersautan di gedung tua itu, begitu juga di lantai dua ruangan itu, Raymond dan Kendrick masih saling memburu musuh incaran mereka masing-masing, namun pergosipan itupun masih berlanjut seiring bunyi tembakan yang menggelegar.


" Lanjuuutt Ndan!" Ucap Ken setelah melancarkan satu tendangan ke lawan yang berusaha menghabisinya dari samping.


" Saat itu----"


Flashback again...


Hana berjalan terburu-buru agar bisa segera kembali keruangannya, entah mengapa dia merasa tidak tenang meninggalkan Ray sendirian diruangan itu, bukan karena takut ada adegan berbahaya, namun lebih takut kalau para staf-stafnya yang kecentilan itu kembali mendatangi dan menggodanya.


" Ray... Ray kamu dimana!" Teriak Hana saat masuk kedalam ruangannya dan tidak mendapati sosok Ray disana.


" Aissshh.. dia pasti sudah dirayu sama staf-staf wanita yang lainnya!" Hana bahkan mengacak rambutnya dengan kesal.


" Kalau begini siapa yang mau disalahkan coba, ceweknya yang kegatelan atau Ray nya yang mau aja digodain." Hana membanting tubuhnya sendiri diatas sofa.


" Astaga... apa dia ada didalam kamar mandi ruanganku ya? haduwh... bisa malu kesekian kalinya kalau sampai dia mendengarkan umpatanku, bisa besar kepala dia nanti." Hana langsung berlari mengecek kamar mandi diruangannya, namun ternyata nihil, bahkan lantainya tidak basah sama sekali.


" Woah... kamu benar-benar ya Ray! mau cari mati denganku!" Hana bahkan mengepalkan kedua tangannya, seolah mengumpulkan seluruh energinya disana, yang sudah lama sekali tidak dia pergunakan.


" Sudah aku bilang jangan pergi kemana-mana, masih saja keluyuran, sudah ambeyen atau bagaimana itu buntutnya, kenapa tidak bisa menungguku dengan duduk diam disana, bukannya lama pun!"


" Raaaaaaaayyyy!" Hana langsung menggulung lengan kemejanya dengan kesal dan ingin segera mencarinya diseluruh penjuru ruangan kantornya, dengan niat dan tekad menyeretnya kembali keruangannya dengan kekuatan supernya.


Dengan satu kali tarikan saja pintu ruangannya terbuka dengan sempurna, bahkan menimbulkan suara benturan yang membuat sekertarisnya yang baru saja kembali ketempat duduk itu terlonjak karena terlalu kaget.


Duar!


" E.. e... cendol dawet seger lima ratusan nggak pake ketan, ji ro lu pat, tak kintang... kintang eeee..." Sekertaris Hana yang ternyata punya penyakit latah, langsung saja konser dadakan.


" Diam kamu, berisik!" Umpat Hana yang biasanya bahkan tidak pernah marah walau sekertarisnya itu membuat kesalahan.


" Opsh.. iya, aku diam.. diam nona." Sekertaris itu langsung mendekap mulutnya sendiri.


" Kemana perginya Ray tadi?" Tanya Hana masih dengan sorot mata marahnya.


" Sa... sa... saya tidak tau nona, beneran deh." Dia bahkan langsung mengangkat kedua tangannya ke udara karena ketakutan.


" Kenapa kamu bisa sampai tidak tahu, bukannya kamu tadi tidak ikut meeting denganku?"


" Maaf nona, karena tidak ada tugas dan kebetulan jam makan siang jadi saya pergi ke kantin kantor buat makan." Jawabnya dengan jujur.


" Kamu-----" Hana ingin kembali mengomel namun suara dari depan pintu lift ruangan itu langsung membuatnya terdiam.


" Hai my Hana.."


Berrrrrrrrrrrrrrr!


Emosi yang tadinya ingin kembali meluap, seolah tersiram oleh air es dari pegunungan yang menyejukkan hati dan perasaannya.


" Itu dia pak polisi, kemana aja sih pak, kan jadi aku yang dimarahin!" Entah dapat keberanian dari mana sekertaris itu melotot kearah Ray.


" Emang kenapa? ada apa? aku cuma beliin makanan aja buat my Hana, takut kalau sampai sore dia baru selesai meeting kok." Ray mengangkat satu paperbag yang berisi berbagai makanan.

__ADS_1


" Cepat masuk keruanganku Ray!" Hana langsung balik kanan dan masuk kedalam ruangannya sambil menahan malu, karena ternyata Ray pun datang sendiri tidak dikelilingi staf wanita seperti yang ada dipikirannya.


" Astaga, cemburu itu memang buta!" Sekertaris itu langsung kembali duduk dan memangku wajahnya sambil menatap kepergian mereka berdua.


" Kakak mencariku?" Ray meletakkan kotak makanan itu disofa dan memilih duduk di meja kerja Hana sambil menatap wajahnya.


" Buat apa aku mencarimu." Jawab Hana sok jual mahal.


" Trus kenapa sekertaris kakak tadi marah-marah denganku?" Ray semakin menundukkan tubuhnya kearah Hana.


" Entahlah, kenapa nggak kamu tanyakan saja langsung kepadanya." Jawab Hana yang kembali pura-pura cuek.


" Owh... kalau begitu aku keluar lagi deh, mau ngobrol sama mereka." Ray langsung berdiri dan bersiap pergi kembali.


" Jangan pergi!" Dengan refleks tangan Hana langsung menarik lengan Ray.


" Maksudnya?" Tanya Ray sambil menahan senyuman.


" Emm... maksudnya, nggak usah kemana-mana, kita kan belum makan, aku sudah laper." Ucap Hana dengan spontan.


Heleh... bilang aja kakak takut kalau aku digodain staf wanita kakak lagi kan? haha... pokokny kali ini aku harus bisa mengkorek isi hatinya.


" Benarkah? tapi sebelum makan, boleh nggak aku minta nomor staf wanita kakak yang tadi?" Ucap Ray sambil mulai memancing suasana.


" NGGAK! BUAT APA!" Hana langsung kembali tersulut emosi.


" Kenapa sih kak? satu aja ya?" Rengek Ray dengan manjanya.


" Sekali enggak ya tetap enggak, mengerti kamu!"


Ya Salam, setelah kita civman sudah beberapa kali kamu masih berani mengaku jomblo! kenapa sifat menyebalkan dari dirimu tidak pernah hilang sih Ray!


" Sudah aku bilang jangan panggil aku kakak!" Umpat Hana yang sebenarnya ingin meluapkan unek-uneknya namun dia tidak berani.


" Kenapa sih? jadi aku harus manggil apa? SAYANG begitu?"


Serrrr!


Iya... itu lebih enak didengar Ray!


" Eherrm... ya enggak, kan bisa panggil nama saja, aku nggak keberatan kok." Jawab Hana sambil menyembunyikan wajahnya yang mulai terlihat senang.


" Tuh kan nggak boleh juga, masak iya aku panggil nama, bahkan umur kakak dua tahun lebih tua dariku?"


" Nggak usah ditegasin juga kali TUA nya!" Entah mengapa Hana merasa tidak suka.


" Gini salah.. begitu salah, kenapa aku selalu salah dimata kakak, apa kakak membenciku! kalau benci bilang saja benci kak, aku nggak suka dimarahin terus kayak gini."


" Ray?"


" Mending aku mundur teratur saja dari kehidupan kakak, untuk selamanya!"


Mulut mengomel namun kakinya bukan melangkah pergi tapi melangkah menuju sofa di ruangan tersebut, karena Ray memang tidak punya niatan untuk pergi dari sana.


" Ray jangan begitu!"

__ADS_1


" Memang nggak ada lagi yang sayang sama aku, sejak kak Adelia menikah dengan si playboy itu hidupku kurang kasih sayang." Umpat Ray, padahal kenyataanya Adelia masih tetap chatingan dengannya seperti biasa, tidak ada yang berubah, hanya tempat saja yang berbeda.


" Kok gitu sih ngomongnya Ray?"


" Mom sama Dad juga, sudah melupakan aku begitu saja, tau gitu aku terima saja polwan-polwan di kantorku itu, setidaknya masih ada yang menyayangiku sepenuh hati."


" Ray!"


" Aku mau pergi saja!" Ray pura-pura bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya kearah pintu.


" AKU SAYANG KAMU!" Teriak Hana dengan spontan!"


Berhasil! apa gw bilang, sebenarnya dia pasti sudah jatuh cinta denganku, owh my Hana! Tahan.. jangan melvk duluan, tetap jual mahal dulu, biarkan dia yang beraksi!


" Kamu siapa?" Ray langsung mengantongi tangannya yang sebenarnya sedikit gemetaran.


Aaaaaaaa... kenapa aku keceplosan! hancur sudah pamorku, tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur basah, tenggelam saja sekalian!


" Eherm... yaa.. kamu lah Ray." Ucap Hana sambil salah tingkah.


" Sayang aja atau pake cinta?" Ray berjalan mendekat dan kembali duduk disamping Hana.


" Apa sih Ray!" Jawab Hana semakin malu dibuatnya.


" Kak Adelia pun sering bilang sayang sama aku, sebagai kakak? trus apa bedanya coba?" Ray tidak pernah kehabisan cara untuk mengulik hati Hana habis-habisan.


" Ya bedalah, aduh.. gimana ngomongnya ya?"


Yeeesss... nggak jomblo lagi!


" Kalau sulit buat ngomong, langsung praktek aja gimana kak."


Ray langsung menarik dagu Hana dan mengarahkan kewajahnya, perlahan-lahan Ray mengikis jarak diantara mereka, dan tanpa sadar kepala mereka pun sudah saling memiring, Hana pun sudah mulai memejamkan kedua matanya.


Namun ternyata...


" Kita makan yuk kak? keburu dingin nanti makanannya." Ray bahkan menaikkan kedua alisnya tepat didepan wajah Hana.


" Raaaaaaaaayyyyyyyyyyy!"


Selalu begini, Hana selalu saja kalah telak dengan segala tingkah laku Ray kepadanya, namun itulah yang sering membuat hati Hana kelimpungan tak tentu arah dan pada akhirnya luluh dan juga menyerah, bersandar kehati sang berondong polisi tampan itu.


Flashback off


DOORRR... DOORRR... DOORRR!


" Ken! jangan melamun! apa yang kamu pikirkan!" Hampir saja peluru itu menembus lengan Kendrick kalau tidak segera Ray tarik kesamping.


" Aiiiissshh...gara-gara aku memikirkan adegan selanjutnya jadi gagal fokus, argh.. nasip jomblo hanya bisa ngehalu doang!"


Akhirnya mereka berdua kembali berkonsentrasi dalam menyerang musuh, agar segera terselesaikan misi utama mereka.


...“Dengan cinta dan kesabaran, tidak ada yang mustahil di dunia ini”...


Ayo.. ayo... jangan lupakan jempol dan hadiahnya, kopinya jangan lupa, biar seger kedua mata author ini😁

__ADS_1


__ADS_2