
...Happy Reading...
Terkadang dikala hati sudah berpasrah dengan ketetapan-Nya, dan selalu mencoba untuk terus mencoba ikhlas dan berusaha menjadi pribadi yang pandai bersyukur, Tuhan akan datang dengan membawa jalan cahaya-Nya, yang tidak pernah kita sangka sekalipun, untuk menerangi kegelapan pada diri manusia.
Kejadian demi kejadian membuatku semakin kuat, terkadang rasa bersalah dan rendah diri juga sering mendera jiwaku, namun orang-orang disekelilingku selalu berusaha untuk selalu ada untukku, walau aku tahu mereka sering kesal dengan segala tingkahku yang terkadang masih sulit untuk menerima kenyataan yang menimpa diriku.
Namun disetiap masalah yang datang, terkadang selalu terselipkan suatu nikm@t yang tidak pernah aku duga, punya kekasih yang setia dan mau menerimaku dalam keadaan susah itu juga salah satu nikm@t yang patut aku syukuri.
Apalagi beberapa hari yang lalu, dia bahkan rela memberikan kehormatannya untukku, walau mungkin itu terjadi karena sikapku yang sering posesif dan curiga dengannya, namun sesungguhnya aku hanya takut jika harus kehilangan dirinya.
" Kak Hana sedang apa ya? kenapa sudah beberapa hari ini tidak mengunjungiku?"
Pagi-pagi setelah aku selesai mandi dan sarapan dengan bantuan Mommy aku duduk didepan balkon kamarku, sejenak merasakan hangatnya mentari pagi, walau sinarnya tidak terlihat dimataku.
" Kak Hana pasti sedang sibuk, astaga.. seharusnya aku yang harus bekerja keras mencari uang untuk mencukupi segala kebutuhannya nanti."
" Tapi aku bisa apa? aku tidak bisa melakukan apapun untuknya."
Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku dikursi tanpa bisa berbuat apapun, walau mungkin keluargaku kaya raya tanpa aku harus bekerja sekalipun, namun sebagai pria aku adalah calon kepala keluarga, yang tidak hanya mengandalkan kekayaan orang tua saja, karena kebanggaan pada diri seorang pria adalah tanggung jawab dan yang pasti pekerjaannya.
Hidupku memang seolah sudah berubah tiga ratus enam puluh derajat setelah kecelakaan hari itu, dulu setiap orang yang berpapasan denganku selalu menyanjungku, selalu memuji kelebihanku bak ksatria tampan jaman perjuangan, namun sekarang aku hanya ibarat tumbuhan benalu, yang hanya bisa menempel dan menyusahkan orang lain, terutama orang-orang terdekatku.
Terkadang saat aku terbangun dari tidur, aku fikir ini hanyalah mimpi, namun ternyata ini adalah kenyataan yang begitu pahit menyiksaku.
" Ray.."
Terdengar suara daddy dan mommy dari arah pintu, suaranya terdengar renyah, seolah mereka sedang bahagia.
" Iya mom."
" Kita harus bersiap." Mommy langsung membawaku masuk kembali kedalam kamar.
" Bersiap kemana Mom?" Aku pun sedikit terkejut, sudah lama mereka tidak bersemangat seperti ini.
" Hmm... sebenarnya ini berita duka, namun ini juga kabar baik untukmu." Daddy berjalan perlahan mendekatiku dan duduk dengan tangan kokohnya merangkul dibahuku.
" Sebenarnya ada apa mom? tidak terjadi apa-apa kan dengan kak Hana atau yang lainnya?"
Aku langsung panik lah, apalagi mendengar kata berita duka, berarti pasti akan ada kesedihan setelah ini pikirku.
" Kamu ini, apa didalam pikiranmu itu cuma ada nama Hana saja? jangan-jangan kamu lupa siapa yang brojolin kamu ke dunia ini." Mommy langsung terdengar ngedumel sambil sibuk membuka lemari pakaianku, entah apa yang beliau lakukan aku tidak tahu.
" Kan cuma nanya aja mom?"
Walau sesungguhnya memang cuma kak Hana yang sudah menguasai otakku.
" Sebenarnya saat ini siapa orang yang paling kamu sayangi di dunia ini?" Entah mengapa mommy menanyakan hal itu, bahkan nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang cemburu.
Apa mereka cemburu dengan kak Hana? yang benar saja kan.
" Ya jelas kak Hana lah." Jawabku dengan jujur yang semakin membuat suara mommy melengking merdu di ruangan kamarku.
" Tuh kan dad, capek-capek kita buat dia siang dan malam sampai banjir keringat, ternyata dia lebih menyayangi kekasihnya ketimbang kita sebagai orang tuanya." Mommy seolah terdengar mengadu ke daddy, namun daddy hanya menjawab dengan tawa saja.
Tapi sudah bisa aku pastikan daddy pasti memelvk dan mengusap kepala mommyku saat ini, karena cuma daddylah obat mujarab dari segala keluh kesah mommyku tentang apapun itu.
" Sudahlah sayang... lanjutkan kemasi baju Ray, kita harus segera berangkat ke rumah sakit sekarang."
__ADS_1
Suara daddy membuat kedua alisku terangkat, dan bertanya-tanya, kenapa harus kerumah sakit, siapa gerangan yang sakit?
" Memang siapa yang sakit dad?" Akupun jadi penasaran.
" Ada pendon○r mat@ yang rela memberikan kedua mat@nya untukmu nak."
Kata-kata daddy inilah yang aku tunggu-tunggu sedari dulu, akhirnya terdengar juga ditelingaku.
" Alhamdulilah, benarkah itu dad?"
Segala syukur aku panjatkan atas segala Rahmat dan karunia-Nya, yang kini telah Alloh berikan kepadaku dan akhirnya doa-doaku terkabul.
" Iya nak, mas Arka sudah banyak membantu kita, dia bahkan sudah berkonsultasi dengan salah satu dokter ahli yang akan membantu meng○perasi kedua mat@mu nanti nak."
" Lebih tepatnya pamannya yang berjasa, bukan hanya Mas Arka?" Suara Daddy terdengar sedikit kesal saat mengulang nama itu, mungkin masih ada rasa cemburu, tentu saja daddy marah, jika sudah menyangkut tentang mantan, namun semua perlu disyukuri, karena cemburu adalah bumbu-bumbu cinta, asal tidak berlebihan, karena semua yang berlebihan itu memanglah tidak baik.
Kalau sudah tidak ada lagi rasa cemburu, mungkin kata cinta itu perlu ditanyakan kembali. Namun aku salud dengan kelapangan hati daddy, yang tetap rela berhubungan dengan mantan mommy yang daddy rasa paling berat itu, hanya demi kesembuhanku.
" Dad... tapi itu kan berkat kebaikannya juga, kita tetap harus berterima kasih dengannya."
Walau mommy terlihat peduli, tapi aku yakin cinta mommy sekarang hanya tersisa untuk daddyku, tiada yang lain, walau ada guncangan dari mantan yang bahkan menjadi duda, namun cinta kasih dari daddy tidak akan terkalahkan dengan hadirnya sang mantan kembali.
" Mommy, daddy, ayok kita berangkat, paman Arka dan Dimas sudah menunggu didepan." Suara Adelia akhirnya menyelesaikan perdebatan mereka.
Setelah beberapa jam berlalu, Ray sudah siap dibawa ke ruang operasi. Rencananya setelah operasi selesai, akan diadakan pemakaman ditempat kelahiran paman Arka.
Tadi malam paman Arka kritis, dan kembali dilarikan kerumah sakit, namun saat dia hampir menghembuskan nafas terakhirnya, dia tersenyum dan meninggalkan satu wasiat dengan keluarganya.
" Aku ingin tetap bisa melihat putriku, walau tidak dengan tubuhku, maka panggillah anak yang membutuhkan kedua mat@ku itu, satu pesanku... gunakan kedua mat@ku untuk melihat kebaikan, dan bantu aku mengawasi dan menjaga putri kesayanganku, aku ikhlas dan ridho untuknya."
" Kak Adelia, apa kak Hana tidak menghubungimu?" Saat menunggu ruang operasi siap, Ray masih sempat berbincang-bincang dahulu dengan keluarganya.
" Tidak, emang kenapa Ray?" Adelia berjalan mendekat kearah adeknya.
" Owh iya... kakak kan sudah nggak sedekat dulu lagi dengan kak Hana." Ray terlihat sedikit kecewa.
" Apa kamu ingin aku menghubunginya?" Ganesh pun ikut mendekat, dia memang belum sempat menghubungi keluarga yang lainnya, karena kejadian ini sangat mendadak, saat diberitahu mereka langsung buru-buru pergi ke rumah sakit.
" Jangan dulu ada yang memberitahunya, biar aku saja nanti."
Aku sengaja ingin memberikan surprise nantinya, dan ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu sebelum kak Hana tau kalau aku sudah mendapatkan donnor mat@.
" Kenapa sih Ray, tumben biasanya kamu nempel mulu sama dia, sudah bosan kamu dengannya?" Ganesh pun merasa aneh dengan tingkah adek iparnya ini.
" Enak saja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merasa bosan dengannya, semakin hari malah semakin kuat perasaanku terhadapnya, jangan asal bicara kamu Beng!"
Aku tidak terima dong dibilang seperti itu, kalau ditimbangpun perasaanku terlalu berat bahkan overload untuk kak Hana.
" Mau buat surprize lah tuh!" Mommy Mala memang selalu bisa menebak apa yang ada di pikiranku.
" Nggak yakin mom... palingan dia mau ngerjain Hana itu?"
Kakak iparku yang satu ini memang tidak bisa klop denganku sampai kapanpun itu.
" Kak, video call lah dengan kak Hana sebentar."
" Ngapain mau video call, kamu kan juga belum bisa melihatnya dek?"
__ADS_1
" Aku hanya ingin tahu dimana posisi kak Hana sekarang."
" Nggak usah ribet deh, biar aku telpon saja, kalau dia tahu kamu mau operasi sudah pasti dia akan meninggalkan semua pekerjaannya." Kata-kata kak Ganesh terdengar sangat meyakinkan kali ini.
" Sudah pasti, dia kan sangat mencintaiku sekarang."
Kepercayaan diriku kembali penuh, saat mengingat malam-malam mendebarkan dikala itu.
" Percaya diri sekali kamu? jangan-jangan dia cuma kasihan lagi?"
Kakak iparku kembali meledekku, namun aku yakin kak Adelia pasti langsung memarahinya, karena aku mendengar ada suara teriakan dari kakak iparku, kak Adelia memang yang paling tahu sifatku yang gampang ngambek akhir-akhir ini.
Terkadang memang aku sering berpikir kalau kak Hana itu begitu karena dia kasihan denganku, namun setelah aku pertimbangkan berulang kali, keper@w@nan bukanlah bukti dari sebuah rasa kasihan, namun karena cinta. Aku percaya kak Hana memang tulus menyukaiku apa adanya.
" Nggak diangkat Ray, mungkin dia lagi meeting kali ya?"
Kecewa sih, padahal aku pengen banget mendengar suaranya dan tahu keberadaanya di menit terakhir sebelum aku masuk ruang operasi, tapi ya sudahlah, kalau nanti operasi berhasil dan aku bisa memberikan surprize untuknya itu lebih baik.
" Jangan ada yang memberitahu kalau aku sudah operasi nantinya, aku sendiri yang akan memberitahunya."
" Baiklah putraku yang tampan, sekarang kamu harus pindah ruangan dulu."
" Bertahan ya nak, kita semua selalu berdoa untuk kesembuhanmu, semoga operasinya lancar, dan kamu bisa kembali menjadi Ray yang dulu lagi."
Mommy dan daddy menggengam kedua tanganku, seolah menyalurkan tenaga untukku.
Doa orang tua memanglah sangat mujarab bagi seorang anak, mereka layaknya pelita sebagai penerang hidup. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut jalan. Dan sebagai semangat yang menjadi motivasi untuk tetap kuat melangkah maju dan menghadapi segala cobaan hidup dari anak-anaknya.
" Terima kasih mom, dad, kalian selalu ada untukku, maaf jika aku selalu menyusahkan kalian semua."
Tiba-tiba suasana menjadi sendu, teringat akan segala sikapku akhir-akhir ini yang sering down dan marah-marah tidak jelas, karena masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
" Tidak ada yang salah nak, hidup memang tak selalu berjalan mulus sesuai keinginan, ketika kamu jatuh dan terpuruk, ada kami keluargamu yang akan selalu mendampingimu dan selalu ada untukmu, kapanpun itu sayang."
Hangatnya pelukan mommy kembali aku rasakan, dan pelukan itu selalu menenangkan jiwaku, walau pelukan kak Hana lebih terasa menyenangkan bagiku.
"Semangat Ray, kamu pasti bisa sehat seperti sedia kala."
Wanita yang satu ini juga tidak kalah penting dihidupku, dia bahkan rela sedikit mengabaikan suaminya demi menjagaku, dialah kakak perempuanku satu-satunya.
Lagi dan lagi kak Hana kembali menguasai pikiranku sebelum kesadaranku mulai hilang karena obat bius yang telah disuntikkan ke tubuhku.
" Kak Hana.. tunggu kejutan dariku."
" Aku sangat merindukan wajahmu, senyummu dan segala tentangmu."
" Tunggu aku, agar aku bisa menggandengmu berjalan kembali untuk melihat indahnya dunia ini, hanya berdua denganmu."
Dan setelah itu aku sudah tidak ingat apapun lagi, harapanku kali ini, aku hanya ingin segera melewati cobaan terberat dalam hidupku, dan bisa melihat senyuman orang-orang yang aku cintai lagi.
Dalam perjalanan hidup seseorang, selalu ada berbagai momen yang datang dan pergi. Setiap peristiwa yang kamu temui selalu memberikan cerita tersendiri. Pengalaman baik, buruk, mengejutkan, atau mendebarkan bisa datang kapan saja dan datang dari mana saja.
..."Masalah, adalah ujian pendewasaan. Tidak ada alasan menyalahkan orang lain, benahi diri sendiri dan jadilah pribadi yang dewasa."...
..."Mereka yang berbahagia adalah mereka yang mampu mengubah masalah menjadi hikmah."...
JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE KALIAN YA BESTIE🥰
__ADS_1